Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Senyum penuh arti


__ADS_3

"Ayo sini" Arin memanggil Cindy untuk duduk di sampingnya "Mah, Cindy boleh nginap di kamar aku ngga?" tanyanya pada Mamanya


"Ngga boleh sayang. Nanti kakak kamu tidur sama siapa?" Kanya mengelus kepala putrinya


"Kars kan bisa tidur sendiri Ma?" ketus Arin "Cindy biar tidur di kamar aku aja"


"Arin? Kamu boleh main sama Cindy besok lagi. Malam ini tidur di kamar masing-masing yah?!" cetus Rasyad


"Ngga apa-apa Arin. Besok lagi aja kita mainnya" celetuk Cindy untuk menyudahi


"Emang kalian anak kecil?" Arsya menggelengkan kepalanya


"Emang kami masih kecil kok? Kars aja yang ngebet pen nikah. Sama anak di bawah umur!"


Kedua bola mata Arsya menatap tajam wajah adik satu-satunya itu


"Ariiinnnn"


"Arsya sudah" tegur Rasyad hingga membuat Arsya mendengus kesal


***


Cindy yang tengah duduk menselonjorkan kakinya di atas tempat tidur sambil bersandar di kepala ranjang, nampak sesekali melirik Arsya yang tengah sibuk dengan laptopnya malam itu. Ia menggigit bibirnya sejenak


"Kak Arsya?" panggilnya dengan ragu


"Hmmm?" sahut Arsya tanpa menoleh


"Besok.... Sibuk ngga?" Cindy mengaitkan kedua tangannya di bawah bajunya


"Ia. Besok gue harus ketemu sama Om Galih bahas perusahaan"


Cindy tidak lagi membalas "Kenapa?" tanya Arsya


Cindy menggeleng "Ngga ada apa-apa kok"


Arsya langsung menoleh "Ada apa?" tekannya


Cindy kembali menggeleng "Ngga ada apa-apa. Cuma nanya aja"


Arsya mematikan laptopnya dan menghampiri Cindy di tempat tidur dengan tatapan tajam


"Gue ngga suka ada orang yang nanya setengah-setengah. Cepat! Ada apa?"


Cindy mengulum bibirnya "Hmm.. Besok.. Aku sama Arin mau keluar ngga apa-apa?" pintanya dengan ragu, sekilas bayangan perjanjian mereka kembali teringat "Hmm... Maksudnya aku minta izin bukan untuk diriku, tapi minta izin karena mau bawa Arin"


Kening Arsya berkerut "Mau kemana?"


"Belum tau" Cindy menggeleng "Arin bilang dia yang bakal nyari tempat. Aku disuruh ngikut aja"


"Kalau ngga tau mau kemana, ngga usah pergi" tutur Arsya dengan penuh penekanan


"Tapi kata Arin besok dia bakal bawa aku ke tempat yang pengen banget dia kunjungi" cetus Cindy yang masih bernegosiasi

__ADS_1


"Lo aja ngga tau mau dibawa kemana? Ngapain ikut-ikutan?" Arsya bertanya penuh selidik


"Aku kan cuma ngasih tau. Aku juga minta izinnya bukan untuk diriku. Tapi untuk Arin. Kamu kan kakaknya" ucapan Cindy membuat Arsya terdiam


"Terserah Lo" Arsya beranjak dari tempatnya lalu kembali duduk di depan meja belajarnya


Cindy hanya diam mengamati. Ia menghela napas panjang. Tidak mau berdebat dengan Arsya terlalu lama. Mengingat ini juga sudah larut malam


"Yang penting gue udah ngasih tau dia" batinnya


Cindy lebih memilih membaringkan tubuhnya dan membelakangi Arsya yang tampak tak mau melihatnya setelah perdebatan singkat tadi


Setelah merasa Cindy sudah terlelap, Arsya kembali menoleh. Ia nampak memikirkan sesuatu sebelum hembusan nafas kasar ia keluarkan dari hidungnya


***


Suasana di pagi hari itu tampak berbeda di meja makan. Celoteh Arin dan Cindy saling bertaut disertai tawa keduanya. Ini adalah pemandangan yang begitu menyenangkan bagi Kanya


"Jadi? Jam berapa kita berangkatnya?" tanya Arin setelah menyelesaikan sarapannya dan menggeser sedikit piringnya ke depan


"Terserah aja. Mumpung lagi ngga mau kemana-mana juga" sahut Cindy yang nampak tanpa beban seperti biasanya


"Lho? Mau pada kemana ini?" Kanya memperhatikan keduanya


"Aku sama Cindy mau jalan berdua boleh kan Ma?" pinta Arin pada Mamanya


"Jalan berdua? Kemana?" Kanya mengerutkan kening


"Hmmm. Ya kemana aja sih. Udah lama juga kan aku ngga keluar?" Arin mengembangkan pipinya


