
"Lo lagi-lo lagi. Bisa ngga sih sehari aja lo ngga buat keributan, hah?" Jendris pun ikut menghampiri Felly dan yang lainnya
"Bukan gue yang buat keributan. Tapi mereka!" Felly menunjuk Cindy dan Dita
"Kok lo jadi nuduh kita sih?" Dita menjadi tidak terima
"Emang ini semua karna kalian berdua" Felly menunjuk-nunjuk Dita dan Cindy hingga semakin banyak orang yang berkerubung disana
"Apa? Apa salah kami? Apa karna gue duduk dan minum itu salah? Jadi apa gue ngga bisa duduk istirahat sebentar? Apa itu salah?" Cindy berusaha membela diri
"Ia! Itu salah! Lo enak-enakan duduk santai sementara yang lain lagi kerja? Dimana otak lo? Mikir!" Felly mendorong tubuh Cindy dan nyaris terjatuh
"Lo" Dita yang geram hendak menjambak rambut Felly namun Cindy menahannya
"Semua orang berhak istirahat sejenak untuk minum. Lalu apa yang salah? Gue tukaran sama teman gue untuk istirahat. Kami berdua ngga istirahat bersamaan. Sebenarnya apa masalahnya?" Cindy melangkah dengan kesal
"Felly. Sebenarnya lo punya masalah apa? Dia cuma duduk minum sebentar. Terus dimana salahnya? Harusnya lo introspeksi diri. Kerjanya lo dari tadi apa? Gue sama sekali ngga liat lo kerja dan malah sibuk ngurusin orang-orang yang istirahat" sergah Jendris yang membuat Felly tak berkutik
"Kalau lo disini ngga punya kerjaan. Pergi sana. Jangan mengganggu orang-orang bekerja" Arsya memberikan penekanan pada setiap ucapannya pada Felly
"Kok lo jadi nyalahin gue sih Ars?" Felly tidak terima Arsya malah menyalahkan dirinya
Cindy tidak sengaja bersitatap dengan Arsya dan pria itu lebih dulu memalingkan wajahnya "Pergi dari sini. Jangan ganggu junior bekerja" ia pun berlalu diikuti oleh Jendris dan beberapa orang lainnya
"Awas lo berdua ngga becus kerjanya" Felly mengancam Dita dan Cindy pergi dari sana
"Dasar sok senior banget. Bisanya cuma ngancam doang tapi ngga tau cara kerja" Dita menggerutu kesal seiring sudah berkurangnya orang yang berkerubung
"Udahlah. Ngga usah ngurusin orang kayak dia" Cindy melupakan waktu istirahatnya untuk kembali menjaga meja
Hingga sore harinya, pengunjung semakin ramai yang datang dari berbagai jurusan maupun dari berbagai kampus lain yang mendapat undangan. Jeffri menghampiri Cindy dan Dita
"Kalian istirahat dulu. Nih minum" Jeffri menyerahkan dua botol air minum pada kedua temannya
"Kita cukup minum aja deh. Ntar ada Nenek Lampir kalau ngeliat kita duduk bentar aja" Dita meraih botol tersebut lalu meneguknya
Kening Jeffri berkerut "Nenek Lampir? Siapa yang lo maksud?"
"Udah ngga usah dibahas lagi" sergah Cindy yang tidak mau memperpanjang masalah
"Siapa? Siapa yang kalian maksud?" Jeffri semakin bingung dibuatnya
"Jeffri?" seseorang meneriaki nama Jeffri hingga membuat ketiganya menoleh bersamaan
"Tuh dipanggil. Sana" perintah Cindy pada Jeffri
"Ingat! Kalian utang penjelasan ke gue" Jeffri menunjuk Dita dan Cindy sebelum dirinya pergi
"Jelasin aja ntar ke doi lo tuh" celetuk Dita
***
"Rasanya tubuh gue bentar lagi bakal ambruk deh ini" Dita memijit-mijit kakinya yang terlentang
Malam sudah menunjukkan pukul setengah 12. Dan kegiatan Fakultas mereka baru saja selesai. Semuanya tampak berkumpul di aula bersama senior-junior sefakultas tersebut
"Nikmati aja. Cuma sehari ini. Besok-besok udah ngga lagi" meski sebenarnya Cindy juga merasa kelelahan, namun ia memilih tidak mengeluh di depan sahabatnya
Arsya dan beberapa anak laki-laki maju ke tengah. Dan itu sukses membuat Dita terlihat kesal. Beberapa hari belakangan ini, semenjak ia tau pria itu yang membuat kedua orangtua sahabatnya meninggal, ia menjadi tidak menyukai pria itu
__ADS_1
"Kenapa rasanya gue kesal banget kalau ngeliat muka Kak Arsya?"
