Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Gadis kuat


__ADS_3

"Cindy?" Dita yang baru saja bangun terkejut karna tidak melihat Cindy di tempat tidur


Dita segera bangkit dan menyusuri kamar tersebut. Membuka pintu kamar mandi namun tetap tidak melihat Cindy disana. Ia panik dan keluar dari kamar menuruni tangga sambil berteriak menyebut nama Cindy


"Kenapa? Gue lagi di dapur" Cindy muncul dari dapur menghampiri Dita yang sudah tampak panik


Dita terdiam melihat Cindy yang tampak biasa saja. Tidak ada kesedihan sedikit pun dari wajahnya. Benar-benar terlihat seperti hari biasanya. Jeffri pun keluar dari kamar tamu dengan menguap


"Kenapa sih Dit?"


Dita menoleh sekilas ke arah Jeffri namun kembali pada Cindy "Lo ....... Baik-baik aja kan?" tanyanya dengan pelan


Cindy mengangguk pasti "Gue baik-baik aja. Sekarang gue lagi mau buatin kalian sarapan. Tunggu di meja makan. Sebentar lagi gue selesai" ia bergegas kembali ke dapur


Dita dan Jeffri memandang Cindy yang tampak menjauh. Kebingungan dengan tingkah gadis itu. Jika orang lain, mungkin hingga kini tidak akan terima jika kedua orangtuanya meninggalkannya secara mendadak. Namun Cindy? Bagaimana bisa ia setegar karang?


Tapi, tanpa keduanya ketahui, Cindy bangun pagi-pagi sekali. Ia menatap lama pada Dita yang terjaga. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan menangis di dalamnya tanpa mengeluarkan suara. Ia menahan keras suara tangisnya agar tidak terdengar keluar. Ia bertekad tidak ingin orang lain mengkhawatirkan dirinya, dan sudah harus memulai hidup baru meski setengah hidupnya sudah pergi meninggalkannya


***


"Ma? Aku mau pulang ke rumah" Arsya sejak semalam meminta untuk dipulangkan ke rumah saja. Ia tidak menyukai bau rumah sakit yang khas dengan obat-obatan yang menyengat


"Nak! Kamu belum pulih total. Dokter bilang, harus beristirahat setidaknya 2 hari lagi Nak" jawab Mama Kanya yang mencoba mengertikan putranya


"Mah? Aku kan bisa istirahat di rumah? Bau obat-obatan buat kepala aku tambah pusing" Arsya menggerutu kesal sejak semalam


"Tunggu Papa kamu datang baru kamu minta ke Papa pulang"


Arsya mendesah. Ia sudah tau jawabannya dan ia sudah siap untuk mengalah "Terserah Mama"


Mama Kanya tersenyum. Ia kemudian teringat pada gadis malang yang orangtuanya meninggal kemarin "Bagaimana kabar gadis itu sekarang?"


"Mama kenapa?" Arsya membuyarkan lamunan Mamanya


"Ngga apa-apa"


"Arsya?" Jendris datang dengan membuka pintu agak keras hingga membuat keduanya terkejut "Lo kenapa bisa kecelakaan begini?" ia mengamati setiap tubuh Arsya


"Ngga usah ribut" hardik Arsya dengan menatap tajam pada Jendris


"Nak Jendris? Apa Tante bisa nitip Arsya sebentar? Tante ada urusan penting" Mama Kanya meminta tolong pada Jendris


"Mama mau kemana?" Arsya mengerutkan kening


"Mama ada urusan penting Nak"


"Bisa Tante. Ngga apa-apa kalau Tante mau pergi. Biar aku yang jagain Arsya" sahut Jendris tanpa ragu


"Nak? Mama keluar sebentar ya?" Mama Kanya berpamitan pada putranya


Ketika Mama Kanya membuka pintu hendak keluar, ia terkejut melihat gadis kemarin dengan kedua temannya sedang melewati kamar inap Arsya

__ADS_1


"Nak?" Mama Kanya menghentikan langkah ketiganya


"Tante?" Cindy menghentikan langkahnya dan berbalik "Tante apa kabar?" tanyanya


"Baik Nak" Mama Kanya mengamati raut wajah Cindy "Kamu ...... Baik-baik saja Nak?"


