Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Tersenyum hangat


__ADS_3

Pertandingan sudah akan dimulai. Masing-masing ketua tim sudah maju ke depan untuk saling memperebutkan bola pertama. Arsya menatap tajam pada Kemal yang menjadi ketua tim lawannya


Bola pertama berhasil diraih oleh tim STW yang langsung diambil alih oleh Jeffri dan kawan-kawan. Teriakan semangat dari para penonton membuat permainan itu semakin bersemangat di ronde pertama


Tak terkecuali Dita dan Cindy yang ikut bersorak riuh bersama penonton lainnya. Yang membedakan hanya kepada siapa mereka berpihak. Dita si penggemar berat Arsya tentu saja meneriaki nama lelaki itu meski lawannya adalah temannya sendiri, Jeffri. Sedangkan Cindy masih setiap menyemangati tim STW, terlebih itu adalah tim angkatan mereka


"Gila ganteng banget parah" ucapan itu beberapa kali lolos dari mulut Dita setelah terus mengamati permainan Arsya yang ia rasa tidak ada duanya


"Lo yah. Bukannya ngedukung teman sendiri malah ngedukung lawannya" protes Cindy yang membuat Dita memasang wajah masang


Permainan terus berlanjut sampai skor sudah menunjukkan 12 14. Skor 12 diperoleh oleh tim STW, Dan skor 14 diperoleh oleh tim LTW. Hingga babak pertama sementara dimenangkan oleh tim LTW


"Kita harus susun rencana. Mau kita kalah nantinya pun, kita harus tetap berusaha mengimbangi skor tim lawan" seru Kemal sebagai ketua tim saat mereka tengah beristirahat sekaligus berdiskusi


"Yah gue setuju. Kita mungkin cuma punya peluang kecil untuk mengalahkan tim lawan. Tapi seengganya skor kita ngga boleh jauh dari mereka" Jeffri menyahuti karna mengalahkan tim LTW peluangnya sangat kecil


"Semoga kali ini tim STW bisa menang" guman Cindy setelah melihat tim STW tengah berdiskusi


"Cin. Liat deh. Kak Jendris daritadi ngeliatin lo terus tuh" Dita menyenggol bahu Cindy yang tengah fokus memberi dukungan kepada Kemal dan kawan-kawan


Cindy sontak menoleh pada Dita lalu mengikuti arah pandang temannya itu. Benar saja, Jendris, pria yang beberapa menit lalu mengajaknya berkenalan tengah menatap dirinya dan tersenyum hangat


Cindy membalas senyuman pria itu lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya "Udah ngga usah lebay"


"Cindy. Lo tuh beruntung banget sih. Hampir semua cowok populer di kampus kita suka sama lo" Dita mengerucutkan bibirnya


"Heh? Ngomong apa lo barusan? Ada-ada aja" protes Cindy yang tidak setuju


"Apanya yang ada-ada aja? Mulai dari Kemal, Jeffri, dan sekarang Kak Jendris. Belum lagi yang kita ngga tau. Apalagi kalau Kak Arsya ada di salah satunya"


"Please stop deh Dit" Cindy jengah pada Dita


"Cindy" Jeffri tib-tiba datang menghampiri kedua gadis itu


Cindy dan Dita langsung menoleh "Jeffri. Ini" Cindy langsung memberikan sebotol minuman pada Jeffri yang tampak kelelahan


Senyuman Jeffri mengembang lalu meraih botol tersebut dan meneguknya "Terima kasih" ia mengacak rambut Cindy lalu berlari ke tengah lapangan


Cindy terdiam setelah mendapat usapan manis dari Jeffri hingga ia tersentak setelah mendapat senggolan dari Dita "Cindy"


Cindy baru tersadar dan baru mendengar jika ada banyak penonton menyoraki dirinya dan juga Jeffri. Bahkan semua tim lawan pun ikut melihat dirinya


"Dit? Apa semua daritadi ngeliatin gue?" Cindy memilih berbisik pada Dita


"Udah daritadi kali. Tuh sampai Kak Arsya sama Kak Jendris aja ngeliatin lo" Dita menunjuk Arsya dan Jendris dengan ekor matanya


Cindy sontak menoleh. Ia melihat Arsya menatap tidak suka pada dirinya bahkan memandang jijik. Sedangkan Jendris tampak terlihat kecewa. Bahkan pria itu melihat garang pada Jeffri


Pluitan terdengar nyaring pertanda ronde kedua akan segera dimulai. Semua anggota tim kini sudah bersiap-siap dengan semangat yang menggebu


Pertandingan berlangsung dengan pertahanan kedua tim yang sangat padat. Bahkan Jendris sengaja selalu menghadang langkah Jeffri yang menjadi tim penyerang di tim STW. Tiba-tiba Jeffri jatuh tersungkur saat hendak melompat memasukkan bola ke ring

__ADS_1


"Jeffri" Cindy dan Dita serentak berteriak


Semua tim STW segera menghampiri Jeffri yang tersungkur. Jeffri dibawa ke pinggir lapangan karena pergelangan kakinya terkilir


Cindy segera berlari menghampiri Jeffri yang disusul oleh Dita "Jeffri? Lo ngga apa-apa kan?" Cindy berjongkok di samping Jeffri


"Ngga. Gue ngga apa-apa" Jeffri berusaha tegar di depan Cindy dan di depan semua orang "Ayo. Gue masih bisa. Waktu sisa sedikit lagi" ia masih ingin melanjutkan permainan itu


"Jeffri. Mendingan lo istirahat dulu aja deh. Kaki lo sampai cidera gitu" Dita menyeru karna khawatir dengan temannya


"Ngga. Gue beneran ngga apa-apa. Ayo" Jeffri memaksa berdiri dan tetap ingin melanjutkan permainannya


