Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Sebentar lagi punya anak


__ADS_3

"Ia. Bujuk Arsya pulang. Gue tau dia akan pulang kalau Lo sendiri yang bujuk" Kenta menoleh ke arah Cindy


"Tapi Kak...." Cindy menggigit bibir bawahnya "Gue takut malah semakin buat Kak Arsya marah. Padahal gue sendiri ngga tau dia marah karna apa sampai ngga pulang ke rumah?" ketusnya


"Awalnya kalian bertengkar karna apa?" Kenta malah bertanya pada Cindy


Cindy menghela napas. Lalu menceritakan awal mereka pindah ke rumah saat itu sampai malamnya Arsya pergi sebelum dirinya pulang. Ia tidak tau dimana letak kesalahannya sampai membuat Arsya pergi dari rumah malam itu juga


Kenta pun mengangguk tanda paham maksud dari cerita tersebut. Cindy menghembuskan napas dengan kasar


"Terus gimana dong Kak?" Cindy mencebikkan bibirnya


Kenta pun terkekeh "Bisa jadi Arsya cemburu" jawabnya


Cindy hampir tersedak mendengar jawaban Kenta "Ce... Cemburu?" lalu tawanya meledak "Please deh kak jangan ngada-ngada kalau ngomong" ketusnya seketika


"Serius. Ke secret yuk? Lo bujuk dia pulang" ajak Kenta


"Tapi Kak....." wajah Cindy seketika memelas


"Ngga apa-apa. Ayo!" Kenta berdiri terlebih dahulu "Kamu mau masalah kalian ngga ada selesainya?"


Cindy pun menggeleng "Aku takut kak"


"Ngga ada yang perlu kamu takutin. Udah, ayo!!" Kenta berjalan mendahului Cindy


Cindy pun dengan langkah gontai mengikut Kenta ke secret tempat dimana Arsya menghabiskan waktunya selama dua hari ini


Saat itu Arsya sedang berbaring di atas matras seadanya dengan tangan yang tutupkan ke wajahnya


"Wih... Ada cewek cantik nih datang?!" goda salah satu dari mereka tapi tak membuat Arsya bergeming dari tempatnya


"Ini sih cewek Incarannya Jendris" Erlan tau karna saat itu Cindy pernah datang ke secret mereka dan Jendris terus berusaha mengejarnya "Cindy kan nama Lo?" tanyanya


Tepat saat nama Cindy terucap, Arsya langsung membuka tangannya dan terkejut mendapati Cindy sudah berada disana bersama Kenta. Ia pun bangun dari tidurnya


"Guys. Kalian semua keluar dulu" ujar Kenta yang menepuk tangannya


"Wih. Ada apa ini?"


"Sekarang!!!" titah Kenta hingga membuat yang lainnya berhamburan keluar dari ruangan sederhana tersebut kecuali Arsya dan Cindy lalu Kenta pun menutup pintu dari luar


Ditengah keheningan. Kedua orang tersebut tampak canggung berada di dalam ruangan yang sama. Cindy pun menghela napas pelan lalu memberanikan diri


"Kak Arsya kenapa ngga pulang ke rumah?"


Arsya masih diam saja dan hanya mengalihkan pandangannya. Tidak tau jawaban apa yang harus ia katakan pada Cindy. Karna diapun tidak tau kenapa dia tidak mau pulang ke rumah itu


"Kak? Dengar aku ngomong ngga? Kenapa ngga pulang ke rumah?" Cindy sedikit menaikkan volume suaranya


Arsya menoleh pada Cindy lalu memicingkan matanya "Kenapa memangnya? Apa urusanmu?" sinisnya


Cindy pun mendengus kesal "Aku ngga akan ikut campur semua yang kamu lakukan. Tapi tidak kalau masalah kabur dari rumah. Kalau sampai Mama sama Papa tau, dia pasti akan marah juga ke kamu"


"Kamu?" batin Arsya lalu membuang pandangannya sejenak "Peduli apa Lo ke gue?"


