Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Sudah keisi?


__ADS_3

"Cindy!!!" seru Arsya lalu tatapannya mengarah kepada Raffi yang kini tengah merobek lengan baju milik istrinya


"Kak Arsya?!" ucap Cindy yang sudah seperti tanpa tenaga


Dengan darah mendidih, Arsya langsung menghajar Raffi saat itu juga "Kurang aja Lo!! Berani Lo nyentuh dia sekali lagi? Nyawa Lo bakal melayang di tangan gue sendiri!!" ancamnya


Teman-teman Raffi lainnya ikut menyerang. Namun tenaga mereka kalah karna kekurangan orang


"Denis?" Jeffri melayangkan tinjunya pada lelaki itu "Berani-beraninya Lo nyentuh Cindy?!!"


Raffi, Denis dan beberapa teman komplotan mereka akhirnya berhasil dikalahkan


"Punya salah apa Cindy sama Lo hah?" Dita menampar wajah Denis dengan geram


Denis hanya tertawa meski wajahnya sudah babak belur dipukuli oleh Jeffri juga Arsya secara bergantian sebelum akhirnya Kenta memisahkan mereka


***


"Gue jadi penasaran. Kok Lo bisa tau kalau Cindy dalam bahaya? Dan... Kok Lo juga bisa tau kalau Cindy ada di tempat itu? Karna setau gue, Lo bareng kita terus dari semalam?"


Pertanyaan Dika membuat semuanya mengarahkan tatapannya kepada Arsya juga Cindy


Setelah kejadian tadi, kini semuanya tengah berada di rumah Dika. Karna lelaki itu tinggal seorang diri di rumah tersebut. Dan juga lokasi Cindy berada dekat dengan rumah tempat tinggal Dika


Cindy yang tengah meminum segelas air putih dengan balutan jaket milik Arsya karna lengan bajunya sobek pun menoleh


"Ngga ngerti bahasa cinta sih Lo kak!" hardik Dita lalu tertawa


Kini semuanya pun tertawa "Tapi emang benar sih? Gue juga penasaran? Soalnya Arsya ini dari semalam bareng kita terus? Tapi kok bisa tau Cindy lagi dalam bahaya? Dan tau banget lokasi Cindy dimana?!!" celetuk Erlan yang juga penasaran


~Flashback~


Arsya tampak kesal karna Cindy belum menjelaskan apa-apa tapi malah meninggalkannya tidur lebih dahulu hingga membuatnya harus berpikir lebih jernih


Saat dirasa Cindy sudah tertidur, ia pun mendekati istrinya. Meraih ponsel milik Cindy. Namun ia kesulitan karna tidak tau kode ponsel tersebut


Akhirnya dengan inisiatif ia meraih jari telunjuk Cindy lalu menempelkannya sebagai kode pembuka ponsel tersebut. Dan tentu saja terbuka. Perlahan ia membaca pesan atas nama Denis hingga membuatnya mengerutkan kening


Arsya lalu menyambungkan lokasi milik Cindy ke ponselnya tanpa sepengetahuan yang punya ponsel karna sudah tertidur. Setelah dirasa aksinya sudah cukup, ia pun pergi meninggalkan rumah dan bergabung dengan teman-temannya


Pikiran Arsya berkecamuk malam itu hingga membuatnya tidak fokus dan mendapat teguran dari teman-temannya. Namun ia tetap mengatakan kalau dirinya baik-baik saja


Setelah keesokan harinya. Arsya terus memantau lokasi Cindy. Namun belum ada yang aneh. Karna lokasi itu bahkan sudah menunjukkan jika wanita itu tengah berada di kampus


Saat Arsya dan teman-temannya sedang ngopi di salah satu kafe, tiba-tiba sore harinya, lokasi Cindy berpindah menuju arah yang sama sekali Arsya bahkan belum pernah kesana


Tentu saja hal itu membuat Arsya tidak bisa berdiam diri. Ia langsung beranjak tanpa menghiraukan teman-temannya


Langkahnya terhenti saat melihat kedua teman istrinya, Dita juga Jeffri berada disana. Namun istrinya tidak

