Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Datang tepat waktu


__ADS_3

Arsya pun tersenyum sinis dengan wajah datarnya "Terus kenapa?" justru malah balik menantang


Wajah lelaki itu terlihat begitu murka dan menggerebek meja hingga makanan yang di atasnya terjatuh ke lantai


Tentu saja hal itu membuat Cindy terkejut dan berteriak memegang kedua telinganya sambil memejamkan matanya


Arsya yang melihat Cindy terkejut pun langsung berdiri dan menantang lelaki itu dengan tatapan serius


"Mau Lo apa?"


Semua pengunjung pun tampak terkejut dan langsung memasang mata ke arah mereka. Untung saja sekuriti datang dengan cepat setelah mendengar keributan


"Mohon maaf. Tolong jangan buat keributan disini. Jangan mengganggu pelanggan yang lain"


"Ia Pak. Kami minta maaf. Ayo kak" Cindy dengan cepat menarik tangan Arsya menuju kasir untuk membayar makanan mereka


Setelah membayar semuanya. Cindy dengan cepat kembali menarik tangan Arsya untuk keluar dari sana sebelum lelaki itu kembali menghadang mereka


"Ayo cepetan kak"


"Ngapain buru-buru?" Arsya terlihat tidak panik sedikit pun


"Kak, please. Aku ngga mau terjadi keributan"


Tiba-tiba tangan Cindy tertarik ke belakang hingga membuatnya terkejut dan melepaskan genggaman tangannya dari Arsya


"Awww" pekik Cindy yang kesakitan


"Mau kemana?" ternyata lelaki itu mengikuti keduanya sampai keluar


"Lepasin tangan Lo" Arsya dengan sigap ingin menarik tangan Cindy kembali namun dihalangi oleh lelaki itu


"Ayolah. Buru-buru banget" lelaki itu menarik Cindy ke belakangnya agar terjauh dari Arsya


"Lepasin tangan gue" Cindy berusaha memberontak namun tenaganya kalah kuat


"Lepasin dia" teriak Arsya dengan wajah merah padam


"Oh.. Jadi ini orangnya yang udah mukul Lo semalam?" salah seorang teman lelaki itu pun maju menghadang Arsya


"Kak" Cindy sudah kalang kabut dibuatnya


"Gue ngga ada urusan sama Lo" bentak Arsya pada teman lelaki itu


"Wah" mereka bertiga tertawa "Nyali Lo gede juga ternyata" cetus lelaki itu


"Balas aja dia Raffi. Jangan takut bro"


Salah seorang teman bernama Raffi itu mengomporinya untuk membalaskan dendamnya


Raffi tertawa sinis "Tenang aja. Sekali gue dapat, ngga akan gue lepas" tatapnya pada Arsya


"Lo punya masalah sama gue kan? Ok sini Lo maju. Tapi lepasin dia!" ucap Arsya dengan lantang sambil menunjuk Cindy


Raffi kembali tertawa sinis "Ngga akan gue lepasin" baliknya dengan menantang


"Kalau Lo jantan. Hadapin gue sendiri" Arsya berusaha meraih Cindy namun dihalangi oleh seorang teman Raffi


"Lepasin gue" Arsya menghempaskan tangan lelaki itu

__ADS_1


"Wih. Tenang dong Bro" lelaki itu menaikkan tangannya


"Lepasin gue atau gue teriak yah" ancam Cindy yang berusaha meronta


"Sekali Lo teriak, Lo bakal tau sendiri akibatnya" Raffi justru balik mengancam Cindy hingga membuat nyalinya ciut


Arsya tiba-tiba mendorong tubuh Raffi dengan kencang hingga membuat laki-laki itu terjatuh. Ia berhasil melepaskan Cindy dari lelaki itu


"Kurang ajar Lo" Raffi bangkit dengan wajah merah padam


Melayangkan tinjunya ke wajah Arsya namun berhasil ditangkis oleh Arsya sendiri hingga membuat kedua temannya hendak membantu


"Tangan teman kalian bakal gue patahin kalau selangkah kalian maju" ancaman Arsya sepertinya tidak main-main.


Terbukti dengan ringisan Raffi yang mengaduh kesakitan. Kedua teman Raffi pun perlahan mundur


"Kak. Udah kak" Cindy tampak panik dibuatnya


"Masuk ke mobil. Cepat" perintah Arsya kepada Cindy


Cindy menggeleng "Aku ngga mau. Aku ngga bisa ninggalin kamu sendirian"


"Gue baik-baik aja. Cepat masuk ke mobil" Arsya berusaha menenangkan Cindy


Cindy dengan terpaksa mengangguk dan hendak masuk ke mobil. Namun salah satu teman Raffi justru mengejar Cindy dan menarik tangan


"Lepasin teman gue, atau dia bakal gue sakitin!" ancamnya


"Lepasin gue" Cindy berusaha memberontak


Seketika nyali Arsya menjadi ciut dibuatnya. Ia menelan salivanya. Ia menjadi bingung sendiri dengan pilihan tersebut


"Kak Arsya!!!" teriakan Cindy membuat beberapa orang yang melewati kafe tersebut menoleh padanya


"Diam atau gue akan semakin nyakitin dia" Raffi setengah berbisik pada Cindy agar orang-orang tidak mendengarnya


Tangisan Cindy sudah mulai terdengar "Tolong lepasin dia" ia memohon pada Raffi dan kedua teman lelaki itu


"Lepasin dia" Arsya bangkit dan menuju ke arah Cindy


"Diam di tempat Lo atau gue patahin tangan dia" Raffi memegang pergelangan tangan Cindy yang merintih kesakitan


Tiba-tiba saja Raffi mengadu kesakitan yang bahkan tangannya tengah dicekal oleh seseorang.