Cindy mengangguk dengan tersenyum "Aku baik-baik saja Tante. Dan, hmmmm ..... Kak Arsya? Baik-baik saja?"


Mama Kanya mengangguk "Dia baik-baik saja Nak" sejenak terdiam lalu memeluk Cindy "Maafkan Tante Nak" ia menangis


Cindy menjadi bingung "Tante? Kenapa harus meminta maaf sama aku?"


Mama Kanya melepas pelukannya. Baru saja ia hendak berbicara, namun suami serta putri bungsunya datang menghampirinya


"Mama!"


Mama Kanya pun menoleh lalu menghapus air matanya "Papa? Arin?"


Arin sejenak beradu pandang dengan Jeffri sebelum akhirnya Jeffri mengalihkan pandangannya terlebih dahulu karna terlalu fokus pada Cindy


"Ini kan ...... ?" Papa Rasyad menunjuk Cindy dengan ragu


"Ia Pa. Dia gadis itu" sahut Mama Kanya dengan cepat


Cindy semakin bingung dibuatnya. Pun Dita dan Jeffri yang kebingungan maksudnya. Arin mencoba mendekati Mamanya "Memangnya dia kenapa Ma? Pa?" tanyanya sambil menunjuk Cindy


"Jeffri? Cindy? Dita? Kalian sudah datang?" Dokter yang merawat Arsya sekaligus Papa Jeffri menghampiri mereka


"Ia Pa. Disini ada Cindy juga. Papa bilang mau ngomong sesuatu sama Cindy" tukas Jeffri pada Papanya


"Silakan Dokter" Papa Rasyad membuka pintu kamar anaknya dan mempersilahkan yang lainnya masuk


Arsya dan Jendris terkejut atas kedatangan semuanya masuk ke dalam kamar. Arsya sama sekali tidak menyukai Cindy dan kedua temannya ada disana. Namun Cindy berpura-pura mengabaikannya. Berbeda dengan Dita yang tampak kegirangan namun berusaha ia tahan. Sedangkan Jeffri sangat malas berada disana.


"Cindy? Kok lo bisa ada disini? " Jendris berdiri dan menghampiri Cindy


"Aku kesini disuruh sama Om Dokter" jawab Cindy yang sudah terbiasa memanggil Papanya Jeffri dengan sebutan Om Dokter


"Ada apa Dok?" Arsya tidak lagi berbasa-basi


"Saya harus menyampaikan ini. Karna pihak kepolisian sudah mengeluarkan hasilnya" ujar Dokter tersebut hingga membuat yang lainnya tampak bingung "Hasil penelitian itu, menunjukkan kalau mobil milik Arsya yang menabrak mobil kedua orangtua Cindy hingga meninggal di tempat"


Semua orang yang ada disana terkejut kecuali Mama dan Papa Arsya yang sudah tau dari awal. Cindy begitu terkesiap mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dokter tersebut


"Ma ..... Maksud Om apa?" Cindy merasa jantungnya seakan hendak


"Nak" Mama Kanya menghampiri Cindy yang pertahanan tubuhnya sudah hampir runtuh


Cindy menatap sendu Mama Kanya "Jadi Tante sudah tau?"


Mama Kanya mengangguk. Bahkan air matanya sudah lolos "Tante minta maaf atas nama anak Tante. Dia ngga sengaja nabrak orangtua kamu Nak"

__ADS_1


Cindy memalingkan wajahnya. Memejamkan kedua matanya "Cindy? Apa yang akan kamu lakukan Nak? Kamu mau menindak lanjuti kasus ini, atau berhenti saja?" Dokter itu memegang pundak Cindy


"Jadi ..... Arsya yang udah nabrak Mami Papi Cindy sampai mereka meninggal?" seru Dita pada Arsya. Tidak ada lagi kekaguman di matanya setelah mendengar pernyataan itu


Arsya diam saja. Ia belum sepenuhnya mengerti. Namun ia sadar jika ia telah menabrak mobil secara tidak sengaja. Namun ia tidak tau bagaimana kondisi orang yang kini mobilnya ia tabrak itu


