Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Terlihat nyaman


__ADS_3

"Woyyy... Bangun...." tubuh Cindy begitu terguncang


Perlahan membuka kedua kelopak matanya dengan pelan. Melihat pantulan sinar mentari pagi yang menghiasi kamarnya setelah Dita membuka lebar-lebar jendela tersebut


"Jam segini masih molor aja lo. Ayo cepetan mandi. Abis itu langsung berangkat. Ntar kita telat" masih pagi, Dita sudah mengomel dan membuka lemari Cindy lalu melemparkan sebuah handuk padanya


"Lo yah. Datang-datang ke rumah gue ngomel-ngomel kerjaan lo. Lagian ini juga hari libur. Mau kemana sih emang?" gerutu Cindy yang mengusap karna masih mengantuk


"Cindy sayang. Lo lupa?" Dita menghampiri Cindy dan duduk di tepi tempat tidur "Hari ini, Fakultas kita bakal ngadain tour ke desa. Meski semuanya ngga ikut, tapi di kampus sekarang udah banyak orang. Ayo cepetan mandi" ia menarik-narik tangan Cindy


"Ngga deh Dit. Lo aja yang ikut. Gue ngga bisa" tolak Cindy yang kembali merebahkan tubuhnya


"No no. Ngga bisa gitu. Gue bahkan udah nyatat nama-nama kalian. Cepetan ih. Jangan malu-maluin" Dita tetap berusaha menarik tangan Cindy


"Lo yang malu-maluin. Itukan acara buat senior. Ngapain juga coba lo ikut-ikutan? Kurang kerjaan banget" Cindy terduduk dengan kesal


"Eh, siapa bilang? Itu acara bersama Fakultas kita yah. Bukan cuma senior doang"


"Serah lo deh. Masih pagi udah ngajak ribut"


"Ya udah cepetan ih mandinya. Atau mau gue mandiin? Ayo" Dita berpura-pura ingin mengangkat tubuh Cindy


"Apaan sih. Jorok lo" tolak Cindy dengan menggerutu dan masuk ke dalam kamar mandi


Dita tertawa puas "Giliran mau dimandiin aja baru lo mau gerak"


***


Sebuah mobil berwarna putih memasuki area parkiran. Menjadi bahan perhatian karna satu-satunya mobil diantara banyaknya motor gede yang berjejer.


Kenta menyenggol lengan Arsya tatkala melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut. Siapa lagi kalau bukan Cindy dan Dita. Wajah Dita yang ceria menghiasi wajahnya, sedangkan Cindy? Terlihat sangat tidak bersemangat


"Ayo" Dita menarik tangan Cindy yang malas dan bergabung ke senior mereka


"Hai" sapa Kenta


"Hai juga kak" balas Dita


"Cindy? Lo ikut juga?" Jendris tiba-tiba datang


Cindy tersenyum sekilas "Ia kak" jawabnya "Terpaksa" batinnya


"Lo naik motornya bareng gue ya?" tawar Jendris dengan semangat


Cindy mengernyit "Gue kan bawa mobil" ia menunjuk mobilnya


"Ngga ada akses untuk kendaraan roda empat kesana. Yang bisa cuma roda dua" tukas Jendris


"Hah? Kok bisa?" Cindy terkejut mendengarnya lalu menatap tajam Dita


"Apa? Gue juga baru tau sekarang" sahut Dita yang tidak mau disalahkan

__ADS_1


"Astaga Dita" erang Cindy yang ingin memaki "Pulang aja deh kalau gitu" ia hendak pergi


"Eh jangan dong. Masa kita udah disini malah balik?" tahan Dita


"Terus apa? Kita juga ngga bisa pake mobil kan? Ya udah, gue mau balik"


"Eh. Tuh Kak Jendris kan nawarin lo bareng" Dita malah mengompori


"Ia. Bareng gue aja" cetus Jendris


"Terus gue mau lo kemanain?" tiba-tiba Erlan memegang pundak Jendris


"Lo kan bisa sama yang lain" sahut Jendris yang mengode Erlan


"Udah. Lo bareng Erlan aja. Lo juga yang rusakin motor Erlan. Tanggung jawab lo sekarang harus ngantar Erlan kemana pun" sergah Kenta "Gini aja. Arsya kan kosong, lo bareng Arsya aja" lanjutnya


"Gue? Kenapa harus gue?" Arsya menunjuk dirinya sendiri


"Karna disini cuma lo yang kosong. Gue malas nanya ke yang lain" jawab Kenta


"Terserah lo" Arsya kembali memasang wajah datar


"Cindy? Lo bareng Arsya ya?" tanya kembali Kenta


"Hah? Tapi Kak? Dita?" Cindy berusaha mencari alasan


Dita melihat Jeffri baru saja tiba "Gue bareng Jeffri. Selesai" seru Dita dengan santai


"Lo gila?" tukas Dita "Lo nyuruh gue barengan sama cal......" mulut Dita tiba-tiba dibekap oleh Cindy "Jaga omongan lo" bisik Cindy dan Dita mengangguk


"Apa? Barusan lo ngomong apa?" Jendris bertanya ulang pada Dita


Dita dengan cepat menggeleng dan menyengir "Ngga ada kak"


"Kalian disini?" Jeffri menghampiri kedua temannya


"Jeff? Bareng gue ya? Soalnya kendaraan roda empat ngga bisa masuk kesana" celetuk Dita