__ADS_1


Seperti itulah Arsya bisa menemukan Cindy. Namun ia tidak berniat mengatakan yang sebenarnya kepada semua orang yang ada disana


"Malah diam aja Lo Sya" Dino malah membuyarkan lamunan Arsya


"Udah diam!!" seru Arsya hingga membuat yang lainnya membungkam mulutnya namun menahan tawa


Karna waktu sudah mendekati malam hari, Arsya berpamitan pada Dika dan yang lainnya untuk pulang terlebih dahulu. Ia menolak tawaran teman-temannya untuk mengantar mereka pulang. Takut jika terjadi sesuatu di jalan


"Hati-hati Lo di jalan bawa teman gue!!" Jeffri memberi peringatan kepada Arsya


Arsya hanya mengangguk cuek dan tak berniat membalas perkataan Jeffri. Ia tau lelaki itu menyukai Cindy


"Tolong jaga baik-baik Cindy yah kak? Cepat berkabar kalau ada apa-apa" pinta Dita yang memeluk sahabatnya


Arsya lagi-lagi hanya mengangguk pada Dita "Kalau gitu, gue balik dulu" ujarnya kemudian


***


Cindy tengah menatap rembulan malam di balik jendela kamarnya yang sengaja ia sibakkan tirainya agar cahaya rembulan tersebut dapat dengan sempurna terlihat sambil bertukar suara dengan seseorang diba


"Udah. Aman kok. Lo tenang aja"


Arsya yang baru saja keluar dari kamar mandi sembari menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah pun melihat Cindy tengah bertukar suara dengan seseorang


"Ia ia bawel. Udah dulu yah. Gue mau istirahat" katanya lagi "Oke deh. Bye"


Cindy mematikan sambungan teleponnya. Ia mendekati Arsya yang duduk di tepi tempat tidur sembari memainkan ponselnya


"Kamu kenapa bisa tau kalau aku ada disana?"


Pertanyaan Cindy membuat Arsya terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dari bersitatap dengan istrinya itu


"Kok diam? Aku nanya. Kamu kenapa bisa tau kalau aku ada di gedung tua itu?"


Lagi-lagi Cindy kembali bertanya namun Arsya tetap saja diam hingga membuat Cindy kesal dibuatnya. Saat ia hendak berdiri, Arsya memegang tangannya


"Apa?" Cindy sudah keburu kesal


"Duduk dulu" perintah Arsya dengan nada yang lembut hingga membuat Cindy langsung duduk tanpa membantah


Cindy menunggu Arsya untuk mengungkapkan semuanya. Ia pun sudah penasaran setengah mati namun tetap menunggu suaminya itu untuk berbicara


Arsya menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan "Sebelumnya gue minta maaf"


"Semalam saat Lo bilang mau ketemu sama teman lama dan itu cowok, firasat gue udah ngga enak. Dan maaf, gue sempat baca chat Lo sama dia. Dan...." ia kembali menghela napas "Dan... Maaf. Gue share lokasi ponsel Lo ke ponsel gue"


Kedua bola mata Cindy membulat sempurna "Apa? Kok bisa? Perasaan Hp aku pake PIN kok?"


"Ia" Arsya mengangguk "Gue buka Hp Lo pake sidik jari Lo saat tidur semalam"

__ADS_1


Cindy menganga mendengar penuturan Arsya. Ia tidak habis pikir dengan ide cemerlang suaminya itu


"Tapi apapun itu. Aku mau bilang makasih untuk semuanya. Makasih udah datang tepat waktu. Kalau ngga cepat datangnya... Aku ngga tau. Gimana nasib aku sekarang. Dan... Aku juga ngga bisa memastikan diriku akan baik-baik saja setelah mereka nekat merobek bajuku"


Cindy mengingat kejadian memilukan itu. Air matanya tiba-tiba mengalir deras. Trauma dipikirkannya seketika menakuti dirinya untuk bepergian sendirian. Ia tidak menyangka jika Denis, teman SMA-nya tega menjebak dirinya hanya karna dulu cintanya ditolak olehnya


"Ngga apa-apa" Arsya memegang tangan Cindy lalu mengusap air mata wanita itu dengan ibu jarinya "Jangan dipikirkan lagi. Yang penting kalau ada apa-apa Lo harus cepat bilang ke gue. Jangan tutupin apapun lagi. Ok?"


