Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Udah pacaran kan?


__ADS_3

Arsya melirik Felly dengan sinis. Cindy pun merasa kesal dengan perkataan Felly yang mengatakan dirinya tidak jelas


"Jaga ucapan Lo" titah Arsya dengan tegas


"Arsya? Kenapa Lo malah belain cewek ini?"


"Diam!" bentak Arsya yang langsung berdiri hingga membuat yang lainnya tertegun


"Arsya? Kenapa Lo jadi belain dia?" Felly pun ikut berdiri hingga membuat pengunjung yang lain menoleh ke arah meja mereka


"Lo lagi? Lo lagi?!" Kenta datang dan hanya melewati Felly lalu menepuk bahu Arsya "Udahlah Sya. Ngga usah nyari ribut sama nih cewek" ucapnya


"Eh, ada Cindy?" sapa Jendris yang baru saja tiba


Cindy hanya tersenyum kikuk. Felly memicingkan matanya dengan menatap tidak suka pada Cindy


"Lo ngapain sih disini? Ini bukan tongkrongan buat Lo! Atau jangan-jangan Lo malah sengaja ya kesini biar bisa godain cowok-cowok yang ada di meja ini? Ngga tau malu banget sih!" gerutu Felly yang menatap sinis pada Cindy


"Kalau ngga tau apa-apa tuh mending diam aja deh?!" ketus Cindy yang memutar malas bola matanya


"Eh?! Lo yang ngga tau apa-apa! Emangnya siapa yang ngundang Lo kesini? Ingat yah. Di meja ini khusus angkatan gue. Lha eluh? Angkatan mana Lo?" ejek Felly yang menyunggingkan bibirnya


"Udahlah Felly ngga usah banyak omong. Cindy ada disini juga dibawa sama Arsya" Kenta langsung menyahut


"What??" Pekik Felly "Ngga salah dengar gue?"


"Kalau telinga Lo masih bisa dengar sih berarti ngga budeg" Jendris langsung duduk di samping Cindy tanpa mempedulikan Arsya yang meliriknya


"Kak, duduk!" Cindy menarik tangan Arsya untuk kembali duduk dan membuat laki-laki itu menurut


Felly yang masih tidak terima menatap nyalang wajah Cindy. Teman-teman Felly yang lain berusaha menenangkan gadis itu untuk tidak membuat keributan atau mereka tidak akan menikmati malam itu dengan bersenang-senang


"Cindy? Mau pesan apa?" Jendris menyodorkan buku menu kehadapan Cindy


Cindy pun sedikit menoleh lalu menatap buku menu tersebut yang ada di depannya itu "Milk shake aja Kak" jawabnya


"Biar gue pesankan ya?" Jendris dengan semangat hampir menaikkan tangannya jika Kenta tidak cepat menendang kakinya dibawah


"Apaan sih? Nendang-nendang gue Lo!" kesal Jendris pada Kenta


Kenta tidak menjawab. Ia memberi isyarat untuk melihat ke arah Arsya. Saat Jendris melihat ke arah Arsya, senyumnya menjadi kikuk, lalu menaikkan jarinya tanda 'OK'


"Lagian. Yang bawa ceweknya kesini siapa, yang mau pesenin siapa" ledek Dika dari kursi seberang hingga membuat yang lainnya tertawa


"Kayaknya ada yang cinta segitiga nih"


"Bukan sih. Lebih tepatnya rasa tak berbalas"


"Salah. Harusnya rasa yang tepat pada orang yang salah"

__ADS_1


Tawa yang lainnya begitu heboh mengejek ketiganya. Arsya, Cindy, dan juga Jendris. Meski ada sepasang mata yang tetap menatap tidak suka pada Cindy. Siapa lagi kalau bukan Felly. Bahkan teman-teman Felly pun ikut tidak menyukai Cindy


"Ya wajar sih Cindy jadi rebutan? Orang cakep gitu mukanya? Gue aja mau sama dia. Tapi sayang.. Udah keduluan sama kapten" ledek Reno salah satu tim LTW Arsya


Cindy yang merasa kurang nyaman hanya menampilkan senyum paksanya. Berada disana sebenarnya bukan keinginannya jika tau hampir semua dimeja itu berisi laki-laki. Namun tak mengapa, setidaknya disana ada Arsya yang akan menjaganya


"Udah puas?!!!" ucapan Arsya membuat yang lainnya berpura-pura saling mengobrol satu sama lain hingga membuat Kenta menahan senyumnya


Sembari menunggu pesanan. Mereka bersenda gurau seperti biasa. Banyak hal yang mereka ceritakan dan hanya membuat Cindy menyimak obrolan tanpa berniat menimpali


Arsya menggeser botol minuman ke depan Cindy dan mengodenya untuk meminumnya. Namun Cindy hanya mengerutkan kening karna tidak mengerti maksud laki-laki itu


"Minum!"


