Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Bisik-bisik tetangga


__ADS_3

"Lo baik-baik aja kan?"


Pertanyaan Jeffri membuat Cindy dan Dita menoleh bersamaan. Bagaimana tidak, Cindy terus bersenandung seperti dulu dan itu membuat Jeffri bingung. Sama halnya dengan Dita juga Bi Imah


"Siapa? Gue?" Cindy menunjuk dirinya sendiri


"Ialah. Siapa lagi? Lo! Lo baik-baik aja kan?"


"Baik. Baik-baik aja gue. Kenapa sih? Emang kalian ngeliat gue tuh kenapa?" Cindy menjadi bingung dengan semua orang yang menanyakan keadaannya


"Kenapa apanya? Orang cuma nanya keadaan aja. Yang salah tuh lo yang ngga pernah nanya keadaan kita berdua" celoteh Dita mengalihkan pembicaraan dan mengedipkan mata pada Jeffri yang masih bingung


"Ya elah. Ngapain gue nanya keadaan kalian kalau gue bisa ngeliat sendiri keadaan kalian berdua baik-baik aja" seru Cindy dengan memutar malas kedua bola matanya


"Keadaan di luar sama keadaan di dalam itu beda tau. Bisa aja lo ngeliat gue baik-baik, tapi perasaan gue belum tentu baik-baik aja" Dita kembali mengeles


"Emang kita baru temenan berapa lama sih, hah? Sampai gue ngga bisa tau keadaan kalian tuh gimana? Luar dalam juga gue tau" Cindy menopang dagunya sembari memperhatikan kedua temannya satu persatu


"Terserah lo Bambang" pasrah Dita


"Gue cewek. Bukan cowok" protes Cindy


"Ya udah. Terserah lo Markonah" sergah Dita dan langsung membuat mereka bertiga tertawa


***


"Jeff. Pesenin gue yah? Malas nih gue antri" Cindy memohon pada Jeffri setelah mereka berada di kantin


"Kebiasaan" Jeffri mengacak rambut Cindy lalu tersenyum dan mengangguk


"Yeay" seru Cindy "Makasih Jeff. Gue duluan" ia berlari kecil menuju meja yang biasa mereka tempati


"Cindy kenapa ya? Meskipun gue senang dia udah kembali kek dulu. Tapi ini benar-benar mendadak" cetus Jeffri pada Dita setelah melihat Cindy pergi


"Ngga tau. Gue aja sampai bingung. Tapi gue ngga berani nanya" jawab Dita yang menoleh ke arah Cindy


"Ini bukan karna dia senang mau nikah kan?"


Dita langsung menutup mulut Jeffri dengan cepat "Jangan kencang-kencang. Ntar yang lain dengar gimana?" bisiknya dengan geram lalu melepas tangannya


"Ia maaf-maaf. Gue lupa"


"Ngga mungkinlah karna itu. Kemarin aja dia ngomel terus. Tapi ia sih, langsung kembali sikap dia yang dulu. Apa kita ntar tanya Bi Imah aja kali ya?"


"Setuju"


"Ok. Ntar pulang dari sini kita ke rumah Cindy"


"Ok"


"Mau pesan apa?" kini giliran mereka untuk memesan makanan. Setelah itu, mereka menuju meja Cindy


"Untung gue duluan. Coba ngga, udah pegal-pegal gue pasti berdiri ngantri lama disana" gerutu Cindy setelah kedua temannya duduk


Dita duduk di dekat Cindy. Sedangkan Jeffri di depan keduanya. Seperti biasa yang mereka lakukan bersama


"Enak lo ngomong ya? Gue sama Jeffri harus nunggu antri lama bet" celoteh


Cindy menyengir "Ayolah. Masa gitu aja udah ngomel-ngomel"


"Terserah lo deh. Oh ia. Pulang nanti gue sama Jeffri mau main ke rumah lo"


"Kenapa?"


"Lho? Kok kenapa? Lo ngga ngebolehin kita main ke rumah lo? Wah, parah dia Jeff" Dita menunjuk Cindy


"Apaan. Ngga ada yah. Gue cuma nanya doang kali" Cindy memukul tangan Dita


Jeffri tertawa "Udah ngga usah ribut. Jadi kan mainnya?"


