
"Mama" seru Arsya dan Arin bersamaan
"Kenapa kalian teriak ke Mama kalian?" tegur Papa Rasyad yang membuat kedua anaknya terdiam
"Terima kasih tante. Tapi aku punya rumah sendiri. Dan aku juga ditemani Bi Imah. Teman-teman aku juga sering datang" Cindy menolak dengan halus "Ayo Tante duduk dulu" ia mempersilakan yang lainnya duduk
"Terima kasih Nak"
Bi Imah kemudia keluar membawa nampang berisi lima cangkir teh hangat "Silahkan di minum" ia meletakkan cangkir-cangkir itu di meja dan berlalu
"Silakan tehnya di minum" Cindy masih sangat ramah pada mereka meski ia sudah tau kebenarannya jika Arsya yang sudah melenyapkan nyawa kedua orangtuanya
"Terima kasih Nak" Mama Kanya selalu tersenyum hangat pada Cindy
"Nih cewek pintar banget sih ngerayu Mama" batin Arin dengan ketus
Meskipun Arsya merasa bersalah. Namun sepenuhnya sikapnya masih sama pada Cindy. Yaitu menatapnya dengan tatapan yang selalu membuat Cindy risih. Cindy merasa bahwa tatapan Arsya adalah tatapan rasa jijik padanya
"Hmm. Tante, malam-malam begini ada apa kemari?" Cindy mengharuskannya bertanya meski ia sudah tau jawabannya
Mama Kanya tersenyum membelai kepala Cindy "Tante cuma mau jengukin kamu Nak. Mau memastikan keadaan kamu secara langsung"
Cindy membalas senyuman itu "Tante. Aku baik-baik saja. Tante ngga perlu tiap hari kemari. Dan ngga perlu khawatir sama aku" ucapnya
"Nak. Kami masih bertanggung jawab sama kamu" Papa Rasyad kini mengambil alih pembicaraan
Cindy menggeleng "Ngga Om. Itu ngga perlu. Aku baik-baik saja"
"Neng Cindy?" tiba-tiba Bi Imah kembali dan menghampiri mereka "Ayo makan malam dulu? Bibi sudah siapin makan malamnya. Sekalian Bu Kanya dan yang lain bisa ikut makan bersama"
Cindy mendesah. Rasanya sangat enggan untuk memasukkan makanan ke mulutnya. Namun akan tidak sangat sopan jika tidak memanggil tamunya makan malam bersama. Dan sebenarnya Bi Imah sengaja supaya Cindy mau makan
"Hmm. Tante, Om ..... Hmmm, Kak Arsya, Arin. Ayo kita makan malam dulu" ajaknya dengan gugup setelah menyebut nama Arsya dan Arin
"Ngga mau! Gue makan di rumah aja nanti" Arin menolak secara terang-terangan
"Arin?" tegur Papa Rasyad hingga membuat Arin berdehem
"Hmmm. Maksudnya, aku belum lapar"
"Arsya?" Mama Kanya memanggil Arsya dengan lembut
Arsya menghela napas "Ia Ma"
"Ayo kita makan malam bersama" Mama Kanya terlebih dahulu berdiri
__ADS_1
Cindy dengan ragu-ragu berdiri "Ayo" ajaknya dan mendahului yang lainnya
Kini, mereka sudah berada di meja makan. Karna meja makan itu berbentuk melingkar, Arsya dan Cindy terlihat duduk berdekatan. Namun Arsya sedikit demi sedikit menggeser duduknya. Namun tidak bisa leluasa, karna tepat di sampingnya pun ada Papanya
"Makan yang banyak" Mama Kanya mengisi piring kosong Cindy dengan sesendok nasi makan yang penuh setelah mengambilkan nasi untuk suami serta anak-anaknya
Cindy terkejut dan menjauhkan piringnya ketika Mama Kanya hendak menuangkan nasi lagi "Tante. Aku ngga akan bisa ngabisin makanan ini" protesnya dengan suara sopan
Mama Kanya tersenyum "Nak? Kamu kan seharian belum makan. Masa itu saja sudah cukup?"
Bola mata Cindy membesar "Tante tau dari siapa?" tanyanya
Mama Kanya hanya diam tersenyum "Makanlah Nak"
Cindy melihat makanan di hadapannya dan menelan kuat salivanya "Ya Tuhan. Gimana caranya makanan ini bisa habis?" batinnya
Mereka menikmati makan malam dengan santai. Bahkan Arin yang tadi mengatakan tidak lapar, tampak menikmati makanannya. Cindy sekuat tenaga menelan makanan itu meski perutnya sudah menolak. Namun ia tidak ingin memuntahkannya
"Hmm. Maaf. Aku mau ke toilet sebentar" Cindy pamit ke toilet setelah menghabiskan makanannya
Setelah Cindy ke toilet, Bi Imah menghampiri Mama Kanya "Bu Kanya, terima kasih sudah mau makan malam bersama Neng Cindy. Mungkin jika Bu Kanya tidak kemari, Neng ngga akan keluar kamar dan tidak menyentuh makanan sama sekali"
"Sama-sama Bi. Kalau Bi Imah butuh bantuan. Jangan segan-segan untuk menelpon saya Bi"
"Tidak perlu berterimakasih Bi. Bagaimana pun, Cindy masuk tanggung jawab kami" ujar Papa Rasyad
"Neng anak yang baik, ceria, suka menolong, dan sangat jarang marah. Tapi beberapa hari ini, Neng sering mengurung diri di kamar. Bahkan untuk makan saja Neng harus diingatkan" Bi Imah bercerita dengan menahan air matanya
Mama Kanya semakin merasa bersalah "Apa Bi Imah pernah melihat Cindy menangis?"
