
Malamnya saat berada di dalam kamar sendirian, Cindy menatap lekat-lekat pada bingkai foto kedua orangtuanya yang semula ia letakkan di meja dekat tempat tidurnya. Mengusap pelan wajah di foto tersebut dengan raut wajah yang sendu
"Mami, Papi. Aku rindu"
Bahkan air matanya berhasil lolos dari tempatnya. Mengalir dengan pelan membasahi kedua pipinya yang bersih. Ia berusaha menahan suara tangisnya padahal bahkan ketika menangis pun suaranya tidak akan terdengar keluar kamar.
"Mami. Papi. Aku mau kalian datang ke mimpiku. Apa kalian ngga kangen sama anakmu ini, hah? Apa kalian ngga kangen?" rancaunya dengan sesegukan
Cindy membaringkan tubuhnya dengan memeluk erat foto tersebut ke dadanya. Air matanya bahkan tidak pernah berhenti mengalir walau ia baru saja memejamkan bola matanya yang sudah semakin menyipit
***
Sebuah coklat tiba-tiba menempel di pipi Cindy yang tengah menidurkan kepalanya di meja saat berada di dalam kelas, dan mengabaikan ocehan Dita yang terus bertanya ada apa dengan dirinya yang tampak tidak bergairah pagi ini
Senyuman Cindy seketika terbit dan langsung terbangun meraih coklat tersebut "Makasih Jeff" ia menghela napas "Seenggaknya mood gue bisa jadi lebih baik setelah makan coklat ini" ucapnya lalu menggigit coklat yang sudah ia buka dari pembungkusnya
Dita mendesah namun sedikit merasa lega "Kali ini gue berterima kasih sama lo Jeff karna udah ngasih nih anak coklat" cetusnya dengan frustasi
Cindy dan Jeffri langsung tertawa "Tumben banget. Biasanya ngomelin gue" sahut Jeffri
"Itu karna nih anak sejak tadi ngga ngomong apa-apa dan bikin gue stres" tukas Dita dengan wajah kesal
Cindy tidak mempedulikannya. Ia terus menikmati setiap gigitannya pada coklat yang bisa membuat harinya menjadi lebih baik. Sedangkan Jeffri menatap lekat-lekat pada wajah Cindy yang sudah tampak biasa saja
"Lo baik-baik aja kan?"
Pertanyaan Jeffri membuat Cindy menoleh lalu mengangguk "Baik. Gue baik-baik aja kok" jawabnya dengan tenang
"Efek coklat ternyata benar-benar bisa buat otak lo jalan normal ya" sindir Dita dengan mengangguk-angguk
Dan tentu saja itu membuat Cindy tertawa lalu diikuti oleh Jeffri. Setidaknya, Dita bisa merasa lega setelah melihat sahabatnya sudah membaik setelah tadi ia setengah mati membujuk Cindy untuk berbicara namun gadis itu malah mendiamkannya dan lebih memilih memejamkan matanya dengan kepala yang tertidur di meja
Benar. Berkat coklat, bahkan hingga siang ini, mood Cindy benar-benar stabil. Ia mengikuti perkuliahan dengan cermat dan terus membalas guyonan kedua sahabatnya. Sambil sesekali tertawa yang memperlihatkan deretan giginya yang begitu cantik
"Nongkrong di kafe dulu yuk?" ajak Dita setelah memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas
__ADS_1
Jeffri menoleh pada Cindy "Hari ini lo ada acara?"
