Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Ada urusan penting


__ADS_3

Tiba-tiba beberapa laki-laki menghampiri keduanya. Arin dan Cindy mengerutkan keningnya karna tidak mengenal siapapun di antara mereka


"Hai? Boleh ikut gabung ngga?"


"Ngga boleh!" tolak Arin dengan galak


Mereka semua langsung tertawa "Galak banget?" salah seorang di antara mereka mencolek dagu Arin


"Jangan macam-macam Lo yah?!" Arin menepis tangan lelaki itu dan langsung berdiri "Kalau kalian macam-macam, gue teriak biar orang-orang pada kesini" ancamnya


"Galak banget sih cantik" lelaki itu hendak memegang tangan Arin


Namun sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan lelaki itu hingga membuatnya terkejut


"Kak Arsya?"


"Kars?"


Cindy juga Arin begitu terkejut melihat Arsya berada disana. Padahal mereka tau Arsya sedang ada urusan untuk membahas perusahaan bersama Galih


"Sekali lagi berani Lo semua nyentuh mereka?" Arsya menunjuk Cindy dan Arin "Gue patahin tangan Lo!" ancamnya dengan wajah tegasnya


"Sorry bro. Gue ngga tau Lo kenal sama mereka" lelaki yang tangannya di pegang oleh Arsya pun meminta maaf


"Pergi dari sini dan jangan ganggu mereka lagi! Atau kalian akan tau akibatnya?!" ancam Arsya kembali tanpa main-main lalu menghempaskan tangan lelaki itu


"Oke-oke. Ayo kita pergi" lelaki tersebut mengajak semua teman-temannya pergi darisana. Entah mengapa mereka terlihat takut pada Arsya


Setelah rombongan laki-laki itu pergi. Arin menyipitkan matanya pada Arsya "Kars kok bisa ada disini?"


Arsya tidak langsung menjawab "Ia. Bukannya kamu hari ini mau ketemu sama Om Galih itu kan?" timpal Cindy


"Benar. Tapi kok sekarang tiba-tiba malah ada disini?" tanya Arin berurutan


"Atau jangan-jangan kamu ngikutin aku sama Arin lagi?" Cindy berusaha menebak


"Kenapa kalian jadi ribet?" Pertanyaan sekaligus pernyataan skak Arsya membuat Cindy dan Arin terdiam


"Kalau sudah puas mainnya. Cepat pulang. Ini udah siang!" perintahnya


"Kars aja yang pulang duluan! Orang kami masih mau main kok" tolak Arin yang kekeh masih ingin berada disana


"Kalian mau diganggu sama orang yang ngga dikenal lagi? Hah?"


Arin maupun Cindy terdiam melihat air wajah Arsya sepertinya berubah. Terlihat kegelisahan serta kemarahan di wajah tersebut


"Ayo kita pulang aja Rin. Lain kali lagi aja kita kesininya. Nanti biar gue ajak Dita sama Jeffri juga" bujuk Cindy pada Arin


Arsya langsung menatap nanar pada Cindy hingga membuat wanita itu tampak bingung untuk mengartikan arti tatapan suaminya itu


"Janji?" Arin menaikkan jari kelingkingnya


Cindy mengangguk "Janji" ia pun mengaitkan jadi kelingkingnya ke kelingking Arin


"Cepat pulang" Arsya berjalan mendahului kedua wanita itu


"Ia ia. Galak banget" gerutu Arin yang setengah kesal


***


Cindy baru saja keluar dari kamar mandi setelah sampai di rumahnya. Meskipun awalnya Arin membujuknya untuk tetap menginap di rumahnya, namun Arsya bersikeras ingin pulang dan mengharuskan Cindy untuk ikut


Cindy yang tengah mengeringkan rambutnya memakai handuk, duduk di tepi tidur lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas


Satu notifikasi muncul dibalik layar tersebut. Kening Cindy berkerut dalam memperhatikan sejenak notifikasi yang lewat. Ia pun membuka pin ponselnya lalu beralih pada aplikasi hijau


"Hai Cindy? Ini gue Denis. Teman SMA Lo. Masih ingat gue ngga?"


