
"Dasar ngga punya sopan santun" ketus Arin yang melihat kedua gadis itu berlari masuk ke dalam gedung
"Bukan ngga punya sopan santun Rin. Mereka buru-buru. Lo aja pasti tau gimana killernya Pak Ashar" Jendris menyahuti perkataan Arin
"Ayo" Arsya berjalan lebih dulu dan meninggalkan adik serta sahabatnya yang kerap ribut ketika bertemu
***
"Gila. Jantung gue maraton banget rasanya" Cindy melemaskan sekuju tubuhnya setelah pelajaran dari Pak Ashar selesai
Untung saja mereka datang tepat waktu. Baru 5 detik keduanya berada di kelas, Pak Ashar sudah masuk ke dalam kelas. Dan jika dosen itu sudah masuk, maka tidak boleh lagi ada mahasiswa yang masuk setelahnya. Ia mengajarkan mahasiswanya untuk disiplin waktu
"Emang lo aja? Gue pikir jantung gue bakal meledak tadinya" Dita meraih kipas kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya lalu mengipasi wajahnya
"Makanya. Disiplin waktu" tukas Jeffri yang memberikan coklat kepada Cindy, sebab tadi ia tidak sempat memberikannya tadi
"Untung ada ini" Cindy meraih coklat tersebut "Makasih Jeff. Lo emang terbaik" ucapnya dengan mengacungkan jempolnya
"Coklat lagi. Coklat lagi. Makannya siang aja kenapa sih Cin?" lagi-lagi Dita memprotesnya
"Ngga usah protes. Udah masuk ke mulut gue nih" Cindy malah sengaja menggigit coklat itu di depan wajah Dita
"Perasaan lo gimana Cin? Udah baikan?" Jeffri melihat raut wajah Cindy yang sudah kembali ceria
"Udah" jawab Cindy tanpa melihat Jeffri, ia masih sibuk memakan coklatnya "Efek kangen Mami Papi aja sih kayaknya. Soalnya pass semalam udah ngobrol, perasaan gue jadi baik-baik aja. Tapi mereka bakal balik besok"
"Serius?" Jeffri terkejut "Gue mau ketemu mereka" ia begitu antusias
Dita dan Cindy langsung menoleh bersamaan ke arah Jeffri hingga membuat pria salah tingkah dibuatnya "Maksud gue. Kan gue udah lama ngga ketemu sama Papi Mami lo. Jadi ngga ada salahnya kalau gue pengen ketemu. Gue yakin, mereka ngga akan lama"
Cindy mengangguk membenarkan "Cuma mau nengokin gue aja. Habis itu balik lagi"
"Yang penting kan udah ketemu" pangkas Dita yang mematikan kipas kecilnya
"Ia benar. Yang penting udah ketemu. Makanya, sekali-sekali ikut mereka ke Kanada kalau libur. Biar ngga selalu jauh" Jeffri menasehati Cindy dengan mengelus kepalanya
__ADS_1
"Bisa ngga jangan mesra-mesraan depan gue?" Dita menyindir dengan geram
Cindy dan Jeffri langsung tertawa "Bisa ngga jangan marah-marah?" Jeffri pun mengacak rambut Dita
Seperti itulah kebiasaan mereka bertiga. Meskipun Jeffri menyukai Cindy, namun ia memperlakukan kedua gadis itu dengan sama. Karna bagaimana pun, keduanya adalah teman dekatnya dari sejak mereka SMA
***
"Arsya? Nanti malam lo datang kan ke pesta ulang tahun gue?" seorang gadis tiba-tiba datang dan duduk di meja Arsya yang tengah bermain game
Arsya hanya melirik sekilas "Malas" jawabnya dengan asal-asalan
"Arsya. Lo harus datang ke pesta ulang tahun Felly nanti malam" seru salah satu teman dari gadis yang bernama Felly
"Ia. Lo kan di undang secara langsung sama Felly? Masa lo ngga mau datang?"
