Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Cewek licik (Arsya)


__ADS_3

Arsya berlalu begitu saja melewati Cindy dan kedua temannya. Namun tidak dengan Jendris yang masih berada disana karna melihat Cindy


"Hay" Jendris menyapa Cindy yang masih menatap kaku pada Arsya yang selalu melihatnya dengan tatapan yang selalu Cindy gagal cerna


Cindy tersenyum tipis pada Jendris "Ia kak"


"Lo mau kemana?" Jendris mendekati Cindy


"Mau ke........"


"Ayo cepat. Nanti telat" Jeffri tanpa permisi langsung menarik tangan Cindy dan Dita pergi dari sana


"Hey" Jendris berteriak namun Jeffri tidak menghiraukannya "Kurang ajar"


"Jeff? Kenapa sih buru-buru banget? Kantin ngga akan penuh" Cindy melepaskan tangan Jeffri setelah mereka baru saja sampai di kantin


"Tau nih. Kak Jendris kan lagi nanya?" Dita pun ikut menghardik


"Cepat kalian pesan. Ngga usah banyak protes" cetus Jeffri tanpa menghiraukan celotehan kedua temannya dan langsung ke tempat pemesanan makanan


"Tuh si doi lagi cemburu" Dita berbisik di ditelinga Cindy


"Biarin ajalah. Ayo" Cindy mengajak Dita ikut memesan makanan


***


"Kars? Emang ngga mau datang ke pesta ulang tahunnya Kak Felly?" Arin masuk ke dalam kamar Arsya tanpa permisi


"Lo kalau masuk kamar gue ketuk pintu dulu!" ujar Arsya yang sudah sangat malas seharia ini


"Apaan sih? Orang udah biasa juga. Sensi banget" Arin menggerutu dengan duduk di tepi tempat tidur


"Gue lagi ngga mau diganggu. Sana lo keluar dulu" Arsya menyuruh Arin keluar dari kamarnya


"Kars kenapa sih? Ngga biasanya ngusir gini" kening Arin berkerut dalam


"Gue lagi pengen sendiri dan ngga mau diganggu siapapun" Arsya menegaskan ucapannya


Arin mendesis "Dasar. Punya kakak ngga bisa diandalkan" ia keluar dari kamar dengan kesal


Arsya menghembuskan napas kasar. Ia tidak tau kenapa malam ini rasanya suasana hatinya sangat buruk. Bukan hanya malam ini, tapi sejak pagi tadi suasana hatinya sudah sangat buruk

__ADS_1


Ting


Satu notifikasi pesan masuk melalui ponsel Arsya. Ia dengan malas meraih ponselnya dan melihat siapa yang sedang mengiriminya pesan malam-malam begini


"Arsya? Lo harus datang sekarang juga di pesta gue. Gue ngga mau tau alasan lo apa. Karna gue udah ngasih tau orangtua gue kalau lo bakal datang. Dan sekarang mereka nunggu lo. Gue harap lo ngga ngecewain orangtua gue" Felly


"Arrrgghhhh" Arsya melempar ponselnya di atas tempat tidur


Mama Kanya mengetuk pintu kamar putra sulungnya "Arsya?" ia membuka pelan pintu kamarnya


"Ia Ma" Arsya berusaha menghela napas berat


"Kata Arin. Kamu di undang sama Felly ke acara ulang tahunnya ya?" Mama Kanya duduk di dekat putranya


Arsya mendesah "Ia Ma. Tapi Arsya ngga mau datang"


"Kenapa?"


"Arsya ngga suka keramaian. Terlebih Arsya ngga suka dia" Arsya mengucapkannya dengan penuh penekanan


"Tapi Nak. Papamu barusan di telpon sama Pak Asfar. Katanya mereka nungguin kamu datang nak"


"Ia. Jadi sekarang Papa kamu nungguin tuh dibawa"


Arsya benar-benar tidak habis pikir dengan wanita gila seperti Felly yang bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Dan Arsya yang sama sekali tidak pernah menolak keinginan orangtuanya. Itu sebabnya Felly menyuruh Papanya untuk menghubungi Papa Arsya sebagai bentuk kelemahannya


"Ma. Arsya ngga mau pergi" Arsya mencoba memohon pada Mamanya


"Turun dulu nak. Papamu sudah nunggu" Mama Kanya mencoba membuat putranya mengerti


Arsya mendesah keras. Karna ia tau tidak bisa membangkang jika Papanya yang berbicara. Maka ia meraih jaket serta kunci mobilnya.


