Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Ngga peduli sama sekali


__ADS_3

"Arin kenapa Mah?" Arsya mengernyit tanda heran


Mama Kanya tersenyum simpul "Ngga apa-apa. Adik kamu cuma cemburu sedikit. Nanti, pelan-pelan dia juga pasti akan mengerti"


Cindy menatap kepergian Arin dengan tidak enak hati. Pasalnya, adik iparnya itu marah kala tau dirinya akan membawa suaminya pergi dari rumah itu


"Sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti biar Mama yang coba beri pengertian sama Arin. Maklum, pemikirannya masih kecil" Mama Kanya tau Cindy tidak enak hati pada Arin saat ini


Cindy tersenyum kikuk "Ia Ma"


***


Setelah selesai mengemas pakaian yang akan di bawa Arsya ke rumahnya, Cindy mensejajarkan koper-koper itu di belakang pintu kamar. Merebahkan sejenak tubuhnya yang sedikit berkeringat karna kelelahan meski AC di kamar tersebut tampak menyala


Pintu kamar terbuka pelan dan membuat Cindy melirik dengan malas. Ia tau siapa yang akan masuk ke kamar itu tanpa melihatnya. Tidak ingin beranjak dari istirahatnya


Arsya melirik Cindy sekilas lalu mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan tersebut yang barang-barangnya sudah hampir semua tidak pada tempatnya


"Ayo berangkat kalau sudah selesai" serunya hingga membuat Cindy mau tidak mau bangkit meski kelelahan


Arsya hanya menggeleng dan menarik 2 koper berisi pakaiannya yang sudah dikemas oleh Cindy menuruni tangga. Keduanya berpamitan untuk tinggal di rumah Cindy sesuai kesepakatan


"Mama? Papa? Arin? Aku berangkat yah? Terima kasih sudah mau direpotkan selama ini" Cindy menjabat dan mencium punggung tangan kedua mertuanya. Arin yang meski tidak ikhlas pun mengulurkan tangannya pada Cindy sebagai tanda perpisahan


"Jaga diri baik-baik. Jangan bandel" Arsya mengusap rambut adik semata wayangnya yang terlihat judes


Mama Kanya dan Papa Rasyad tersenyum melihat tingkah kedua anak-anaknya


"Karna kalian tidak mau kami antar, nanti jangan lupa menghubungi kami disini kalau sudah sampai" cetus Papa Rasyad


"Ia Pa" sahut Arsya dengan singkat "Kalau gitu, kami permisi dulu Pah, Mah. Arin" pamitnya


Kini keduanya melambaikan tangan pada keluarga yang mereka tinggalkan. Perlahan, mobil milik Arsya sudah menghilang dari kediaman keluarga Papa Rasyad


Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan dari keduanya. Memilih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Arsya yang tengah fokus menyetir, sedangkan Cindy yang tengah memainkan ponselnya


Tiba-tiba ponsel Cindy berdering hingga membuat Arsya menoleh sekilas ke arah ponsel tersebut


"Ia. Halo Jeff?" jawab Cindy ketika benda pipih itu ia tempelkan ke telinganya

__ADS_1


"Lo jadi ngga pulang ke rumah sekarang?" tanya Jeffri diseberang sana


"Jadi dong. Ini gue sama Kak Arsya udah di perjalanan pulang ke rumah. Kenapa Jeff?" Cindy melirik ke arah Arsya


"Ngga apa-apa sih. Sekarang gue ada di rumah lo nih. Tapi masih sepi. Kata Bi Imah belum pulang"


"Lo di rumah gue sekarang? Ngapain?" Cindy terkejut mendengar Jeffri ada di rumahnya saat ini


"Ya ngga ngapa-ngapain. Mau main doang emang ngga boleh?" tukas Jeffri dengan santai


Cindy menggigit bibir bawahnya sambil melirik Arsya "Duh, gimana yah ini? Mana Kak Arsya sama Jeffri ngga akur lagi?"