"Ia Arsya. Ngga sopan banget kalau di undang secara langsung tapi ngga datang"
"Arsya? Nanti malam lo pasti bakalan datang kan?" Felly terus mendesak Arsya yang sudah tampak geram dengan kehadirannya bersama teman-temannya
"Arsya. Lo tuh kenapa sih selalu nolak ajakan gue?" kini Felly pun ikut bangkit dan merasa kesal karna selama ini selalu diabaikan oleh pria itu
"Karna gue muak sama cewek seperti lo" Arsya menunjuk wajah Felly dengan penuh penekanan
"Emangnya gue kenapa? Apa yang salah dari gue? Apa?!" Felly berteriak hingga membuat semua yang berada di dalam kelas kini menyaksikan dirinya
"Lo" Arsya hendak ingin meraih kerah baju gadis itu, namun ......
"Bro. Dia cewek. Udah" Jendris datang memegang tangan sahabatnya untuk menenangkannya "Felly, dengar!! Lo tau Arsya ngga suka sama lo. Terus kenapa lo masih ngejar-ngejar dia? Lo ngga punya malu sebagai cewek?" hardiknya pada Felly
"Diam lo" Felly mengecam keras sambil menunjuk Jendris "Kalau lo ngga tau apa-apa. Lebih baik lo diam!"
"Apa yang gue ngga tau? Gue bahkan lebih tau Arsya luar dalam daripada lo" kini emosi Jendris ikut menyulut meladeni gadis itu
Arsya mendesah keras. Menendang meja dengan sangat keras lalu berlalu keluar dari kelas entah ingin kemana pria itu. Perasaanya kembali memburuk. Bagaimana tidak, ia sangat tidak suka ada yang mengganggu waktu bermain gamenya
__ADS_1
"Arsya!" Jendris berteriak namun tidak dihiraukan "Tolong lo jaga sikap" ia memperingati Felly dan menyusul Arsya
"Argh" Felly melempar meja dengan sangat kesal
Namun tidak ada yang bisa menghalanginya. Ia adalah salah satu anak dari pengurus kampus yang sangat disegani oleh beberapa mahasiswanya. Namun tidak dengan sifat putrinya yang terkadang salah menggunakan jabatan orangtuanya disana
Jendris keluar mencari Arsya. Entah kemana ia harus mencarinya. Ia pun bingung. Namun satu-satunya tempat yang ia tau, adalah secret LTW. Maka secepatnya ia berlari menuju secret tim basket mereka
Jendris lega setelah menemukan Arsya berada di secret itu dengan duduk sendirian. Jendris perlahan mendekatinya dan duduk di sampingnya
"Ngapain lo disini?" Arsya menoleh ke samping dan mendapati Jendris disana
"Harusnya gue yang nanya. Lo ngapain disini?" Jendris malah menanyakannya balik
"Kepala gue pusing ada di kelas"
"Ngga usah masuk kalau begitu" jawab Jendris dengan enteng
Arsya menoleh dengan cepat. Wajahnya terlihat kesal "Lo mau buat gue diomelin sama Mama gue gara-gara ngelewatin satu kelas? Minggir lo. Ngga guna ada disini" ia menendang kaki Jendris
Jendris langsung tertawa. Ia tau Arsya tidak benar-benar mengusirnya "Lo sendiri yang bilang malas ada di kelas. Gue cuma ngasih lo saran"
"Saran lo ngga berguna sama sekali" emosi Arsya kembali menyulut
"Santai dong. Emosi mulu lo. Lama-lama lo bisa darah tinggi"
"Itu gara-gara lo"
"Terserah lo bro. Ayo masuk kelas kalau lo ngga mau kena omel Mama lo"
Arsya mendesah begitu keras. Ia sangat enggan untuk masuk kembali ke dalam kelas setelah sempat membuat keributan. Namun ia akan sangat enggan jika harus mendengar omelan Mamanya sepanjang hari jika melewatkan kelas meski hanya sekali
Di perjalanan menuju kelas, Jendris dan Arsya berpapasan dengan Cindy dan kedua temannya, diantaranya satu pria, yaitu Jeffri. Dan gadis satunya adalah Dita. Namun kedua pria itu tidak tau nama Dita. Yang mereka tau hanya nama Cindy, dan tentu saja tim lawan mereka, Jeffri sang penyerang yang kuat
Dan lagi-lagi, Cindy tidak sengaja bersitatap dengan Arsya yang menatap dirinya dengan tatapan tajam yang tidak mampu ia tebak. Perasaan marah, kesal, jijik, dan perasaan buruk lainnya
__ADS_1
"Kenapa mukanya nakutin banget?"