
Cindy meremas jari jemarinya dengan degupan jantung yang membuat sedikit keringatnya membasahi pelipisnya. Namun Arsya? Tentu saja tak memperhatikannya sama sekali. Pikirannya pun sangat kacau saat ini
Mobil milik Arsya masuk ke pekarangan rumahnya yang diikuti oleh Dita yang menggunakan mobil milik Cindy serta Jeffri yang menggunakan sepeda motornya
"Cepat turun" perintah Arsya hingga membuat Cindy menghela napas sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil tersebut
"Cindy" panggil Dita yang baru saja menghampiri sahabatnya yang disusul oleh Jeffri
"Masuk" Arsya terlebih dahulu masuk ke dalam rumah meninggalkan ketiganya
"Cindy? Lo ngga mau jelasin ke kita?" Jeffri memicingkan kedua matanya
"Ia. Apa yang lo sembunyiin dari kita berdua?" Dita ikut mengintrogasi Cindy
Cindy menggigit bibir bawahnya. Tidak tau harus mengatakan apa. Lebih tepatnya tidak tau harus memulai dari mana. Beruntungnya, Mama Vanya keluar dan menyapa mereka
"Nak? Kenapa masih di luar? Ayo masuk" Mama Kanya dengan ramah menggandeng lengan Cindy
Senyum Cindy menjadi kaku "Hmmm. Tante. Aku bawa teman-teman ku. Ini Dita yang kemarin bareng aku kesini. Dan.... Ini Jeffri, temanku" ia memperkenalkan kedua temannya
"Ha..... Ia Tante ingat. Ayo masuk nak" Mama Kanya menuntun ketiganya untuk masuk ke rumah
Cindy dan kedua temannya duduk menunggu yang lainnya. Bahkan Arsya pun sudah tidak terlihat disana. Namun Papa Rasyad tampak keluar dari kamar menghampiri mereka
"Sudah datang nak?"
"Eh. Ia Om" Cindy berdiri dan menyalami punggung tangan Papa Rasyad yang diikuti oleh Dita dan Jeffri
"Neng? Sudah datang?" Bi Imah tiba-tiba keluar dari dapur membawa nampang beberapa gelas jus jeruk
"Lho? Kok Bibi juga disini?" seru Dita yang terkejut melihat Bi Imah disana
Bi Imah tersenyum lalu meletakkan nampang tersebut "Ia Neng" jawabnya
Arin menuruni tangga dan menghampiri kedua orangtuanya dengan wajah judesnya "Dimana Kars?" tanyanya
"Masih di kamarnya. Kakak mu harus ganti pakaian" jawab Mama Kanya "Ayo duduk dulu" ujarnya pada yang lainnya
"Saya pamit ke belakang dulu ya Bu" pamit Bi Imah
__ADS_1
"Disini saja Bi. Saya harus mengatakan sesuatu. Bagaimana pun juga. Bibi adalah keluarga Cindy disini" Mama Kanya menahan Bi Imah
"Sebenarnya ini ada apa sih Cin? Kenapa kita harus kesini? Dan.... Bi Imah? Kok juga bisa disini?" Dita tidak bisa menahan rasa penasarannya
Cindy terdiam. Ia tidak tau harus mengatakan apa pada sahabatnya itu. Arsya pun terlihat menuruni tangga dan disambut oleh semua pasang mata yang mengarah padanya
"Kemari nak" Mama Kanya memanggil putranya hingga Arsya duduk di sebelah Mamanya "Karna kalian semua sudah berkumpul. Jadi, saya harus mengatakan ini"
Cindy memejamkan matanya sejenak sambil menunduk. Mama Kanya menarik napas pelan lalu menghembuskannya untuk memulai pembicaraan
"Malam ini. Keluarga besar kami akan datang untuk melihat Cindy"
"Apa?" seru Dita dan Jeffri bersamaan karna terkejut
Mama Kanya tersenyum paham "Kemarin terjadi sedikit masalah. Dan, yah. Keluarga besar kami akan datang untuk melihat calon mantu mereka"
"Apa?" kini giliran Cindy, Dita dan Jeffri yang berseru bersamaan karna terkejut
Arin memutar malas kedua bola matanya "Apaan sih. Lebay banget" gumannya
"Tante. Tapi aku kan be......."
