
"Kalau liat kalian begini. Bibi yakin sebentar lagi kalian akan punya anak" ucap Bi Imah dengan senyum yang merekah di wajahnya
Seketika air yang berada di mulut Arsya menyambur keluar lalu terbatuk-batuk mendengar perkataan Bi Imah. Untung saja air tersebut tidak mengenai makanan yang ada di meja
"A... Anak?" ucapan Arsya langsung tergagap saat mengatakannya
"Kak Arsya jorok banget sih?!" gerutu Cindy yang mengambil tissue karna pakaiannya sedikit terkena muncratan air dari mulut Arsya "Bibi juga ngomongnya aneh-aneh" ketusnya karna ia tau itu adalah hal yang mustahil terjadi
Bi Imah hanya tersenyum lalu pamit kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Sedangkan Arsya menjadi canggung saat itu. Namun Cindy malah tampak acuh dengan perkataan Bi Imah. Sepertinya wanita itu tidak tertarik sama sekali
"Makan kak? Jangan bengong aja" tegur Cindy karna melihat Arsya hanya mengaduk-aduk makanannya
"Ya" hanya itu jawaban yang diberikan oleh Arsya lalu melanjutkan makanannya
Setelah selesai menyelesaikan makanannya masing-masing. Arsya terlebih dahulu naik ke kamar. Sedangkan Cindy membereskan meja makan dan membawa semua piring kotor ke wastafel.
"Ngga usah Neng. Biar Bibi aja yang cuci piring. Neng istirahat aja di atas. Pasti capek baru pulang" cegah Bi Imah saat melihat Cindy mencuci piring kotor
"Ngga apa-apa Bi. Lagian aku juga ngga ada kerjaan kok. Habis ini baru istirahat" sahut Cindy tanpa menoleh dan fokus pada cucian piringnya
Bi Imah pun tersenyum sungkan "Mas Arsya beruntung sekali bisa mendapatkan Neng Cindy istrinya. Udah cantik, baik hati, dermawan lagi" pujinya yang membuat Cindy terkekeh
"Bibi mau minta apa nih? Mujinya sampe selangit gitu" Cindy menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tertawa
Bi Imah pun ikut menggeleng "Ngga mau minta apa-apa Neng. Yang penting Neng selalu bahagia aja udah buat Bibi senang. Neng anak yang baik. Bibi selalu berharap Neng selalu diliputi kebaikan dan kebahagiaan" doanya dengan tulus
"Aamiin. Makasih ya Bi. Selalu ada kalau Cindy butuh apa-apa" Cindy begitu terharu dengan asisten rumah tangganya itu "Ya udah, aku kembali ke kamar dulu ya Bi?" pamitnya setelah menyelesaikan pekerjaannya
Cindy menaiki tangga dengan meregangkan otot-otot tubuhnya. Membuka kenop pintu dan menutupnya kembali. Ia melihat Arsya tengah berbaring dengan posisi tangan yang menutupi sebagian wajah atasnya
"Kayaknya kecapean" guman Cindy yang tidak ingin membangunkannya
Cindy hanya meraih ponselnya di atas nakas lalu duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut. Ia memainkan gadget nya dengan membuka salah satu sosial media miliknya
Tanpa terasa, kantuk datang menyerangnya. Beberapa kali ia menguap dan melawan rasa kantuknya. Namun tetap tak kunjung berhasil. Hingga akhirnya pertahanannya runtuh. Ia tertidur di sofa dengan posisi terduduk sambil memegang ponselnya
Suara benda terjatuh membuat Arsya menggeliat. Ia menerawang sudut-sudut kamar tersebut. Seketika mendapati Cindy tertidur di sofa. Ponsel wanita itu terjatuh ke lantai namun ia tidak merasakannya
Arsya mengucek matanya lalu bangun dari tidurnya. Mendekati Cindy hendak membangunkannya. Namun ia tidak tega karna melihat wanita itu sepertinya kelelahan
Arsya pun kemudian berinisiatif mengangkat tubuh Cindy dan memindahkannya ke tempat tidur. Dengan pelan Arsya memindahkan tubuh tersebut. Meski sedikit berat, akhirnya berhasil meletakkan tubuh tersebut
Sejenak Arsya menatap wajah Cindy yang terlelap dalam tidurnya. Ada rasa bersalah pada wanita itu. Namun juga terbesit rasa kesal padanya, entah kenapa Arsya begitu kesal pada Cindy
***
"Mas Arsya?" Bi Imah menghampiri Arsya yang tengah bersantai di taman belakang
"Ia Bi? Ada apa?" Arsya menoleh ke arah Bi Imah
"Neng Cindy nya tidur ya?"
