
"Yang harus dibuang itu kenangan pahitnya. Bukan fotonya langsung. Kan bisa aja kalau ngga suka bingkainya, ya bingkainya aja yang dibuang. Ganti bingkai baru. Ngga harus fotonya juga yang ikut dibuang" Cindy memberi saran pada Arsya
"Ia. Nanti gue ganti bingkainya" Arsya memilih mengalah namun memang ada benarnya perkataan Cindy
"Emang Kaleysha itu siapa?" lagi-lagi Cindy kembali bertanya "Pacar kamu?"
Arsya diam saja tanpa menjawab pertanyaan terakhir Cindy. Ia lebih memiliki fokus menyetir
Cindy menghela napas dan memalingkan kembali wajahnya ke luar jendela
"Maaf kalau aku nanya hal yang ngga kamu suka"
Perkataan Cindy membuat Arsya merenung namun tidak bisa berkata-kata apapun
Arsya hanya melirik sekilas dan memilih bungkam. Ia melajukan mobilnya menuju rumah orangtuanya sesuai kesepakatan mereka berdua
Setelah mereka sampai. Cindy terlebih dahulu turun tanpa diminta aba-aba. Biasanya wanita itu menunggu Arsya turun terlebih dahulu. Namun Arsya tidak menegurnya. Keduanya masuk ke dalam rumah
"Sayang... Akhirnya kalian datang juga" Kanya berjalan menghampiri keduanya dan langsung memeluk menantunya itu
Ternyata keluarga itu sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi di ruang keluarga. Kanya, Rasyad dan juga Arin menghampiri Arsya dan Cindy
"Baru beberapa ngga ketemu, Mama sudah kangen sama kalian" Kenya memeluk melepas rindu pada menantunya dan mengabaikan putranya
"Mama cuma kangen sama Cindy?" protes Arsya
Kanya pun tertawa "Tentu saja Mama juga kangen anak Mama ini" kini Kanya beralih memeluk Arsya
"Sudahi dulu drama peluk-pelukannya. Ayo ajak mereka duduk dulu Ma" tegur Rasyad
"Tau nih Mama. Ada tamu bukannya disuruh duduk malah asik-asikan ngobrol di depan pintu" protes Arin dengan ketus
"Bilang saja kamu juga mau peluk kakak kamu kan?" Kanya mencolek hidung putrinya "Ngga usah malu-malu
"Ih, Mama apaan sih" Arin mencebik malu
Arsya tersenyum lalu mendekati adiknya lalu memeluknya "Kangen kan? Bilang aja!" Ia pun ikut menggoda adiknya itu
"Siapa yang kangen sih? Ih!" protes Arin tanpa melepas pelukan kakaknya
Kanya dan Rasyad pun tersenyum melihat kedekatan kedua anaknya itu. Bahkan Cindy sendiri menarik ujung bibirnya untuk tersenyum melihat keduanya tampak begitu saling menyayangi sebagai saudara.
Seketika ia merindukan kedua orangtuanya. Dulu ia sangat berharap kedua orangtuanya memberikannya saudara. Namun karna kesibukan keduanya, hingga akhirnya tidak sempat memberikan Cindy seorang adik hingga nyawa merenggut keduanya begitu cepat
"Ayo sayang kita masuk" Kanya memeluk Cindy "Apa kamu sudah makan?" tanyanya
__ADS_1
"Sudah Ma. Sebelum kemari, aku dan Kak Arsya sudah makan" jawab Cindy dengan begitu hangatnya
"Baiklah. Ayo duduk dulu" Kanya mempersilakan Cindy duduk di ruang keluarga "Bi...." ia berteriak kepada asisten rumah tangganya "Tolong buatkan minum yah?!"
"Oh ia Arsya. Bagaimana dengan perusahaan kedua orangtuanya Cindy? Kapan kamu akan mulai bekerja?" Rasyad memulai pembicaraan serius terlebih dahulu
"Belum tau Pa. Aku masih bingung dan ngga tau harus mulai dari mana. Aku kan belum punya pengalaman Pa" keluh Arsya yang belum tau sama sekali tentang pekerjaan tersebut
"Kalau kamu kesulitan, Papa bisa minta bantuan Galih untuk membantumu di perusahaan itu. Galih bisa membantu mu sekaligus bisa mengajarimu cara mengelola perusahaan" tawar Rasyad kepada putranya
"Benar Pa?" sekelibas cahaya terang mendekati Arsya "Papa ngga keberatan kalau Om Galih membantuku di perusahaan?" tanyanya
Karna setau Arsya, Galih adalah salah satu tangan kanan Papanya. Ia sepupu sekaligus rekan kerja Papanya yang punya pengaruh besar di perusahaan
"Ia. Papa bisa minta Galih untuk bantu kamu mengelola perusahaan. Galih punya banyak pengalaman. Dia pasti bisa bantu kamu. Dan kamu bisa belajar banyak dari Galih"
"Boleh Pa. Aku sama sekali belum tau apa-apa tentang perusahaan. Tapi, Papa ngga akan kesulitan kan kalau Om Galih pindah ke perusahaan orangtuanya Cindy?"
