Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Main tampar-tamparan


__ADS_3

"Kak? Masih jauh ngga?" Cindy memberanikan diri bertanya setelah 2 jam lalu memilih diam selama perjalanan


Arsya melirik pelan ke belakang "Sedikit lagi" jawabnya


"Lama banget" guman Cindy yang menyandarkan kepalanya kembali "Kak? Gue berat ngga?" tanyanya kembali


Cindy sedikit merasa tidak enak karna bagaimanapun, tubuhnya kini tengah menimpa tubuh Arsya


"Ngga usah banyak tanya" sahut Arsya hingga membuat Cindy mengerucutkan bibirnya


***


Semua berbagi sembako pada warga yang kurang mampu. Sekaligus para senior mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen mereka dengan mengelilingi desa


"Suasananya sejuk yah?" ucap Cindy ketika ia bersama Dita dan Jeffri


"Benar. Tapi rada dingin-dingin sih karna udah sore" sahut Gita yang membenarkan


"Gue cuma punya satu jaket. Jadi gue ngga bisa ngasih ke salah satu dari kalian berdua. Biar adil" cetus Jeffri yang melipat kedua tangannya di atas perut


"Siapa juga minta jaket lo" tukas Cindy lalu tertawa


"Mang kePDan nih anak. Kita juga udah make jaket kali" timpal Dita yang tertawa


"Hey. Kalian bertiga dipanggil tuh sama Kak Kenta" salah seorang dari rombongan mereka menghampiri ketiganya


"Oh? Ia. Makasih" sahut Cindy "Yuk. Siapa tau udah mau balik" ajaknya


"Ayo"


Ketiganya pun menghampiri Kenta dan yang lainnya. Disana semua orang sudah berkumpul di rumah salah satu warga


"Ada apa Kak?" seru Dita


"Kalian duduk dulu" perintah Kenta


"Cindy? Lo duduk disini?" Jendris memanggil nama Cindy


Cindy yang hendak duduk di samping Dita pun kebingungan. Ia juga tidak mau menolak, karna itu hanya akan mempermalukan Jendris


"Ngga apa-apa. Kasian" Dita membujuk Cindy


Cindy mengangguk. Jendris sangat senang. Namun Cindy justru terkejut karna di sebelahnya tidak hanya ada Jendris, tapi juga Arsya yang tampak biasa saja


"Makasih ya" ucap Jendris dengan sungguh-sungguh


Cindy hanya tersenyum kaku meski ia tidak tau kenapa laki-laki itu berterima kasih padanya


"Erlan. Kasih tau pengumumannya sekarang. Gue rasa, semua orang sudah berkumpul" seru Kenta


"Ok. Jadi gini. Ternyata setelah gue sama yang lain nelusuri desa ini. Ada beberapa warga yang bilang. Kita ngga bisa keluar dari desa ini dalam keadaan terang, atau kita bakal dijarah satu-satu" Erlan mulai menerangkan penelusurannya


"Hah? Maksudnya gimana kak?" tanya Cindy yang tidak paham


"Jadi gini. Kita ngga bisa pulang sekarang"


"Apa? Jadi maksudnya kita nginap?" kini giliran Dita yang bertanya


"Bukan bukan. Bukan gitu" Kenta dengan cepat menyergah


"Kita ngga bisa pulang sekarang. Karna keadaan masih terang. Kita akan pulang setelah gelap nanti" terang kembali Erlan


"Duh, gimana nasib mobil gue di kampus" guman Cindy yang menggigit bibir bawahnya


"Kenapa?" Jendris bertanya pada Cindy


"Mobil gue di kampus kak. Takutnya kalau kemalaman pulangnya gimana ya?" jawab Cindy dengan bingung


"Suruh jemput aja kalau ada yang bisa ngambil mobil lo" celetuk Kenta

__ADS_1


"Terus gue sama Dita pulangnya gimana?" tukas Cindy


"Dita kan bareng sama dia" Kenta menunjuk Jeffri, "Dan lo bareng Arsya"


Cindy menoleh ke sampingnya, tepat dimana Arsya berada. Ia ragu apakah pria itu mau mengantarnya pulang atau tidak. Karna ia tidak mengatakan apapun


"Arsya?" panggil Kenta


"Hmm" Arsya hanya mengangguk


"Kalau lo ngga bisa nganterin Cindy pulang, biar gue yang nganterin dia" celetuk Jeffri tiba-tiba


"Terus gue lo mau kemanain?" Dita sudah mulai emosi


"Kita boncengan bertiga" jawab Jeffri tanpa ragu


"Lo gila" sarkas Dita dan Cindy


***


Cindy sedikit menjauh untuk menghubungi Mang Maman, supir pribadi orangtuanya yang masih bekerja dengannya mengurus pekerjaan rumah bersama Istrinya, Bi Imah


"Halo Mang?" setelah sambungan teleponnya tersambung


"Ia Neng? Ada apa?"


"Mang? Bisa tolong ambil mobil aku ngga di kampus? Soalnya aku pulangnya kemalaman Mang. Takutnya ngga keburu"


"Tapi nanti Neng Cindy pulangnya sama siapa?"


"Gampang Mang. Aku ntar pulangnya diantar sama teman"


Tiba-tiba sebuah ponsel tepat berada di depan wajahnya. Ia menoleh ke belakang, dan ternyata itu milik Arsya. Laki-laki itu mengode untuk membaca pesan yang di ponselnya


"Arsya? Kalau sudah pulang, tolong antar Cindy ke rumah nanti ya Nak? Kalau perlu biar dia mengisap di rumah. Soalnya Mama ada perlu sama dia"


Cindy baru saja selesai membaca isi pesan dari Mama Vanya. Mendesah. Dan Arsya menurunkan tangannya, namun tetap berdiri disana


"Ia Neng?"