Cindy mendongak lalu menggeleng "Ngga ada"
Tiba-tiba kelas mereka menjadi riwuh dengan suara gadis-gadis di kelas itu. Cindy, Dita dan Jeffri terkejut. Apa yang mereka rusuhkan? Semua pandangan tertuju pada sosok laki-laki yang berdiri di depan pintu kelas sambil mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang
Cindy terkejut ketika melihat Arsya berdiri disana. Dan tepat saat itu juga, mata mereka bertemu. Arsya menjentikkan jarinya memanggil Cindy hingga membuat gadis itu membulatkan kedua matanya karna semakin terkejut. Bahkan semua orang langsung melihat ke arah Cindy
"Kak Arsya manggil lo Cin?" pertanyaan Dita berhasil membuat lamunan Cindy buyar
"Kenapa? Lo ada apa sama dia?" kini giliran Jeffri yang bertanya pada Cindy
"Bentar. Tunggu gue disini" dengan pelan, Cindy berjalan menghampiri Arsya yang sedikit menjauh dari pintu
Arsya sangat tidak nyaman ketika melihat beberapa gadis tengah mengerubunginya hingga mengharuskannya menjauh. Merasa risih dengan gadis-gadis yang membuatnya mereka tidak punya rasa malu hingga Cindy datang padanya
"Kenapa Kak Arsya manggil Cindy?" kening Dita berkerut dalam memikirkannya
"Ayo kita ikuti mereka. Gue ngga tenang" Jeffri hendak berdiri namun Dita menahannya
"Jeff? Please deh. Mereka ngga jauh. Kita masih bisa ngeliat Cindy dari sini. Cindy kan juga nyuruh kita nunggu disini. Udah diam aja dulu" meski Dita cukup kesal pada Arsya, namun ia lebih memilih privasi diantara mereka
"Ada apa kak?" Cindy memberanikan diri untuk bertanya
Arsya memutar malas kedua bola matanya "Mama gue nyuruh gue untuk bawa lo ke rumah sekarang" ucapnya dengan begitu pelan agar tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali Cindy yang jaraknya dekat dengannya
Cindy tercengang "Hah? Ke... Kenapa? Kok tiba-tiba?"
Arsya menatap Cindy dengan masang "Keluarga gue mau datang"
Bola mata Cindy membulat sempurna "Apa? Terus? Hu.... Hubungannya sama aku apa?"
Arsya menatap delik pada Cindy "Gue pikir otak lo masih ngga lupa kejadian kemarin. Ternyata otak lo cuma punya angka 1 digit" sarkasnya
Cindy langsung merasa tersudutkan. Mengerucutkan bibirnya dengan kesal "Terserah" ketusnya
__ADS_1
"Ayo cepat" cetus Arsya dan membuat Cindy bingung
"Hah? Apa?"
Arsya menjadi geram "Orangtua gue nungguin lo di rumah" kesalnya
Cindy seketika menjadi orang linglung "Ta.... Tapi.. Teman-teman gue? Mobil gue? Dan..... Bi Im......"
"Bi Imah udah di rumah gue" potong Arsya
Hal itu lagi-lagi membuat Cindy terkejut "Astaga" ia memegang kepalanya karna belum bisa mencerna semuanya dengan baik
"Ayo cepat" Arsya sudah tidak tahan berlama-lama disana
"Tu.... Tunggu.... Hmmm.... Mobil gue...."
"Suruh teman lo yang bawa. Dan ajak mereka ke rumah gue. Cepat. Gue tunggu di mobil sekarang" Arsya langsung pergi setelah mengatakannya
"Dia benar-benar gila" batinnya yang hampir membuatnya pingsan
"Woy?" Dita menepuk pundak Cindy "Barusan ngapain dia manggil lo?"
Jeffri dan Dita menghampiri Cindy setelah melihat Arsya sudah pergi. Disana masih terlihat banyak orang yang melihat ke arah mereka. Kepala Cindy sedikit pusing hingga ia memilih menjauh dan diikuti oleh kedua sahabatnya
"Dita? Lo bisa bawa mobil gue kan?" Cindy benar-benar sudah tidak bisa berpikir jernih
"Bisa. Lo kenapa sih?"
"Kalian berdua ikut gue ke rumah Kak Arsya sekarang ya?"
Jeffri dan Dita langsung terkejut "Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Jeffri
Cindy menelan salivanya dengan berat "Nanti gue jelasin. Dita, lo bawa mobil gue dan ikutin mobilnya Kak Arsya. Ayo cepat, dia nunggu gue di mobilnya. Gue takut dia marah kalau lama nunggu gue" ia menarik tangan kedua sahabatnya yang masih dengan keterkejutannya
Cindy langsung masuk ke dalam mobil Arsya setelah menyerahkan kunci mobilnya ke Dita. Rasa gugupnya membuat jantungnya hampir melebur saat itu juga. Ia menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya untuk membuat suhu tubuhnya netral
__ADS_1
Arsya tidak berkata apapun, ia menginjak pedas gas dan membelah jalanan menuju rumahnya. Di belakang mobilnya, diikuti oleh mobil Cindy yang dikendarai oleh Dita dan juga Jeffri yang membawa motornya
"Ya Tuhan..... Jantung ku"