Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Akad Nikah


__ADS_3

Sudah sepekan berlalu, Cindy harus bolak-balik kampus, dari rumahnya dan rumah Arsya untuk mengurus pernikahannya


"Rasanya gue pengen tidur selama 10 jam" teriak Cindy setelah sampai di kamarnya


Dita masuk ke kamar Cindy lalu tertawa "Sisa 4 hari lagi lo nikah. Ntar lo puas-puasin aja tidurnya" ledeknya


"Diam lo" seru Cindy dengan kesal


"Eh. Calon pengantin tuh ngga boleh ngomel-ngomel lho? Pamali tau" Dita dengan santai duduk di tepi tempat tidur Cindy


"Udah kek orangtua aja lho ngomong pamali-pamali" ketus Cindy yang memejamkan kedua matanya


"Eh? Tapi beneran lho itu. Calon pengantin itu, harus duduk diam tenang. Biar pas duduk di pelaminan, aura bahagianya keluar. Terpancar dari wajah. Tapi kalau sebelum nikah hobinya ngomel-ngomel, di pelaminan nanti, mukanya malah ngga kepancar auranya" tegas Dita


"Bodo amat sih ah. Lagian siapa juga coba yang mau ngeliatin sedetail itu? Ngga ada. Kecuali lo" Cindy membuka paksa kedua matanya dan menunjuk sahabatnya


"Lo kalau mah dibilangin keras kepala ya" tukas Dita "Eh. Dimana-mana, yang namanya pengantin tuh pasti bakal diliatin banyak orang. Jadi pusat perhatian. Ya namanya juga pemeran utama"


"Serah lo deh" Cindy terbangun "Lo datang-datang kerjaannya ribut mulu" ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Dita


Dita hanya tersenyum-senyum. Raut wajahnya setidaknya menampakkan aura bahagia. Meski dulunya ia sangat menyukai Arsya. Tapi ternyata takdir berkata lain. Arsya akan menikah dengan sahabatnya sendiri. Tapi Dita bahkan sama sekali tidak merasakan kesedihan. Ia justru sangat bahagia saat ini


***


"Mbak, mukanya jangan tegang. Nanti keringatnya ngga bisa berhenti. Make up nya jadi luntur nanti"


Seorang wanita tengah berusaha merias wajah Cindy di depan cermin yang tampak menegang. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pernikahannya. Hari yang semua keluarga tunggu-tunggu. Bahkan keluarganya yang berada di Kanada jauh-jauh datang kemari untuk menyaksikan pernikahan keponakan mereka yang sama sekali tidak memiliki keluarga di Indonesia


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Dita dengan pakaian yang sudah sangat rapi mendekati keduanya. Keningnya mengernyit melihat wajah Cindy yang masih polos tanpa riasan disana


"Lho? Mbak? Kok teman saya belum dirias?" tanya Dita


"Teman Mbak ini terlalu tegang. Keringatnya ngga berhenti-berhenti. Nanti make up nya malah luntur" jawab perias itu


Dita menatap Cindy dari cermin. Menarik napas lalu menghembuskannya. Ia perlahan mendekati sahabatnya dan menepuk-nepuk pundaknya


"Ngga apa-apa. Lo coba deh tenangin diri lo. Tarik napas, lalu buang pelan-pelan" sambil menginstruksikannya


Cindy pun perlahan mencobanya "Gue kayak ngga tenang banget Dit" bahkan suaranya saja bergetar


"Cin? Semua orang sekarang lagi bahagia. Jadi coba deh, lo juga harus ngerasain kebahagiaan ini. Mungkin bukan mikirin pernikahan, tapi mikirin kalau semua orang bahagia dengan ngeliat lo saat ini"


Cindy terdiam sejenak. Ia sudah hampir ingin menangis, namun menahannya "Gue akan coba. Demi orang-orang yang pengen ngeliat gue bahagia" tekadnya


Dita tersenyum puas "Ayo Mbak. Mulai aja wajahnya dirias" serunya


"Baik Mbak"

__ADS_1


***


"Tegang banget sih kak?" ledek Arin yang sejak tadi duduk di tepi tempat tidur memperhatikan kakanya melalui pantulan cermin


Arsya berusaha menghiraukannya. Ia benar-benar belum pernah merasakan segugup ini selama ia hidup. Bahkan rasanya ingin acaranya cepat selesai dan ia bisa lega