"Lepasin dia" seorang lelaki lainnya mendorong tubuh teman Raffi hingga terjatuh


"Kak Jendris?" Cindy mematung di tempatnya


"Lo ngga apa-apa kan?" Jendris berusaha melihat seluruh tubuh Cindy untuk memastikan apakah ada yang terluka atau tidak


"Sialan Lo" Raffi terus mengadu kesakitan "Lepasin gue"


"Beraninya Lo main keroyokan" Kenta mencekal tangan Raffi ke belakang hingga tidak bisa bergerak


"Kalian pergi dari sini, atau kalian akan tau akibatnya?" ancam Erlan yang berdiri di samping Arsya


"Jangan dilepasin gitu aja. Seenggaknya kita beri pelajaran dulu ke mereka" cetus Dino


"Udah. Lepasin aja. Tapi sekali lagi kalian datang nyerang teman gue? Bakal abis Lo semua" ucap Erlan dengan lantang menunjuk Raffi dan kedua temannya "Pergi Lo sana"

__ADS_1


"Awas Lo. Tunggu pembalasan gue" nampaknya Raffi tidak akan tinggal diam. Ia dan kedua temannya pergi dari sana


"Kalian ngga apa-apa kan?" Kenta pun mendekati Arsya yang mengangguk


"Kalian datang tepat waktu" sahut Arsya


Cindy menghela napas setelah kepergian Raffi dan kedua temannya. Rasanya seluruh tubuhnya menjadi lunglai karna ketakutan


"Lo ngga apa-apa?" Arsya mendekati Cindy yang tampak shock


Cindy mengangguk pelan. Arsya merangkul bahu Cindy "Thanks kalian datang tepat waktu. Gue mau anterin dia pulang dulu"


"Kalau menurut gue jangan sekarang deh Sya Lo nganterin Cindy pulang. Takutnya mereka masih ada di area sini. Dan nunggu Lo sampai rumah. Bisa aja mereka ngikutin kalian pulang" tukas Dino yang memberikan pendapatnya


"Benar Sya. Gue yakin mereka masih ada di dekat sini. Bisa bahaya kalau Lo nganterin Cindy pulang dan mereka ngikutin kalian berdua" timpal Erlan yang setuju


"Mendingan sekarang kita ke Secret House aja dulu" ajak Jendris


"Itu yang paling aman sih sekarang" sahut Kenta


"Ayo. Sekarang kita berangkat. Lo duluan aja Sya. Biar gue sama anak-anak yang kawal di belakang sambil lihat situasi" cetus Erlan


Arsya pun mengangguk setuju "Ayo" ia menuntun Cindy untuk masuk ke dalam mobil


Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti mereka, sampailah mereka di secret house. Tempat nongkrong Arsya bersama beberapa temannya


"Minum dulu. Lo pasti masih shock" Kenta memberikan segelas air putih kepada Cindy


"Makasih Kak" dengan ragu Cindy menerima gelas tersebut


"Oh ia. Kalian kenapa bisa tau gue ada di kafe itu?" akhirnya Arsya menanyakannya setelah sejak tadi bingung teman-temannya bisa tau dimana dirinya


"Itu Cindy yang nelpon gue" jawab Jendris


"Cindy?" ulang Arsya


Jendris mengangguk "Awalnya gue udah senang banget karna Cindy tiba-tiba nelpon gue" ia tertawa "Tapi ternyata dia ngga ngomong apa-apa. Dan setelah itu gue dengar keributan disana. Akhirnya gue speaker biar mereka bisa dengar juga. Gue bisa tau kalian ada di kafe saat kalian ke kasir. Cuma gue ngga tau kalian di kafe mana. Langsung aja kita cabut dan nyari keberadaan kalian. Beruntung banget Kenta liat Lo sama Cindy udah diserang sama mereka. Jadi, ya gitu ceritanya"


Arsya menoleh ke arah Cindy "Lo nelpon Jendris?"


Cindy mengangguk "Aku ngga tau harus ngapain pas mereka ke meja kita. Aku ngga bisa mikir apa-apa. Dan aku cuma punya nomor Kak Jendris. Itu aja aku udah lupa kalau ternyata sempat ngehubungi Kak Jendris" jelasnya


"Tapi ada bagusnya juga sih. Seenggaknya kalian ngga kenapa-kenapa sebelum kami sampai" celetuk Dino


"Benar. Itu udah paling tepat" sahut Erlan


"Sekarang ada untungnya juga kan gue buat Lo?" Jendris duduk di Cindy dan menggodanya hingga mendapat tendangan dari Arsya


"Sya" teriak Jendris yang mengadu kesakitan


"Udah paling benar Lo cuma dapat tendangan. Untung bukan rumah sakit" ledek Kenta yang diikuti tawa yang lainnya


"Tapi saran gue. Sekarang Lo harus lebih berhati-hati Sya. Ngga menutup kemungkinan mereka bakal datang nyerang Lo lagi" Erlan memegang bahu Arsya


Perkataan Erlan membuat Arsya terdiam dan menatap Cindy yang masih tampak shock setelah kejadian itu


"Apa perlu gue serang mereka duluan?"


Perkataan Arsya membuat yang lainnya menoleh dan terkejut. Bahkan Cindy sendiri tampak tidak percaya

__ADS_1


"Jangan gila deh kak"


__ADS_2