Cindy pun mengangguk. Dan selama beberapa hari belakangan ini, hubungan keduanya mulai membaik. Arsya yang sudah tidak sering terlihat cuek lagi bahkan selalu berada di rumah ketika tidak ada kelas


Hari demi hari terus berlanjut, bahkan kini usia pernikahan mereka memasuki usia enam bulan. Keduanya berkunjung ke rumah kediaman Rasyad, Papa Arsya


"Cin? Perut Lo emang belum keisi yah?" Arin mengusap perut Cindy yang tampak datar ketika mereka duduk menikmati secangkir teh sore itu


"Keisi? Keisi apa? Biskuit?" pertanyaan polos Cindy membuat Kanya dan Rasyad tertawa


Sementara Arsya diam saja. Arin pun menghela napas dan memutar malas bola matanya "Bukan isi makanan maksudnya" geramnya "Tapi keisi sama calon ponakan gue" terangnya


Cindy terkejut mendengarnya. Ia pun tersenyum kikuk "Oh itu? Hmm.... Sorry gue ngga paham soalnya" ia menggaruk hidungnya


"Jadi kapan nih ada rencana mau isi?" tanya kembali Arin dengan antusias


Cindy mengulum bibirnya sejenak lalu melirik ke arah Arsya dengan wajah memerah karna menahan malu "Hmmm.... Ya itu nanti datang sendiri kok" jawabnya dengan ragu


"Tapi Lo udah usahain kan? Karna ponakan gue ngga akan bisa hadir kalau ngga diusahain"


Melihat Cindy yang tidak bisa menjawab, Arsya pun langsung menegur adiknya "Arin? Emang Lo pikir gampang? Ngga semudah yang Lo bayangin"


"Memang kenyataannya mudah kok?!!" timpal Rasyad "Benar kata Arin. Yang susah itu kalau ngga diusahain"


Arsya dan Cindy sama-sama terdiam. Mereka tidak bisa membantah apapun. Karna pada kenyataannya, selama enam bulan ini, keduanya tidak pernah melakukan hubungan layaknya suami istri


"Apa kalian mau pergi berbulan madu saja biar cepat hamil?" usul Kanya


"Setuju. Mumpung libur juga. Mending kalian berdua bulan madu dulu gih sana" cetus Cindy


"Ia. Papa setuju. Mungkin setelah pulang dari bulan madu, siapa tau Cindy sudah bisa hamil" celetuk Rasyad


"Jangan terlalu menekan Cindy" Arsya menegur keluarganya karna merasa tidak enak pada Cindy yang memilih diam saja


"Sayang. Mama ngga nekan kamu kok" Kanya mengelus kepala menantunya "Mama cuma berharap kamu sama Arsya bisa menghabiskan waktu berdua lebih banyak lagi. Dan bulan madu ini adalah langkah yang tepat. Terlebih kalian saat ini juga sedang dalam masa libur. Jadi apa salahnya kalau kalian berbulan madu?"


Cindy tersenyum mendengar penuturan mertuanya "Ngga apa-apa kok Ma. Aku ngerti maksud kalian"


"Berarti Lo mau dong bulan madunya?" celetuk Arin tiba-tiba


Arsya seketika merasa geram kembali "Arinnnnnnn"


...DUH. LAMA BANGET NGGA NONGOL AKUNYA YAH. GIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA TETAP DALAM KEADAAN SEHAT YAH GUYS. MOHON MAAF KARNA BANYAK KENDALA DI REAL SAMPE AKHIRNYA NGGA UPDATE2....

__ADS_1


...KALAU KALIAN SUKA KARYA INI, JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN POSITIF DAN JUGA BERI DUKUNGANNYA. TERIMA KASIH 😍😍😍...


__ADS_2