Jeffri mengangguk "Cindy gimana?" tunjuknya


"Bareng Kak Arsya" jawab Dita


Terlihat Jeffri memalingkan wajahnya. Tentu saja semua orang bisa melihatnya. Cindy menepuk-nepuk lengan Jeffri lalu tersenyum. Jeffri pun memaksakan senyumnya dan memegang kepala gadis itu


"Mulai deh" Dita menggeleng dengan memutar malas kedua bola matanya


Jeffri dan Cindy tertawa. Jeffri merangkul pundak Dita yang selalu jengah dengan drama keduanya. Arsya, Jendris, Kenta dan Erlan bisa melihat bagaimana kedekatan ketiganya


"Arsya?" Felly tiba-tiba datang merangkul lengan Arsya hingga membuat laki-laki itu risih dan melepas tangannya


"Apa?" sahut Arsya dengan malas

__ADS_1


"Lo kosong kan? Barengan sama gue ya? Soalnya yang lain udah punya pasangan semua" pinta Felly


Arsya melirik Cindy yang mencibirkan bibirnya ke arah lain. Arsya memejamkan matanya sejenak. Memegang hidungnya diantara mata sambil menunduk


"Kok malah diam sih?" tegur Felly


"Gue ngga kosong" jawab Arsya yang kembali memasang wajah datar


"What? Ngga mungkin? Emang lo bareng siapa?" Felly menggerutu kesal


Tidak ada yang menjawab sama sekali pertanyaan Felly. Bahkan Dita berusaha menahan tawanya karna merasa lucu. Gadis itu tidak ada yang menganggapnya disana


"Ayo jalan" seru Kenta pada yang lainnya


"Ta... Tapi gue?...." tidak ada yang mendengar seruan Felly


Arsya memberikan 1 helm pada Cindy dan gadis itu menerimanya. Dari situ, Felly sudah tau Arsya berboncengan dengan siapa. Darahnya mendidih sekali lagi ketika melihat Cindy. Gadis yang sudah berani menamparnya di depan banyak orang


Ransel Cindy yang hanya berisi air minum dalam botol terpaksa ia simpan di mobilnya karna perintah Arsya. Dan botol tersebut ia dimasukkan ke dalam tas Arsya yang lumayan banyak isinya. Arsya tidak bisa memakai tasnya karna keadaan motor yang tidak mendukung jika harus memboncengan. Jadi Cindy yang harus memakai tas tersebut


Cindy tidak sengaja melihat ke arah Felly yang wajahnya sudah memerah karena menatap dirinya. Cindy hanya mendengus. Tidak mempedulikan Felly dan langsung naik ke motor gede milik Arsya


"Felly? Lo masih mau tetap disana atau bareng gue?" seru salah satu teman sekelasnya


Dengan hentakan kaki, Felly mendengus mengiyakan. Daripada dirinya tidak bisa ikut. Lebih baik ia bersama teman sekelasnya itu meski ia tidak menyukainya


Perjalan panjang itu membuat suasana tampak berwarna. Beberapa motor gede melintas di berbagai daerah yang jarang ditemui banyak orang. Melewati pohon-pohon rindang, awan yang mendukung dengan matahari yang hanya bersembunyi dibalik awan-awan berwarna abu-abu biru gelap


Cindy menikmati perjalanan tersebut. Baru kali ini dirinya melakukan tour keluar dari daerah bersama banyak orang. Ingin sekali ia membentang kedua tangannya untuk menghirup lekat-lekat udara yang masuk ke indra penciumannya. Namun ia tidak bisa melakukannya. Tangannya saja hanya berpegangan pada kedua sisi jaket milik Arsya dan sekuat tenaga menahan kakinya agar tidak terjatuh ke depan


Arsya melirik ke spion. Ia bisa melihat wajah Cindy yang menahan rasa sakit pada pahanya agar tidak terjatuh ke punggungnya. Ia tau bagaimana sakitnya menahan agar tidak terjatuh ke depan. Ia melambatkan kendaraannya


"Ngga usah ditahan atau kaki lo ngga bisa jalan selama 2 hari"


Perkataan Arsya membuat Cindy terkejut sekaligus malu karena ketahuan "Hmmm. Ngga apa-apa kok"


"Jangan salahin gue kalau kaki lo ngga bisa jalan?"


"Emang ia?" Cindy sedikit mencondongkan kepalanya ke depan


Arsya mengangguk. Cindy dengan ragu mulai melemaskan kakinya yang memang sudah terasa kaku dan nyeri pada pahanya karna terlalu lama menahan agar tidak terjatuh ke depan


"Kak. Kalau aku berat bilang-bilang ya?" Cindy menyandarkan kepalanya di punggung Arsya dan hanya tetap berpegangan pada kedua sisi jaket laki-laki tersebut


Arsya tidak menjawab. Ia mulai melajukan kendaraannya untuk mengejar ketertinggalan yang lainnya. Padahal ia tidak berada paling belakang.


"Jeff? Coba deh lo liat Cindy" Dita menunjuk Cindy yang baru saja melewatinya bersama Arsya "Keliatan nyaman banget ngga sih?"


Jeffri ikut melihatnya. Tatapannya tertuju pada keduanya jarak mereka tidak tersisa apapun. Bahkan kedua tangan Cindy melingkar di perut milik Arsya. Demi apapun, Jeffri tidak suka melihatnya. Terlebih pertanyaannya kemarin tidak Cindy jawab saat mengantarnya pulang


Dita yang mengerti menepuk pundak temannya "Jeff? Udahlah. Ikhlasin Cindy"

__ADS_1


...TERIMA KASIH MASIH DISINI 💞...


__ADS_2