
"Eh btw gue mau nanya nih sama kalian berdua?" Erlan menghadapkan dirinya ke arah Arsya dan Cindy "Sebenarnya hubungan kalian apa sih?"
Pertanyaan Erlan sukses membuat Cindy dan Arsya terdiam. Tidak ada yang mau menjawab pertanyaan tersebut
"Atau jangan-jangan kalian pacaran yah?"
Sontak saja membuat Cindy terbatuk-batuk setelah mendengar pertanyaan Erlan yang secara tiba-tiba itu
"Benar kan? Kalian udah jadian kan?"
"Mereka pacaran pun ngga ada hubungannya sama kita. Udah, biarin aja" cetus Kenta dengan santai
"Kalau Arsya sama Cindy jadian, kasian dong sama Jendris?" celetuk Livia yang langsung tertawa
"Senang Lo ngeledek gue yah?" ketus Jendris yang dihadiahi tawa oleh lainnya
"Sekali-kali aja Lo ngalah sama Arsya. Lo kan udah banyak gebetan lain?!" Dika menaik turunkan alisnya pada Jendris
"Banyak gebetan darimana? Cuma Cindy doang yah? Jangan fitnah Lo" Jendris tidak terima namun yang lainnya justru menertawakannya
"Lo klarifikasi ke siapa emang?" ledek Kenta
"Ah. Sialan Lo" Jendris mengerucutkan bibirnya karna tau maksud Kenta
Cindy hanya memilih diam menyaksikan perdebatan teman-teman Arsya. Bahkan Arsya sendiri tampak tidak terlalu mempedulikannya. Karna mereka selalu bercanda seperti itu
Cindy begitu menikmati alunan musik yang menari-nari di telinganya yang telah ditampilkan oleh live band music atas undangan pemilik kafe tersebut, yakin Kakaknya Erlan
Semua orang pun begitu menikmati musik tersebut. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang ikut bernyanyi
"Definisi makin malam makin rame nih" celetuk Jendris
"Teman kakak gue bahkan belum datang semua" sahut Erlan yang meneguk minumannya
"Teman kakak Lo banyak cewek cakep ngga nih? Kenalin ke kita-kita dong?" ujar Riko yang terkenal begitu playboy diantara mereka
"Otak Lo kayaknya kalau ngga ngomongin cewek ngga beres yah?" Syila menggeleng kepalanya
"Ahhh... Bilang aja Lo cemburu? Ia kan?" Riko malah menggoda Syila dengan menoel dagunya
Syila pun menghempaskan tangan Riko "Please deh, Ko. Harga diri cewek secantik gue bakal turun kalau cemburunya sama modelan kek Lo" sarkasnya hingga membuat yang lainnya tertawa
"Kenapa emang? Orang gue ganteng kok" tukas Riko dengan begitu percaya dirinya "Cindy? Gue ganteng kan?" tanyanya pada Cindy yang diam saja
Cindy sedikit kikuk menjawabnya, lalu menganggukkan kepalanya tanda membenarkan bahwa pria itu memang tampan
"Tuh" dengan heboh Riko menunjuk Cindy "Orang Cindy aja ngakuin gue ganteng kok" bangganya "Gantenya mana gue sama Arsya?" tanyanya kembali hingga membuat semua orang menoleh pada Cindy
Cindy mengedarkan pandangannya setelah semua orang di meja tersebut menatap dirinya untuk menunggu jawabannya
"Ke... Kenapa kalian jadi ngeliatin gue?" Cindy bahkan terlihat gugup saat mengatakannya
"Jawab dong Cindy? Pengen dengar gue jawaban Lo" cetus Karina, salah satu gadis yang terkenal populer di angkatannya
Cindy mengigit bibir bawahnya lalu menyenggol kaki Arsya di bawah meja. Namun sepertinya laki-laki itu tidak mau membantunya kali ini