Karna Jeffri tetap bersikukuh ingin ikut bermain. Akhirnya ia pun tetap dibolehkan. Namun Cindy dan Dita tetap berdiri di pinggir lapangan bersama pelatih tim STW serta tim cadangan lainnya


Permainan kembali berlanjut. Pertahanan tim LTW benar-benar membuat tim STW kewalahan. Namun itu tidak membuat semangat mereka kendor. Sampai akhir permainan, skor yang di peroleh hanya beda 1 angka. Tim LTW berhasil mencetak 20 skor. Sedangkan tim STW berhasil mencetak 19 skor


Meskipun tim STW kalah. Namun mereka tetap bangga. Setidaknya skor akhir mereka hanya beda 1 poin. Yang artinya posisi tim STW pun meningkat


"Jeff" Cindy membantu Jeffri ketika pria itu dipapah oleh temannya ke pinggir lapangan


***


"Kerja bagus bro" seorang lelaki menepuk bahu Arsya ketika pria itu baru saja mengganti pakaiannya di secret tim LTW


Arsya menoleh dengan wajah penuh kebanggaan "Siapa yang akan bisa ngalahih LTW" ujarnya dengan penuh kebanggaan "Oh ia. Dimana Jendris?"


"Di depan" Arsya langsung menuju ke depan menemui sahabatnya, Jendris


Jendris menoleh "Ngga apa-apa. Lo ngapain disini?"


Arsya tidak menjawab. Ia mencari sesuatu di mata sahabatnya "Jangan karna seorang wanita. Hidup lo jadi berantakan"


Jendris mendesah "Udahlah. Ayo kita masuk. Semua orang pasti nungguin kita" ia memilih untuk tidak menghiraukan ucapan Arsya


***


"Arsya?" seru Kanya yang tak lain adalah Mama Arsya ketika putranya itu langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi


"Mama?" Arsya yang sudah berada di lantai dasar tangga segera menghampiri Mamanya "Maaf Mah. Arsya ngga liat Mama" ia mencium punggung tangan ibu yang sudah melahirkannya


"Ia nak. Ayo makan malam dulu"


"Arsya mau ke kamar dulu Ma. Mau mandi sekalian ganti baju"


"Ya sudah. Mama tunggu yah disini"


"Ia Ma. Arsya ngga akan lama"


"Tumben cepat pulang. Perayaannya emang udah selesai?" adik perempuan Arsya muncul dari dapur


"Malas gue lama-lama disana" ujar Arsya yang langsung menaiki tangga menuju kamarnya

__ADS_1


"Uh dasar" adik perempuan Arsya ingin sekali memukul kakaknya


"Arin. Ayo sini bantuin Mama"


"Ia Mah"


Arsya melempar ke sembarang arah ranselnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan terlentang. Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar


Menarik sebuah handuk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat. Mengingat saat itu sudah menunjukkan pukul 8 malam dan ia baru saja pulang ke rumah


Setelah memakai pakaiannya. Ia bergegas turun dan ikut makan malam bersama keluarganya. Disana sudah ada Mama Kanya, Papa Rasyad, dan adiknya Arin


"Ayo sayang duduk" sapa Mama Kanya


Arsya duduk di samping Arin dan langsung meneguk air minum setengah gelas. Ia hanya mengambil sedikit makanan karna saat ia sudah banyak makan saat di pesta perayaan kemenangan tim mereka tadi


"Kenapa makannya sedikit?" kening Papa Radiasi berkerut


"Tadi Arsya habis makan dari luar Pa. Ada perayaan" sahut Arsya meski malas namun tetap sopan pada Papanya


"Tim Kars menang lagi, Pa" celetuk Arin yang memanggil Kakaknya dengan sebutan Kars karena tidak ingin memanggilnya lebih panjang


"Siapa yang bisa ngalahin tim gue" Arsya berucap dengan sombongnya


"Didikan siapa sih ini sombong banget?" Arin yang jengah memutar malas kedua bola matanya


"Sudah-sudah. Makan dulu. Ngga baik ribut di depan meja makan" Mama Kanya selalu melerai kedua anaknya yang sering sekali beradu mulut


***


Cindy yang tengah berada di atas balkon sendirian tampak merenung menatap rembulan yang memperlihatkan seluruh bentuknya yang bulat. Ia menghela napas berat lalu menunduk dan menaruh kepalanya di atas kedua tangannya yang ia lipat


"Neng?" suara Bi Imah memecah kesunyian hingga membuat Cindy berbalik arah


"Ia Bi? Kenapa?"


"Di bawa ada laki-laki yang nyariin Neng"


Kening Cindy berkerut "Laki-laki? Siapa Bi?"


"Bibi juga ngga tau Neng? Bibi belum pernah liat"


"Bukan Jeffri Bi?" hanya nama itu yang terlintas di pikirannnya. Namun sepertinya bukan, sebab jika itu Jeffri, Bi Imah pasti bisa mengenalinya


"Bukan Neng. Bukan Mas Jeffri"


"Ya udah Bi. Ayo" Cindy menarik napas untuk membuat mood nya terlihat baik lalu bersama Bi Imah turun untuk melihat siapa yang datang dan terkejut setelah melihat siapa orang itu


"Kak Jendris?"


......OH IA ANAK2. SETIAP ADA KARAKTER BARU YANG MUNCUL, EMAK AKAN NGASIH VISUALNYA DI PROLOG YAH. JADI NANTI KALIAN BISA LIAT VISUALNYA DISANA. JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN UNTUK KARYA BARU EMAK INI. TALANGHEYOOOOOOOO ❤❤❤❤......

__ADS_1


__ADS_2