"Denis?" Cindy mengulangi nama tersebut "Denis yang mana yah?" pikirnya


Cindy pun mengetik sesuatu pada keyboard tersebut untuk membalas pesan seseorang bernama Denis


"Denis yang mana yah? Dan.. Hmmm.. Ada perlu apa?" send


Cindy menunggu balasan pesan tersebut yang statusnya sudah dalam mengetik


"Denis teman SMA Lo. Masa Lo lupa sih? Yang menjabat OSIS satu-satunya di kelas kita dulu"


Bibir Cindy membentuk huruf O "Ohhh... Ia ia. Gue ingat. Apa kabar Lo? Ada apa nih tiba-tiba ngechat gue? Tumben amat"

__ADS_1


"Hahahaha. Ngga apa-apa. Kangen aja sama teman-teman SMA. Besok ketemuan yuk?" ajak Denis


Cindy berpikir sejenak melirik Arsya yang masih sibuk dengan laptop di depannya


"Hmm? Gimana yah? Ngga tau sih gue besok bisa apa engga? Soalnya gue ada kelas"


Cindy berusaha mencari alasan untuk tidak bertemu dengan Denis. Bukan karna tidak suka, tapi dia memikirkan perasaan Arsya meski ia tau lelaki itu tidak pernah memikirkan perasaannya


"Ayolah. Kapan lagi kita bisa ketemu"


Sepertinya Denis masih bersikeras untuk bisa bertemu dengan Cindy esok hari


"Bisa sih. Ya udah deh. Besok biar gue ajak Dita sama Jeffri juga"


"Ehh... Jangan.... Jangan ajak siapapun termasuk Dita sama Jeffri. Lo sendiri aja. Gue cuma pengen ketemu berdua sama Lo doang nih"


Kening Cindy berkerut. Merasa heran kenapa tiba-tiba orang ini menghubunginya dan meminta bertemu dengannya? Bahkan tidak boleh mengajak siapapun, termasuk Dita dan Jeffri. Padahal mereka berdua juga adalah teman semasa SMA


"Lho? Kenapa emangnya? Katanya kangen teman-teman SMA? Dita sama Jeffri kan juga teman SMA kita?"


"Ya ... Nanti aja gue ketemu sama mereka. Kalau besok gue cuma pengen ketemu sama Lo dulu aja. Berdua. Ngga ada siapa-siapa"


"Nih orang kenapa jadi aneh banget sih?" cebik Cindy hingga membuat Arsya menoleh padanya


"Ada apa?" tanya Arsya


Cindy menggeleng "Ngga ada apa-apa kak. Cuma teman SMA doang kok yang ngechat" jawabnya


"Oh" hanya itu yang diucapkan Arsya lalu kembali sibuk dengan laptopnya


"Hmm.. Kak? Besok ada kelas ngga?" tanya Cindy ragu


Arsya menoleh sekilas "Ada"


"Pulangnya jam berapa?"


Arsya terdiam sejenak sambil berpikir "Mungkin agak sore-an menjelang malam"


"Ohhh" Cindy mengangguk-angguk paham


"Ada apa?"


Arsya menoleh "Siapa?" keningnya berkerut


"Ya adalah. Aku kasih tau juga kamu ngga akan tau orangnya"


Arsya memalingkan wajahnya dan menghela napas "Cewek atau cowok?"


"Cowok"


Jawaban Cindy membuat Arsya kembali menoleh "Lo perginya sama siapa?"


"Sendiri" jawab Cindy tanpa rasa bersalah


"Lo mau ketemu sama cowok terus sendirian?"


Wajah Arsya seketika berubah hingga membuat Cindy mengulum bibirnya karna merasa salah bicara


"Lo ngga punya otak apa gimana? Hah?" Arsya dengan tegas menghardik Cindy


"Kenapa kamu jadi marah-marah? Aku berhak nentuin sendiri hidupku. Bukannya kamu sendiri yang buat perjanjian untuk ngga saling mencampuri urusan masing-masing? Kenapa sekarang kamu jadi seolah-olah peduli sama aku?"