__ADS_1
"Kebangetan sih ini kalau Cindy milih Riko" ledek Erlan yang memangku tangannya menunggu jawabannya
"Kebangetan apanya? Itu namanya jujur!" Riko tidak mau mengalah "Ayo Cindy? Gantengan gue apa Arsya nih?" Ia menaik turunkan alisnya
"Semua orang juga udah tau jawabannya" celetuk Livia
"Eh, diam Lo Kanebo kering!" sungut Riko yang menunjuk Livia namun dengan nada candaan
"Lo tuh yang kabeno kering. Enak aja ngatain gue" Livia mendengus
"Ini kenapa jadi kalian yang ribut sih?" gerutu Dika
"Ayo dong Cindy? Pengen nih gue denger langsung dari mulut cewek cantik plus incaran ketua tim LTW" ledek kembali Riko pada Cindy
Cindy mengulum bibirnya "Hmm... Kak Arsya" jawabnya yang langsung disambut kehebohan yang lainnya
Cindy sengaja memilih Arsya. Bagaimana pun, saat ini Arsya sudah menjadi suaminya. Jadi sudah seharusnya menjaga marwah suaminya itu
"Wah. Kalah gue men" Riko menepuk-nepuk pundak Arsya seolah-olah merasa sedih
"Pesona seorang Arsya emang siapa sih yang bisa ngalahin?" cetus Karina lalu tertawa
"Sekelas Riko mah lewat" ledek Syila yang menjulurkan lidahnya tanda meledek Riko
Cindy langsung meneguk air putih di depannya karna merasa malu dengan teman-teman Arsya yang meledeknya terus-terusan. Sedangkan Arsya sendiri hanya memiringkan bibirnya
"Cuma cewek sekelas Cindy yang benar-benar bisa menaklukkan hati seorang Arsya yang bagaikan kulkas delapan pintu ini" Erlan menggeleng-gelengkan kepalanya
"Sama aja sih. Cuma cowok sekelas Arsya yang bisa menaklukkan hati Cindy. Ia kan?" Kenta memancing Cindy dengan menatapnya
Cindy seketika menoleh ke arah Kenta dan memicingkan matanya "Kenapa jadi nanya gue?!" ketus Cindy karna paham maksud Kenta
Arsya melirik "Karna ngga ada pilihan lain" jawabnya dengan santai hingga membuat Cindy sontak menoleh lalu menyiku lengan Arsya
"Maksudnya apa?" merasa kesal dengan jawaban Arsya
Arsya melirik ke arah Cindy "Ngga ada. Lupain" tukasnya
Cindy menyorot tajam pada Arsya dengan kesal. Ia memalingkan wajahnya dan duduk seperti posisi semula
"Arsya tuh emang ngga romantis. Masih romantisan gue kan?" Jendris berusaha mengambil hati Cindy yang tengah kesal pada Arsya
Cindy seketika menoleh dan tersenyum kikuk. Tidak tau harus merespon apa tentang pertanyaan konyol Jendris tersebut
"Punya teman aja masih mau Lo embat" celetuk Naki
"Kalau masih bisa ya kenapa engga? Orang Arsya sendiri ngga apa-apa kok" sahut Jendris dengan bangga "Ia kan Sya?" tanyanya pada Arsya
Namun laki-laki itu justru menatap Jendris dengan datar hingga membuat yang lainnya tertawa dibuatnya
"Nah Lo? Kena kan Lo" ledek Kenta yang tidak henti-hentinya tertawa
"Sorry boss" Jendris mengatupkan kedua tangannya seolah meminta ampunan pada Arsya
Cindy langsung menoleh ke arah Arsya namun tidak melihat ekspresi apapun dari wajah laki-laki tersebut hingga membuatnya bingung dengan respon teman-teman Arsya itu
__ADS_1
"Cindy? Kalau Lo punya teman yang cantiknya kayak Lo, kenalin ke gue ya?" ujar Naki tiba-tiba
"Teman gue?" Cindy menimbang-nimbang