Cindy menoleh pada Dita lalu beralih ke Arsya "Udahlah Dit ngga usah dibahas lagi. Biasanya juga lo yang paling semangat kalau liat mukanya dia"
"Itu dulu sebelum gue tau kalau dia yang udah buat Mami Papi lo meninggal" ucap Dita dengan geram
Cindy melirik ke kiri dan ke kanan "Ssttt. Jangan kencang-kencang ngomongnya. Gimana kalau sampai yang lain dengar?" bisiknya
"Ya biarin aja. Emang gue peduli?" Dita tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya
"Dita! Semua itu udah jadi takdir. Kalaupun bukan Kak Arsya, itu tetap orang lain. Dan gue sendiri udah ikhlas" Cindy memperingati Dita
Dita menghela napas menatap sahabatnya "Cin? Please jangan terlalu baik jadi orang. Meskipun gue setuju kalau ini semua takdir. Tapi gue masih belum terima semua ini"
"Terus apa yang harus gue lakuin? Apa dengan gue penjarain dia, Mami Papi gue bakal balik? Ngga kan? Ya udah. Mami Papi gue juga selalu ngajarin gue buat selalu maafin kesalahan orang lain. Toh, dia juga ngga sengaja nabrak mobil orangtua gue? Jadi gue berusaha buat ikhlasin semuanya" Cindy benar-benar tumbuh menjadi gadis yang luar biasa pemikirannya
Dita sekali lagi menghela napas lalu memeluk Cindy "Kapan ya pemikiran gue bisa sedewasa lo Cin?" keluhnya hingga membuat Cindy terkekeh
"Halo semuanya" sapa ketua Fakultas mereka hingga membuat yang lainnya antusias untuk mendengarkan
"Halo kak"
"Terima kasih atas kerjasamanya dalam mensukseskan acara ini. Saya tau hari ini benar-benar melelahkan untuk semuanya. Tapi sekali lagi saya mau ngucapin terima kasih untuk semuanya. Terutama para junior yang sudah bekerja keras. Terima kasih semuanya"
Sambutan ketua Fakultas mereka diberi tepuk tangan yang begitu meriah. Semuanya tampak senang. Sambutan terus bergilir hingga sampai pada sambutan dari Arsya. Cindy melirik Dita yang tampak memperhatikan Arsya seperti biasanya, mengagumkan. Tentu saja hal itu membuat Cindy menahan tawa
"Halo. Terima kasih atas kerjasamanya. Acara ini ngga akan sukses kalau tidak ada kerjasama diantara kita. Dan kami berharap, semuanya masih mau ikut terlibat untuk acara-acara Fakultas kita ke depannya. Terima kasih"
Sorakan riuh memecah seisi ruang tersebut. Bagaimana tidak, ketampanan Arsya bagai menyejukkan pandangan mata mereka. Terutama kaum perempuan yang terus melontarkan puji-pujiannya pada pria itu
Malam semakin larut. Perkumpulan itu pun sudah mulai dibubarkan. Jeffri menghampiri Cindy dan juga Dita yang hendak keluar dari aula tersebut
"Hay girls" sapa Jeffri yang berdiri di samping Cindy
"Ya ialah. Masa gue nginap disini?" Jeffri menggelengkan kepalanya
"Ya barangkali lo pengen nginap disini karna udah punya gebetan baru" Dita sengaja menyindir Jeffri karna melihat temannya itu tadi dikerubuni oleh banyak gadis
"Sembarangan lo ngomong. Untuk apa gue nyari gebetan baru" protes Jeffri yang melirik Cindy
Cindy teringat pada Arsya "Oh ia. Dia kan nyuruh gue nunggu di mobilnya? Gimana ini? Kalau sampai Dita sama Jeffri tau bisa bahaya" batinnya
"Woy. Bengong aja lo" Dita menyenggol lengan Cindy
"Hah? Hmmm. Ngga kok" Cindy menjadi gugup dibuatnya
"Cindy!" terdengar suara memanggil nama Cindy dari arah belakang hingga membuat ketiganya menoleh
Ternyata orang itu adalah Jendris yang datang bersama Arsya "Hay Kak" sapa Cindy dengan gugup
"Mau pulang?" tanya Jendris hingga membuat Cindy melirik Arsya dengan ragu