Suara Cindy menggema di kamar itu. Untuk pertama kalinya Arsya mendengar Cindy membentaknya seperti itu setelah ia mengenalnya selama ini


"Kenapa jadi seolah-olah kamu lupa sama perjanjian yang udah kamu buat sendiri? Aku selama ini ngga pernah ikut campur urusan kamu! Ngga pernah ngelarang kamu mau kemana dan ketemu siapa! Itu terserah kamu! Itu hak kamu!! Dan aku? Juga berhak nentuin mau kemana dan sama siapa aku harus pergi!!! Kamu ngga punya hak buat ngelarang aku!!"


Air mata Cindy mengalir begitu deras setelah mengatakannya. Arsya tidak membalas ungkapan isi hati Cindy yang ia keluarkan dengan penuh emosi


"Aku cuma mau kita ngingetin perjanjian yang udah kamu buat sendiri dulu setelah kita menikah. Maaf kalau aku jadi ngga sopan"


Cindy merebahkan tubuhnya membelakangi Arsya tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu. Dalam isakan tangisnya, ia berusaha memejamkan matanya


Sementara Arsya terlihat menghela napas berat. Ia menatap layar laptopnya dengan nanar. Mengusap kasar wajahnya setelah melihat Cindy sepertinya sudah terlelap setelah mengungkapkan isi hatinya


Setelah duduk berjam-jam disana. Arsya akhirnya bangkit dan mendekati Cindy. Ia meraih ponsel istrinya yang berada di genggamannya


Entah apa yang akan dilakukan Arsya pada ponsel tersebut. Setelah selesai dengan urusannya, ia pun mengembalikan ponsel tersebut ke dalam genggaman tangan Cindy dan keluar dari kamar tersebut


***

__ADS_1


Cindy masih termenung di meja makan. Ia memikirkan dimana keberadaan Arsya saat ini? Karna Bi Imah pun tidak tau sama sekali. ART itu bangun sejak tadi tapi tidak melihat Arsya pergi


Cindy pun tadi pagi terbangun dalam kondisi Arsya sudah tidak berada di dalam kamar. Ia hanya seorang diri di kamar tersebut


"Ya udah deh Bi. Aku pamit ke kampus dulu yah? Takut telat" ia pun berpamitan pada Bi Imah dan bergegas keluar dari rumah menuju garasi mobilnya terparkir


Sepanjang jalan Cindy memikirkan dimana keberadaan Arsya. Apakah ia tersinggung dengan perkataannya yang begitu kasar semalam? Memikirkannya membuat kepala Cindy benar-benar pusing


"Aahhh...." ia mengacak rambutnya sendiri "Gue kenapa sih semalam? Kenapa gue harus ngomong gitu? Ini semua gara-gara Denis! Kalau aja dia ngga ngajakin gue ketemu berdua, gue pasti ngga akan semarah itu sama Kak Arsya semalam. Ah, benar-benar sial. Awas aja Lo ntar yah Den? Gue cincang-cincang juga Lo. Gara-gara Lo gue jadi ribut sama Kak Arsya"


Cindy mengoceh sendiri sepanjang jalan. Ia membalas pesan singkat Denis dan mengiyakan untuk bertemu dengannya. Ia berencana akan memaki-maki lelaki itu karna sudah membuatnya dan suaminya ribut semalam hingga berujung Arsya pergi dari rumah sejak semalam entah kemana


Setelah sampai di kampus. Ternyata Jeffri pun baru juga tiba. Senyum Jeffri terbit untuk Cindy yang baru membuka pintu mobilnya


"Hei, kusut amat?" Jeffri merangkul pundak Cindy yang tampak tidak semangat


"Tau ah" dengan nada kesal, Cindy menghempaskan tangan Jeffri dan meninggalkan lelaki itu


Kening Jeffri langsung berkerut "Kenapa lagi sama dia?" ia menggelengkan kepalanya lalu tetap mengikuti wanita itu dari belakang hingga sampai ke kelas


"Eh eh eh? Tuh muka kenapa kusut banget kayak benang ngga punya pemilik?" tegur Dita saat Cindy duduk di sampingnya


Jeffri memberi kode pada Dita untuk tidak banyak bertanya. Ia tau, suasana hati wanita itu kini sedang tidak baik-baik saja


"Ahhh..." Cindy menghela napas kasar dan membaringkan kepalanya di atas meja "Rasanya gue pengen maki-maki orang sekarang!!!"


