Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Sebentar lagi menikah


__ADS_3

Semua orang terkejut dengan Kania yang tiba-tiba berdiri sambil berteriak. Kecuali Arin yang sudah tau reaksi dari sepupunya itu berusaha menahan tawa dengan mengulum rapat-rapat bibirnya


"Kenapa lo teriak-teriak?" Arsya membentak Kania yang menatap kesal padanya


"Kak Arsya bilang. Kak Arsya ngga mau pacaran. Tapi kenapa dia?" Kania dengan geram menunjuk Cindy yang tidak tau apapun "Bisa jadi pacar Kak Arsya?"


Semua orang kecuali Cindy dan Kania menoleh ke arah Arin yang wajahnya sudah memerah karna menahan tawa. Mereka tau itu ulah Arin. Mama Kanya dan Papa Rasyad menggelengkan kepalanyanya melihat tingkah putrinya. Sedangkan Arsya mendesah


"Gue?" Cindy menunjuk dirinya sendiri dengan bingung


"Ia. Lo" Kania semakin geram menunjuk Cindy


"Tapi gue bukan pa .... " Arsya menahan tangan Cindy dan menatap tajam dirinya hingga membuat dirinya terdiam "Lo?" Arsya menoleh ke arah Kania "Kalau lo cuma nyari ribut disini mending pergi"


"Arsya?" tegur Mama Kanya


"Ayo duduk nak. Jangan buat keributan di meja makan. Setelah sarapan baru kalian boleh mengobrol lagi" cetus Papa Rasyad hingga Kania kembali duduk dengan perasaan dongkol


"Kenapa malah nuduh-nuduh gue pacarnya Kak Arsya? Dan kenapa juga Kak Arsya malah nahan gue coba?" segilintir pertanyaan muncul di kepala Cindy namun ia tidak mau mengungkapkannya


***


"Kak Arsya? Sekarang jelasin ke aku, kenapa Kak Arsya bisa sampai pacaran sama dia? Sedangkan Kak Arsya sendiri yang bilang ngga mau pacaran karna buang-buang waktu" seru Kania setelah mereka semua berkumpul di ruang tamu


Cindy semakin bingung. Namun ia lebih memilih diam karna tidak mau ikut campur meski namanya ikut terseret. Ia hanya ingin mendengarkan saja. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Juga dengan Arsya


Arsya sejenak melirik Cindy yang tampak biasa saja dan tidak ada reaksi apapun dari gadis itu. Arin benar-benar berusaha keras menahan tawa yang diapit oleh kedua orangtuanya yang tersenyum melihat ketiganya, Arsya, Cindy dan Kania


"Terus kenapa? Apa masalahnya buat lo? Gue pacaran pun, itu urusan gue. Bukan urusan lo" Arsya menskak Kania


Namun tentu saja Kania tidak menyerah "Ngga bisa gitu dong kak. Selama ini aku udah nunggu lama. Bahka aku sampai nolak semua cowok yang nembak aku, itu demi Kak Arsya. Dan sekarang apa balasannya? Kak Arsya malah pacaran sama cewek ngga jelas kayak dia" Kania menunjuk-nunjuk Cindy yang hanya mengerutkan kening


"Nih orang ngomong apa sih?" Cindy menghela napas namun tetap diam


Mama Kanya tersenyum hangat pada Cindy "Dia bukan gadis sembarangan nak. Dia gadis yang baik" ia membela Cindy yang terus dipojokkan oleh Kania


"Kok Tante malah belain dia sih bukannya belain aku? Aku kan keponakan Tante?" Kania mengeluh kesal karena ternyata Tantenya itu tidak membela dirinya


"What? Keponakan? Berarti dia sepupuan dong sama Kak Arsya? Terus ngapain dia suka sama sepupunya sendiri?" meski Cindy sedikit terkejut, namun ia mencoba membuat raut wajahnya terlihat biasa saja


"Bukannya Tante belain. Tapi memang dia gadis yang baik"

__ADS_1


"Jadi maksud Tante? Aku bukan gadis yang baik gitu? Aku ngga cocok sama Kak Arsya gitu? Kok Tante gitu sih?" sahut Kania dengan nyolot


"Eh santai dong lo ngomong sama nyokap gue!" seru Arin "Berani banget lo ngomong nyolot ke Mama gue! Disini aja udah ketahuan kalau lo emang ngga baik. Ngga cocok buat kakak gue" lanjutnya


"Arin?" tegur Papa Rasyad


"Habisnya dia ngeselin Pa" ketus Arin yang menatap tidak suka pada sepupunya itu


"Astaga..... Kenapa jadi gini sih?" Cindy benar-benar tidak suka berada pada situasi itu


Air mata Kania langsung mengalir "Kenapa kalian semua jahat? Kenapa ngga ada satupun yang suka sama aku? Apa salah aku?" ia menundukkan pandangannya


"Astaga nak" Mama Kanya langsung menghampiri keponakannya itu. Anak dari adik laki-lakinya


"Tante minta maaf. Tante sayang kok sama kamu. Tante nganggap kamu sebagai anak Tante sendiri. Tapi soal perasaan, Tante ngga bisa maksa nak. Apalagi Arsya. Kamu tau sendiri bagaimana sifat dia. Perasaan seseorang itu ngga bisa dipaksakan nak. Kamu gadis yang baik, keponakan Tante yang baik. Suatu saat, kamu pasti bisa dapat laki-laki yang jauh lebih baik dari Arsya" Mama Kanya mengusap-usap punggung keponakannya yang sedang menangis


