
"Hmmm... Mama ngerti. Nanti biar Mama yang bicara sama Cindy"
Mama Kanya menepuk pundak putranya setelah Arsya menceritakan semua yang Cindy katakan tadi padanya. Sebenarnya Arsya tidak mau memberitahu Mamanya. Namun Mamanya masuk ke dalam kamarnya dan melihat dirinya tampak tidak bersemangat. Hingga mengharuskannya menceritakan semuanya
"Ia Ma. Makasih"
"Ayo turun. Kita makan malam sama-sama. Papa sama Arin juga udah nunggu di bawah"
Arsya mengangguk. Turun dari tempat tidur. Ia tampak lega setelah menceritakan masalahnya pada Mamanya. Kemudian keduanya bersama menuruni tangga dan bergabung di meja makan
"Kenapa sih Kars? Kok mukanya ngga enak banget diliatnya?" tegur Arin setelah melihat wajah kusut kakaknya
"Ada masalah apa?" Papa Rasyad pun ikut menegurnya
"Ngga ada apa-apa Pa" Arsya berusaha mengeles
Mama Kanya tersenyum "Biasalah anak muda. Arsya ada sedikit masalah sama Cindy. Tapi setelah ini biar Mama yang bicara sama Cindy"
"Masalah apa?" tukas Papa Rasyad yang menjadi semakin penasaran
"Biasa Pa. Kayak Papa ngga pernah muda aja" Mama Kanya langsung tertawa
"Masalah yang tadi ya Kars?" Arin mencondongkan wajahnya
Arsya mengedipkan matanya pada Arin hingga membuat adiknya itu membungkam dan mengembalikan posisi tubuhnya
"Masalah tadi?" Papa Rasyad terus penasaran
"Nanti biar Mama yang cerita Pa" cetus Arsya untuk tidak memperpanjang masalah itu
"Ok. Ayo makan" Papa Rasyad tampak pasrah
"Kayaknya Kars punya masalah lain sama cewek itu deh" batin Arin
***
Cindy yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah makan malam bersama kedua temannya yang baru saja pulang, mendengar ponselnya yang berada di atas nakas berbunyi. Ia segera menghampirinya. Duduk di tepi tidur lalu meraih ponsel tersebut
"Tante Kanya?" alisnya berkerut dalam "Kenapa Tante Kanya nelpon malam-malam gini?" gumannya lalu menjawab panggilan tersebut
"Halo?"
"Halo Cindy. Ini Tante"
"Oh. Ia Tante. Hmmm, kenapa ya?"
"Ngga apa-apa. Tante cuma mau ngobrol bentar. Kamu sibuk ngga?"
"Ngga kok Tante"
"Baguslah. Jadi Tante mau ngobrol-ngobrol aja tentang kamu sama Arsya"
Cindy memutar malas kedua bola matanya mendengar nama itu "Hmm.... Ia Tante" sebisa mungkin tidak menunjukkan suaranya yang tidak suka
"Arsya sudah kasih tau Tante tentang perusahaan orangtua kamu yang ada di Kanada"
Kedua bola mata Cindy membulat "Kak...... Kak Arsya ngasih tau Tante?" ia masih tidak percaya
"Ia. Arsya bilang kamu marah-marah" terdengar suara tawa dibalik telepon
Cindy mengutuk Arsya yang bahkan memberitahu Mamanya tentang dia yang marah-marah
"Maaf Tante"
__ADS_1
"Ngga apa-apa. Ini memang salah Arsya. Tapi kamu ngga usah khawatir. Tante bisa pastiin, Arsya akan jadi wali kamu untuk mendapatkan kembali perusahaan orangtuamu. Dan Tante juga sudah bicara sama Papanya Arsya untuk membantu perusahaan orangtua kamu dipindah cabangkan ke Indonesia"
Lagi-lagi Cindy tertegun "Tante serius?"
"Seriuslah. Masa Tante mau bohong"
"Tante makasih banyak" mata Cindy sudah mulai berkaca-kaca karna terharu
"Sama-sama. Sekarang kamu istirahat ya? Nanti kita bicara lagi tentang ini"
"Ia Tante. Makasih banyak"
"Ia sama-sama. Oh ia, jangan marah sama Arsya lagi ya? Anak itu sampai kepikiran terus karna kamu marah" kembali terdengar tawa
Cindy menjadi canggung "Hmmm. Ia Tante. Aku ngga marah kok"
"Ngga apa-apa. Pasangan yang sebentar lagi akan menikah itu memang sering bertengkar. Hal kecil apa saja diributkan. Pesan Tante, kalau masalah kalian masih bisa dibicarakan baik-baik, jangan sampai masalahnya membesar dan semua orang tau"
Cindy mengangguk walau tak terlihat "Ia Tante. Aku paham. Makasih udah nasihatin aku" ucapnya dengan tulus
"Ya sudah. Selamat beristirahat. Dan jangan lupa selesaikan masalah diantara kalian berdua"
"Ia Tante"
"Selamat malam nak"
"Selamat malam juga Tante"
Panggilan telepon itu sudag berakhir. Cindy bernapas lega. Meletakkan ponselnya di atas nakas. Menarik satu bantal dan memangkunya
"Tante Kanya baik banget" gumannya
"Tapi...... Kak Arsya juga baik. Buktinya dia mau ngasih tau ke Mamanya tentang masalah gue" tiba-tiba memuji Arsya "Ihhh... Apaan sih? Tetap aja dia ngeselin. Ngapain juga coba dia tadi ngomong kepaksa nikah sama gue? Emangnya gue maksa apa? Arggggghhhh" ia memukul-mukul bantal tersebut
Cindy benar-benar bingung dibuatnya "Ah tau ah. Bodo. Mending tidur aja" ia merebahkan tubuhnya
***
"Lho? Ini kenapa ngga bisa nyala?" Cindy yang sudah berada di mobilnya mendengus kesal dengan mobilnya yang tiba-tiba tidak bisa menyala
Ia keluar dari mobil tersebut "Ini kenapa sih?" memeriksa mobilnya dengan teliti, "Kang Maman?" teriaknya
"Ia Neng?" laki-laki paruh baya yang dipanggilnya muncul
"Kang Maman? Kok mobil aku ngga bisa nyala sih?"
