Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Terjadi masalah besar


__ADS_3

Semua orang pun terkejut. Namun Arsya tetap memasang wajah datar. Arin diam-diam melirik kakaknya dengan memicingkan matanya. Meskipun ia tidak begitu suka pada Cindy, namun ia tetap bersimpati pada gadis malang itu.


"Ia. Sekang gue di rumah lo. Tapi ngga ada orang. Emang lo sekarang dimana?"


Cindy menggigit bibir bawahnya. Tidak tau harus mengatakan apa, dan tiba-tiba saja Mama Kanya meminta ponsel Cindy. Gadis itu pun membulatkan matanya namun tetap menyerahkan ponselnya itu


"Halo nak Jendris?"


"Ha... In.... Ini siapa?" terdengar suara Jendris sedikit gugup


"Ini Mamanya Arsya"


"Mamanya Arsya? Hah? Tante? Lho? Kok hp Cindy?......"


"Cindy menginap di rumah semalam"


"Apa? Tante bercanda kan?"


"Kenapa Tante harus bercanda? Tante mau tanya. Kamu ngapain pagi-pagi ke rumah Cindy?"


Sejenak tidak terdengar suara dari Jendris "Hmmm. Ya..... Namanya juga anak muda Tante"


Mama Kanya menoleh ke arah Cindy yang tampak biasa saja, lalu menoleh ke arah Arsya yang juga menoleh padanya "Oh..... Jadi kamu diam-diam menusuk anak Tante dari belakang ya?" ledeknya


"Maksud Tante?"


"Kamu siap-siap saja terluka" Mama Kanya langsung tertawa lalu mematikan sambungan teleponnya "Ini" ia mengembalikan ponsel Cindy


"Kak Jendris di rumahnya dia sepagi ini Ma?" Arin menunjuk Cindy. Entah kenapa gadis itu tidak mau menyebut nama Cindy


Mama Kanya mengangguk lalu menoleh ke arah Cindy "Masih mau pulang sekarang? Jendris ada di depan rumah kamu sekarang lho?"


Cindy berpikir sejenak "Kak Jendris sering datang ke rumah lo ya?" seru Arin pada Cindy dengan sinis


Cindy menoleh pada Arin "Ngga! Cuma sekali. Dua kali sama hari ini" jawabnya


"Punya hubungan apa lo sama Kak Jendris?" Arin memicingkan matanya


Cindy dengan cepat menggeleng "Ngga ada! Gue ngga punya hubungan apapun sama Kak Jendris"


"Terus kenapa dia bisa datang ke rumah lo?" Arin masih mencari tau meski sesekali melirik kakaknya


"Ngga tau" Cindy menggeleng dengan polos hingga membuat Mama Kanya dan Papa Rasyad tertawa


"Lo polos apa bodoh sih?" seru Arin yang mulai kesal


"Beda tipis" sahut Arsya hingga membuat Arin tertawa keras


"Arsya? Arin? Mama ngga suka ya?" tegur Mama Kanya menatap kedua anaknya hingga membuat Arin mengulum bibirnya


Deringan ponsel milik Papa Rasyad tengah berdering. Ia merogoh saku celananya. Matanya menatap lamat pada nama kontak yang tertera di layar ponselnya


"Siapa Pa? Kok ngga dijawab?" cetus Mama Kanya

__ADS_1


"Ini Arga nelpon Ma. Tumben sekali dia nelpon Papa"


"Jawab aja Pa. Siapa tau penting" sahut Mama Kanya. Arga adalah saudara dari suaminya


"Halo Ga? Ada apa?"


"Ada apa, ada apa? Sudah punya calon mantu kenapa ngga dikenalin sama keluarga besar?"


"Calon mantu?" Papa Rasyad terkejut dan melihat semua orang satu persatu


"Ia calon mantu. Dengar-dengar sebentar lagi Arsya mau nikah. Papa Kania baru saja menelpon semua keluarga besar"


Kedua bola mata Papa Rasyad membulat sempurna "Papa Kania?"