"Tolong bilangin sama Bi Imah ya. Malam ini aku ngga bisa pulang. Aku nginap di rumah teman. Soalnya udah malam banget nyampe rumahnya. Jadi aku nginap di luar aja"


"Ia Neng. Hati-hati. Nanti saya kasih tau Rohimah"


"Ia Mang. Makasih" Cindy menutup sambungan telepon tersebut


"Kak Arsya ngapain masih disini?" tanya Cindy saat berbalik


Arsya tidak menjawab. Ia hanya memperlihatkan kembali ponselnya pada gadis itu. Cindy mengernyit heran, namun melihat layar ponsel tersebut


"Cincin?" ucap Cindy. Ia meraih ponsel tersebut "Cincin untuk apa kak?" tanyanya


Lagi-lagi Arsya tidak menjawab. Ia hanya mendesah "Kak Arsya lagi sakit gigi ya?" tebak Cindy


Arsya langsung menatap Cindy "Sembarangan lo" sahutnya


"Ya abisnya dari tadi ngga ngomong-ngomong. Kan bisa aja sakit gigi" tukas Cindy dengan kesal


"Pilih yang mana?" cetus Arsya


"Aku?" Cindy dengan teliti menunjuk "Ini aja yang warna putih" tunjuknya


Arsya melihat sesaat lalu menunjuk yang berwarna emas "Tapi gue suka ini"


"Terus ngapain nanya aku coba? Kalau ujung-ujungnya tetap pilihanku tuh ngga kepilih?" Cindy menjentakkan kakinya lalu pergi


"Kurang sopan


***

__ADS_1


Setelah makan malam bersama, semuanya berkumpul di depan rumah salah satu warga. Nyamuk-nyamuk mulai berdatangan hinggap ke kulit-kulit mereka


"Argghhh..... Nih nyamuk-nyamuk kenapa sih?" seru Felly yang menepuk-nepuk tangan, kaki dan pipinya yang terasa gatal


"Nyamuknya suka sama lo kali" ledek Jendris


Semua orang menjadi tertawa dengan lelucon kuno itu. Bahkan Cindy dan Dita pun ikut tertawa


"Apa lo ngetawain gue" seru Felly pada Cindy


"Dih? PD banget" Cindy memalingkan wajahnya


"Apa lo bilang?" darah Felly seakan mendidih


"Diam" bentak Arsya dengan kasar


Felly tiba-tiba terdiam. Bahkan semua orang pun tidak ada yang berani menyahut jika Arsya yang sudah berbicara. Namun tiba-tiba Cindy menepuk pipi laki-laki itu


"Aww" Arsya mengaduh memegang pipinya hingga membuat semua orang terkejut


Pasalnya, tidak pernah ada yang berani menyentuh laki-laki itu. Apalagi sampai 'menampar' nya. Di depan semua orang pula


Cindy menyengir "Maaf kak. Tadi ada nyamuk disitu" ia menunjuk pipi Arsya


Arsya mengerang. Ia hendak bersuara namun menutup kembali mulutnya. Dita dan Kenta menahan tawa mereka. Sedangkan yang lainnya terdiam, belum ada yang berani bersuara


Tiba-tiba Arsya juga menepuk pipi Cindy "Kak" seru Cindy yang terkejut


"Ada nyamuk" tunjuk Arsya


Semua orang kembali terkejut. Lebih mengejutkan lagi ketika Cindy memukul-mukul lengan Arsya dengan kesal


"Ngga. Bilang aja mau balas dendam" kesal Cindy yang masih memukul lengan Arsya


"Eh, sakit" tegur Arsya


"Ya biarin. Dikiranya tadi ngga sakit apa nampar-nampar?"


"Lo juga nampar-nampar gue"


"Ia. Tapi kan gu....."


"Hmm Hmmm" Dita berdehem "Malah main tampar-tamparan" ledeknya


Arsya dan Cindy seketika baru tersadar jika mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana. Cindy sangat malu. Sedangkan Arsya memasang kembali wibawanya. Kenta menepuk-nepuk pundak Arsya dengan penuh maksud


"Pipi lo ngga apa-apa Cindy?" tanya Jendris pada Cindy


Cindy menoleh pada Jendris yang jaraknya berada disebelah Kenta. Dan Kenta berada di sebelah Arsya


Cindy menggeleng "Ngga apa-apa kok. Pipi gue baik-baik aja" jawabnya


"Kenapa kalau ngobrol sama gue pake 'Lo-Gue'? Tapi sama Arsya pake 'aku-kamu'?" tanya Jendris yang penasaran


"Hah?" Cindy terkejut sendiri mendengar pertanyaan Jendris


"Iri aja lo" Erlan menepuk pundak Jendris


"Namanya juga cewek gatal" celetuk Felly


"Jaga omongan lo" bentak Cindy


"Cin?" Dita memegang tangan Cindy "Lo juga. Kalau ngomong disaring dulu dong. Asal nuduh aja lo" sarkasnya pada Felly


"Emang benar kok. Ia kan Arsya?" Felly memancing Arsya


"Diam" bentak Arsya dengan suara yang menggelegar


"Arsya?"

__ADS_1


...JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YAH GUYS...


__ADS_2