"Cin? Lo masih disitu kan?" Jeffri membuyarkan lamunan Cindy


"Eh? Ia Jeff. Hmm... Bentar lagi gue sampai kok" Arsya hanya terus diam menyimak obrolan keduanya dengan masam


Sambungan teleponnya terputus bersama Jeffri. Cindy menimbang-nimbang nanti bagaimana dengan Jeffri dan Arsya dalam situasi yang kurang bagus


Keduanyapun kini sampai di rumah milik Cindy. Benar saja, Cindy bisa melihat sepeda motor milik Jeffri bertengger di halaman rumahnya


"Bibi" seru Cindy dengan girang


Arsya membalas dengan mengangguk sopan meski tak ada senyum di wajahnya. Jeffri tiba-tiba keluar dari rumah tatkala mendengar suara Cindy


Senyum manis seperti biasanya ia berikan tulus pada Cindy dan menghampirinya "Udah makan belum?" tanyanya dengan lembut


Cindy melirik Arsya sekilas yang tidak acuh padanya dan juga pada Jeffri "Udah dong. Udah sore gini juga. Masa belum makan sih" jawabnya setenang mungkin


Jeffri tersenyum "Nanti malam makan di luar yuk?" ajaknya tanpa menghiraukan Arsya disana


Sebelum Cindy hendak menjawab, Arsya terlebih dahulu menarik kopernya dari bagasi dan melewati mereka begitu saja tanpa sepatah kata


Arsya tidak mempedulikan semuanya. Ia menaiki tangga karna sudah hapal dimana letak kamar Cindy. Kepalanya cukup pusing jika harus berlama-lama di bawah. Ia masuk ke dalam kamar mandi


Tidak lama setelah itu Cindy pun menyusul masuk ke dalam kamar. Tidak menemukan Arsya disana. Namun suara keran air dari balik kamar mandi membuatnya tau, siapa dibaliknya


"Sambil nunggu dia selesai, kayaknya gue bersih-bersih dulu deh" Cindy memasukkan semua pakaiannya dan juga pakaian Arsya ke dalam lemari


Klek

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka sempurna dan memperlihatkan Arsya keluar dari baliknya dengan menggantung sebuah handuk di di lehernya


Arsya tidak memperhatikan Cindy disana meski ia tau ada wanita itu di dalam kamar. Menarik satu kaos oblongnya lalu menggantinya. Ponselnya tiba-tiba berdering


"Halo"


"Lo dimana Sya?" suara Kenta terdengar diseberang sana


"Di rumah. kenapa?"


"Lo ngga lupa kan? Hari ini ada pertandingan?"


"Ia. Ngga lupa gue. Sebentar lagi gue sampai"


Arsya mematikan sambungan telepon tersebut. Cindy memberanikan diri mendekati Arsya yang masih tampak sibuk memperbaiki rambutnya


"Kak Arsya mau keluar?"


Arsya hanya menatap sekilas Cindy dari pantulan cermin yang ada di depannya "Kenapa?" tanyanya dengan sinis


"Ngga apa-apa. Cuma nanya aja. Aku juga nanti malam soalnya mau keluar sama Jeffri sama Di...." belum sempat Cindy menyelesaikan kata-katanya, Arsya mencengkeram tangannya dengan kuat


"Gue ingatin sekali lagi ke lo. Apapun yang lo lakuin, gue ngga akan peduli. Dan apapun yang gue lakuin, gue ngga mau lo ikut campur urusan gue. Ngerti lo?" Arsya menghempaskan tubuh Cindy dengan begitu keras di depan lemari


Cindy merasakan begitu sakit di lengannya akibat cengkeraman Arsya "Tenang aja kak. Aku ingat kok. Dan kamu ngga perlu khawatir. Aku ngga akan peduli apapun yang kamu lakuin" ucanya dengan berusaha tegar


Arsya langsung keluar dari kamar dengan membanting pintu begitu kasar. Cindy si gadis yang super ceria, yang namun setelah menikah bersama Arsya harus terus mengalami kesedihan. Bahkan setelah kepergian kedua orangtuanya akibat kecelakaan maut yang dilakukan oleh Arsya tanpa sengaja


"Mau kemana Mas Arsya?" Bi Imah berhasil menghentikan langkah Arsya yang sudah berada di depan pintu


"Ia Bi. Aku ada urusan sebentar" jawab Arsya lalu keluar dari rumah


"Sial sial sial" Arsya memukul-mukul stir mobilnya ketika sudah berada di dalam mobil. Mengusap kasar rambutnya padahal sudah ia rapikan tadi


"Apa yang barusan gue lakuin?"


____


HUAAAAA.... AKHIRNYA AKU BISA BALEK MESKI GK YAKIN BISA TIAP HARI UP. DOAIN YAH TEMAN2 SEMOGA BISA BALEK LAGI NYELESEIN NASKAHNYA. MAKASIH YANG MASIH MENUNGGU KARYA2KU 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2