"Hari ini hari kebahagiaan sahabat gue. Tapi hari ini juga hari patah hati gue" celetuk Jendris yang duduk termenung di sofa bersama Kenta sambil melihat Arsya dalam balutan jas pengantinnya yang tampak menawan


Kenta tertawa "Berarti mulai hari ini, lo ngga boleh dekat-dekat lagi sama Cindy"


"Gue ngga nyangka. Arsya bisa nikah sama Cindy" pasrah Jendris "Kok gue rasanya ngga percaya ya? Apa ini mimpi?" ia masih tidak menyangka


Tiba-tiba sebuah bantal mengenai wajah Jendris "Woy" ia reflesk berteriak


Kenta, Arin, bahkan Arsya tertawa melihat raut wajah Jendris yang terkejut karna mendapat serangan mendadak dari Arin


"Tuh. Artinya Kak Jendris ngga mimpi" ledek Arin


"Ah, lo" ingin sekali rasanya Jendris memaki Arin. Namun tenaganya bahkan tidak bisa ia kerahkan. Ia sangat terkejut mendengar kemarin Arsya memberitahukan pernikahannya dengan Cindy


"Lo pasti bisa dapat cewek yang lebih baik dari Cindy" seru Arsya, setidaknya untuk menghibur sahabatnya karna ia tau Jendris sangat menyukai calon istrinya


"Jadi maksud lo, Cindy kurang baik?" tukas Jendris


"Ya kalau dia terbaik buat lo, ngga mungkin dia nikah sama gue" jawab Arsya


"Cindy emang cewek baik. Tapi ngga terbaik buat lo. Dia cuma terbaik untuk Arsya" Kenta menepuk-nepuk pundak Jendris


"Menghinabur" semprul Arin lalu tertawa. Ia sangat dekat dengan Jendris. Karna ia sudah mengenal Jendris saat masih duduk di bangku SMP


***


"Jangan tegang bro" Kenta berusaha menenangkan Arsya yang sudah duduk di kursi akad sambil menunggu penghulu menyelesaikan urusannya


Dita memegang tangan Jeffri yang berdiri di dekatnya menyaksikan Arsya yang akan melakukan akad nikah dengan seorang gadis yang selalu menempati hatinya


"Sabar ya? Biarin Cindy nemuin kebahagiaannya. Gue berdoa, semoga lo juga bisa nemuin kebahagiaan lo setelah ini"


Jeffri menggeleng "Kebahagiaan gue hanya Cindy" ia menatap Dita dengan raut wajah sendu


Dita tidak tau harus berbuat apa. Bagaimana pun, ia sangat itu, sahabatnya itu juga sangat menyukai Cindy saat mereka masih SMA. Jeffri menolak banyak gadis yang berusaha mendekatinya, karna yang ia inginkan hanya Cindy


"Lo ngga boleh gini Jeff. Gue tau lo sekarang lagi rapuh. Tapi ini demi kebahagiaan Cindy. Kebahagiaan orang yang lo sayang. Gue harap, di depan Cindy nanti, lo mau berpura-pura bahagia" pinta Dita yang sudah mulai berkaca-kaca, tidak tega dengan keadaan seperti ini


Jeffri tersenyum hambar "Lo tenang aja. Gue ngga akan ngerusak kebahagiaan Cindy. Karna kebahagiaan gue sendiri sudah hilang"


Dita benar-benar tidak bisa menahan tangisnya lalu memeluk Jeffri "Please jangan gini Jeff. Cindy pasti bakal sedih banget kalau ngeliat lo kek gini. Gue ngga tau harus ngapain"

__ADS_1


Jeffri mendongak ke atas menahan rasa sakitnya. Dita memegang tangan Jeffri "Lo mau ketemu Cindy sekarang ngga? Sebelum dia turun kesini?"


Jeffri hanya terdiam tanpa berani menjawab. Dita kemudian menarik tangan Jeffri menuju lantai atas, dimana Cindy berada. Arin yang menyaksikan itu terus mengamati keduanya menuju lantai atas. Ia mendesis dan membuang ketus wajahnya


Cindy yang berada di dalam kamar mondar-mandir tak karuan karna gugup. Dan ia terkejut karna pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Lebih terkejut karna melihat siapa yang masuk. Dia adalah Jeffri dan Dita


"Je.... Jeff.... Ri?" Cindy bahkan terbata-bata saat menyebut nama Jeffri


Dita yang tidak kuasa menahan tangis mendekati Cindy "Jeffri pengen ngomong sesuatu sama lo" ia memegang tangan Cindy


