Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Pangeran bermobil


__ADS_3

"Dit? Kok orang-orang jadi pada ngeliatin gue yah? Apa cuma pikiran gue aja?" Cindy berbisik kepada Dita


Dita pun menggeleng "Ini bukan sekedar pikiran Lo aja. Tapi emang sekarang, Lo jadi pusat perhatian semua orang di Fakultas kita"


Cindy semakin kebingungan "Maksud Lo apa?"


Dita meletakkan ponselnya di depan wajah Cindy hingga membuat wanita itu membelalakkan kedua bola matanya dengan sempurna


"Apa-apaan ini?" Cindy meraih ponsel Dita dengan cepat "Siapa yang nyebarin berita ini?"


"Yang pasti sih orangnya bukan gue yah? Secara bahkan gue ngga datang ke acara kafe malam itu" sindir Dita yang melirik Cindy karna tidak mengajaknya malam itu


"Ngga usah nyindir kali" Cindy menyerahkan ponsel milik Dita "Tapi beneran deh, berita kayak ginian siapa yang nyebarin?"


Cindy menghela napas panjang setelah membaca berita yang beredar di kalangan Fakultas mereka. Tentang dirinya dan juga Arsya yang sudah menjalin hubungan sepasang kekasih.


Bahkan foto keduanya tertera saat Arsya membukakan botol minuman kepada Cindy. Saat Arsya menatap Cindy yang tengah memainkan ponselnya. Dan saat keduanya berboncengan pulang


"Dit? Orang yang nyebarin berita ini, berarti udah mantau gue sama Kak Arsya dong?"


Dita mengangguk "kayaknya sih ia. Emang Lo ngga nyadar gitu sama sekali?"


Cindy pun menggeleng "Ya gimana yah? Disana kan banyak orang. Ngga mungkin dong gue sampai mikir kesana? Lagian aneh-aneh aja harus motret-motret gini? Ngga banget deh" ketusnya


"Orang itu berarti ada di sekeliling Lo. Lo harus hati-hati mulai sekarang" Dita memperingatkan sahabatnya


Cindy menggigit bibir bawahnya "Dit? Menurut Lo? Orang ini ngga sampai ngikutin gue sama Kak Arsya sampai rumah kan?" ketakutanya mulai timbul


"Ngga tau sih. Makanya mulai sekarang Lo harus hati-hati. Tapi feeling gue sih kayaknya belum deh. Soalnya ngga ada foto Lo di rumah kan? Berarti belum" Dita berusaha menenangkan Cindy


"Mudah-mudahan sih. Duh, jadi parno gue. Sumpah" Cindy bergidik ngeri


"Udahlah. Lagian bodo amat jugalah. Ngga usah pedulikan orang-orang. Lagian Kak Arsya pasti bakal selalu ngelindungin Lo" Dita tetap berusaha menenangkan Cindy


"Hmmm" Cindy menghela napas berat lalu menidurkan kepalanya di tempat tidur "Kok bisa sih ada orang ngga jelas gini? Kurang kerjaan banget"


"Siapa yang kurang kerjaan?" tiba-tiba Jeffri duduk di depan Cindy


Cindy pun menoleh sejenak "Lo tuh yang kurang kerjaan" ketusnya


"Lho? Kenapa jadi gue?" Jeffri meletakkan ranselnya ke meja


"Lo ngga liat berita viral di Fakultas kita?" Dita menarik turunkan alisnya


"Lo nanya dia?" Cindy seketika bangun dan menunjuk Jeffri "Sejak kapan dia ngikutin berita viral? Apalagi yang ngga penting" ia memutar malas bola matanya


Jeffri terkekeh "Jadi ada berita viral apa hari ini?" dengan antusias Jeffri bergantian menatap kedua temannya itu


"Nih!" Dita menyerahkan ponselnya pada Jeffri


Setelah menerima ponsel Dita, kening Jeffri seketika mengerut "Siapa yang nyebarin berita ini?" raut wajahnya tiba-tiba berubah


"Entahlah. Itu yang sedang gue pikirin. Kurang kerjaan banget sampai harus nyebarin berita ngga penting ini" tukas Cindy dengan kesal


