
Arsya yang melihat keberadaan dua gadis yang tidak asing ada di rumahnya seketika menatap tajam keduanya. Dita langsung menunduk karna merasa tatapan Arsya sangat tidak bersahabat. Sedangkan Cindy memalingkan wajahnya
"Hmm. Tante. Kami permisi dulu. Karna kami harus ke kampus" ujar Cindy yang berdiri dengan sopan
"Kenapa buru-buru sekali?" sahut Mama Kanya
"Ia Tante. Kami cuma bantu. Tapi kami juga buru-buru" Cindy menaikkan sebelah tangannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya
"Mereka ngapain disini Ma?" Arin menghampiri Mamanya
"Sayang. Mereka ini yang membantu Mama membawa barang belanjaan. Mama tadi terjatuh di jalan. Jadi mereka yang bantu"
"Oh" hanya itu yang diucapkan oleh Arin
"Ayo berangkat" Arsya ikut menghampiri Mamanya dan mencium punggung tangannya
Dita semakin jatuh hati dengan Arsya. Meskipun pria itu terkenal kasar, namun ia sangat menyayangi adik serta Mamanya
"Oh ia sayang. Gadis-gadis cantik ini biar ikut kalian yah? Mama tadi sempat cerita, dan ternyata mereka satu kampus dengan kalian" Mama Vanya menawarkan Dita dan Cindy
"Ngga usah Tante" Cindy dengan cepat menolak "Hmmm. Kami bisa naik taksi. Kalau gitu kami pamit dulu" ia hendak meraih tangan Mamanya Arsya
"Itu ngga sopan. Kalian sudah membantu Tante. Padahal kalian juga sedang buru-buru. Jadi ngga apa-apa anak Tante sekalian bareng kalian. Mereka juga mau ke kampus. Arsya?"
Arsya yang tidak pernah menolak keinginan Mamanya berusaha menahan kekesalannya "Ia Ma"
"Paling nih dua orang fans kerasnya Kars. Makanya sampai bela-belain mau ngebantuin Mama" batin Arin yang melihat tidak suka pada kedua gadis itu
"Ayo Tante antar kalian keluar" Mama Vanya menggandeng tangan Cindy dan Dita yang diikuti oleh kedua anak mereka dengan menggerutu
"Terima kasih ya kalian sudah mau membantu Tante" Mama Vanya sangat senang masih ada anak muda yang peduli dengan lingkungan sekitarnya ketika membutuhkan bantuan
"Sama-sama Tante" sahut Dita dengan cepat
"Kami pamit Ma"
Arsya bersama ketiganya berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Arin terlihat duduk di depan bersama kakaknya. Dan membiarkan dua gadis itu berada di belakang. Di perjalanan, tiba-tiba deringan ponsel milik Arsya berdering
"Jendris?" guman Arsya setelah melihat siapa yang menghubunginya, ia menempelkan benda pipih itu di telinganya setelah menekan icon hijau
"Ya Halo"
"Lo bisa jemput gue ngga? Mobil gue mogok nih di jalan"
"Lo dimana?"
"Gue sharelock aja deh"
"Ok"
Arsya mematikan sambungan teleponnya lalu kembali menaruh ponselnya di laci mobilnya setelah mengetahui keberadaan Jendris. Arin terus menatap kakaknya "Siapa?"
Arsya sejenak menoleh "Jendris"
"Kak Jendris?" kening Arin saling bertaut "Kenapa sama Kak Jendris?"
__ADS_1
"Mobilnya mogok di jalan. Gue mau jemput dia dulu"
Setelah beberapa menit, Arsya menemukan Jendris yang berdiri di dekat mobilnya yang mogok dan sedang menunggu pegawai dari bengkel juga yang akan mengambil mobilnya
"Cepat masuk" seru Arsya setelah menurunkan kaca mobilnya
Jendris tau di depan ada Arin. Jadi ia akan memilih duduk di belakang seperti biasa jika Arsya menjemputnya. Dan saat hendak masuk ke dalam mobil, Jendris terkejut karena disana ada Cindy dan temannya yang tidak ia kenal
"Cindy? Kok lo ada disini?" Jendris memilih masuk dan duduk di samping Cindy karna tidak mau membuat Arsya menunggu atau sahabatnya itu akan memarahinya
Arsya dan Arin menoleh kebelakang. Bagaimana bisa pria itu mengenal salah satu gadis yang ada disana? Namun Arsya seketika tersadar, jika gadis yang bernama Cindy itu adalah gadis yang diajak berkenalan oleh Jendris di lapangan waktu itu
"Hmmm ...... Terjadi sedikit sesuatu kak" jawab Cindy yang seakan sudah begitu dekat dengan Jendris
Tanpa berkata, Arsya langsung menancapkan kembali gasnya. Arin memilih diam saja di depan. Sementara Dita seperti menjadi orang ketiga diantara Jendris dan juga Cindy
"Oh ia Cindy. Gue boleh minta nomor HP lo ngga?" Jendris menyerahkan ponselnya kepada Cindy
"Kalau Kak Jendris minta nomor HP aku, terus aku pakai apa dong?" sebenarnya Cindy ingin menolak namun terdengar seperti melawak
Jendris tertawa "Ya udah salin aja"
"Ya Tuhan ..... Dia ini teman gue? Kenapa otaknya masih setengah waras?" Dita menghela napas lalu menatap Cindy dengan tajam
Karna Cindy tidak punya alasan untuk menolak, ia memberikan nomor ponselnya kepada Jendris. Dan tentu saja pria itu sangat senang
"Lo ngga bawa mobil sendiri kenapa?" tanya Jendris yang menyimpan kembali ponselnya setelah mendapat nomor ponsel Cindy
"Bannya kempes kak. Jadi ngga bisa dipakai"
"Gampang kak. Kan ada taksi, bisa ne ......... " ucapan Cindy terhenti tatkala ponselnya berdering di dalam tasnya "Bentar kak"
Cindy meraih ponselnya di dalam tas "Jeffri?" ucapnya setelah melihat layar
Semua yang ada di dalam mobil langsung menoleh ke arah Cindy. Kecuali Arsya yang hanya melirik di balik kaca spionnya
"Jefrri?" ulang Dita dan Cindy mengangguk
"Halo Jeff"
"Lo sama Dita dimana? Ngga ke kampus?"