"Jadi dong. Ntar gue telpon Bi Imah. Suruh masak banyak karna kalian mau datang"

__ADS_1


"Nah. Gitu dong"


"Hey. Boleh gabung ngga?" tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang kedua gadis itu


Semuanya menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu adalah suara Jendris. Yang datag bersama Arsya dan Kenta


"Gue mau cari tempat duduk lain" Arsya hendak berlalu namun Jendris dengan cepat menarik tangannya


"Duduk disini aja" Jendris mendudukkan Arsya di samping Cindy sebagai tempat yang paling dekat sebelum laki-laki itu pergi


"Jendris" geram Arsya yang terkejut


Sama halnya dengan Cindy yang juga terkejut. Gadis itu menggeser duduknya ke arah Dita


"Kenta. Duduk disini" Jendris duduk di samping Jeffri lalu memanggil Kenta


"Hai Cindy" Jendris tidak tau malu menyapa Cindy


Dengan canggung, Cindy tersenyum hambar "Hai Kak"


"Ngapain disini?" Jeffri secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya


"Lo ngga liat gue duduk?" balas Jendris


"Udah. Duduk manis tenang aja bisa ngga?" sergah Dita


Cindy benar-benar canggung dengan suasana tersebut. Bahkan sampai pesanan mereka tiba, Cindy hanya berusaha untuk terlihat tenang meski ia yakin, getaran tubuhnya bisa membuatnya tumbang saat ini


"Oh ia. Dua hari lagi kan Fakultas kita akan ada acara tour ke pedesaan. Sekaligus mencari nama-nama di daerah yang terkenal zaman dulu. Tapi sekarang nama itu sudah diubah ke Indonesia modern" tutur Kenta di sela-sela makan siang mereka


"Benar. Enaknya kemana yah?" Jendris pun mulai bersua lagi


"Emang tour apa kak?" tanya Dita yang penasaran


"Dua hari lagi. Fakultas kita akan ngadain tour ke pedesaan untuk berbagi setelah acara kita yang kemarin sukses" jawab Kenta dengan tenang


"Wah. Keren tuh kak. Pasti seru banget" Dita seketika menjadi heboh


"Emang boleh kak?"


"Boleh"


"Mau dong kak. Cin, Jeff? Ikut yuk? Pasti seru banget deh" Dita dengan heboh memegang tangan Cindy


Cindy melototkan matanya pada Dita "Ayolah Cin. Kapan lagi coba kita bisa keluar? Apalagi kalau lo udah ni........."


Dita hampir saja keceplosan jika saja Cindy tidak segera membekap mulutnya. Jeffri terlihat menghela napas. Sedangkan Arsya memutar malas kedua bola matanya


"Apalagi apa?" Jendris menjadi penasaran


"Hmmm. Ngga kak. Dita ini suka ngarang kalau ngomong" balas Cindy dengan berusaha tenang lalu melirik ke arah Arsya yang berada di sampingnya


"Jadi kalian bertiga ikut?" tanya balik Kenta


"Jadi"


"Hah?" seru Cindy dan Jeffri bersamaan. Padahal mereka belum mengatakan apapun


"Udah. Kalian ngikut aja" Dita seperti tidak merasa bersalah


Cindy dan Jeffri benar-benar pasrah. Tidak habis pikir dengan sahabat mereka yang satu ini. Tiba-tiba, ponsel milik Cindy berdering di balik saku celananya


"Oh. Maaf" Cindy buru-buru meraih ponselnya dan melihat kontak yang tertera


Perlahan menarik napas "Maaf kak" ia meminta izin untuk melewati Arsya untuk pergi menerima telepon dulu karna dirinya berada di tengah


Arsya menoleh ke belakang melihat Cindy mendapatkan telepon dari seseorang. Bahkan semua dari mereka yang duduk di meja yang sama pun ikut menoleh


"Tumben? Ngga biasanya dia nerima telepon malah ngejauh gitu" Dita memicingkan matanya


"Apa ada sesuatu?" Jeffri pun ikut berpikir

__ADS_1


Dita menaikkan kedua bahunya "Ngga tau. Kenapa yah?"