"Tapi Lo ngga apa-apa kan?" Jeffri menatap Cindy dengan serius


Cindy pun mengangguk "I'm Ok. Tenang aja" ia tau sahabatnya itu tengah mengkhawatirkan dirinya


"Baik-baik ajalah. Dia kan punya pawang yang bisa jagain dia" celetuk Dita yang membuat Jeffri dan Cindy menoleh padanya


"Jadi beneran yah Cindy sekarang jadian sama Kak Arsya?" cetus salah satu teman sekelas mereka

__ADS_1


Wajah Cindy langsung menatap Dita dengan nyalang hingga membuat wanita itu menyengir tanpa dosa


***


"Sibuk banget sih?" Dita menggerutu karna Cindy sejak keluar dari kelas menuju parkiran hanya terus memainkan gawainya


"Bentar Dit. Gue harus ngabarin Kak Arsya dulu" sergah Cindy


"Ngapain harus ngabarin dia?" Jeffri memasang wajah masam


"Kak Arsya mau jemput gue soalnya" jawab Cindy tanpa menoleh


Gue bisa nganterin Lo pulang. Ngga harus nunggu dia" cetus Jeffri


"Ngga bisa Jeff. Tadi gue udah janji sama Kak Arsya bakal nunggu dia" Cindy menurunkan ponselnya


"Udahhlah Jeff. Yang mau jemput kan pawangnya sendiri. Bukan orang lain" Dita berusaha menengahi


"Mobil Lo kemana?" Jeffri pun berusaha mengalah


"Ada kok di rumah" jawab Cindy dengan santai


"Terus kenapa ngga bawa mobil sendiri?" langkah Jeffri terhenti saat mereka berada di parkiran


"Karna gue pikir Kak Arsya hari ini ada kelas juga. Makanya bareng. Tapi ternyata ngga" Cindy mengedarkan pandangannya


"Jadi maksudnya Kak Arsya cuma nganterin Lo aja gitu kesini? Terus balik lagi?" Dita sudah mulai antusias dibuatnya


Cindy mengangguk "Makanya dia nyuruh gue nunggu disini. Ntar dia jemput lagi"


"Oh My God" pekik Dita dengan kedua tangannya menutup mulut


Cindy dan Jeffri mengerutkan kening "Kenapa sih Lo?" Cindy menyenggol lengan sahabatnya itu


"Dih? Apaan sih?" Cindy menggelengkan kepalanya


"Lo kenapa ngga bilang aja ke dia, kalau gue bisa nganterin Lo pulang" Jeffri masih tidak terima


"Kak Arsya ngga akan setuju. Tadi gue udah ngomong, pulangnya ntar bareng Dita aja. Tapi tetap ngga di izinin" Cindy menjelaskannya pada Jeffri


"Maunya dia apa sih?" Jeffri memasang wajah masam


"Ya maunya bareng istrinya teruslah. Gimana sih Lo" tukas Dita yang menggelengkan kepalanya


"Ahh... Itu dia" Cindy melihat mobil milik Arsya menuju ke arah mereka


"Duh, pangeran bermobilnya udah datang ternyata" ledek Dita yang menyenggol-nyeggol lengan Cindy


Sedangkan Jeffri menghela napas kasar. Tidak suka dengan kedatangan laki-laki tersebut. Ia memalingkan wajahnya. Ingin sekali rasanya pergi dari sana saat itu. Tapi tetap harus menunggu Cindy pulang lebih dahulu


"Gue balik duluan yah" Cindy berpamitan pada Dita dan juga Jeffri


"Hati-hati Tuan Putri" teriak Dita dengan ledekannya


Sementara Jeffri hanya menatap malas pada Cindy yang sudah masuk ke dalam mobil tersebut


"Woy... Mau balik apa mau berdiri disini doang Lo?" Dita membuyarkan lamunan Jeffri


"Ribet Lo" Jeffri yang terlihat sudah tidak mood pun meninggalkan Dita di tempatnya


"Ya elah. Sakit hati ngga mesti diperlihatkan juga kali" teriak Dita namun mengikuti langkah Jeffri