"Ia Bi. Cindy tidur. Bibi butuh sesuatu?"
Bi Imah menggeleng "Ngga apa-apa Mas. Tadi Bibi sama Cindy mau keluar belanja bulanan. Tapi kalau Neng masih tidur, saya pergi sendiri aja. Nanti dikasih tau Neng aja ya Mas kalau saya pergi duluan"
__ADS_1
Arsya pun mengangguk "Ia Bi. Nanti aku bilang ke Cindy kalau dia sudah bangun"
"Baik Mas. Mari" pamit Bi Imah
Tak berselang lama. Cindy turun dari tangga dan mencari keberadaan Bi Imah. Namun nihil, ia tak menemukannya sama sekali hingga membuatnya bingung. Dilihatnya Arsya berada di taman belakang lalu menghampirinya
"Kak? Liat Bi Imah ngga?"
Arsya seketika menoleh ke arah sumber suara tersebut "Baru aja pergi" jawabnya
"Pergi?" kening Cindy saling bertaut "Pergi kemana?"
"Katanya mau belanja bulanan" sahut Arsya dengan santai sambil memainkan gadget nya "Tadi nanyain Lo. Tapi karna tidur, jadinya Bi Imah pergi sendiri" lanjutnya
"Kok ngga bangunin aku sih?" ketus Cindy yang menghampiri Arsya lalu duduk di sampingnya
"Memangnya siapa yang nyuruh Lo tidur?" sindir Arsya dengan sinis
"Namanya juga ngantuk ya tidurlah" tukas Cindy dengan kesal "Tapi kak. Perasaan tadi aku tidurnya di sofa deh? Kok tiba-tiba udah ada di kasur?" Cindy masih terpikirkan bagaimana bisa dirinya sudah berada di kasur padahal tadinya ia tertidur di sofa
"Ngigo sambil jalan mungkin" Arsya hanya asal jawab karna terus menatap layar ponselnya
"Ngaco" ujar Cindy yang tidak terima "Atau jangan-jangan Kamu yah yang mindahin aku?" tebaknya dengan memicingkan matanya
"Punya bukti apa?" kini Arsya menatap Cindy
"Ya kan di kamar cuma ada kita? Gimana sih?!" gerutu Cindy yang mengalihkan pandangannya
Arsya hanya menggelengkan kepalanya "Terserah. Malam ini gue mau pergi!"