"Dewasalah sedikit Kak. Kamu ngga akan sendiri menanggung semuanya kalau Mama sama Papa sampai tau. Karna ujung-ujungnya aku juga pasti akan terseret" ketus Cindy dengan kesal

__ADS_1


"Jadi Lo cuma perduli sama diri Lo sendiri kan? Bukan ke gue?" Arsya menghela napas kasar "Pulang Lo sana!" titahnya


"Kak. Aku bukannya cuma peduli sama diri sendiri. Dua hari ini aku nyariin kamu! Kamu ngga pulang ke rumah?! Ngga ngabarin sama sekali?! Juga masuk kelas?! Aku bahkan ngga tau kamu udah makan apa belum? Aku juga ngga tau kamu tidur nyenyak disini apa engga?"


Cindy menarik napas lalu menghembuskannya "Ayo Kak kita pulang. Kamu boleh marah sama aku. Tapi jangan pergi dari rumah. Aku juga khawatir. Kalau sampai kamu kenapa-kenapa gimana? Aku juga yang ribet nantinya" jelasnya


Arsya kembali diam saja mendengar penuturan Cindy. Ia menelan salivanya sejenak. Menunduk lalu mengangkat wajahnya


"Kak?" panggil Cindy dengan ragu "Mau kan pulang ke rumah sekarang?" tanyanya dengan hati-hati


Arsya sedikit berpikir. Menarik napas lalu menghembuskannya dengan pelan. Mengangguk tanda setuju akan ikut pulang bersama Cindy


Cindy pun tersenyum kegirangan "Ayo, kita pulang sekarang!" ia sudah hampir berdiri


"Pulang sekarang? Emangnya Lo ngga ada kelas?" pertanyaan Arsya sukses membuat Cindy membulatkan kedua matanya


"Astagaaaa" pekiknya dengan kedua tangan memegang kepalanya "Kok bisa lupa sih? Mereka pasti nyariin gue" gumannya dengan diri sendiri


"Kak. Beneran nanti pulang ya? Aku masih ada kelas. Duh. Kayaknya udah telat juga. Aku duluan kak" Cindy dengan terburu-buru keluar dari ruangan dan hampir bertabrakan dengan Jendris yang ingin masuk ke ruangan tersebut


"Lho? Cindy? Lo ngapain disini?" tanya Jendris dengan heran


"Maaf kak. Gue buru-buru" Cindy pun melewati Jendris dengan berlari karna ia yakin sudah ketinggalan kelas beberapa menit


"Cindy.... Cindy....." teriakan Jendris tidak dihiraukan oleh Cindy sama sekali "Dimana kurangnya gue coba?" tekuknya


"Kurangnya Lo bukan suaminya" Kenta datang dan memegang pundak Jendris lalu tertawa pelan


"Sialan Lo" umpat Jendris lalu masuk ke dalam ruangan tersebut


Arsya menatap Jendris sejenak "Menurut Lo?" tanyanya balik


"Ini nih. Ditanya malah nanya balik" ketus Jendris yang mengambil bola di dalam almari dan keluar dari ruangan tersebut begitu saja


Arsya dan Kenta hanya tertawa pelan "Udah kelar nih masalahnya?" goda Kenta


Arsya melirik Kenta "Lo ya yang ngasih tau Cindy gue ada disini?"


"Menurut Lo?" kini giliran Kenta yang menyindir Arsya hingga membuat laki-laki itu hanya tersenyum miring


"Pulang Lo sana! Dua hari ini cuma uring-uringan ngga jelas. Marah-marah ngga jelas. Latihan ngga fokus" Kenta menggeleng-gelengkan kepalanya


Arsya pun menyunggingkan bibirnya "Gue balik dulu yah" pamitnya pada Kenta yang hanya diangguki jawaban dari temannya itu


***


"Habis darimana sih Lo? Bisa-bisanya hampir ngelewatin kelas Pak Nando. Untung mood Pak Nando sekarang lagi baik. Jadi masih ngebiarin Lo masuk"


Omel Dita pada Cindy setelah kelas berakhir. Hampir saja Cindy telat masuk ke dalam kelas.