__ADS_1


Sementara di dalam mobil, Cindy menyetel musik. Memilih lagu Night Changes milik One Direction. Kepalanya bergerak kesana kemari mengikuti alunan musik tersebut bahkan ikut menyanyikannya meski dengan suara pelan


"Udah makan?" tanya Arsya tanpa menoleh


Cindy pun menoleh lalu menggeleng "Belum"


Tanpa menimpali lagi, Arsya membelokkan mobilnya masuk ke salah satu kafe terdekat yang ada disana


"Lo? Ngapain kesini?" Cindy mengerutkan keningnya


"Belum makan kan?" pertanyaan Arsya membuat Cindy mengangguk polos "Ya udah. Turun" perintahnya


"Ngga usah deh Kak. Kita makannya di rumah aja. Lagian aku juga ngga lapar kok" tolak Cindy


"Tapi gue lapar" jawaban Arsya sukses membuat Cindy terkejut


"Kamu belum makan?" pertanyaan Cindy pun membuat Arsya mengangguk "Astaga. Ya udah, ayo" ajaknya yang terlebih dahulu turun


Keduanya kini masuk ke dalam kafe tersebut. Memesan masing-masing makanan mereka dan menunggunya beberapa menit


Cindy teringat pada berita tentang dirinya pagi tadi. Ia mengedarkan pandangannya. Takut-takut jika ada orang yang kembali memotret dirinya dan juga Arsya lalu kembali memuat berita


"Nyari siapa?" celetuk Arsya yang merasa bingung dengan tingkah wanita itu


Cindy menggeleng "Cuma takut nanti ada yang foto kita lagi. Terus di-posting beritanya kayak tadi pagi" ketusnya


Arsya terdiam sejenak. Sepertinya laki-laki itupun sudah melihat berita yang beredar tentang mereka berdua


"Ngga usah khawatir. Itu cuma orang iseng"


"Emang udah liat beritanya?" Cindy menaikkan sebelah alisnya


Arsya mengangguk "Ngga usah khawatir. Ngga penting"


"Tapi kak. Siapa sih yang kurang kerjaan banget nyebarin berita itu?" Cindy masih penasaran dalang dibalik semuanya


Arsya terdiam "Nanti biar gue yang cari orangnya" jawabnya setelahnya


"Eh ngga usah kak" cegah Cindy "Ntar malah ngebahayain lagi. Mending ngga usah deh" ia menggelengkan kepalanya "Biarin aja udah. Ntar juga kalau capek sendiri bakal berhenti"


"Ngga semudah itu. Udahlah tenang aja"


Pesanan mereka akhirnya datang juga. Sambil menikmati makanannya, sesekali mereka mengobrol untuk mencairkan suasana


"Wah. Ketemu disini ternyata" tiba-tiba seorang lelaki mendatangi meja keduanya


Air wajah Cindy langsung panik. Sementara Arsya tetap santai saja melihat siapa yang mendatangi mejanya


"Ternyata ngga perlu nyari jauh-jauh. Akhirnya ketemu disini" senyum sinis laki-laki tersebut membuat Cindy menelan paksa salivanya


"Ada apa?" Arsya menoleh tanpa ada raut takut pada wajahnya


Lelaki tersebut tertawa sinis "Ternyata sikap songong Lo ini ngga berubah yah"


Cindy mengigit bibir bawahnya, perlahan ia meraih ponselnya di tasnya yang berada di sampingnya. Ia menekan salah satu nomor yang harus ia hubungi dengan pikiran yang begitu takut


Arsya pun tersenyum sinis dengan wajah datarnya "Terus kenapa?" justru malah balik menantang


Wajah lelaki itu terlihat begitu murka dan menggerebek meja hingga makanan yang di atasnya terjatuh ke lantai


Tentu saja hal itu membuat Cindy terkejut dan berteriak memegang kedua telinganya sambil memejamkan matanya

__ADS_1


Arsya yang melihat Cindy terkejut pun langsung berdiri dan menantang lelaki itu dengan tatapan serius


"Mau Lo apa?"


__ADS_2