
Suara deringan milik ponsel Cindy terus menggema di kamar yang gelap itu. Bahkan layar ponselnya terlihat berkerlap-kerlip. Cindy benar-benar terganggu dengan suara bising tersebut
"Halo" ucapnya setengah sadar setelah berhasil meraih ponselnya di atas nakas
"Cindy? Lo cepetan ke rumah sakit sekarang" seru seseorang dari balik telepon dengan panik
Cindy berusaha mengerjakan matanya dan tanpa melihat siapa yang menelponnya karna ia sangat menghapal suara tersebut "Siapa yang masuk rumah sakit Jeff?" ia masih sempat menguap
Wajar saja, Cindy mendapatkan telepon dari Jeffri pukul setengah 1 malam. Cindy merasa kantuknya tidak bisa ia lawan. Bahkan beberapa ia terlihat menguap
"Cindy ...... Gue mohon sekarang lo ke rumah sakit" bahkan suara Jeffri bergetar saat mengatakannya
Mendengar suara Jeffri yang tidak seperti biasanya. Cindy berusaha melawan kantuk dan bangun "Jeff? Jelasin ke gue, siapa yang masuk rumah sakit?"
"Cindy ....... Mami Papi lo ........ Kecelakaan"
Kedua bola mata Cindy hendak keluar dari tempatnya "Jeff? Lo jangan asal ngomong? Mami Papi gue baru nyampe besok?" ia terdengar membentak Jeffri
"Cepetan lo ke rumah sakit sekarang juga" Jeffri terus menyuruh Cindy untuk segera datang
Tanpa berpikir panjang, Cindy mematikan sambungan teleponnya. Meraih jaket serta kunci mobilnya. Meski dengan lutut yang bergetar setelah mendapat kabar tersebut, ia tetap berdiri tegak. Tidak percaya itu adalah orangtuanya sebelum ia melihatnya sendiri
Cindy tidak perlu bertanya di rumah sakit mana Jeffri menghubunginya tadi. Sebab Papa Jeffri adalah seorang Dokter di salah satu rumah sakit besar yang ada di daerah mereka tinggal
Cindy berlari masuk ke dalam rumah sakit setelah memarkirkan kendaraannya. Suara sendal yang ia gunakan berbenturan keras dengan lantai yang ia pijaki. Berusaha mencari dimana keberadaan Jeffri
"Cindy!!!" suara Jeffri memanggil Cindy membuat gadis itu dengan cepat menoleh
"Jeffri" Cindy berlari kecil menghampiri Jeffri "Dimana? Dimana Mami Papi gue?" ia sekuat tenaga menahan tangisnya
"Ada di dalam. Kita tunggu dulu" Jeffri berusaha menenangkan Cindy yang tampak pucat
"Nak?" seorang wanita paru baya menghampiri Cindy dengan mata sembap
__ADS_1
"Tante?" ucap Cindy dengan pelan. Ia tau ibu tersebut adalah Mamanya Arsya "Tan ..... Tante ngapain disini?" tanyanya
"Anak Tante, Arsya mengalami kecelakaan Nak" Mama Kanya langsung memeluk Cindy dengan berurai air mata
Cindy tidak tau harus melakukan apa selain membalas pelukan Mama Kanya "Tante. Tante yang sabar ya? Aku yakin Kak Arsya akan baik-baik aja"
"Ma" terlihat suami Mama Kanya mendekati istrinya dan mengelus punggungnya
Mama Kanya akhirnya tersadar "Maaf Nak. Tante kebawa perasaan" ia melepas pelukannya dengan Cindy
"Ngga apa-apa Tante. Aku ngerti kok" Cindy berusaha memaksakan senyumnya dengan mata sayu
"Kamu sendiri sedang apa disini Nak?" Mama Kanya baru menanyakannya kepada Cindy
Cindy tersenyum hambar "Kata teman aku, Mami Papi aku juga ngalamin kecelakaan. Dan mereka ada di dalam" ia menunjuk ruang IGD tersebut
Mama dan Papa Arsya begitu terkejut mendengar penuturan Cindy "Mami Papi kamu juga di dalam?" tukas Mama Kanya
Tiba-tiba seorang Dokter laki-laki keluar dari ruang tersebut dengan raut wajah merasa bersalah. Mereka semua pun langsung menghampiri Dokter tersebut
"Pa? Gimana keadaan Papi Mami Cindy?" Jeffri memegang lengan Dokter tersebut yang tak lain adalah Papanya
Orangtua Cindy dan juga orangtua Jeffri sudah saling mengenal beberapa tahun lalu. Bahkan sebelum kedua anak-anak mereka berteman. Dan Papa Jeffri lah yang memberitahu putranya tentang kecelakaan orangtua Cindy
Papa Jeffri menatap iba pada Cindy. Sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya pada orangtua Arsya "Apa kalian orangtua anak laki-laki di dalam?"