"Udah dong ngomel-ngomelnya ah" Cindy memasukkan semua buku-bukunya ke dalam ranselnya dan bersiap akan pulang


"Lo mah kalau dibilangin suka ngeyel deh" ketus Dita yang memanyungkan bibirnya


"Udah-udah. Malah ribut" sergah Jeffri "Sekarang mau jalan-jalan dulu ngga?" tawarnya


"Boleh deh ayo!" sahut Dita dengan semangat

__ADS_1


"Gue ngga bisa deh kayaknya. Sore ini gue sama Bi Imah mau keluar" ujar Cindy tanpa menoleh


"Keluar kemana?" tanya Dita dan Jeffri bersamaan


Cindy langsung menoleh ke arah keduanya dan tertawa "Ciee barengan" godanya


"Dih? Apaan Lo? Serius deh. Lo mau kemana sama Bi Imah?" Dita masih penasaran


"Kurang tau sih. Karna semalam Bi Imah ngajakin gue keluar. Kayaknya juga mau belanja bulanan sih" cetus Cindy meraih ranselnya lalu berdiri "Gue mau balik duluan yah? Sorry gue ngga bisa ikut. Soalnya kasian sama Bi Imah"


"Ya udah. Lo hati-hati yah. Salam sama Bi Imah" tukas Jeffri yang diangguki oleh Dita


Sebenarnya Cindy tidak benar-benar ingin ikut Bi Imah keluar. Ia pulang ke rumah dengan cepat hanya karna ingin memastikan apakah Arsya sudah kembali ke rumah atau tidak


***


Cindy segera memasuki rumahnya setelah sampai. Berlari pelan menaiki tangga. Sepertinya Bi Imah sedang berada di dapur karna tidak terlihat sama sekali di luar


Sesampainya di depan pintu kamar, ia menarik napas terlebih dahulu lalu menghembuskannya dengan pelan. Lalu membuka pintu kamar tersebut dengan hati-hati


"Apa Kak Arsya belum pulang yah?" batin Cindy yang mendongakkan kepalanya masuk namun tak melihat Arsya disana


"Ngapain disini?"


Tiba-tiba suara Arsya justru terdengar dari arah belakang Cindy hingga membuat wanita itu terkejut dan terjatuh ke depan


"Kak? Bisa ngga jangan ngagetin?" kesal Cindy yang berusaha berdiri dibantu oleh Arsya


"Lo ngapain berdiri di depan pintu?" Arsya melewati Cindy dan masuk ke dalam kamar terlebih dahulu


"Ya ngga apa-apa. Kirain belum pulang" Cindy pun ikut masuk "Udah makan belum?" tanyanya setelah menggantung ranselnya di belakang pintu


"Nanti aja" sahut Arsya yang mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidur lalu meraih ponselnya di meja


Kening Cindy berkerut "Jadi belum makan?" ia mendekati Arsya


Arsya pun menoleh sejenak lalu kembali fokus ke ponselnya "Belum. Nanti aja" sahutnya kembali


"Ngga bisa gitulah. Ayo makan dulu" ajak Cindy namun Arsya tidak bergeming dari tempatnya


"Kak. Ayo!" kini Cindy dengan berani menarik tangan Arsya hingga membuat laki-laki itu pasrah


Keduanya menuruni tangga menuju meja makan. Bi Imah tersenyum melihat keduanya sangat akur


"Ayo Neng, Mas. Makan dulu. Bibi sudah masak untuk kalian berdua"


"Ia Bi. Kebetulan kami juga lapar. Makasih yah Bi" sahut Cindy dengan sopan lalu duduk bersama Arsya


"Kita? Lo aja kali" guman Arsya hingga hanya Cindy yang mendengarnya


Cindy mencibir "Ngga usah gengsi. Makan dulu nih" ia mengambilkan makanan ke piring Arsya yang tengah meminum air di dalam gelas


"Kalau liat kalian begini. Bibi yakin sebentar lagi kalian akan punya anak" ucap Bi Imah dengan senyum yang merekah di wajahnya


Seketika air yang berada di mulut Arsya menyambur keluar lalu terbatuk-batuk mendengar perkataan Bi Imah. Untung saja air tersebut tidak mengenai makanan yang ada di meja


"A... Anak?

__ADS_1


__ADS_2