Bi Imah tiba-tiba mengeluarkan air matanya "Bahkan Neng pernah hampir bunuh diri saat hari pemakaman orangtuanya. Untuk pertama kalinya Bibi melihat Neng menangis teriak-teriak. Hampir saja Neng bunuh diri pake gelas kaca yang ia pecahkan. Untung saja Mas Jeffri dan Neng Dita mendobrak kamar Neng" ia menceritakan kisah pilu seminggu yang lalu
Semua yang ada disana terkejut "Dia hampir bunuh diri?" Arsya tidak bisa menahan diri untuk bertanya
Bi Imah mengangguk "Dan setelah kejadian itu, Neng banyak berubah. Meskipun di luar dia tampak biasa saja dan tetap ceria, tapi di kamar dia suka menangis sendiri. Dan Bibi sering mendengarnya. Neng juga selalu melarang Neng Dita untuk menginap disini. Padahal dulu Neng selalu senang kalau Neng Dita menemaninya di rumah. Neng ngga suka dikhawatirkan"
"Bi? Apa Cin ...... " ucapan Mama Kanya menggantung setelah melihat Cindy menghampiri mereka
Dan Bi Imah pun buru-buru menuju wastafel setelah berpura-pura mengumpulkan piring kotor. Menyeka air matanya agar Cindy tidak melihatnya. Karna ia tau, majikannya itu tidak suka dikhawatirkan
"Maaf. Aku lama" Cindy kembali menghampiri mereka
"Tidak apa-apa Nak" sahut Mama Kanya
"Hmmm. Ayo kita duduk di depan" Cindy mengajak yang lainnya untuk kembali ke ruang tamu
__ADS_1
Cindy duduk dengan cukup tenang "Silakan di minum tehnya. Mungkin sudah agak dingin"
Arsya memperhatikan wajah Cindy dengan seksama. Ia melihat tidak ada tanda-tanda kesedihan di wajah gadis itu. Arsya tidak bisa menebak, apakah gadis itu sedang berpura-pura kuat? Atau memang tidak merasakan kesedihan sama sekali?
"Nak? Kapan-kapan kamu main ke rumah Tante ya? Tante pasti senang kalau kamu datang" Mama Kanya memegang tangan Cindy
Cindy hanya tersenyum hambar tanpa menjawab. Ia tau kedua anak wanita paru baya itu tidak menyukai dirinya. Sebenarnya Dita dan Jeffri seringkali menyuruh Cindy untuk melaporkan kasus tabrakan itu ke polisi. Namun Cindy menolaknya
"Ma? Pulang yuk? aku ngantuk" Arin merengek meminta pulang
Mama Kanya menoleh ke arah Cindy "Ngga apa-apa Tante. Cindy sekarang baik-baik aja" Cindy tau Mama Kanya masih mengkhawatirkan dirinya
"Besok Tante kemari lagi jengukin kamu ya?"
"Hmm. Tante. Besok aku ada kegiatan di Fakultas. Dan pulangnya akan larut malam"
"Kegiatan Fakultas?" Mama Kanya mengerutkan keningnya "Bukannya besok Fakultas kalian juga ada kegiatan ya?" tanya Mama Kanya kepada kedua anaknya
Arin memutar malas kedua bola matanya. Sedangkan Arsya baru sadar jika mereka satu Fakultas "Ia Ma. Kami satu Fakultas" jawab Arsya
"Oh ya? Mama baru tau. Kebetulan sekali" Mama Kanya tampak senang mendengarnya "Arin besok ikut juga kegiatannya?" Mama Kanya memegang tangan Arin
"Ngga Ma. Aku malas. Lagian aku udah izin duluan dan dibolehin" Arin tampak ketus menjawabnya
"Kamu nanti pulangnya sama siapa Nak?" Mama Kanya kembali menanyakannya pada Cindy
"Hmmm. Aku mobil bawa sendiri Tante"
"Nak? Kamu berani pulang sendiri tengah malam?"
Cindy sejenak terdiam. Kemudian tersenyum hambar dan mengangguk "Ia Tante"
"Kamu pulangnya diantar Arsya saja" cetus Papa Rasyad tiba-tiba hingga membuat Arsya, Cindy dan Arin terkejut
"Mama setuju" Mama Kanya menimpali
"Papa? Dia kan bawa mobil sendiri?" Arsya memprotes
"Ia Om. Ngga usah. Aku bawa mobil sendiri"
"Kalau begitu besok kamu ngga usah bawa mobil. Biar Arsya yang jemput besok pagi" tukas Papa Rasyad hingga membuat Arsya terdiam mengingat nada suara Papanya yang tidak ingin dibantah
"Ngga apa-apa Nak. Biar besok kamu berangkat ke kampusnya bareng Arsya ya?" Mama Kanya mengelus-elus kepala Cindy
"Ya Tuhan ...... Sekarang Kak Arsya pasti kesal banget. Tapi gue ngga bisa ngebantah juga"
__ADS_1