"Dih? Dasar si ratu drama" guman Arin yang memutar malas kedua bola matanya dengan jengah hingga membuat Papanya terkekeh karna mendengar gumanan putrinya


"Tapi aku cuma mau Kak Arsya Tante? Aku ngga mau yang lain" Kania mengangkat wajahnya dan melihat Mama Kanya


"Tapi nak Ars....... "


"Kars udah mau nikah" potong Arin hingga membuat semua terkejut dan langsung menatap ke arahnya "Jadi gue harap, lo sadar diri mulai sekarang. Karna sebentar lagi, Kars udah mau nikah" lanjutnya


"Apa dengan dia? Kak Arsya akan nikah sama dia?" Kania menunjuk Cindy yang tampak mengerjapkan matanya karna terkejut


"Kok gue dibawa-bawa lagi?" batin Cindy yang merasa risih


"Memangnya pacarnya Kars siapa lagi? Kan ngga lucu kalau itu lo" sahut Arin dengan santai


Kania semakin menangis lalu meraih tasnya "Kalian semua jahat" ia berlari keluar dari rumah dan tidak menghiraukan teriakan Mama Kanya dan Papa Rasyad


"Arin........... " Arsya yang sudah sejak tadi menahan rasa geram pada adiknya, pun mendekatinya


"Mama..... Papa...... Tolong......" belum sampai Arsya mendekat, Arin sudah berteriak keras


"Arsya?" tegur Papa Rasyad yang membuat Arsya mendengus kesal


"Lo gila ya ngomong itu ke Kania?" seru Arsya dengan kesal


"Kars? Gue bakal lebih gila kalau gue harus ngeliat Kars nikah sama cewek bar-bar kek dia. Punya sepupu ngga guna banget" celetuk Arin yang membuat Arsya tertawa meski tadinya ia sedang kesal

__ADS_1


Mama Kanya dan Papa Rasyad menggelengkan kepalanya "Arin. Papa ngga pernah ngajarin kamu ngga sopan ya? Belajar darimana kamu?" tegur Papa Rasyad


Arin menyengir "Maaf Pa. Lagian aku ngga suka banget sama dia. Cewek tapi ngga punya harga diri. Malah dia yang ngejar-ngejar" ketusnya


Semua orang menjadi tertawa kecuali Cindy yang lebih memilih diam dan menyimak. Terlihat rasa sedih di wajahnya melihat keharmonisan keluarga itu. Seketika ia merindukan kedua orangtuanya. Ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak tumpah


Mama Kanya yang melihat Cindy pun tampak terhanyut. Ia mendekati Cindy yang duduk berdekatan dengan Arsya "Kamu baik-baik saja nak?" ia mengelus lembut kepala Cindy


Mata Cindy sudah berkaca-kaca. Ia mengangguk lalu tersenyum "Aku ngga apa-apa Tante"


"Maaf ya nak. Gadis tadi itu namanya Kania. Dia keponakan Tante. Memang dari kecil dia suka sama Arsya. Maaf ya nak jadi melibatkan kamu" Mama Kanya terus mengelus kepala Cindy


Cindy benar-benar terhanyut lalu mengangguk dengan tulus. Air matanya sudah tak terbendung lagi hingga membuat Mama Kanya mengerti dan memeluk dirinya. Mengusap-usap kepala dan punggung gadis itu


"Kamu baik-baik saja kan nak?" tanya ulang Mama Kanya


"Aku baik-baik aja Mami" Cindy terkejut dengan ucapannya sendiri "Hmm. Maaf, aku baik-baik saja Tante" ia melepas pelukannya dengan canggung


Semua orang disana saling bersitatap. Arin yang awalnya kesal karna Mamanya terlalu perhatian dengan Cindy menjadi diam. Mereka semua tau, gadis itu tengah merindukan orangtuanya. Cindy benar-benar merasa canggung saat itu


"Hmm. Tante, aku mau pamit pulang dulu"


"Tapi nak? Sepertinya Bi Imah belum kembali. Kamu disini dulu sampai Bi Imah ada di rumah ya?" Mama Kanya tidak mau membiarkan Cindy pergi


"Ngga apa-apa Tante. Aku udah terbiasa sendiri di rumah" sahut Cindy dengan santai namun membuat yang lainnya tampak kasian "Hmm, maksud ku. Sebelum Mami dan Papi ku meninggal, aku udah biasa sendirian di rumah. Karna mereka menghabiskan waktu di Kanada" lanjutnya karna tidak mendapat respon


Mama Kanya pun tersenyum tulus "Tante tau nak. Kalau begitu, biar Arsya yang antar kamu ya?"


"Ngga usah Tante!" Cindy dengan cepat menolak "Hmm. Aku mau naik taksi aja"


"Ngga bisa gitu nak. Kan kamu di......... "


Tiba-tiba deringan ponsel milik Cindy berdering hingga ucapan Mama Kanya terhenti "Tunggu sebentar Tante" Cindy dengan cepat meraih ponselnya di tas


"Kak Jendris?" ucap Cindy dengan mengernyit setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya


Arsya langsung melirik, pun dengan Arin "Jendris? Jendris temannya Arsya?" tukas Mama Kanya yang menunjuk Arsya


Cindy tersenyum hambar lalu manjawab panggilan itu "Ia. Halo kak?" jawabnya dengan canggung sambil melirik yang lainnya


"Halo Cindy? Lo dimana? Kok gue ke rumah lo tapi ngga ada orang?"

__ADS_1


Cindy terkejut "Hah? Kak Jendris sekarang di rumah aku?"


...SALAM HANGAT UNTUK SEMUA READERKU YANG MASIH TETAP STAY DISINI 🌹🌹🌹...


__ADS_2