"Ia teman Lo. Tapi yang cantiknya kayak Lo yah? Kalau dibawah Lo ngga usah. Gue pengen yang cantiknya di atas Lo. Atau ya minimal kayak Lo lah" jawab Naki dengan enteng
"Enteng bener Lo ngomong? Selamanya juga Lo ngga akan dapat kalau mau yang setara Cindy cakepnya" cetus Jendris dengan lantang "Yang setara cakepnya kayak Cindy aja belum tentu ada? Apalagi di atasnya? Ngga usah ngarep Lo" sarkasnya
"Weh? Santai aja dong Lo? Mentang-mentang ditolak sama Cindy Lo" Naki malah meledek Jendris "Makanya, gercep dong. Jangan bisanya ngandalin gombalan doang"
"Lho? Kenapa jadi bawa-bawa gue Lo?" Jendris tidak terima
"Kalian masih mau ribut disini atau balik?" perkataan Arsya membuat Naki dan Jendris terdiam
"Ketika lord sudah bersuara" celetuk Dika yang langsung tertawa disambut yang lainnya
"Kak? Pulangnya jam berapa? Udah tengah malam nih?" Cindy melihat jam yang ada di ponselnya
Waktu sudah menunjukkan pukul hampir setengah 12 malam. Namun ternyata tempat itu masih ramai juga. Bahkan semakin malam, acara semakin ramai dan sedang berada di puncak-puncaknya
"Mau pulang sekarang?" Arsya pun melihat jam di ponselnya
Cindy mengangguk "Mau istirahat"
Arsya mengangguk "Gue balik duluan ya?!" Ia pun berdiri terlebih dahulu lalu disusul Cindy
"Cepat banget Sya? Nanti aja" cegah Erlan
"Dia mau istirahat" Arsya menunjuk Cindy
"Udah punya pawang mah beda dong" ledek Dika
Arsya hanya tersenyum menanggapi "Gue cabut dulu yah" ia bersalaman pada semua teman-teman
Tak lupa pun Cindy bersalaman pada ketiga wanita yang ikut bergabung di meja tersebut. Livia, Syila dan Karina. Ia senang karna disambut dengan baik oleh ketiganya
"Hati-hati Lo bawa anak orang" teriak Naki saat Arsya dan Cindy sudah sedikit menjauh
***
Cindy yang sudah terlelap beberapa menit lalu setelah membersihkan dirinya merasakan guncangan di atas kasurnya. Dengan sedikit membuka matanya, ia membalikkan tubuhnya. Dan terkejut mendapati Arsya berbaring di sebelahnya
"Kak..... Kak Arsya? Kok? Tidur disini?" pertanyaan konyol Cindy membuat Arsya mendengus
"Terus gue harus tidur dimana? Di toilet?" ketus Arsya dengan kesal
Cindy mengulum bibirnya rapat-rapat. Padahal bukan itu maksudnya. Tapi ia malah malu saat mengatakannya
"Kalau Lo ngga suka, Lo aja sana yang tidur di toilet atau tempat lain" usir Arsya yang membalikkan tubuhnya
"Enak aja! Orang ini kamar aku kok" Cindy pun mendengus kesal lalu ikut membalikkan tubuhnya
Perlahan, Cindy berusaha menetralkan detak jantungnya yang sudah tak karuan lagi. Berusaha setengah mati untuk kembali terlelap meski tubuh tampak gemetar. Ia menaikkan selimut sampai ke lehernya dan memeluk erat-erat bantal guling sebagai tanda perlawanan nantinya
"Tidur aja. Ngga usah banyak gaya. Gue ngga akan nyentuh Lo. Ngga nafsu" Arsya seperti tau keresahan Cindy
__ADS_1
Jelas saja Cindy membulatkan kedua matanya mendengar perkataan Arsya. Ingin sekali ia memaki, namun ia urungkankan. Mencebikkan bibirnya dengan kesal. Namun sedikit tenang mendengar perkataannya
"Bod amatlah. Emang dipikirnya gue ini apa?" batin Cindy yang menggigit bantal guling dengan kesal