"Ia. Dia bilang, Kania pulang-pulang nangis dari rumah kamu karna baru saja ketemu calon istrinya Arsya. Dan sebentar lagi mereka akan menikah"


Betapa terkejutnya Papa Rasyad mendengar berita dari saudaranya itu "Oh ia. Sudah dulu. Nanti semua keluarga akan berkunjung ke rumahmu. Kami semua mau melihat calon mantu kami itu"


Papa Rasyad menurunkan ponselnya lalu menatap pada Arsya dan Cindy secara bergantian "Terjadi masalah besar"


Mata Cindy yang sudah sipit semakin menyipit. Namun ia membungkam bibirnya rapat-rapat untuk tidak bertanya. Ia merasa itu adalah masalah keluarga mereka dan ia tidak punya hak untuk ikut campur dalam masalah itu


"Masalah besar? Masalah besar apa Pa?" Mama Kanya seketika menjadi gusar


Papa Rasyad memandang Arsya dan Cindy bergantian dengan raut wajah sendu "Cindy. Om akan minta maaf sebelumnya, tapi masalah ini akan menyangkut kamu dan Arsya nak" ucapnya


Bola mata Cindy membesar dengan tanda tanya di kepalanya "Maksud Om apa?" tanyanya dengan pelan


"Apa maksud Papa?" kening Arsya berkerut dalam


Semua oran kini tengah menatap Arin yang semakin bingung "Ulah aku? Emangnya aku kenapa Pa? Perasaan aku ngga ngapa-ngapain?"


"Gara-gara kamu bilang Arsya dan Cindy akan menikah, Kania ngadu ke Papanya. Dan sekarang, semua keluarga sudah tau itu" Papa Rasyad menggelengkan kepalanya


"Apa?" Arsya dan Cindy bahkan berteriak karna terkejut


"A... Apa Pa? Kania ngadu ke Papanya?" Arin bahkan sama terkejutnya dengan Arsya dan Cindy


"Astaga. Kenapa jadi begini?" berbeda dengan yang lain. Mama Kanya justru malah tertawa hingga membuat yang lainnya menatap bingung padanya


"Mama kenapa ketawa?" tegur Arsya dengan nada kesal


"Mama merasa ini lucu. Bisa-bisanya Kania ngadu ke Papanya" Mama Kanya masih terus tertawa


"Ih? Mama apaan sih? Anak lagi kena masalah, Mama malah ketawa-ketawa" protes Arin yang sudah kesal


Mama Kanya menatap Cindy yang berada di sampingnya "Bahkan meskipun itu benar. Mama yang akan paling bahagia disini" ujarnya


Papa Rasyad pun menghela napas pelan. Ia mengerti maksud perkataan istrinya "Mama" ucapnya dengan menggeleng


Cindy benar-benar tidak tau harus mengatakan apa. Ia terus saja diam dan lebih memilih mendengarkan. Sedangkan Arsya sudah menatap Cindy dengan begitu geramnya


"Mama sangat setuju kalau memang Arsya akan menikah sama Cindy" cetus Mama Kanya hingga membuat ketiga remaja itu tersentak

__ADS_1


"Mama" seru Arsya dan Arin. Sedangkan Cindy yang masih shock membulatkan kedua mata sipitnya


"Mama apa-apaan sih? Arsya ngga mau!" Arsya menolaknya dengan mentah-mentah


"Lo pikir gue mau apa?" Cindy membatin dengan memutar malas kedua bola matanya


"Tapi Papa mau" sahut Papa Rasyad hingga membuat Arsya terdiam


Jika pada Mamanya, maka Arsya masih bisa sedikit membantah dan menolak. Tapi jika sudah berhadapan dengan Papanya. Maka Asrya akan menurut dan tidak berani membantah sedikit pun.


