Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Celetukan Arin


__ADS_3

"Bangun" Jeffri membangunkan Cindy dan Dita yang tertidur. Malam sudah semakin larut. Dan beberapa penduduk pun sudah tampak terlelap


"Ah... Badan gue rasanya pegal banget" Dita meregangkan otot-ototnya setelah terduduk


"Udah mau balik?" tanya Cindy di sela-sela mengantuknya


Jeffri mengangguk "Ayo siap-siap"


Dita dan Cindy merapikan pakaiannya. Beberapa dari mereka ikut terbangun dan saling membangunkan. Semua berkumpul di depan rumah yang mereka tempati


"Ok. Semuanya sudah berkumpul?" seru Kenta "Kita balik sekarang. Tapi Ingat, jangan ada yang ngebut. kita masih harus hati-hati"


"Ia" semuanya menyahut


"Ayo" seru Kenta kembali


"Gue duluan" Cindy meninggalkan Jeffri dan Dita dengan mengantuk menuju motor Arsya


Jeffri tak lekang memperhatikan Cindy. Dita yang melirik hanya tertawa pelan "Udah" ia menyapu wajah sahabatnya "Lo masih mau ditinggal disini?" ledeknya


Jeffri mendesis. Sementara Arsya memberikan 1 helm pada Cindy. Kesunyian malam itu benar-benar terasa. Ditambah harus melewati banyak pohon-pohon dengan akar yang besar


Cindy bergidik ngeri ketika melewati banyak pepohonan dalam keadaan begitu gelap. Malam yang begitu dingin sudah menunjukkan pukul setengah 12. Ia menoleh ke belakang. Beberapa pengendara tampak mengikutinya yang tidak lain adalah kelompok seperjalanannya


"Ngapain sih?" tegur Arsya yang sejak tadi diam-diam memperhatikan tingkah Cindy


Cindy menoleh "Ngga apa-apa" sambil menggeleng


Arsya hanya mendesis, namun Cindy mengheboh "Eh kak. Aku mau nanya. Kalau hutan kayak gini tuh biasanya ada hantunya ngga sih?" tanyanya dengan polos


Arsya melirik lalu menghela napas. Tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol gadis itu "Lo polos apa bego?" sahutnya


Cindy memukul punggung Arsya karna kesal, namun dengan cepat tersadar "Eh maaf kak" ucapnya


Arsya melirik dengan sinis namun tidak berkata. Melambatkan kecepatannya dan tiba-tiba Arsya menunjuk sebuah pohon besar dengan dengan akar yang terlihat melilit kemana-mana, "Tuh disana"


"Hah? Apa yang disana?" Cindy tidak mengerti namun mengikut telunjuk Arsya, namun ia tidak melihat apapun kecuali pohon besar


"Tadi lo nanya apa?" ketus Arsya


"Hantu" jawan Cindy dengan wajah lugu


"Ia. Itu" Arsya kembali menunjuk dengan dagunya

__ADS_1


Cindy membulatkan kedua matanya dan menoleh ke belakang, untuk melihat pohon yang ditunjuk Arsya yang sudah mereka lewati. Dengan cepat memutar kepalanya ke depan


"Serius? Kamu liat ada hantu disana? Tapi kok aku ngga liat?"


Arsya diam sejenak "Mata lo buta" gumamnya


"Mataku masih normal. Beda lagi kalau mata batinku. Bukan buta, tapi emang ngga bisa ngeliat" sahut Cindy karna mendengar gumanan Arsya


"Apa bedanya buta sama ngga bisa lihat?" sarkas Arsya dengan mendesah


Cindy berpikir, wajah lucunya sangat terlihat karna tidak bisa menjawab. Namun sesaat ia membenarkan perkataan Arsya. Sesaat kembali menggeleng dengan tegas


"Ya tetap aja beda. Emang mata batinku ngga pernah kebuka. Ngapain juga? Malas banget ngeliat aneh-aneh" Cindy mengoceh dengan ketus


"Bilang aja lo takut" sindir Arsya yang mendesis


"Ngga!" Bantah Cindy "Siapa yang bilang? Malas bukan berarti takut" kesalnya


"Terserah lo" jawab Arsya dengan datar "Tuh hantu" ia memegang pundaknya


Sontak saja Cindy berteriak dan memukul pundak Arsya. Dan Arsya langsung menghentikan kendaraannya karena terkejut. Bahkan teman-teman mereka pun ikut berhenti. Yang berada di depan maupun di belakang


"Kenapa sih?" Arsya membalikkan badannya dengan cepat menghadap Cindy dengan kesal karna membuatnya terkejut


"Ya kamu yang ngapain?" Cindy tidak kalah kesalnya setelah tau laki-laki itu membohonginya "Ngagetin aja. Ngapain coba ngomong ada hantu disini?" ia memukul pelan pundak Arsya "Ngga jelas banget" omelnya


"Ada apa?" Kenta yang baru saja turun dari motornya menghampiri keduanya


Arsya dan Cindy menoleh "Ngga ada apa-apa" sahut Arsya


"Beneran ngga apa-apa?" tanya balik Kenta pada Cindy


Cindy yang cemberut menghela napas "Lain kali jangan nakut-nakutin orang" ketusnya pada Arsya


