
"Ma? Aku belum siapa" Arsya berdiri dengan tegas
Cindy pun tidak mau kalah "Maaf Tante. Tapi aku juga belum siap kalau harus mendadak"
"Memangnya apa yang harus kalian persiapkan?" perkataan Papa Rasyad membuat Cindy dan Arsya tak mampu membantah
"Tapi Pak, Bu. Apa ini ngga terlalu cepat?" kini giliran Bi Imah yang bersuara
"Bukannya kebaikan itu ngga boleh ditunda-tunda? Jadi kami cuma mau ini cepat dilakukan. Dan semuanya akan kami siapkan. Jadi mereka berdua hanya akan duduk diam sampai acara pernikahan" jawab Mama Kanya dengan elegan
Arsya merasa lemas dan kembali duduk. Membantah sekali lagi hanya akan membuat dirinya semakin terpojok. Jeffri yang sudah tidak tahan, langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan Cindy, Dita dan Bi Imah
"Maaf" hanya itu yang diucapkan oleh Cindy dan keluar menyusul Jeffri yang diikuti oleh Dita
"Ngga apa-apa. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dulu" sergah Mama Kanya ketika yang lainnya hendak bangkit
"Jeff" Cindy menahan lengan Jeffri yang hendak memakai helemnya dan bersiap pergi dari sana
"Apa? Apa lagi ini? Apa gue harus ngeliat ini semua?" Jeffri berusaha menahan emosinya
"Jeff" Cindy tidak bisa menjelaskan apapun
"Kenapa? Kenapa harus laki-laki brengsek itu? Kenapa?" kali ini, emosi Jeffri sudah tidak terkendali
"Jeff. Jangan buat Cindy takut" Dita berusaha melerai dengan menarik tangan Jeffri
Jeffri menghela napas kasar "Gue bisa jagain lo Cin. Gue bisa. Ngga perlu cowok brengsek itu. Gue ngga bisa jamin hidup lo akan bahagia sama dia" ia memegang kedua bahu Cindy dengan lembut
Air mata Cindy langsung terjatuh "Lo pernah bilang. Meskipun nantinya gue udah nikah. Lo bakal tetap jagain gue. Lo bakal tetap ngawasin gue. Tapi sekarang apa?"
"Tapi bukan dia" bantah Jeffri dengan keras "Apa lo mau liat dia mati di tangan gue nantinya?"
Cindy dan Dita terkejut mendengar perkataan Jeffri "Jeff? Lo sadar ngga sih lo ngomong apa barusan? Jangan gila lo" seru Dita dengan emosional
"Ini bukan lo Jeff" Cindy menggelengkan kepalanya
"Kalian tau. Gue bakal ngelakuin apapun, kalau ada yang nyakitin kalian. Apalagi lo" Jeffri menatap dalam kedua bola mata Cindy
__ADS_1
"Tapi ngga harus ngelakuin hal gila itu juga Jeff" ketus Dita
Jeffri memalingkan wajahnya dari Cindy "Sorry, gue harus pergi sekarang. Gue butuh waktu untuk berpikir"
Kali ini, Cindy dan Dita membiarkannya pergi. Kepergian Jeffri membuat Cindy tidak bisa menahan air matanya untuk kembali lolos. Dita yang merasa kasihan, mengelus pundak sahabatnya
"Kasih Jeffri waktu. Kalau gue jadi dia. Mungkin gue juga akan bereaksi kayak dia. Biar gimanapun, lo sendiri tau, kalau Jeffri suka sama lo dari dulu"
Cindy menoleh ke arah Dita "Terus apa yang harus gue lakuin Dit? Sekarang Jeffri marah. Dan gue ngga mau dia ninggalin gue. Gue cuma punya kalian berdua yang selalu bisa nguatin gue"
Dita mengangguk lalu memeluk tubuh Cindy "Biar nanti gue coba ngomong baik-baik ke dia. Lo sendiri tau, Jeffri ngga akan bisa ngediamin kita lama-lama" ia berusaha menghibur sahabatnya "Udah ngga usah nangis lagi" Dita membantunya menghapus air matanya "Kok jadi cengeng gini sih? Di dalam ada calon mertua lo. Ada calon suami lo juga. Masa mau pasang tampang jelek gini?" ledeknya
"Dita" Cindy mengerucutkan bibirnya
Dita terkekeh "Ayo masuk. Mereka pasti udah nungguin kita" Cindy pun mengangguk dan kembali ke dalam rumah