Kini anak dan Ibu itu sudah menuruni tangga dan menghampiri Papa Rasyad yang tengah menonton televisi bersama Arin


"Pa?" panggil Arsya hingga membuat Papanya menoleh padanya


"Sudah mau berangkat nak? Pak Asfar baru saja menelpon Papa" Papa Rasyad berdiri dengan kehadiran putranya


"Ia Pa. Arsya pamit dulu" Arsya berpamitan pada Mama dan Papanya


"Hati-hati nak"

__ADS_1


***


Arsya dengan langkah malas masuk ke dalam gedung mewah tersebut. Tempat dimana Felly mengadakan pesta ulang tahunnya yang genap ke 20 tahun. Semua orang kini tengah menatap Arsya yang baru saja sampai diantara mereka


"Arsya" Felly menghampiri Arsya dengan senyum yang mengembangkan sempurna


"Licik" batin Arsya yang menatap Felly tajam namun gadis itu tidak mempedulikannya


"Ayo. Gue udah lama nungguin lo" Felly menggandeng lengan Arsya tanpa tahu malu


"Gue bisa sendiri" Arsya menepis tangan Felly dan berjalan mendahului gadis itu


Meski Felly sempat merasa kesal dan malu. Namun ia tetap bertingkah ceria. Tidak mau merusak momen bahagianya malam ini


"Kita mulai ya acaranya!" seru Felly dengan suara yang begitu ia lembutkan


Acara itu berlangsung dengan riang. Namun tidak seriang suasana hati Arsya yang sejak tadi mengumpat habis-habisan dalam benaknya. Bahkan suapan kue Felly ia berikan kepada Arsya setelah kedua orangtuanya, hingga banyak yang mengira bahwa keduanya tengah menjalin hubungan


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan suasana pesta itu semakin meriah dengan dentungan musik yang membuat semuanya berjoget. Namun lagi-lagi Arsya merasa muak dengan semuanya


"Felly" Arsya memanggil Felly yang sejak tadi berjoget di tengah pesta bersama teman-teman lainnya


"Arsya?" Felly menghentikan jogetannya dan beralih pada Arsya "Ayo joget bareng gue" ia hendak menarik tangan Arsya sebelum akhirnya pria itu menghindar


"Gue mau pulang. Salamin ke orangtua lo" Arsya tanpa basa-basi lagi langsung keluar dari ruangan tersebut


"Arsya?" Felly memanggil-manggil nama Arsya dan mengejar pria itu


Arsya hendak masuk ke dalam mobilnya namun Felly menahannya "Arsya tunggu dulu? Kenapa cepat banget pulangnya?"


"Lepasin" Arsya menepis tangan Felly dengan kasar "Kalau bukan karna lo yang licik nyuruh Papa lo nelpon Papa gue? Gue ngga akan pernah sudi datang kesini. Gue ngga suka cewek licik kayak lo. Ingat itu!" ia mengecam dengan begitu marah "Minggir" ia mendorong tubuh Felly dengan begitu kasar karna sudah menghalangi jalannya hingga membuat gadis itu meringis


Arsya pergi begitu saja dengan kecepatan yang begitu tinggi. Tingkat kemarahannya memuncak hanya dengan melihat wajah Felly. Datang ke pesta itu saja rasanya kesialan sudah menghampirinya. Ia semakin mempercepat laju kendaraannya


"Sial-sial-sial" Arsya beberapa kali memukul stir mobilnya untuk sekedar meluapkan amarahnya. Untung saja jalanan begitu sepi karna sudah hampir pertengahan malam, hingga ia terus memacu kecepatan mobilnya hingga full


Dari jarak 15 meter tiba-tiba lampu lalu lintas berwarna merah. Arsya terkejut dan langsung menginjak rem mobilnya. Namun karna kecepatannya yang sudah full, ia terlambat menginjak rem dan menabrak mobil yang baru saja bergerak dari arah samping


Sebuah mobil yang Arsya tabrak langsung berguling-guling di atas aspal dan terseret hingga beberapa meter ke depan. Sedangkan mobil Arsya terlihat berputar-putar sebelum akhirnya pria itu terlempar keluar dari mobil hingga jarak yang sangat jauh dari mobilnya


"Mama"

__ADS_1


__ADS_2