"Ia Dokter. Bagaimana keadaan anak saya?" Mama Kanya kembali berurai air mata
"Anak Ibu Bapak selamat"
Mama dan Papa Arsya langsung bernapas lega mendengar putra mereka selamat dari kecelakaan maut yang hampir saja membuat nyawa putranya melayang. Kemudian Papa Jeffri beralih menatap Cindy yang diam saja
"Cindy?" Papa Jeffri memegang sebelah bahu gadis itu "Kamu harus sabar ya Nak? Dan, Om turut berduka atas kepergian orangtuamu"
__ADS_1
Sumpah demi apapun, dunia Cindy seakan runtuh dibuatnya setelah mendengar pernyataan Dokter sekaligus Papa temannya itu. Bahkan kakinya sudah tidak kuat menahan tubuhnya hingga akhirnya ia hampir saja ambruk. Untung saja Jeffri langsung memegangi kedua bahu Cindy
"Cindy?" suara Jeffri benar-benar bergetar melihat wajah Cindy tampak pucat pasi
Bahkan Mama dan Papa Arsya sangat terkejut. Bagaimana pun mereka tau, jika putranya adalah orang yang menabrak mobil kedua orangtua Cindy hingga mereka tewas
"Ngga. Ngga mungkin Om. Mami Papi aku baru akan pulang besok. Jadi itu ngga mungkin mereka" Cindy histeris dengan memberontak
"Cindy? Lo harus terima kenyataan ini" Jeffri memegang kuat kedua bahu Cindy "Ayo sekarang kita masuk liat mereka" ia membantu Cindy masuk ke dalam ruangan
Cindy hanya mengikuti Jeffri yang membawanya masuk ke ruangan. Karna tubuhnya sudah tidak lagi mampu ia tumpu dengan kaki yang sudah sangat bergetar. Seketika air matanya tumpah tanpa bersuara ketika melihat wajah Mami dan Papinya yang sudah tak bernyawa
"Mami ...... Papi ......" Cindy berteriak sambil menangis sejadi-jadinya menghampiri kedua orangtuanya "Mami bangun ...... Mami ........." tangisnya menggema di ruangan tersebut "Papi ...... Papi bangun ........ Jangan tinggalin Cindy sendirian ......." ia menggoyang-goyangkan tubuh orangtuanya
"Cindy" Jeffri tak kuasa menahan kesedihannya melihat Cindy menangis
"Jeff. Tolong bangunin mereka Jeff. Tolong. Mereka ngga boleh ninggalin gue" kini Cindy beralih menggoyang-goyangkan lengan Jeffri sambil menangis
"Cindy. Lo harus ikhlas" Jeffri berusaha menenangkan Cindy yang terus menangis sesegukan
"Ngga. Ngga mungkin. Ngga mungkin" Cindy berteriak-teriak sambil mendorong tubuh Jeffri
Jeffri tak kuasa menahan kesedihannya. Ia keluar dari ruangan dengan menangis. Menghubungi Dita untuk membuat Cindy tenang. Sementara di dalam ruangan, Mama dan Papa Arsya menghampiri Cindy setelah melihat keadaan putranya yang hanya terhalang tirai tipis berwarna hijau
"Mami ....... Papi ..... Ayo bangun. Kalian janji akan datang jengukin Cindy" Cindy terus menangis namun kali ini sudah bersimpuh karna tidak kuat menahan tubuhnya
"Nak?" Mama Kanya terlihat ikut duduk dan memegang punggu Cindy
Cindy menoleh lalu memeluk Mama Kanya "Tante tolong. Tolong bangunin Mama aku. Tolong Tante. Aku cuma punya mereka di dunia ini. Cuma mereka yang aku punya" ia menumpahkan air matanya dengan pilu
Mama Kanya ikut menangis mendengarnya "Sabar ya Nak" ia mengelus punggung gadis itu. Ia tidak tau harus mengatakan apa karna semua ini adalah murni kecelakaan yang dilakulan oleh putranya
Cindy terus menangis meraung memanggil nama Papi Maminya hingga ia tidak sadarkan diri. Kondisi tubuhnya langsung drop. Mama Kanya menjadi panik dan menyuruh suaminya memanggil Dokter
__ADS_1