
"Kak Kenta?" Cindy benar-benar terkejut dengan kehadiran Kenta di hadapannya saat berbalik ingin pergi
"Arsya mana?" Kenta mengedarkan pandangannya
"Udah balik Kak. Baru aja. Kak Kenta ngapain disini?"
"Nih" Kenta memberikan sebotol minuman pada Cindy
"Makasih kak. Tapi gue udah mau balik" Cindy menerima botol minuman tersebut
"Ngga apa-apa. Ayo" ajak Kenta untuk kembali ke depan
Cindy mengangguk. Ia berjalan beriringan dengan Kenta sambil memegang botol minuman. Tiba-tiba Jendris menghampirinya
"Cindy?"
"Eh? Ia kak?"
"Lo mau balik? Gue antar yuk?"
"Ah? Ngga kak. Ngga usah" tolak Cindy dengan sopan
"Ngga apa-apa. Gue antar pulang aja"
"Ngga kak. Beneran ngga usah"
"Dia ngga mau pulang sama lo. Maunya sama Arsya" teriak salah satu dari rombongan mereka hingga membuat yang lainnya tertawa namun tidak dengan Arsya
"Dih? Siapa juga yang mau diantar pulang salah satu dari kalian" ketus Cindy hingga membuat Kenta tertawa "Hmm. Kak Kenta, Kak Jendris, gue duluan" ia hendak pergi darisana
"Cindy" namun Jendris menahan tangannya
"Kak" Cindy refleks menghempaskan tangannya hingga membuatnya jatuh dan menimpa ember berisi air yang membasahi sekujur tubuhnya
"Cindy" Jendris langsung menghampiri Cindy, begitu juga dengan Kenta dan yang lainnya
"Awww.... Astaga" erang Cindy yang mengibaskan tangannya karna kesakitan tertindih ember
"Ayo bangun" Kenta membantu Cindy berdiri, pun dengan Jendris.
Namun tidak dengan Arsya yang hanya melihatnya dan tetap berdiri disana bersama yang lainnya
"Bawa ke secret dulu" ujar Kenta
"Baju gue basah semua" Cindy baru menyadari seluruh pakaiannya yang basah kuyup
"Erlan, pinjam jaket lo dulu" Jendris menarik-narik Jaket yang dipakai salah satu temannya
"Eh, santai dong" Erlan pun hendak membuka jaketnya
Tiba-tiba Arsya melemparkan jaketnya yang tergantung kepada Cindy. Semua orang langsung menoleh padanya. Namun Cindy tidak mau ambil pusing, ia langsung memakai jaket itu dibantu Kenta karna malu pakainnya mulai membentuk lekuk tubuhnya
"Kak, gue mau pulang. Makasih" Cindy hendak berdiri namun kembali terduduk
__ADS_1
"Ya Tuhan.... Ini kaki gue kenapa sih?" batin Cindy yang terus menggerutu sambil memegang kakinya
"Kaki lo kenapa? Sakit ngga?" Jendris memegang kaki Cindy
"Ngga kak ngga apa-apa" Cindy pun menolak secara halus "Hp gue......" paniknya lalu merogoh ponselnya yang berada di saku celananya "Kok ngga bisa nyala?"
"Hp lo kemasukan air tuh" seru salah satu dari mereka
Cindy mendengus kesal. Ia harus menghubungi Jeffri untuk menjemputnya disana. Namun bagaimana bisa jika ponselnya tidak bisa menyala?
