Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Kehilangan kasih sayang (Arin)


__ADS_3

Cindy kembali duduk di samping Arsya setelah meletakkan gelas bekas minum Arsya di meja. Mengamati raut wajah suaminya itu di hati-hati


Arsya yang menyadarinya pun langsung menoleh dengan alis yang berkerut "Kenapa?" tanyanya


Cindy menggeleng pelan "Kak. Kamu tuh harusnya ngga marah-marah sama Kania. Mau gimanapun kan dia tetap sepupunya kamu" ujarnya


Arsya menaikkan sebelah alisnya "Lo masih sempat-sempatnya bela dia?" kesalnya


Cindy menggeleng dengan cepat "Bukannya ngebelain. Tapi...... "


"Udah. Ngga usah bahas dia" Arsya memotong ucapan Cindy dengan tegas


Cindy menghela napas kasar. Berusaha bersabar dengan segala ketegasan seorang pria yang di sampingnya dan saat ini sudah sah menjadi suaminya


"Sabar Cin... Sabar" batin Cindy dengan memejamkan matanya


Tiba-tiba Dita naik ke panggung dan menghampiri Cindy lalu tersenyum. Cindy yang melihatnya pun langsung berdiri dan menyambut sahabatnya. Namun lagi-lagi matanya mencari seseorang


Dita berdehem penuh maksud "Orangnya lagi di luar" bisiknya


Cindy terkejut dan langsung menoleh ke arah Arsya yang tidak mempedulikan keduanya. Cindy langsung melotokan kedua matanya pada Dita yang hanya terkekeh


"Foto bareng yuk? Kapan lagi kan lo bisa duduk disini" ledek Dita lalu tertawa


"Dih" ketus Cindy namun ikut tertawa "Terserah lo deh"


"Sini" Dita merangkul Cindy lalu berselfie ria di depan lensa kamera


"Jeffri masih di luar emang?" pertanyaan Cindy terdengar jelas di telinga Arsya, namun tak membuat pria itu menoleh


Dita sedikit melirik ke arah Arsya "Masih. Jeff masih di luar. Mau gue panggilin ngga?" tawarnya


Cindy mengangguk "Selama gue duduk disini dia belum keliatan lho"


Dita terdiam sejenak, lalu menghela napas "Ya udah. Lo tunggu disini. Gue panggilin Jeffri dulu" pamitnya


"Kak? Boleh ngga aku keluar? Bentar aja" ucap Cindy pada Arsya


Arsya melirik "Pasti mau ketemu dia" batinnya "Terserah" ketusnya


Cindy yang mendapat izin langung bersiap ingin pergi. Namun langkahnya terhenti saat melihat Jeffri dan Dita menghampirinya. Senyumnya mengembang sempurna


"Jeff? Darimana aja sih?" ketus Cindy setelah kedua sahabatnya sudah berada di depannya


"Ngga dari mana-mana" jawab Jeffri dengan lembut


"Eh, foto bareng dulu yuk? Kita belum ada foto bareng kan bertiga disini. Yuk" Dita berusaha mencairkan suasana


Ketiga pun mengambil pose seperti biasa. Senyuman merekah Cindy benar-benar terpancar di dalam kamera ponsel milik Risa

__ADS_1


Tiba-tiba Risa tersadar sesuatu "Eh. Pengantin cowoknya kurang ini" Ia menoleh ke arah Arsya yang tampak enggan melihat mereka "Kak Arsya? Ayo foto bareng" ajaknya


Arsya tidak menjawab sama sekali "Udahlah. Dia ngga mau. Ngga usah dipaksa" tukas Jeffri yang membuat Arsya melirik tajam padanya


"Mau kok. Kak Arsya mau. Ia kan Kak? Ayo!" Cindy menarik tangan Arsya sambil berisik "Ayo Kak. Jangan malu-maluin"


Arsya mendesah keras namun tetap berdiri atas paksaan Cindy "Gue malas banget yah" ketusnya pada Cindy


"Bentar doang kak. Ngga lama kok. Udah diem bentar aja. Orang-orang pada ngeliat kesini" Cindy mengedarkan pandangannya yang diikuti oleh Arsya


Mereka berempat berfoto bersama. Bahkan Jendris dan Kenta tidak mau kalah. Mereka ikut bergabung bersama dengan keempatnya sampai harus mengulang beberapa kali


***


Cindy menghela napas panjang di depan jendela di lantai 2. Tepat kamar milik Arsya. Karma rumah milik Cindy ditempati oleh keluarganya yang datang jauh-jauh dari Kanada


Pesta sudah selesai dan semua orang sudah bubar. Termasuk sahabat-sahabatnya dan juga sahabat Arsya yang sudah pulang sejak tadi


Krek. Suara pintu kamar mandi terbuka hingga sontal membuat Cindy terkejut. Arsya keluar hanya dengan menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Cindy langsung membulatkan kedua matanya dan langsung berpaling dengan wajah memerah


"What? Bisa-bisanya dia keluar dari kamar mandi cuma pake handuk doang? Gila kali dia yah? Ya Tuhaaaannnnn. Apa dia ngga ngeliat gue disini?" batin Cindy dengan kesal


"Ngapain lo berdiri disitu?" suara Arsya mampu menggelegar telinga Cindy hingga berbalik namun hanya menunduk "Sana lo mandi" perintahnya


Cindy mengangguk "I.... Ia" ia buru-buru masuk masuk ke dalam kamar mandi "Ahhh... Lega" ia memegang dadanya setelah menutup pintu "Bisa-bisa jantungan gue kalau gini terus. Dia juga ngapain sih cuma make handuk doang? Ngga liat apa gue ada. Dikiranya gue Setan apa gimana sih. Bisa-bisanya" ia terus mengomel sendiri di kamar mandi


***


Mama Kanya tengah menyiapkan makan malam pun menoleh pada putri bungsunya "Ia sayang"


"Kars nanti masih tinggal disini kan?"