"Nakut-nakutin?" alis Kenta berkerut


Arsya mendesis "Lo yang terlalu penakut"


Cindy meradang "Ngga akan kalau ngga dikagetin" ketusnya


Kenta menggelangkan kepalanya "Udah-udah" sergahnya. "Ini tengah malam. Ayo jalan lagi"


Arsya mengangguk "Cindy, kalau lo takut, lo pegangan di perut Arsya" ucap Kenta lalu meninggalkan keduanya

__ADS_1


"Hah?" Cindy menganga melihat Kenta menjauh "Apaan sih. Ngga jelas" gumannya


Perjalanan kembali dilanjutkan. Malam sudah semakin larut. Aura dingin pun terasa lebih menusuk pakaian yang mereka kenakan hingga menyentuh kulit. Cindy sekuat tenaga menahan rasa kantuknya agar tidak tertidur. Namun ia menyandarkan kepalanya di bahu Arsya


"Jangan tidur atau lo akan jatuh" peringat Arsya


"Ngga akan" jawab Cindy namun tidak bergerak dari bahu Arsya


Arsya hanya melirik dan tidak mengatakan apapun lagi. Mereka semua saling melambaikan tangan ketika jalan masing-masing sudah berbeda. Tadinya, Jeffri berniat akan ikut mengantar Cindy pulang, namun Cindy melarangnya. Ia menyuruhnya untuk mengantar Dita pulang saja. Padahal ia hanya tidak ingin kedua sahabatnya tau jika harus menginap di rumah Arsya


Arsya dan Cindy memasuki pekarangan rumah sekitar pukul 3 pagi. Arsya yakin, semua orang sudah tertidur. Cindy yang benar-benar mengantuk segera turun dari motor tersebut


"Ayo masuk" ajak Arsya yang meregangkan bahu kirinya. Ia memegang bahunya dengan mendesis


Cindy yang melihatnya ingin meminta maaf. Ia tau, itu juga karna dirinya yang terlalu bersandar karna mengantuk tadi


"Maaf kak. Karna aku, bahunya jadi sakit"


Arsya hanya menoleh sekilas dan tidak menjawab. Ia membuka pintu rumah. Cindy mencibir karna tidak mendapat balasan. Terus mengikuti Arsya sampai pada sebuah kamar di lantai utama dekat tangga


"Lo istirahat disini. Gue mau naik" seru Arsya dan tidak menunggu jawaban Cindy langsung naik ke lantai 2


Cindy menghela napas kesal "Jadi ntar lagi gue bakal nikah sama orang sedingin dia gitu? Bisa makan hati gue tiap hari" celetuknya dengan menutup pintu kamar


"Bodo amat deh. Anggap aja nikah bohongan. Meskipun kalau dipikir-pikir ia sih" bibir Cindy terus mengoceh, lalu merebahkan tubuhnya "Ah, gue butuh tidur" ia memejamkan kedua matanya yang sudah lama ingin terpejam


***


Sayup-sayup terdengar suara tawa di luar kamar. Telinga Cindy bisa mendengar suara tersebut. Ia memaksa kedua matanya untuk terbuka. Merasa asing dengan langit-langit kamar itu, ia pun tersadar jika ia bukan sedang berada di rumahnya.


Ia langsung terduduk dengan cepat. Meraih ponselnya di atas meja. Matanya membulat sempurna ketika melihat sudah pukul 8 pagi. Menyesal sekaligus bercampur malu. Harus bangun kesiangan di rumah orang


Dengan cepat ia masuk ke dalam toilet hanya untuk sekedar mencuci wajahnya dan berkumur. Lalu perlahan membuka pintu kamar dengan ragu-ragu


Semua pasang mata tertuju ke arahnya. Cindy menggigit bibir bawahnya dengan malu. Namun Mama Kanya yang duduk di ruang keluarga dengan cepat menghampiri Cindy yang tampak ragu ingin bergabung


"Kamu sudah bangun nak? Ayo kemari" Mama Kanya menuntun Cindy bergabung


"Maaf Tante. Aku bangunnya telat" Cindy benar-benar merasa sangat malu


"Ngga apa-apa. Tante tau. Kamu pasti capek. Arsya bilang kamu ngantuk banget selama di perjalanan semalam. Tapi ngga bisa tidur" Mama Kanya benar-benar bersikap lembut pada Cindy "Ayo Nak duduk"


"Ia Tante" dengan sungkang, Cindy duduk di antara Mama Kanya dan Arsya

__ADS_1


"Lo beneran mau nikah sama kakak gue?" celetukan Arin membuat semua orang menatapnya


...MAAF YAH. KARNA AKHIR2 INI BANYAK DEADLINE YANG MAU DIKERJAKAN. JADINYA TULISANNYA NYICIL2. TERIMA KASIH UNTUK SEMUANYA 🙏🏻🙏🏻🙏🏻...


__ADS_2