Cindy mengangguk dengan tatapan masih mengarah kepada Jeffri. Pun pria itu tak lekat menatap wajah gadis yang selalu menghiasi hatinya. Namun harus merelakannya dengan pria lain. Pria yang sangat tidak ia sukai


"Gue tunggu di luar ya" Dita keluar dari kamar sambil menahan isaknya menyaksikan kedua sahabatnya dalam situasi seperti itu


Keduanya terdiam sejenak sesaat setelah Dita keluar. Namun Cindy berusaha terlihat tenang. Ia menarik napas pelan lalu menghembuskannya. Ia mendekati Jeffri yang masih mematung


"Jeff? Lo disini?" Cindy berusaha membuka pembicaraan


Jeffri mengangguk. Berusaha menahan diri, lalu mengulurkan tangannya "Selamat ya. Sebentar lagi lo akan nikah. Lo udah nemuin kebahagiaan lo yang sesungguhnya"


Cindy menatap tangan Jeffri lalu membalasnya "Terima kasih Jeff. Gue harap lo juga bahagia"


Jeffri menggeleng "Lo tau, kebahagiaan gue hanya karna lo. Tapi sekarang?...... " menarik napas pelan dan membuangnya "Tapi sekarang..... Gue pada akhirnya tau, kebahagiaan lo ternyata bukan untuk gue"


Cindy berusaha keras menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia sangat tau bagaimana pria itu menyukai dirinya. Selalu mempedulikan dirinya, memperhatikan dirinya, dan selalu ada ketika dirinya membutuhkan seseorang untuk dijadikan tempat bercerita


"Jeff. Apapun keadaan kita sekarang. Kita tetap sahabat. Dan gue bahagia bisa bersahabat sama lo. Gue bahagia banget punya sahabat kayak lo Jeff. Jadi tolong jangan ngomong yang aneh-aneh. Sekarang ataupun nanti, lo akan tetap jadi sahabat gue" Cindy memegang tangan Jeffri


Jeffri tertawa miris "Harusnya gue paham. Kalau lo cuma nganggap gue sahabat. Ngga akan pernah lebih" ia menertawakan dirinya sendiri "Tapi bodohnya gue terlalu berharap sama lo"


Cindy langsung menangis dan memeluk Jeffri "Jeff. Gue minta maaf. Tapi ini bukan kemauan gue. Tuhan udah nakdirin semuanya. Dan gue ngga bisa milih apapun yang gue inginkan. Karna ini udah jadi takdir gue Jeff. Kalaupun gue bisa milih takdir sendiri. Gue pasti bakal milih lo. Tapi gue ngga bisa Jeff. Gue ngga bisa" tangisnya benar-benar pecah


Seketika Jeffri tersadar dan merasa bersalah "Cin.... Maafin gue" ia membalas pelukan Cindy "Gue harusnya ngga gini. Ini hari pernikahan lo. Tapi gue malah buat lo sedih. Maafin gue" ia membelai kepala Cindy


Keduanya menangis bersama. Menyadari bahwa ini bukanlah keinginan mereka. Tapi keinginan Tuhan, yang sudah menakdirkan semuanya. Mereka ngga bisa milih, karna mereka ngga punya kehendak. Bahkan Dita yang sejak tadi mengintip tak kuasa menahan tangis dibalik pintu kamar


***


Arsya mengucapkan akad nikah setelah penghulu sudah memberikan instruksi, dan semua yang hadir disana berteriak mengucapkan kata "Sah" dengan perasaan yang sangat bahagia. Doa dari penghulu pun mulai terdengar


"Tolong bawa pengantin wanitanya kemari" seru penghulu setelah rangkaian akad sudah terlaksana


"Baik Pak" Mama Kanya yang paling bahagia menyuruh Dita untuk memanggil Cindy turun


"Baik Tante" Dita langsung memanggil Cindy


Cindy menjadi pusat perhatian setelah menuruni tangga. Ia semakin gugup. Untung saja riasannya segera diperbaiki setelah menangis tadi. Namun matanya masih terlihat sembab, dan Arsya menyadari itu. Ia merasa Cindy sangat tidak menyukai pernikahan mereka

__ADS_1


"Segitu ngga sukanya dia nikah sama gue?"


...MOHON DOANYA YAH. KARNA KU LAGI SAKIT, DAN NGGA BISA NULIS CEPAT2...


__ADS_2