Cindy dan Dita kembali ke tempat duduk dengan perasaan tidak enak. Terlebih ketika semua pasang bola mata melihat ke arah mereka
"Mas Jeffri mana Neng?" tanya Bi Imah ketika keduanya baru saja kembali duduk
"Hmmmm? Hmmm.... Jeffri......." Cindy terkejut dan menoleh ke arah Dita
"Oh ia. Arsya, Cindy? Kalian mau konsep pernikahan kalian seperti apa? Biar Mama lebih gampang cari dekorasinya"
"Ngga usah Ma. Ngga perlu pake dekorasi apapun" tolak Arsya dengan mentah-mentah
"Enak aja. Dikiranya yang nikah lo sendiri apa? Belum dengar jawaban gue juga" batin Cindy dengan kesal
"Ngga bisa gitu dong. Pernikahan itu momen sakral. Diadain hanya sekali seumur hidup. Jadi harus dibuat istimewa" bantah Mama Kanya
"Benar tuh. Emang anak Tante aja tuh yang ngga normal" ingin sekali Cindy melontarkan kata-kata tersebut
"Terserah Mama" pasrah Arsya
"Kalau Nak Cindy maunya seperti apa?" kali ini Mama Kanya bertanya pada Cindy
"Ahhh? Hmmm... Aku? Aku mau yang........." ucapan Cindy terhenti tatkala melihat Arsya melotot padanya "Apaan sih nih orang? Ngeliat biji matanya yang gede kek biji salak udah mau keluar tuh. Ngga nyadar apa" rancu Cindy dengan batinnya "Hmmm. Yang biasa aja Tante" akhirnya ia pasrah
__ADS_1
"Lo yakin Cin? Bukannya dari dulu lo pengen banget nuansa pernikahan lo banyak gambar-gambar pikachu-nya gitu?" Dita memotong pembicaraan
Cindy melototkan kedua matanya pada Dita hingga membuat gadis itu langsung mengerti "Ahhhhh..... Ia benar. Yang sederhana aja Tante"
Mama Kanya tersenyum "Jadi, Cindy mau yang banyak gambar Pikachu-nya ya?"
Cindy melirik Arsya yang menatap tajam dirinya "Hmmm.... Ngga Tante. Itu..... Itu cuma keinginan waktu kecil dulu. Kalau sekarang udah ngga" jawabnya dengan menyengir "Udah ngga, setelah biji mata anak Tante udah melotot" batinnya
"Bener?" Mama Kanya terus
"Ia Tante Benar. Keinginan Cindy tuh emang rada-rada aneh. Dia suka Pikachu tapi nanti ngga mau warna kuning. Pengennya warna Pink atau biru" Dita ikut bersuara
"Ya kalau gitu Hello Kitty aja sama Doraemon sana" Arin tampak terlihat kesal
"Itu dia masalahnya. Cindy emang suka warna Pink sama Biru. Tapi ngga suka Hello Kitty ataupun Doraemon. Sukanya Pikachu. Jadi mau gimana dong?" Dita tampak mengejek Arin
"Dasar aneh. Mau dapat dimana Pikachu warna Pink sama Biru?" Arin menggelengkan kepalanya dan naik ke lantai 2 menuju kamarnya
"Lo sih" ketus Cindy pada Dita
Mama Kanya dan Papa Rasyad hanya tertawa mendengarnya. Memang agak aneh, tapi juga terlihat sangat lucu dan unik.
"Hmmm. Tante, Om. Kalau gitu, Aku sama Dita dan Bi Imah mau pamit pulang dulu"
"Kalian boleh pulang setelah kita makan siang dulu" sergah Mama Kanya
Cindy dan Dita saling menoleh. Mau bagaimana lagi. Mereka harus ikut makan siang jika ingin cepat kembali pulang. Dan setelah itu, Cindy benar2 berpamitan untuk pulang.
"Bawa mobil gue yah" Cindy melemparkan kunci mobilnya pada Dita
"Kenapa? Lo mau pulang bareng Kak Arsya?" pertanyaan Dita sukses membuat semua orang terkejut
Cindy buru-buru menimpali "Ngga gitu. Maksudnya lo yang nyetir"
"Oh. Kirain" Dita menjawab tanpa merasa bersalah
"Ya Tuhan..... Teman siapa ini malu-maluin banget"
__ADS_1
...MOHON MAAF KARNA BARU MUNCUL LAGI. KARNA SATU DAN LAIN HAL, KEMARIN2 NGGA BUKA APAPUN DAN BARU BISA MEGANG HP LAGI. TERIMA KASIH YANG MASIH SETIA NUNGGUIN 💞💞💞💞💞...