Sekilas Arsya melirik Cindy yang hanya diam saja dan memilih tidak menoleh padanya, namun tetap penasaran dengan jawaban lelaki itu


"Terserah dia saja Ma" jawab Arsya


"Yeaayyy" teriak Arin dengan gembira "Tuh kan? Mama ngapain juga coba mesti nanyain Kars? Orang udah pasti dibolehin kok"


"Sesenang itu?" senyum Kanya merekah melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah putrinya


Arin melebarkan senyumnya "Kan aku jarang-jarang jalan keluar"


"Itu karna Lo ngga punya teman. Terlalu galak" celetuk Arsya


"Heh? Jangan ngomong sembarangan yah? Yang mau berteman sama aku tuh banyak! Akunya aja yang ngga mau. Ngga mau punya teman yang lebay nya ngalah-ngalahin waria" bantah Arin dengan tegas


Arsya menggelengkan kepalanya "Suka-suka Lo lah" pasrahnya


"Cindy? Sekarang aja yuk kita jalannya? Malas banget aku lama-lama disini sama orang yang suka ngomong seenak jidatnya" sindir Arin pada kakaknya hingga membuat kedua orangtuanya tertawa


"Boleh. Bentar, aku ambil tas dulu yah di kamar" Cindy menaiki tangga dan memasuki kamarnya


"Nah, gitu dong. Mama kan jadi senang liatnya kalau kalian akur gini" Kanya tersenyum pada Arin


"Ia Ma" Arin membalas senyuman Mamanya "Ternyata Cindy orangnya asik. Ngga kaku kayak bayangan aku" ia tertawa "Kirain dia bakal terus nyebelin. Eh ternyata menyenangkan juga" lanjutnya

__ADS_1


"Makanya, Arin... Don't judge by is cover" ledek Rasyad


"Yes Pa. Aku ngerti kok sekarang"


***


"Ah bentar. Capek juga yah!!!" Arin duduk di bangku setelah kelelahan bermain


Arin dan juga Cindy mengunjungi taman hiburan di hari libur. Arin sengaja mengajak Cindy kesana. Karna ia ingin sekali datang kesana tapi tidak pernah kesampaian


"Senang ngga?" tanya Cindy yang ikut duduk di samping Arin


"Senang banget dong. Akhirnya kesampaian juga bisa kesini" Arin menengadahkan wajahnya ke langit-langit menikmati dedaunan yang berjatuhan mengenai wajah cantiknya


"Emang Lo belum pernah kesini sebelumnya?" pertanyaan Cindy membuat Arin menoleh


Arin menggeleng "Belum pernah"


"Sama sekali?" Cindy seperti tidak percaya


"Sama sekali" jawab Arin dengan mantap "Gue belum pernah kesini sama sekali"


"Asli? Wah. Kemana aja Lo selama ini?" Cindy benar-benar seperti tidak percaya


"Bayangin aja. Mama sama Papa tuh sibuk banget. Belum lagi Kars yang kadang ngga ada waktu" Arin mencebikkan bibirnya "Emang Lo pernah kesini sebelumnya?" ia melirik sekilas


Cindy mengangguk "Sering malah. Gue biasanya kesini kalau akhir pekan"


"Sama siapa?" pertanyaan Arin membuat Cindy tersenyum penuh arti "Ngapain senyum-senyum? Orang cuma nanya kok" ia mengedarkan pandangannya ke segala arah


"Ya... Bareng siapa lagi? Kalau bukan sama Dita sama Jeffri" Cindy menahan senyumnya "Lain kali kalau gue mau kesini lagi sama mereka berdua, gue pasti bakal ajak Lo kok" tawarnya


"Beneran?" seketika wajah Arin berbinar


Cindy kembali tersenyum penuh arti "Ia beneran"


"Ngapain lagi sih senyum-senyum" Arin dibuat salah tingkah olehnya


Tiba-tiba beberapa laki-laki menghampiri keduanya. Arin dan Cindy mengerutkan keningnya karna tidak mengenal siapapun di antara mereka


"Hai? Boleh ikut gabung ngga?"


"Ngga boleh!" tolak Arin dengan galak


Mereka semua langsung tertawa "Galak banget?" salah seorang di antara mereka mencolek dagu Arin


"Jangan macam-macam Lo yah?!" Arin menepis tangan lelaki itu dan langsung berdiri "Kalau kalian macam-macam, gue teriak biar orang-orang pada kesini" ancamnya


"Galak banget sih cantik" lelaki itu hendak memegang tangan Arin


Namun sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan lelaki itu hingga membuatnya terkejut


......**HALO GUYS. MOHON MAAF KARNA UPDATENYA AGAK MANDEK YAH. TAPI AKU USAHAIN BISA TETAP UP KOK.......

__ADS_1


...KALAU KALIAN SUKA SAMA CERITANYA, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN BERI TIP YAH. YUK SEMANGATIN AUTHORNYA 😍**...


__ADS_2