Cindy tiba-tiba menoleh pada Bi Imah yang tersenyum padanya "Bibi hanya ingin yang terbaik untuk Neng Cindy" jawabnya dengan tulus
"Tunggu sebentar!" sergah Jeffri dengan lantang hingga membuat semuanya menoleh padanya
Arsya menatap sinis pada Jeffri. Meskipun ia terpaksa, tapi ia juga tau, jika pria itu menyukai Cindy. Sangat terlihat dari cara ia menatap dan memperhatikannya. Meskipun perhatiannya pada kedua gadis itu sama, tapi tatapannya pada Cindy sangat berbeda. Pun Arin yang menoleh penuh pada Jeffri
"Maksudnya apa? Cindy? Calon mantu? Cindy calon mantu siapa?" Jeffri meminta penjelasan penuh kepada semaunya
Arsya dan Cindy saling bertatapan lalu Arsya terlebih dahulu mengakhirinya "Tante mau Cindy menikah sama Arsya" jawab Mama Kanya
"Apa? Tapi kenapa?" Jeffri tiba-tiba berdiri dan berseru
"Jeff? Duduk!" perintah Cindy lalu menarik tangan Jeffri untuk kembali duduk
Semua menatap tangan Cindy yang meraih tangan Jeffri. Jeffri menghela napas kasar "Sekarang jelasin apa maksudnya?" ia meminta penjelasan pada Cindy secara langsung
Cindy menggigit bibir bawahnya lalu menoleh ke arah Mama Kanya "Tante minta maaf karena mendadak. Tapi bagaimanapun juga. Cindy adalah tanggung jawab keluarga kami. Jadi kami berniat menikahkan Cindy dengan Arsya"
__ADS_1
"Aku ngga setuju" Jeffri seketika kembali berdiri
"Mas Jeffri?" Bi Imah mencoba menenangkan Jeffri
"Aku ngga setuju. Tante ngga perlu khawatir. Aku bisa jaga Cindy" seru Jeffri tanpa mengindahkan yang lainnya
Dita benar-benar tidak bisa memahami situasi ini "Cindy?"
"Dita?" Cindy hanya bisa memegang erat tangan Dita dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sangat takut Dita akan ikut memarahinya
Dita ingin sekali marah pada sahabatnya itu. Namun melihat sorot mata Cindy yang sendu dan penuh kesepian, ia langsung memeluk erat sahabatknya
"Gue bakal ngedukung semua keputusan lo. Selama itu yang terbaik buat lo"
Cindy membalas pelukan Dita dan menangis bersama. Jeffri ingin sekali mengamuk untuk semua situasi tersebut. Namun ia berusaha menahan emosinya. Dita melepas pelukannya dan mendongak pada Jeffri
"Jeff? Duduk!" perintah Dita dengan tegas
"Dita?" seru Jeffri dengan kesal "Lo setuju Cindy nikah sama orang yang udah nabrak orangtua Cindy sampai meninggal? Hah?"
"Jeffri" bentak Cindy yang berdiri "Berapa kali gue harus bilang? Jangan nyalahin siapapun. Ini sudah takdir dari Tuhan. Karna inilah kehidupan gue. Selama hidup gue, gue ngga akan pernah bisa nemuin kehidupan yang layak" air matanya mulai bercucuran
"Cindy. Bukan itu maksud gue" Jeffri mulai melunak dan memegang kedua bahu gadis itu "Gue cuma pengen liat lo bahagia"
"Kalau lo pengen liat Cindy bahagia. Dukung apapun keputusannya Jeff" Dita ikut berdiri "Gue tau perasaan lo sekarang gimana. Tapi apa yang lebih bisa ngebuat kita berdua bahagia selain ngeliat Cindy juga bahagia?
Jeffri menundukkan pandangannya lalu menatap Cindy dalam-dalam "Apa ini yang lo inginkan?" tanyanya dengan tulus
Cindy hanya diam dengan air mata yang terus mengalir. Ia menoleh kepada Bi Imah yang sejak tadi ikut menangis. Wanita tua itu adalah orang yang paling tau kesedihannya
"Bibi adalah orang yang paling tau kesedihan Neng Cindy. Jadi Bibi selalu ingin melihat Neng bahagia" ucapan Bi Imah membuat Arsya terdiam dengan wajah tertunduk
"Bi Imah tenang saja. Arsya putra ku akan membuat Cindy bahagia. Ia kan Nak?" Mama Kanya memegang pundak putranya
Arsya tidak langsung menjawab. Perlu beberapa detik. Ia menoleh ke arah Cindy yang hanya tertunduk "Ia Ma" jawabnya
Mama Kanya serta Papa Rasyad begitu lega "Kalau begitu. Pernikahannya 2 minggu lagi" seru Papa Rasyad
"Apa?"
__ADS_1
...HUAAAAAA.... AKHIRNYA AM KAMBEK. U. U 😔 MOHON MAAF LAMA NGILANGNYA. EFEK KURANG SEHAT HABIS VAKSIN. TAPI SEKARANG UDAH SEHAT LAGI. SEMOGA KALI INI BISA TIAP HARI UPNYA YAH. MAKASIH BUAT SEMUANYA DAN JAGA KESELAMATAN YAH 🌹🌹🌹...