Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Penawaran (Paskah nikah)


__ADS_3

"Kak makasih. Aku buru-buru" Cindy membuka pintu mobil dengan cepat dan langsung keluar lalu mendongak masuk lagi "Kak, nanti ketemu aku yah" lalu pergi dan berlari masuk ke dalam Fakultas


"Ih? Kenapa tuh cewek?" Arin melihat Cindy lari terburu-buru


"Sisa 3 menit lagi" jawab Arsya yang menaikkan sebelah tangannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya


"Hah?" Arin tidak mengerti


"Ngga apa-apa. Sana turun. Ngapain masih disini?"


"Ih? Apaan sih Kars" Arin mendengus dan keluar dari mobil tersebut


***


"Omaygat. Sumpah gerah banget" Cindy langsung duduk di samping Dita dan mengibaskan tangannya ke wajahnya


"Tumben lo telat datang? Untung Bu Wina belum datang" cetus Dita lalu memberikan minumannya "Nih minum dulu"


"Thanks" Cindy meneguk habis minuman tersebut


"Kok telat Cin?" tanya ulang Jeffri


"Mobil gue ngga bisa nyala" ketus Cindy yang mencebikkan bibirnya "Terus kan gue diantar sama Kang Maman pake motor tuh, dan kalian tau? Motornya kehabisan bensin di jalan. Gila" ia menggelengkan kepalanya


"Terus-terus? Lo kesininya naik apa?" Dita menjadi tertarik


"Untung aja ada Kak Arsya yang lewat. Ya udah, dia ngasih gue tumpangan"


Dita dan Jeffri terkejut, terlebih bagi Jeffri "Arsya?"


Cindy mengangguk, lalu tersenyum "Cuma numpang"


Jeffri membuang muka. Dita langsung mengode Cindy hingga membuat gadis itu mengerti. Keduanya pun bertukar posisi


"Jeff?" Cindy memegang bahu Jeffri yang menoleh padanya


"Gue ngga apa-apa" sahut Jeffri lalu mengusap kepala gadis di sebelahnya itu "Nanti pulangnya bareng gue ya?"


Cindy mengangguk cepat "Emang gue harus nebeng pulang ke siapa lagi coba kalau bukan sama lo?"


"Mulai nih gue dilupain" sindir Dita yang pura-pura terabaikan


Cindy dan Jeffri tertawa bersama "Tapi nanti gue mau nemuin Kak Arsya dulu ya? Soalnya ada yang mau gue omongin ke dia" tukas Cindy


"Apa?" Dita dan Jeffri berucap bersamaan


"Cieee barengan" ledek Cindy lalu tertawa


"Ih? Apaan sih? Oh ia Cin. Gue cuma mau ngomong. Lo kalau ngobrol bareng sih tim-tim senior sebelah itu, ngga usah terlalu sopan. Ngga usah pake kata aku-kamu. Pake lo-gue aja" tukas Dita


"Ia benar. Mereka aja ngga sopan" sambung Jeffri


Cindy hanya mengangguk tanpa membalas. Tidak mau berdebat dengan kedua sahabatnya sepagi ini


***

__ADS_1


"Kak Kenta?" panggil Cindy dari belakang


Kenta menoleh ke belakang "Ia? Cindy? Kenapa?"


"Hmmm... Kak Kenta liat Kak Arsya ngga?"


"Arsya? Dia ada di secret. Lo mau ketemu?"


Cindy mengangguk "Ia kak"


"Ayo. Gue juga mau kesana" ajak Kenta hingga mereka berdua berjalan beriringan


"Oh ia. Lo punya hubungan apa sama Arsya?"


Cindy dengan cepat menoleh lalu tersenyum kikuk "Ngga ada kok kak" jawabnya


"Kemarin lo ngobrol berdua sama Arsya di mobil kan? Tadi juga gue liat lo ke kampus bareng Arsya"


"Mwo? Kak Kenta liat?" batin Cindy "Hmmm... Itu cuma kebetulan aja kak" jawabnya dengan bingung


Kenta tersenyum "Gue tau persis gimana sifat Arsya. Dan dia...." menoleh pada Cindy yang juga menoleh padanya untuk menunggu jawabannya


"Dia apa kak?" Cindy tidak sabar menunggu jawaban


"Dan dia..."


"Lo disini?" Arsya tiba-tiba muncul dan memotong pembicaraan keduanya


Kenta kembali tersenyum dan menepuk pundak Arsya "Dia kesini nyariin lo" lalu pergi bergabung ke yang lainnya


"Hmmm.... Aku......" tiba-tiba Cindy teringat perkataan Dita dan Jeffri. Apa ia harus tetap menggunakan aku-kamu atau lo-gue ke Arsya sebagai seniornya


"Ayo" Arsya memutar badan dan membuat Cindy terkejut namun tetap mengikutinya


"Cieee Arsya...." terdengar suara ledekan dari beberapa teman mereka


"Cindy?" Jendris datang menghampiri Cindy "Lo ngapain disini?"