Mama Kanya mendekat. "Mama juga ngga tau. Mama belum nanya ke mereka"


"Suruh mereka tinggal disini aja Ma. Aku ngga mau dia ngerebut Kars dari aku"


Mama Kanya mengernyit heran "Dia? Dia siapa?"


"Ya siapa lagi kalau bukan istrinya itu" ketus Arin dengan wajah cemberut


Mama Kanya tertawa "Astaga sayang. Mama kirain siapa. Cindy ngga akan rebut kakak kamu. Kan Arsya masih tetap jadi kakak kamu"


"Tapi tetap aja Ma. Aku ngga mau nanti Kars malah lebih perhatian ke dia daripada sama aku"


"Arin. Kamu ngga boleh begitu. Kakak kamu sekarang sudah menikah. Wajar kalau sekarang dia lebih perhatian ke istrinya. Itukan kewajiban kakak kamu. Mama juga yakin. Kakak kamu akan tetap perhatian sama kamu"


"Ia Ma aku tau. Tapi aku ngga mau kasih sayang Kars terbagi. Apalagi kalau nanti Kars lebih sayang sama dia daripada sama aku"


Mama Kanya hampir kehabisan kata-kata, namun berutung Papa Rasyad datang, ia membelai kepala putrinya lalu duduk "Kamu ngga akan kehilangan kasih sayang. Bahkan ngga akan berkurang. Justru akan bertambah 1. Yaitu kakak ipar kamu. Kalau nanti kakak kamu lebih perhatian ke istrinya itu wajar. Bukannya Papa sama Mama menikahkan mereka supaya kakak kamu bisa jagain Cindy kan? Cindy kehilangan orangtuanya karna kakak kamu. Yang kehilangan kasih sayang selama ini itu Cindy. Sedangkan kamu ngga kehilangan sedikitpun"

__ADS_1


Arin terdiam mendengar penuturan Papanya. Ia mencibir dan menghela napas. Tapi juga membenarkan perataan Papanya itu


"Ya udah. Sekarang, kamu panggil kakak kamu sama Cindy turun kemari. Kita makan malam dulu. Nanti baru kita tanya kakak kamu. Mau tetap tinggal disini, atau mereka pindah"


Arin mendesah namun tetap menurut "Ia Ma" ia naik ke lantai 2 dan memanggil kakaknya juga iparnya


Tok tok tok


Arsya membuka pintu kamarnya dan melihat adiknya. Ia tersenyum lebar "Ia, kenapa?"


"Tuh, dipanggiln Mama sama Papa dibawah. Makan malam dulu" ketus Arin


Arsya mengerutkan keningnya "Kok mukanya cemberut sih?"


"Taulah" Arin semakin cemberut "Ayo cepetan turun kak. Sama panggilin juga tuh, istrinya" ketusnya dan langsung mendahului kakaknya


Arsya bingung dengan sikap adiknya. Ia menggelengkan kepalanya dan menutup pintu kamarnya kembali. Tiba-tiba melihat kepala Cindy mendongak setengah dengan wajah kikuk


Kening Arsya berkerut "Ngapain? Cepat keluar! Udah ditungguin sama Mama Papa gue di bawah"


Dengan menggigit bibir bawah, Cindy menarik napas sejenak "Boleh minta tolong ambilin handuk ngga? Aku lupa bawa soalnya"


Arsya mendesah. Membuka lemari dan menarik sebuah handuk lalu menyerahkannya pada Cindy sambil memalingkan wajahnya


"Makasih" Cindy segera meraih dan kembali masuk ke kamar mandi


Semuanya sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam mereka. Cindy kembali merasakan kehangatan sebuah keluarga disana. Ia banyak berinteraksi kepada kedua mertuanya sampai makanan mereka selesai


"Oh. Nanti, kalian berdua tetap mau tinggal disini kan?" Mama Kanya mulai memancing


Arsya dan Cindy saling bersitatap sejenak "Tanya Cindy Mah" jawab Arsya


"Udah pasti ngga mau" celetuk Arin dengan ketus


"Arin?" tegur Papa Rasyad


Cindy merasa agak canggung "Sebelumnya aku minta maaf. Ini udah aku bicarain sama Kak Arsya. Kalau misalnya udah nikah nanti, aku sama Kak Arsya mau tinggal di rumah aku. Karna disana cuma Bi Imah sama suaminya. Jadi aku mau tetap tinggal di rumah lama aku" jawabnya dengan pelan


"Bilang aja emang mau bawa kakak gue keluar dari rumah ini" cetus Arin


"Arin" sergah Arsya dengan menatap adiknya "Maaf Ma, Pa. Ini juga udah keputusan aku sama Cindy. Karna kami juga mau belajar mandiri" lanjutnya


"Papa setuju. Hitung-hitung itu cara kalian saling mengenal lebih jauh lagi" Papa Rasyad pun setuju


"Ia, Mama juga setuju. Itu bagus itu proses pengenalan"


"Tapi aku ngga setuju. Kenapa sih ngga ada yang ngerti" Arin dengan kesal meninggalkan meja makan dan berlalu ke lantai atas menuju kamarnya hingga membuat semua orang terkejut


"Arin kenapa Ma?" tanya Arsya

__ADS_1


...SETELAH SEKIAN LAMA NAN HERE 😅😅😅 ANNYEONG ✌🏻 KALAU ADA TYPO MAKLUMI DULU. WKKWK. NANTI AKU REVISI LAGI...


__ADS_2