"Ke kampus kok. Ini udah di jalan"
"Di jalan mana? Sebentar lagi kelas dimulai"
Cindy menaikkan sebelah tangannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya "Oh my god" pekiknya "Jeff lo harus bantuin gue sama Dita. Bentar lagi gue nyampe" ia mulai panik
"Apa sih? Kenapa lo jadi panik?" tegur Dita yang mengerutkan kening
"Lo ngga ingat. Hari ini kelasnya Pak Ashar. Lo mau diomelin panjang lebar tapi ujung-ujungnya tetap ngga masuk kelas?" sahut Cindy dengan geram
"Ngga usah ribut dulu. Jadi gimana? Waktu udah mepet"
"Jeff. Gue ngga mau tau. Pokoknya lo harus bantuin kita. Hmmmm ...... Lo bisa nyari alasan dulu deh. Apa aja gitu" Cindy sudah bingung dengan apa yang harus ia lakukan
__ADS_1
Arin, Jendris, dan Arsya juga tau. Bagaimana killer nya dosen tersebut. Terlebih jika ada mahasiswa yang telat. Nilainya akan sangat berpengaruh
"Ia apa? Apa yang harus gue lakuin?"
"Hmm ..... Lo bisa cegat Pak Ashar dulu biar ngga masuk kelas. Ya lo halangan-halangi aja di depan pintu"
"Lo Gila?"
"Lo gila?"
Dita dan Jeffri memekik bersamaan hingga membuat tawa Cindy pecah. Ia tau idenya itu sangat gila. Namun ia sendiri tidak tau apa yang harus ia katakan
"Nyari mati itu lo mah" Dita merebut ponsel Cindy "Halo Jeff?"
"Ia Dit. Cepetan apa rencana lo?"
"Gini aja Jeff. Lo pura-pura sakit perut aja. Atau, lo bisa pura-pura jatuh kesandung pass Pak Ashar masuk. Lo pegang kakinya supaya beliau juga ikut jatuh"
"Lo gila? Lo mau nyari mati, hah?"
"Ide lo jauh lebih gila" seru Cindy yang kembali merebut ponselnya "Jeff. Atau gini aja deh. Kalau Pak Ashar udah masuk duluan, izinin aja. Ban mobil gue kempes, jadi telat ke kampus. Dan itu ngga bohong kan Dit?" ia menanyakannya langsung pada Dita
"Nggalah. Orang ban mobil lo emang kempes" sahut Dita dengan kesal
"Ia. Itu aja deh Jeff. Bentar lagi gue nyampe kok"
"Ban mobil lo kempes? Terus kesininya lo naik apa?"
"Adalah. Pokoknya lo harus izinin kita. Ingat itu"
"Ia. Hati-hati di jalan"
"Jeff? Jangan lupa coklat"
"Tenang. Udah gue siapin"
"Gila lo ya? Masih sempat-sempatnya nyari coklat" Dita selalu mengomeli Cindy tentang cokat setelah sambungan telepon itu berakhir
"Ya udah sih biarin aja. Panik juga harus tetap makan coklat biar pikiran enak"
Arsya langsung menancap gas semakin kencang. Meski Cindy dan Dita sempat ketakutan, namun ia menahannya agar bisa cepat sampai di kampus dan tidak telat oleh kelas Pak Ashar
"Coba aja gue yang bawa mobil. Gue turunin nih dua orang di belakang. Ribut banget" Arin sangat tidak menyukai orang-orang yang banyak bicara
Setelah mereka sampai di parkiran, ponsel Cindy kembali berdering "Halo Jeff?"
"Cepetan. Kalian dimana sih? Pak Ashar sudah mau kesini"
"Tunggu. Gue udah di parkiran" Cindy langsung membuka pintu di samping Dita "Cepetan turun" ia mendorong tubuh Dita
"Santai dong" protes Dita yang keluar dari mobil milik Arsya
"Terima kasih atas tumpangannya Kak" ucap Cindy dengan buru-buru "Ayo cepetan" ia menarik tangan Dita dan setengah berlari
"Woy, woy..... Santai woyyyy. Terima kasih atas tumpangannya kak" teriak Dita pada Arsya yang tampak acuh
__ADS_1