"Kalian ngegosipin teman sendiri?" cetus Jendris tiba-tiba hingga membuat Dita dan Jeffri terkejut


"Astaga kak. Ngagetin aja" protes Dita


Jendris dan Kenta tertawa. Sementara Arsya hanya terus melihat ke arah Cindy, bahkan setelah gadis itu kembali dan melewatinya. Sejenak beradu pandang sebelum akhirnya Arsya mengakhirinya. Namun Cindy masih terus melihatnya seperti ingin mengatakan sesuatu, dan tentu saja Arsya menyadarinya


"Kenapa?" tanya Arsya dengan pelan


Sejenak Cindy menelan ludanya "Hmm. Kak Arsya pulangnya jam berapa?" tanyanya balik dengan begitu pelan


"Jam 7 malam. Hari ini mau latihan. Kenapa?"


"Hmmm. Habis ini bisa bicara berdua ngga? Ada yang mau aku omongin"


"Hmmmm" hanya itu yang diucapkan Arsya


"Woyyy. Apasih bisik-bisik tetangga?" tiba-tiba Dita mengejutkan Cindy


"Astaga Dita" geram Cindy "Bisa ngga jangan ngagetin?" omelnya "Kalau gue jantungan terus mati gimana?" ketusnya


"Drama drama" tukas Dita itu membuat Jeffri tertawa


"Ya lo sih"


"Ayo" bisik Arsya pada Cindy yang berjalan lebih dulu


"Hah?" Cindy pun kembali terkejut namun paham


"Hmmm. Bentar yah" pamitnya pada teman-temannya lalu mengikuti Arsya


"Ada apa ini?" Jendris menjadi bingung


"Mereka berdua mau kemana?" Kenta yang sama sekali tidak tau apa-apa pun ikut bingung


Sementara Dita dan Jeffri memilih bungkam. Hanya melihat punggung keduanya menghilang dari kantin. Di perjalanan, Arin tidak sengaja melihat kakaknya berjalan dan Cindy yang mengekor


"Kars? Mau kemana?" Arin memegang tangan kakaknya


"Dia mau ngomong sesuatu" jawab Arsya yang langsung pergi


Arin menatap sinis pada Cindy yang tidak mempedulikannya dan tetap mengikuti Arsya. Mereka ke area parkiran dan masuk ke dalam mobil


"Kenapa harus ngobrol disini?" tanya Cindy karna merasa bingung setelah berada di dalam mobil


"Terus dimana? Di dalam dan berharap semua orang akan ngeliat kita?" jawab Arsya dengan sinis


Cindy mencibikkan bibirnya "Santai aja kali" gumannya


"Cepat" seru Arsya


"Hah? Cepat apa?" Cindy tiba-tiba menjadi ambigu


Arsya mendesah menatap kesal pada "Cepat mau ngomong apa?" serunya


"Oh" Cindy menjadi malu sendiri "Jadi gini. Perusahaan Papi aku yang cabangnya di Kanada, itu kan di kelola sama Paman aku. Dan jadi pertengkaran antara keluarga ku disana karna mereka semua pengen ngambil alih perusahaan itu. Jadi, sepupu ku tadi nelpon. Dia nyaranin aku ngambil alih, tapi mereka harus nunggu aku nikah dulu biar ada walinya yang mau ngelola perusahaan itu. Daripada jadi boomerang buat mereka disana, Kak Arsya mau ngga wakilin aku ngambil alih perusahaan itu?"


Sejenak Arsya terdiam "Terus setelah itu apa? Lo pikir gue nikahin lo karna kemauan gue?"


Cindy mengernyit "Emang Kak Arsya pikir aku mau nikah juga karna keinginan aku?" ia menjadi emosi


"Kenapa jadi lo yang marah?"


"Harusnya tinggal bilang aja mau atau ngga. Ngga usah berbelit-belit. Emang kamu pikir aku mau? Kalau bukan karna kepaksa, aku juga ngga akan mau nikah sama kamu"


Dengan emosi, Cindy keluar dari mobil dan membanting pintunya tanpa mempedulikan siapapun yang melihatnya keluar dari mobil tersebut


"Kenapa jadi marah?"


...HAYOOOKKKK. JANGAN LUPA UNTUK SELALU PENCET TOMBOL MERAHNYA YAH 😅😅😅 SALAH-SALAH. MAKSUDNYA TOMBOL BIRU 💞💞💞...

__ADS_1


__ADS_2