
Arsya berdiam diri setelah memalingkan wajahnya saat Cindy sudah berada di sampingnya di depan penghulu. Mata Cindy yang masih memerah tidak bisa ia sembunyikan. Namun ia tetap tersenyum kepada semua orang. Hingga orang-orang yang berada disana mengira gadis itu menangis karna bahagia, kecuali Arsya
"Ini cincin pernikahannya Nak" Mama Kanya memberikan sekotak cincin pada Arsya "Pasangkan ke jari manis Cindy" perintahnya dengan lembut
Arsya menarik napas pelan. Lalu menghadap ke arah Cindy yang juga sudah menghadap ke arahnya dengan tersenyum, namun pria malah tidak membalasnya
"Meskipun ngga suka pernikahan ini. Kan harusnya tetap terlihat bahagia di depan keluarga yang datang" gerutu Cindy dengan membatin
Sorakan riuh beserta ledekan dari para tamu undangan dan sahabat dan keluarga memenuhi ruangan itu hingga keduanya terlihat malu
"Sekarang giliran Cindy. Ayo nak pasang cincinnya ke jari manis suami mu" Mama Kanya kini menyuruh Cindy
Mendengar kata 'suami', Cindy melirik Arsya yang tampak enggan melihatnya karna masih mengira Cindy sangat tidak menyukai pernikahan itu. Cindy pun sebaliknya, juga mengira Arsya sangat tidak menyukai pernikahannya
Setelah acara pertukaran cincin berakhir. Kedua mempelai dituntun menuju kursi pelaminan untuk menerima tamu undangan yang ingin sekedar bersalaman atau berfoto bersama
"Terima kasih ya Nak. Sudah mau menerim Arsya sebagai suami mu" Mama Kanya membelai pipi Cindy dengan begitu senang layaknya seorang Ibu kandung
Cindy benar-benar terenyuh "Ngga Tante. Aku yang harus berterimakasih karna Tante udah nerima aku" balasnya dengan sopan
Mama Kanya menggelengkan kepalanya "Sekarang panggil Mama. Bukan Tante lagi. Sama seperti Arsya yang manggil Mama. Ok?"
Cindy sedikit kikuk dan menoleh ke arah Arsya yang hanya diam menatapnya. Lalu beralih kepada Mama Kanya, ia mengangguk pelan "Ia Ma"
Mama Kanya sangat senang sekaligus beruntung punya menantu yang begitu sopan. Ia memeluk sejenak menentunya dan membiarkan tamu lain untuk bersalaman dengan pengantin tersebut. Ia kembali ke tempat duduknya di samping Arsya
Beberapa tamu undangan tampak bersalaman sekaligus berfoto-foto dengan pengantin itu. Bahkan banyak keluarga Cindy yang turut hadir disana untuk menemani keponakannya. Hingga tiba giliran sahabat-sahabatnya
"Aaaa sayang......" Dita dengah heboh memeluk tubuh mungil Cindy "akhirnya"
Cindy pun membalas pelukan sahabatnya itu "Jangan ngomong aneh-aneh" ia mencari keberadaan Jeffri namun tak terlihat
Dita terkekeh lalu melepas pelukannya "Lo sekarang udah nikah yah? Tapi ingat! Jangan lupain gue. Apapun keadaannya"
Cindy mengangguk "Ia ia bawel"
Dita tersenyum lalu berkaca-kaca "Jaga diri baik-baik yah. Gue mungkin ngga akan bisa lagi ikut campur masalah kehidupan lo. Biar gimana pun, sekarang lo udah nikah"
Cindy pun tampak berkaca-kaca "Makasih Dit. Selama ini lo udah nemenin gue dalam keadaan susah maupun senang. Pokoknya sayang lo banyak-banyak deh" keduanya kembali berpelukan
"Selamat bro" Kenta mengulurkan tangannya kepada Arsya "Ngga nyangka gue lo bakal nikah secepat ini" ledeknya
"Sialan lo" rancu Arsya dengan senyum tipisnya lalu membalas jabatan tangan Kenta
__ADS_1
"Gue doain. Semoga pernikahan lo sama Cindy selalu bahagia. Karna gue tau, Cindy anaknya baik. Dia emang tepat buat lo. Dia orang yang bisa ngendaliin emosi lo. Gue yakin itu"
Setelah ucapan Kenta itu, Arsya menoleh ke arah Cindy yang masih sibuk berdrama dengan sahabatnya, Dita
"Makasih doanya bro. Cepat. Nyusul" ledek balik Arsya
"Sialan lo" Kenta meninju bahu Arsya lalu keduanya tertawa. Ia beralih ke Cindy
"Selamat yah Cindy atas pernikahannya"
Cindy mengangguk "Ia kak makasih doanya"
Tangan lemas Jendris terulur pada Arsya "Selamat ya. Meski gue patah hati. Tapi gue tulus ngucapin ini ke lo. Semoga pernikahan kalian selalu bahagia"
Arsya memegang bahu Jendris "Gue doain lo bisa dapat yang lebih dari Cindy"