Arsya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah Cindy. Dan wanita yang ditatapnya pun mengulum bibirnya sejenak
"Ia ia aku tau. Aku ngga akan ikut campur urusan kamu. Cuma nanya aja. Siapa tau Mama tiba-tiba nyariin kamu. Aku jadi ngga tau mau jawab apa nanti"
"Mau ke pembukaan kafe milik kakaknya Erlan" sahut Arsya dengan tenang
"Ohhhh" Cindy membulatkan bibirnya membentuk huruf O
"Mau ikut?" tawar Arsya yang membuat Cindy terkejut
"Dia ngajakin gue?" batin Cindy
"Emang boleh?" Cindy menaikkan sebelah alisnya
Arsya pun mengangguk "Itu pembukaan kafe. Semua orang bisa datang kesana" tukasnya
"Boleh deh kayaknya. Daripada suntuk di rumah sendirian" Cindy memanyungkan bibirnya
Arsya meliriknya. Cindy yang merasa dilirik pun tersenyum kikuk "Aku mau ke atas dulu kalau gitu" pamitnya dengan cepat
***
"Naik motor? Kenapa ngga naik mobil aja?" Arsya memilih menggunakan motornya saat akan pergi ke kafe pembukaan kakak Erlan, teman kampusnya
"Macet. Cepat naik!" perintah Arsya lalu menyerahkan satu helm pada Cindy
__ADS_1
Cindy mencebikkan bibirnya namun tetap menerima helm tersebut. Ia menaiki motor milik Arsya setelah keduanya berpamitan pada Bi Imah
Tidak ada obrolan apapun disepanjang jalan yang mereka lalui. Lebih memilih membisu sambil menikmati pemandangan di malam hari dengan tiupan angin sepoi-sepoi hingga sampailah mereka ke tempat tujuan
"Wah.. Rame banget" gimana Cindy setelah turun dari motor dan memperhatikan sekelilingnya
"Ayo masuk" ajak Arsya berjalan mendahului Cindy
Cindy pun mengekor akan kemana Arsya melangkah. Ia tidak mengenal siapapun disana kecuali Arsya. Yang ia lihat rata-rata orang yang baru ia temui. Kalaupun ada, ia hanya sekedar tau wajahnya, tapi tidak untuk namanya karna beberapa kali bertemu di kampus
"Wih. Datang juga Lo bro" Erlan datang menghampiri Arsya dan Cindy. Ia bersalaman ala laki-laki pada Arsya namun keningnya berkerut melihat Cindy "Cindy? Lo disini juga?"
Cindy hanya tersenyum kikuk lalu sedikit menunduk sebagai jawaban. Ia tidak tau harus berbuat apa disana
"Eh, bro. Duduk disana!" Erlan menunjuk sebuah meja dimana teman-temannya yang lain berada
"Ok" Arsya mengangguk "Ayo" ajaknya kembali pada Cindy
"Tunggu!" Erlan menghentikan langkah Arsya lalu memegang tangannya "Jangan bilang Lo kesini bareng Cindy?!" tebaknya
Arsya tidak menjawab pertanyaan Erlan "Ayo!" ajaknya kembali pada Cindy
"Wih... Datang bawa cewek capek nih Arsya"
"Cantik bener nih cewek"
"Dia bukannya cewek yang tadi siang ke secret kan?"
Begitu banyak godaan yang didapatkan Arsya dan Cindy saat mereka ikut bergabung bersama yang lainnya hingga membuat Cindy sedikit risih dibuatnya
"Jarang-jarang Lo bawa cewek ke tongkrongan Sya? Kayaknya spesial kalau gini"
"Bukan jarang lagi. Emang baru pertama kali Arsya bawa cewek"
"Mana ceweknya cakep lagi yah?"
"Udah! Diam!" perintah Arsya hingga membuat yang lainnya terkekeh
Arsya melihat Cindy yang hanya mengedarkan pandangannya ke segala arah. Entah mencari siapa wanita ini. Untung saja perempuan tidak hanya Cindy yang duduk dengan mereka. Ada beberapa teman kelas Arsya lainnya yang berada disana
"Arsya? Lo datang juga?" Felly tiba-tiba ikut bergabung dan menyeret kerah baju Dika agar berpindah posisi agar memudahkannya dekat dengan Arsya
Dika yang diseret pun menggelengkan kepalanya "Untung Lo cewek" akhirnya ia berpindah
Arsya tidak mempedulikan kedatangan Felly disana. Cindy pun mengalihkan pandangannya dan tidak mau mempedulikan Felly
"Eh, siapa nih?" Felly yang menyadari kehadiran Cindy merasa heran "Kenapa ada orang ngga jelas duduk disini"
Arsya melirik Felly dengan sinis. Cindy pun merasa kesal dengan perkataan Felly yang mengatakan dirinya tidak jelas
"Jaga ucapan Lo" titah Arsya dengan tegas
"Arsya? Kenapa Lo malah belain cewek ini?"
"Diam!" bentak Arsya yang langsung berdiri hingga membuat yang lainnya tertegun
__ADS_1
"Tutup mulut mu itu!!!"