"Lo mau pulang?" tanya Kenta
Cindy menoleh sekilas lalu mengangguk, masih berkutat dengan ponselnya yang basah
"Ars, antar Cindy pulang" seru Kenta yang mendongak pada Arsya
Sontak saja Arsya dan Cindy terkejut. Bahkan Jendris tidak kalah terkejut "Kok lo nyuruh Arsya? Biar gue aja yang ngantar Cindy pulang" potong Jendris
"Ars?" Kenta menatap Arsya
Cindy yang bingung menjadi gelagapan "Ngga-ngga. Ngga usah kak. Gue pulang bareng teman gue. Dia pasti udah nunggu di depan" sergahnya lalu perlahan mencoba untuk berdiri
"Kalau gitu biar Arsya yang antar lo ke depan" sahut Kenta "Ayo Ars" perintahnya
"Berani banget lo Ken nyuruh-nyuruh Arsya" cetus Erlan yang tertawa bersama yang lainnya
"Ia. Biar gue aja yang antar Cindy ke depan" sela Jendris
"Lo lupa? Lo masih punya hukuman. Tuh di depan belum lo bersihin? Mau nunggu sampai besok? Mau hukumannya ditambah?" tukas Kenta yang berkacak pinggang
"Ayo Ars" ujar Kenta kemudian
Arsya mendengus "Ayo" ia hendak berjalan lebih dulu
"Eh? Mau kemana? Itu kaki Cindy masih sakit?" namun Kenta menahannya
"Terus gue harus ngapain?" Arsya serasa sudah kehilangan kesabaran
"Gendonglah" seru Vino "Kapan lagi bisa gendong cewek cantik kayak Cindy" godanya hingga membuat yang lainnya tertawa
"Diam lo! Lo mau gue hukum juga?" bentak Arsya dan yang lainnya berusaha menahan tawa karna merasa lucu
"Ngga usah deh ada yang ngantarin gue. Gue bisa sendiri kok" celetuk Cindy yang gerah lama-lama berada disana
"Ngga usah banyak protes" tukas Arsya dengan tegas lalu berjongkok "Cepat"
"Hah? Mau ngapain?" Cindy terkejut melihat Arsya berjongkok di hadapannya
"Ayo naik" tiba-tiba Kenta dan Erlan menarik tangan Cindy untuk naik ke punggung Arsya
"A..... Apa-apaan ini?" seru Cindy namun tidak ada gunanya. Karna yang lainnya sudah tertawa. Kecuali Jendris yang tidak terima
Tanpa berkata, Arsya berdiri dan tentu saja membuat Cindy berpegangan. Wajahnya memerah karna malu. Apalagi terus mendapat godaan dari yang lainnya. Arsya yang tidak peduli langsung membawa Cindy pergi darisana
__ADS_1
Cindy benar-benar malu. Semua orang yang melihatnya terus berbisik-bisik. Bahkan tidak jarang ada yang berkerubunan. Cindy juga bisa melihat Felly dan teman-temannya disana. Menatap dirinya seperti singa yang kelaparan. Cindy? Tidak mau ambil pusing
"Dimana?" Arsya membuyarkan lamunan Cindy
"Hah? Oh.... Disana" menunjuk Jeffri yang berada di motornya dengan menunduk melihat ponselnya
Arsya pun menghampiri Jeffri. Pria yang dihampiri tampak terkejut dan langsung turun dari motornya
"Cindy?"
Arsya menurunkan Cindy yang masih tetap harus berpegangan pada bahu Arsya untuk bisa berdiri. Jeffri terkejut melihat pakaian Cindy yang basah
"Lo kenapa? Dan.... Kenapa pakaian lo basah gini?" Jeffri menyentuh bahu Cindy "Lo ya?" lalu menunjuk Arsya
Cindy langsung menarik tangan Jeffri "Ngga Jeff. Justru Kak Arsya yang nolongin gue. Ayo pulang"
Jeffri menatap tidak suka pada Arsya. Arsya yang hendak berbalik dihentikan oleh Jeffri. Pria itu membuka jaket yang dipakai Cindy lalu melemparnya pada Arsya
"Ambil jaket lo" Jeffri lalu membuka jaketnya dan memasangnya di tubuh Cindy "Ayo" mengajaknya ke pulang
Cindy berbalik "Makasih kak" ucapnya pada Arsya
Arsya tidak membalas dan langsung pergi. Cindy menghela napas dan tidak mau peduli. Toh, laki-laki itu sudah memang seperti itu, dan bukan hanya padanya. Tapi hampir pada semua orang
"Pegangan. Jangan ngelamun" cetus Jeffri yang membuyarkan lamunan Cindy selama perjalanan
"Siapa yang ngelamun? Orang gue ngga ngelamun kok" bantah Cindy
Jeffri tersenyum melihat wajah Cindy yang cemberut di balik spion "Pegangan. Ntar jatuh"
Cindy mengangguk lalu melingkarkan tangannya di perut Jeffri. Pria itu benar-benar senang mendapat perlakuan manis dari Cindy
"Oh ia. Pakaian lo kok bisa basah?"
Cindy mencibir "Gue kurang hati-hati. Jalan ngga liat-liat. Ya udah, gue jatuh ketimpa ember. Mana airnya penuh lagi. Basah deh pakaian gue"
"Ember? Di kampus kita emang ada ember?"
"Di secretnya Kak Arsya"
Jeffri terdiam sejenak "Ohhhh.... Tapi mereka ngga ngapa-ngapain lo kan?"
Cindy menggeleng "Ngga kok. Mereka yang bahkan nolongin gue"
"Termasuk Arsya?"
Lagi-lagi Cindy mengangguk "Tapi Jeff. Kok lo manggil Kak Arsya namanya aja? Ngga pake kak? Dia kan senior kita?"
"Gue ngga suka" sahut Jeffri dengan tegas
"Apaan sih Jeff" Cindy tertawa dan mencubit perut Jeffri "Suka atau ngganya itu perkara yang beda"
Jeffri terdiam sejenak, lalu memberanikan diri untuk bertanya "Lo beneran mau nikah sama dia?"
__ADS_1
...ANNYEONG........ SOK SEMANGAT BANGET DIRIKU π π π JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG NOVEL INI. MACIIIIHHHH ππππ...