"Maaf Om. Tapi Cindy..... "


"Pikirkan lagi nak sebelum mengambil keputusan" Mama Kanya tiba-tiba memotong ucapan Cindy


"Mama. Ngga usah maksa anak orang" tegur Arin yang membela kakaknya


"Ini semua juga gara-gara lo" hardik Arsya pada adiknya


"Ya mana aku tau Kak kalau si Kania bakal ngadu ke Papanya" bantah Arin


"Mungkin keluarga besar besok akan datang kemari untuk melihat Cindy" seru Papa Rasyad dan berhasil membuat semuanya terkejut


"Besok? Kenapa mendadak sekali Pa?" sahut Mama Kanya


***


Cindy sudah uring-uringan di ayunan belakang rumahnya. Ayunan panjang dan lebar itu bisa menampung seluruh tubuhnya yang tengah berbaring menatap sendunya langit sore. Sesendu perasaannya kini


Sejak siang tadi. Cindy diantar pulang oleh Arsya. Tidak ada percakapan apapun disana hingga sampai di depan pagar rumah Cindy. Hanya ucapan terima kasih yang Cindy lontarkan ketika turun dari mobil Arsya. Dan pria itu pun langsung menancapkan gasnya pergi darisana


Bi Imah menghampiri Cindy dengan membawa segelas jus jeruk. Ia meletakkannya di meja "Neng? Ayo minum jus jeruk dulu" serunya


Cindy menoleh dan bangun. Menghela napas kasar lalu menghampiri Bi Imah dengan malas-malasan. Meski begitu, Bi Imah tampak tersenyum padanya. Ia sudah tau semuanya. Karna sejak tadi, Mama Vanya terus bertukar suara dengan Bi Imah


"Jadi? Apa Neng siap nikah sama Mas Arsya?"


Pertanyaan Bi Imah sukses membuat Cindy tersedak dan terbatuk-batuk "Pelan-pelan minumnya Neng" tegur Bi Imah yang dengan cepat memberikan sekotak tissu pada Cindy


Cindy menatap Bi Imah dengan memicingkan matanya "Kenap Bibi bisa tau? Apa Tante Kanya cerita ke Bibi?"


Bi Imah hanya tersenyum. Dari situlah Cindy sudah bisa paham "Tapi aku ngga mau Bi. Aku belum siap nikah. Belum siap dan ngga mau. Lagian aku masih kuliah. Masih muda banget. Perjalanan aku masih panjang. Masa aku udah mau nikah aja? Apa kata teman-teman aku nantinya Bi?" ia mendesah berat


"Ngga ada yang salah Neng dari menikah selama masih kuliah. Nikah muda itu bagus lho Neng?"


Selama ini, Bi Imah memang selalu mendengarkan semua cerita majikan kecilnya itu. Karna ia sudah bekerja di rumah itu bahkan sebelum Cindy lahir


"Bibi kan tau sendiri? Aku tuh masih kekanak-kanakan banget. Masak aja masih dikit-dikit bisanya. Ah.... Pokoknya aku belum siap. Dan aku ngga mau Bi"


"Apa Neng ngga kangen sebuah keluarga?"


Pertanyaan Bi Imah lagi-lagi membuat Cindy tersedak padahal ia tidak sedang meminum apapun. Ia langsung menatap kedua bola mata Bi Imah


"Jika Neng nanti menikah sama Mas Arsya, setidaknya Neng akan merasakan hangatnya sebuah keluarga disana. Karna Papa sama Mama Mas Arsya sangat suka sama Neng. Apa Neng ngga mau?"

__ADS_1


...OH IA MAAF UNTUK BEBERAPA HARI INI AKAN SLOW UPDATE YAH. MUNGKIN SAMPAI AHAD NANTI. KEMARIN2 DI GRUP UDAH BLG KAN YAH. PAMAN KU ADA YG MAU NIKAH. JADINYA AKU KUDU STAY DI RUMAH PAMAN. MOHON PENGERTIANNYA DAN TERIMA KASIH...


__ADS_2