"Ngga apa-apa. Masih ada Mario yang bisa bantuin Papa di kantor"
Mario adalah kakak Kania. Wanita yang begitu menyukai Arsya padahal mereka bersepupu. Namun Arsya tidak pernah menganggapnya lebih
"Terima kasih Pa. Kalau begitu, Papa tolong kasih tau Om Galih besok. Supaya beliau cepat membantu ku Pa"
"Ia. Tenang saja. Besok Papa akan bicara pada Galih"
"Mau kemana malam-malam begini?" sahut Kanya
"Cuma ke supermarket kok Ma. Ngga akan lama" ujar Arin yang sudah bersiap untuk pergi
"Supermarket?" celetuk Cindy
Alis Arin mengerut "Ia. Kenapa emangnya? Lo mau ikut?" tawarnya walau masih dengan nada judesnya
Senyum Cindy merekah "Boleh?" tanyanya untuk memastikan
Arin mengangguk cuek "Ayo cepat kalau mau ikut!"
"Arin? Harus sopan sama Kakak Ipar kamu!" tegur Kanya yang memperingatkan anaknya
"Ia Ma" ketus Arin
Arin dan Cindy pun berjalan menyusuri jalan menuju supermarket dekat rumah mereka. Hanya berjarak sekitar kurang lebih dua ratus kilometer
Kecanggungan terjadi diantara keduanya. Hingga Arin melirik ke arah Cindy dan ingin menanyakan sesuatu pada kakak iparnya itu
__ADS_1
"Cowok yang sering bareng Lo itu bukan cowok Lo?"
Cindy menoleh sekilas "Maksudnya Jeffri?" tanyanya ulang dan membuat Arin mengangguk "Bukan. Dia cuma teman gue dari SMA. Kami udah lama temenan. Makanya dekat" jelasnya
"Tapi kayaknya dia suka tuh sama Lo?" pancing Arin yang melirik
Cindy tersenyum "Ngga kok" ia menggeleng "Dia emang se care itu sama teman-temannya. Dan bukan cuma gue aja. Tapi juga ada Dita. Lo pasti tau teman gue yang satu itu kan?" paparnya
"Kayaknya cuma Lo berdua aja sih. Ngga ke teman-teman lain" cetus Arin
Cindy mengerutkan keningnya dengan tersenyum "Kok dari tadi ngomongin Jeffri sih? Jangan bilang.... Lo suka lagi sama Jeffri?" godanya
Arin membelalakkan matanya "Nggalah. Jangan sembarang ngomong Lo" serunya dengan gugup.
Arin meninggalkan Cindy dan langsung berlari kecil masuk ke supermarket setelah sampai. Cindy hanya tertawa kecil melihat tingkah Arin yang sepertinya salah tingkah setelah ketangkap basah
***
"Arin sama Cindy kenapa lama banget? Perasaan supermarket ngga jauh dari sini" ujar Arsya yang terus melihat ke arah pintu rumah
"Kamu kalau kangen sama istrimu bilang aja? Orang mereka belum pergi selama 30 menit" goda Kanya pada putranya
"Ngga gitu Ma. Maksudnya kalau aku tau mereka bakal lama perginya, aku bisa ikut. Untuk mastiin mereka baik-baik aja" bantah Arsya dengan sopan
Baru saja Rasyad hendak menimpali, di luar rumah sudah terdengar suara cekikikan yang sudah bisa dipastikan pemilik suara itu yang sudah ditunggu-tunggu oleh Arsya
Arin dan juga Cindy menenteng sebuah kresek berisi beberapa camilan yang mereka beli di supermarket tadi sambil tertawa. Entah apa yang mereka berdua tertawakan
Arsya merasa heran. Sejak kapan istri dan adiknya itu terlihat akur? Bahkan sejak terakhir mereka di rumah itu, Arin masih bersikap judes pada Cindy sampai sebelum mereka ke supermarket. Tapi hari ini?
"Ayo sini" Arin memanggil Cindy untuk duduk di sampingnya "Mah, Cindy boleh nginap di kamar aku ngga?" tanyanya pada Mamanya
"Ngga boleh sayang. Nanti kakak kamu tidur sama siapa?" Kanya mengelus kepala putrinya
"Kars kan bisa tidur sendiri Ma?" ketus Arin "Cindy biar tidur di kamar aku aja"
"Arin? Kamu boleh main sama Cindy besok lagi. Malam ini tidur di kamar masing-masing yah?!" cetus Rasyad
"Ngga apa-apa Arin. Besok lagi aja kita mainnya" celetuk Cindy untuk menyudahi
"Emang kalian anak kecil?" Arsya menggelengkan kepalanya
"Emang kami masih kecil kok? Kars aja yang ngebet pen nikah. Sama anak di bawah umur!"
Kedua bola mata Arsya menatap tajam wajah adik satu-satunya itu
__ADS_1
"Ariiinnnn"