"Gue juga berharap itu" sahut Jendris dengan lemas
"Lo laki atau waria sih?" ledek Arsya
Seketika Jendris naik pitam "Sialan lo ngatain gue"
Arsya tertawa "Sana lo" usirnya dengan bercanda
Meski Cindy tidak begitu paham apa maksudnya, ia hanya mengangguk "Terima kasih doanya"
Seorang gadis menghampiri Arsya dengan mata sembab "Kak, kamu kok jahat banget sama sih aku? Padahal aku yang lebih sayang sama kamu daripada dia" ia menunjuk Cindy
Ternyata gadis itu adalah Kania. Sepupu Arsya yang sangat menyukai dirinya. Namun sayangnya, Arsya tidak pernah membalas perasaan sepupunya itu. Terlebih ia tidak suka gadis yang manja
Cindy menoleh ke arah Arsya yang membuang wajah ke arah lain ketika Kania menghampiri mereka. Cindy pun menyenggol lengan Arsya karna suaminya itu seperti tidak peka
Arsya menoleh "Apa?" tanpa rasa bersalah
"Itu ada Kania" dengan suara pelan Cindy berbicara pada Arsya
"Terus kenapa?" sahut Arsya dengan malas "Gue muak sama dia" ketusnya
"Ngga boleh gitu. Gimana pun, dia sepupu kamu dan tamu kita" Cindy menarik lengan Arsya
Arsya menghela napas kasar "Jadi lo kesini mau doain gue atau cuma mau numpang nangis?" sarkasnya pada Kania
Cindy terkejut dengan perkataan Arsya. Bisa-bisanya ia mengatakan hal itu pada seorang gadis yang menangis karena dirinya. Ia pun menyiku lengan Arsya yang hanya meliriknya
__ADS_1
"Kok Kak Arsya ngomongnya gitu sih ke aku? Apa karna disuruh sama dia ya?" Kania menunjuk Cindy dengan marah
"Hah? Kok gue?" Cindy yang terkejut menunjuk dirinya sendiri
"Ia. itu pasti lo kan yang udah racunin pemikiran Kak Arsya buat ngomong itu ke gue?" Kania kesal pada Cindy hingga beberapa orang tampak menoleh pada mereka
Arsya benar-benar tidak suka situasi itu "Lo diam" ancamnya pada Kania dengan geram, apalagi banyak orang yang mengarah pada mereka "Kalau lo datang kesini cuma buat nyari ribut. Mending lo pulang"
"Kak ngga boleh gitu" tegur Cindy
"Lo juga diam" sergah Arsya yang menunjuk Cindy hingga membuat gadis itu terdiam "Lo ngga liat dia ngata-ngatain lo? Hah? Otak lo taro dimana?" kesalnya
Cindy hendak membalas namun Mama Kanya dan Papa Rasyad datang menghampiri keributan kecil itu yang ditonton banyak orang disana
"Eh, ada apa? Kenapa kalian malah ribut-ribut? Malu diliatin tamu" cetus Mama Kanya
"Ia. Kasian juga keluarga Cindy yang datang jauh-jauh" timpal Papa Rasyad
"Bawa dia keluar. Jangan sampai dia nyari keributan disini" Arsya benar-benar tidak menyukai keberadaan Kania, meskipun gadis itu adalah sepupunya sendiri
"Kok Kak Arsya jadi jahat banget sih sekarang? Ini pasti gara-gara dia deh" Kania kembali menunjuk Cindy "Ngaku lo. Pasti lo kan yang udah ngehasut Kak Arsya?"
"Lo diam atau gue seret lo keluar" geram Arsya dengan suara yang kecil
"Kak" Cindy kembali menegur Arsya dan menghiraukan perkataan Kania
"Arsya. Papa ngga pernah ngajarin kamu berbuat kasar sama perempuan" seru Papa Rasyad
"Kalau gitu bawa dia keluar Pa. Aku ngga suka dia disini" sahut Arsya yang memalingkan wajahnya
Mama Kanya memegang kedua bahu keponakannya "Kania sayang. Kita keluar dulu yah. Ayo" ia bersama suaminya membawa Kania menjauh meski gadis itu terus menolak sambil menangis
Cindy pergi meninggalkan Arsya hingga membuat pria itu menghela napas karena mengira Cindy sangat marah padanya. Ia duduk dengan memijat kedua pelipisnya sambil memejamkan mata. Tamu yang hadir pun tidak lagi bergerombol di satu arah. Mereka semua sibuk menikmati jamuan pesta tersebut
"Kak, minum dulu" tiba-tiba suara Cindy menyambar pendengaran Arsya hingga ia menoleh
Arsya melihat Cindy membawa segelas air minum "Minum dulu. Biar bisa tenang" ucap Cindy
Arsya menerima air dalam gelas tersebut "Hmm" lalu meminumnya
"Gue kira dia pergi karna marah"
...MAAFKAN DAKU YANG LAMAAAAAAAAAAA BANGET NGILANGNYA ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ DOAIN AJA YAH BIAR BISA CEPAT2 UPNYA. MAKASIH YANG UDAH NUNGGUIN 🌹🌹🌹...
__ADS_1