"Ohh" Cindy membulatkan kedua bibirnya membentuk huruf O lalu membuka tutup botol tersebut namun tidak bisa


"Sini" Arsya langsung meraih kembali botol tersebut lalu membuka dan kembali memberikannya pada Cindy


"Cieeeeeee" tiba-tiba sorakan riuh terdengar menyentak telinga Arsya dan Cindy setelah wanita itu menerima botol yang baru saja dibuka tutupnya oleh Arsya


"Arsya sekalinya dapat cewek langsung bucin" ledek salah satu dari mereka


"Ngga nyangka seorang Arsya bisa perhatian ke cewek lain selain Arin"


"Keliatannya sih spesial"


Kembali terdengar tawa dan ledekan yang ditunjukkan untuk keduanya. Sampai akhirnya Felly bangkit dan membuat kursinya terjatuh ke belakang


"Kenapa lagi nih satu orang? Kesambet?" ledek Dika yang disambut tawa yang lainnya


Mereka semua tau jika Felly sangat terobsesi dengan Arsya. Namun laki-laki itu tidak pernah mau menghiraukan keberadaannya. Bahkan sangat muak ketika Felly datang padanya


"Kenapa tongkrongan sekarang jadi ngga asik?" Felly menatap sinis pada Cindy bahkan menyindirnya


"Yang ngga asik mah eluh? Orang kita disini pada asik- asik aja kok"


"Bener. Bilang aja Lo kepanasan liat Arsya punya gandengan baru? Ia kan? Mana lebih cakep lagi"


"Diam Lo" sentak Felly "Ngga ada ya yang lebih cakep dari gue? Apalagi kalau disandingkan sama dia? Level gue masih jauh di atas dari dia" Felly menyindir Cindy habis-habisan


"Sebenarnya punya masalah apa sih Lo sama gue? Hah?" Cindy yang tidak tahan langsung ikut berdiri


Arsya menatap tidak percaya pada Cindy yang berani menantang Felly "Udah. Ngga usah dengerin dia. Ngga penting" ia menarik tangan Cindy untuk kembali duduk


"Aku ngga terima kak dia ngatain aku terus!" Cindy melepaskan tangannya dan menatap nyalang pada Felly


"Eh? Siapa Lo berani ngelawan gue?" Felly sudah mulai tampak emosi


"Lo kalau kesini cuma mau nyari ribut mending pulang deh. Serius. Ini gue malu sama teman-teman kakak gue" ujar Erlan pada Felly

__ADS_1


"Erlan? Kok sekarang Lo juga jadi ikut-ikutan nyalahin gue sih?" Felly tidak terima dirinya disalahkan


"Ya jelas Lo yang salah! Sebelum datang, semuanya baik-baik aja. Setelah Lo datang, suasana jadi panas" sahut Erlan yang memijit pelipisnya


"Eh Felly? Lo itu ngga ada capek-capeknya nyari ribut terus ya? Kurang manis apa sih hidup Lo itu?" sindir Jendris dengan perkataan yang menusuk


"Kurang perhatian mungkin" celetuk Kenta yang mengulum bibirnya untuk tidak tertawa


"Diam kalian berdua!" bentak Felly dengan emosi


"Serius deh. Lo pulang aja" usir Erlan secara halus namun menusuk "Kalian, bawa aja teman Lo pulang sana" ucapnya pada ketiga teman Felly


"Ngga dimana-mana selalu bikin onar kerjanya" cetus Arsya yang meneguk minumannya


"Arsya? Kok Lo tega sih ngomong itu ke gue?" Felly menatap Arsya dengan wajah memelas


"Gue ngga suka cewek yang selalu bikin onar. Kayak Lo!" ucapan Arsya membuat Felly sedikit mundur namun ia bertahan sambil memegang meja agar tidak jatuh


Tentu saja hal itu membuat yang lainnya menahan tawa karna melihat raut wajah Felly yang tampak terkejut plus malu mendengar Arsya menolak mentah-mentah dirinya


"Ini semua pasti gara-gara dia!" Felly menunjuk Cindy dengan geram "Dia kan yang udah racunin isi kepala kamu? Ia kan? Kurang ajar emang Lo!" hampir saja ia menyiram Cindy dengan air di depannya jika Arsya tidak cepat mencegah pergelangan tangannya


"Berani Lo nyiram dia, tangan Lo yang ini, bakal gue patahin!" tidak main-main, ancaman Arsya membuat Felly menelan salivanya dengan takut


"Felly. Udah yuk, pulang!" Salah seorang teman Felly menarik gadis itu pergi dari kerumunan


"Awas Lo yah? Bakal gue balas Lo" Felly menunjuk wajah Cindy sebelum pergi dari sana


"Akhirnya pergi juga sih Bellbird itu" celetuk salah satu dari perempuan yang ada disana


"Bellbird?" tanya salah seorang perempuan lainnya


"Ia Bellbird. Burung paling berisik di dunia" yang lainnya langsung tertawa mendengarnya


"Halah. Sok-sok'an Lo ngatain dia Bellbird? Orangnya ada juga Lo ngga berani!" ledek Dika


"Bahaya. Selalu bawa-bawa kekuasaan Bokapnya. Kayak uang Bokapnya halal aja"


Yang lainnya hanya tertawa mendengarnya. Memang benar. Felly selalu membawa-bawa kekuasaan orangtuanya terutama Papanya untuk kepentingannya. Menindas orang-orang yang tidak patuh padanya


"Eh btw gue mau nanya nih sama kalian berdua?" Erlan menghadapkan dirinya ke arah Arsya dan Cindy "Sebenarnya hubungan kalian apa sih?"


Pertanyaan Erlan sukses membuat Cindy dan Arsya terdiam. Tidak ada yang mau menjawab pertanyaan tersebut


"Atau jangan-jangan kalian pacaran yah?"


Sontak saja membuat Cindy terbatuk-batuk setelah mendengar pertanyaan Erlan yang secara tiba-tiba itu


"Benar kan? Kalian udah jadian kan?"

__ADS_1


__ADS_2