Cindy menoleh "Kak Jendris? Oh... A....." kembali teringat perkataan Dita dan Jeffri "Gue.... Ada sesuatu yang perlu gue omongin ke Kak Arsya"


Kening Jendris berkerut "Lo kenapa?"


Cindy menaikkan alisnya "Kenapa apanya kak?"


"Barusan lo pake kata 'gue?'"


Cindy menggigit bibir bawahnya sejenak "Hmmm... Kan dulu Kak Jendris sendiri yang nyuruh gue ngga usah terlalu formal manggilnya"


Jendris tertawa pelan "Benar"


"Ayo. Gue ngga punya banyak waktu" seru Arsya


"Hah? Oh... Maaf Kak" Cindy buru-buru mengikuti Arsya


"Arsya? Lo mau bawa Cindy kemana?" teriak Jendris yang tidak dihiraukan

__ADS_1


Arsya membawa Cindy ke belakang secret. Disana tidak ada siapapun. Cindy mengedarkan pandangannya dan melihat sekeliling tampak dipenuhi rumput-rumput liar. Duduk dengan pelan


"Mau ngomong apa?" seru Arsya hingga membuat Cindy terkejut


"Oh? Ya....." Cindy menjadi gelagalan "Makasih"


Arsya mengernyit heran "Makasih karna udah ngasih tau Tante Vanya tentang perusahaan orangtua gue"


Arsya melirik "Gue?" batinnya. "Hmmm... Ya" jawabnya dengan singkat


"Bentar. Tadi nyebut apa? Gue? Astaga, ini gara-gara Dita sama Jeffri. Harusnya kalau ngomong sama Kak Arsya pake aku-kamu aja. Kan bentar lagi juga nikah. Kalau ketahuan sama Tante Vanya dan Om Rasyad gimana coba? Bisa dicap ngga sopan gue" batin Cindy yang tidak sadar


"Woy" Arsya melepari jidat Cindy yang melamun dengan ranting kayu patah yang kecil dan sudah kering


"Ah...." Cindy mengadu kesakitan "Apaan sih" serunya dengan kesal


"Mau ngomong apa lagi?" tukas Arsya dengan malas


Cindy sejenak berpikir "Hmmm... Kita kan sama-sama belum siap nikah. Gimana kalau nanti kita tinggal di rumah gue, biar lo... Hmm... Kamu bisa bebas" ia memberi penawaran


Arsya menaikkan sebelah alisnya. Tidak mengerti dengan gadis itu. Sebentar-sebentar pake kata aku-kamu, sebentarnya lagi pake kata lo-gue


"Ok. Karna lo bahas ini duluan. Gue mau nambahin" Arsya duduk di sebelah Cindy


"Di pernikahan nanti. Gue ngga mau ada teman-teman yang datang... Gue ngga ma..... "


"Bentar. Tapi kan Dita sama Jeffri udah tau?" potong Cindy


"Jangan potong pembicaraan gue" sergah Arsya dengan tegas


Cindy mencibir "Ia" sahutnya


"Kecuali dua teman lo itu. Dan dua teman gue, Jendris sama Kenta. Ini cuma untuk jaga-jaga kalau ada berita yang tersebar nanti"


Cindy mengangguk "Setuju"


"Satu lagi. Gue ngga mau lo ikut campur semua urusan gue. Dan gue juga ngga akan ikut campur urusan lo"


Cindy mengangguk dengan cepat "Setuju"


"Lo ngga mau nambahin?"


Cindy berpikir sejenak "Kayaknya selain kebebasan, ngga ada lagi deh"


"Ok"


Arsya berdiri "Ngga ada lagi? Gue mau latihan"


Cindy ikut berdiri "Ngga ada. Gue juga udah mau balik" sejenak melihat ponselnya "Jeffri udah nungguin gue"


Arsya berlalu tanpa pamitan dan meninggalkan Cindy disana sendirian


"Dih? Belum apa-apa udah sok gitu" gumannya dengan ketus "Tapi baguslah dia ngadain penawaran gitu. Kan gue bisa tetap bebas" senyumnya mengembang


"Cindy?" seseorang tiba-tiba memanggil nama Cindy hingga membuat gadis itu terlonjak terkejut

__ADS_1


...JANGAN LUPA DUKUNG YAH 💞💞💞...


__ADS_2