"Masa sih Neng? Tunggu saya coba cek dulu" laki-laki itu memeriksa mobil tersebut "Ia Neng. Ngga bisa nyala"
"Aduh gimana ini? Kalau aku telat ke kampus gimana?" Cindy memegang jidatnya dengan berjalan mondar-mandir
"Mobilnya Tuan besar belum saya ambil di bengkel Neng. Gimana ya?" Kang Maman pun ikut berpikir "Atau..... Neng mau saya antar pake motor?"
Cindy mengangguk cepat "Ia deh Kang boleh. Daripada aku telat ke kampus bisa bahaya"
"Tunggu sebentar ya Neng. Saya ambil motor dulu" Kang Maman pun lari ke belakang
"Ngga apa-apa deh. Daripada telat" Cindy mengangkat tangannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya "Duh, mana sisa 30 menit lagi. Kang Maman mana sih? Lama banget"
"Ayo Neng" akhirnya Kang Maman pun tiba
"Ngebut-ngebut ya Kang Maman? Soalnya 30 menit lagi"
Cindy merasakan panasnya matahari pagi. Mana jalanan sedang ramai-ramainya hingga membuat Cindy kegerahan sekaligus panik karna buru-buru. Tiba-tiba motor yang ditumpanginya macet-macet hingga membuat Kang Maman berhenti di tepi jalan
__ADS_1
"Motornya kenapa Kang? Kok berhenti?" Cindy turun dari motor tersebut
"Ngga tau Neng. Saya periksa dulu" Kang Maman mulai memeriksa motor itu "Yah.... Kehabisan bensin Neng"
"Ya Tuhan......" rasanya Cindy ingin sekali berteriak saat itu juga
Dari kejauhan, Arin yang berada di dalam mobil bersama Arsya menuju kampus melihat seseorang yang tidak asing di pinggir jalan sedang berdiri
"Itu calon istri Kars bukan sih?" Arin memicingkan kedua matanya lalu menunjuk ke depan
"Ia" jawab Arsya yang juga melihat Cindy
Arin tiba-tiba menoleh ke arah kakaknya "Tumben Kars ngga marah aku manggil tuh cewek calon istrinya" batinnya
Arsya menghentikan mobilnya tepat di belakang motor Kang Maman. Cindy dan Kang Maman pun menoleh ke belakang. Cindy bisa mengenali mobil tersebut
"Itukan mobilnya Kak Arsya?" gumannya
Benar saja. Arsya turun dari mobil dan menghampirinya "Ngapain lo disini?" tanyanya
"Emang ngga li......." Cindy ingin memaki namun teringat perkataan Mama Vanya semalam "Hmmm... Motornya kehabisan bensin" jawabnya dengan santai
"Mobil lo mana?" tanya kembali Arsya
"Ngga bisa nyala. Ngga tau kenapa" Cindy menggelengkan kepalanya
"Masuk ke mobil" perintah Arsya
"Hah? Ngapain?" alis Cindy berkerut
"Lo mau ke kampus apa ngga?"
"Ya mau"
"Ya udah masuk mobil"
"Tapi Kang Maman?" Cindy menunjuk Kang Maman
"Ngga apa-apa Neng. Neng duluan aja. Nanti Neng telat. Tadi kan Neng juga buru-buru" sahut Kang Maman
"Beneran ngga apa-apa Kang Maman aku tinggal disini?" Cindy tidak tega meninggalkan supirnya itu
"Saya ngga apa-apa Neng. Di depan sana ada penjual bensin eceran. Nanti saya dorong motornya kesana"
"Ya udah deh. Ini uang buat beli bensin ya Kang" Cindy memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Kang Maman
"Neng? Bensin ngga semahal ini" Kang Maman terkejut diberi uang sebanyak itu
"Ngga apa-apa Kang. Aku pamit ya. Aku buru-buru soalnya" Cindy berpamitan
"Ia Neng hati-hati"
"Ayo Kak" Cindy yang buru-buru pun membuka pintu belakang. Ia tau, ada Arin di depan
"Hmmmmm" Arin hanya berdehem di dalam mobil
"Minum" Arsya mengusap kepala adiknya sebelah menyalakan mesin mobilnya
"Kars. Rambut aku jadi berantakan" protes Arin yang merapikan rambutnya
"Bisa cepat ngga Kak? Sisa 15 menit lagi" celetuk Cindy dari belakang hingga membuat kakak beradik itu menoleh
"Udah numpang, nyuruh-nyuruh pula" ketus Arin
__ADS_1
...JANGAN LUPA UNTUK SELALU MENDUKUNG NOVEL INI. TERIMA KASIH 🌹🌹🌹...