"Hmmm. Ia kak"
"Ngapain kalian disini? Bukannya harusnya ngumpul tuh sama para senior-senior?" celetuk Dita yang terdengar sinis
"Emangnya nyapa kalian ngga boleh?" tanya Jendris
Cindy menyenggol lengan Dita karna berlaku tidak sopan pada senior "Hmmm. Kalau gitu kami duluan kak. Ayo" ia menarik tangan Dita dan Jeffri untuk keluar dari sana
__ADS_1
Namun sebelum benar-benar keluar, Cindy sempat menoleh ke belakang melihat ke arah Arsya yang hanya mengangguk tanpa sepengetahuan Jendris
"Kalian balik duluan gih" Cindy seperti tengah mengusir Dita dan Jeffri
"Kenapa sih lo Cin? Kenapa lo ngusir kita?" Dita terlihat kesal pada Cindy
"Siapa yang ngusir? Ya udah lo nginap disini aja kalau mau" Cindy pun ikut kesal
Sebenarnya Cindy tidak tau harus bagaimana untuk bisa sampai ke mobil milik Arsya yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri
"Mobil lo mana Cin?" Jeffri mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan mobil Cindy disana
"Mati gue. Gue harus ngomong apa ini?" batin Cindy yang terdiam mencari alasan
"Ia. Mobil lo mana?" Dita pun ikut mencari-cari keberadaan mobil Cindy
"Gue ngga bawa mobil. Ntar gue dijemput sama Mang Diman" Cindy gugup setengah mati saat mengatakannya
Dita dan Jeffri pun percaya. Karna memang Mang Diman adalah supir pribadi Cindy ketika ia bepergian dan tidak membawa mobil. Mang Diman juga adalah suami Bi Imah yang bekerja sebagai asisten rumah tangga keluarga Cindy
"Supir gue udah datang. Gue balik duluan ngga apa-apa ya?" Dita melambaikan tangan pada supirnya
"Ngga apa-apa. Sana" setidaknya Cindy sudah bisa mengelabui Dita
"Ya udah. Gue balik dulu yah" Dita berpelukan sejenak pada Cindy lalu pergi
"Hmmm. Lo Jeff?" Cindy ragu-ragu menanyakannya pada Jeffri
"Gue nunggu supir lo datang"
Tubuh Cindy seperti hendak lunglai. Dilihatnya Arsya keluar dari gedung dan sejenak berpapasan dengannya sebelum akhirnya Arsya melewatinya begitu saja
"Aaaaa... Gimana ini?" Cindy berusaha mencari akal
"Jeffri?"
Cindy dan Jeffri pun menoleh "Kemal?"
"Daritadi gue nyari lo. Ayo ke secret. Ditungguin sama anak-anak" Kemal datang menepuk pundak Jeffri
"Ia. Gue nungguin supir Cindy datang dulu"
"Ngga-ngga. Ngga usah. Lo masuk aja ngga apa-apa"
"Lo sendirian Cin?" tanya Kemal
"Ia. Tapi bentar lagi supir gue datang kok"
"Lo yakin?" Jeffri tidak tega meninggalkan Cindy sendirian
"Yakin. Udah sana masuk. Kasian teman-teman lo nungguin lo di dalam" Cindy mendorong tubuh Jeffri dan Kemal untuk masuk
"Ya udah. Lo hati-hati. Kabarin gue kalau udah sampai rumah"
Cindy mengangguk. Akhirnya ia bisa bernapas lega setelah Jeffri dan Kemal pergi. Bunyi klakson membuatnya terkejut. Ternyata suara itu berasal dari mobil Arsya. Tampaknya pria itu sudah lelah menunggu Cindy. Dengan langkah cepat, Cindy mendekati mobil tersebut dan membukanya dengan pelan
"Maaf kak lama" ia menutup kembali pintu setelah berada di dalam mobil
Tanpa berkata, Arsya mulai menyalakan mesin mobilnya dan perlahan keluar dari parkiran. Setidaknya mereka lega karna tidak ada yang melihat Cindy masuk ke dalam mobil milik Arsya. Baru saja keluar dari pagar, tiba-tiba sebuah mobil hendak menyebrang dan tentu saja itu membuat Arsya menginjak rem dengan cepat
__ADS_1
"Aaaaaaaaa" Cindy berteriak keras karna tubuhnya terdorong ke depan hingga membuat dadanya terbentur
"Cindy!"