"Tunggu! Maksudnya apa? Arsya nabrak mobil orangtua Cindy? Sampai mereka sekarang meninggal?" Jendris menyela pembicaraan karna tidak tau apapun


"Ya! Kak Arsya menabrak mobil kedua orangtua Cindy sampai mereka meninggal" sahut Jeffri dengan emosi yang memuncak


"Jeffri" Papa Radit mencegah putranya


"Mama? Papa? A ...... Apa maksudnya ini? O..... Orang yang aku tabrak meninggal?" Arsya langsung terkesiap mendengarnya


Mama Kanya hanya bisa menangis. Sedangkan Papa Rasyad membenarkan semuanya. Dokter Radit menanyakannya kembali pada Cindy. Apa yang akan ia lakukan? Cindy berpikir sejenak, namun menarik napas dalam dan lebih memilih mengikhlaskan semuanya.


Sudah seminggu sejak kejadian itu berlalu, Arsya sudah pulang dari rumah sakit. Bahkan ia pun sudah kembali ke kampus dan bergabung dengan tim basketnya. Pun Cindy yang berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa dan tidak pernah mengijinkan Dita menginap di rumahnya lagi


Namun Mama Kanya selalu menghubungi Cindy untuk menanyakan kabarnya. Bagaimana pun, ia sangat berterima kasih pada gadis itu. Sekaligus merasa bersalah. Bahkan Mama Kanya selalu datang mengunjungi rumah Cindy untuk memastikan sendiri keadaan gadis itu


Seperti malam ini. Mama Kanya mengajak semua keluarganya untuk datang mengunjungi rumah Cindy. Meski Arsya dan Arin keberatan, namun mereka tetap ikut. Terlebih Arsya yang juga sedikit merasa bersalah pada gadis itu karna sudah melenyapkan kedua orangtuanya tanpa sengaja


"Neng? Makan dulu Neng. Dari pagi Neng belum makan" Bi Imah sudah sejak tadi mengetuk pintu kamar Cindy


"Aku ngga belum lapar Bi. Nanti kalau lapar, aku makan sendiri" Cindy berteriak tanpa ingin keluar


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu rumah hingga membuat Bi Imah mengurungkan niatnya. Ia kembali ke lantai utama dan melihat siapa yang datang malam-malam begini. Bi Imah terkejut karena Mama Kanya datang lagi berkunjung


"Bu Kanya? Silakan masuk Bu" Bi Imah mempersilakan Mama Kanya dan keluarganya masuk


"Terima kasih Bi. Dimana Cindy?" tanya Mama Kanya yang mengedarkan pandangannya


"Neng Cindy di kamar Bu. Sejak tadi belum keluar kamar. Bahkan belum makan dari pagi"


Mama Kanya tersentak mendengarnya "Cindy dari pagi belum makan?"


"Ia Bu. Tapi sepertinya Neng Cindy sedang rindu orangtuanya. Biasanya kalau Neng mengurung diri di kamar, ia rindu Mami Papinya"


Mama Kanya semakin merasa bersalah "Bisa panggilkan Cindy Bi?"


"Tunggu sebentar Bu. Saya panggil Neng Cindy dulu" Bi Imah pamit ke lantai atas memanggil Cindy


"Mama kasian sekali sama Cindy. Dia pasti merindukan orangtuanya" ucap Mama Kanya dengan sendu


Cindy menuruni tangga dan tersenyum melihat kedatangan Mama Kanya "Selamat malam Tante. Om" sapanya dengan mata yang begitu sembab namun ia terus memaksakan senyumnya terbit


"Cindy. Kata Bi Imah. Kamu seharian belum makan?" Mama Kanya membelai kepala Cindy


Cindy menatap dalam Mama Kanya "Aku belum lapar Tante" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya "Ayo Tante duduk dulu"

__ADS_1


Mama Kanya diam sejenak. Ia mengamati raut wajah Cindy yang tampak pucat. Matanya yang memang sipit semakin hampir tidak terlihat karna sembab. Ia tau jika gadis itu baru saja selesai menangis, meski ia sedang berpura-pura menjadi gadis kuat


"Kamu mau tinggal di rumah Tante?"


__ADS_2