Jeffri dan Dita saling melempar pandangan satu sama lain "Kenapa sih Lo?" tegur Dita dengan hati-hati


"Tau ngga sih kalian?" Cindy membangunkan kepalanya dengan berapi-api "Gara-gara Den......" ucapannya seketika terhenti setelah hampir keceplosan menyebut satu nama itu


"Apa? Gara-gara siapa? Den? Den siapa?" Dita sudah penasaran setengah mati


"Den siapa Cin?" Jeffri pun sudah ikut penasaran


Cindy seketika mengulum bibirnya "Ngga ada. Bukan siapa-siapa. Ah.... Mood gue ngga lagi bagus aja" kilahnya dan menghela napas


Jeffri dan Dita masih penasaran hingga berusaha terus bertanya pada Cindy. Namun nihil, wanita itu tetap tidak mau memberitahu sampai akhirnya dosen masuk dan ketiganya sejenak melupakan masalah tersebut


"Lo yakin ngga mau nongkrong dulu bareng kita?" tawar Jeffri setelah ketiganya berjalan menuju parkiran saat perkuliahan tengah selesai


"Yakin!" Cindy menjawab dengan tegas "Gue ada urusan soalnya" ia tampak terlihat buru-buru setelah berbalas pesan dengan seseorang


"Buru-buru banget sih? Emangnya ada urusan apa?" Dita tampak masih penasaran


"Ngga perlu tau sekarang. Nanti juga kalian tau sendiri kok" jawab Cindy yang meraih kunci mobilnya


"Urusan Lo sama Arsya?" Jeffri berusaha menebak


"Bukan!" bantah Cindy "Udah. Gue duluan yah. Bye" ia tampak terburu-buru memasuki mobilnya dan meninggalkan kedua sahabatnya


"Tuh anak kenapa jadi aneh banget sih?" Dita merasa heran dengan tingkah sahabatnya hari itu


"Memangnya selain sama Arsya, dia punya urusan lain sama siapa lagi?" Jeffri merasa heran dengan perubahan Cindy yang secara mendadak itu


"Udahlah. Ntar juga kalau ada apa-apa dia pasti ngasih tau kita kok. Yuk ah. Ntar kita ngga dapat tempat duduk lagi" ajak Dita pada Jeffri karna keduanya akan ngopi sebelum pulang


Jeffri dan Dita mengunjungi kafe dekat kampus mereka. Saat hendak mencari tempat duduk, Dita melihat Arsya juga tengah berada disana bersama teman-temannya


"Itu bukannya Kak Arsya?" Dita menunjuk Arsya


Jeffri pun menoleh. Lalu memalingkan wajahnya "Ayo duduk disana" ia mengajak Dita duduk di ujung


Saat tengah asik berbincang bersama sambil menikmati segelas minuman kesukaan mereka, Arsya tiba-tiba bangkit hingga membuat teman-teman lainnya bahkan Jeffri dan Dita terkejut


"Hey? Kenapa?" Erlan menegur Arsya yang tengah memegang ponselnya


"Gue ada urusan" Arsya berlari kecil menuju pintu, namun langkahnya seketika terhenti saat melihat Jeffri dan Dita ada disana hingga mengharuskannya menghampiri keduanya


"Kalian ngga bareng Cindy?"


"Ngga kak. Tadi dia bilang ada urusan" sahut Dita


"Aish" Arsya berdecak dan langsung berlari tanpa mempedulikan yang lainnya memanggil namanya


"Sya? Arsya?"


"Kak Arsya?"


...HALO. MOHON MAAF KARNA MENUNGGU LAMA. KARENA KEMARIN GK UPDATE. JADINYA HARI INI AKU PANJANGIN BAB INI, 2 BAB AKU JADIIN SATU. TERIMA KASIH ATAS PENANTIANNYA ...

__ADS_1


__ADS_2