Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Sangat berharga baginya


__ADS_3

Jeffri tak tahan lagi. Maka ia segera mendobrak pintu kamar Cindy hingga terbuka lebar. Jeffri, Dita dan Bi Imah langsung terkejut karna Cindy mengarahkan pecahan botol ke tangannya


"Cindy" Jeffri berteriak keras sambil menarik keras pecahan gelas tersebut hingga lepas dari tangan Cindy


"Cindy? Lo jangan gila!" Dita berteriak sambil menangis memeluk tubuh Cindy


Cindy melihat kedua sahabatnya "Lepasin gue" ia memberontak "Kenapa kalian disini? Pergi" ia menangis dengan suara yang begitu pilu


"Cindy. Tolong jangan seperti ini" Dita terus menangis melihat sahabatnya begitu tersiksa


"Neng Cindy?" bahkan Bi Imah menghampiri Cindy dengan tangisan pilu "Jangan sakiti diri Neng Cindy sendiri. Orangtua Neng juga akan sedih kalau liat Neng begini" ia mengusap-usap punggung anak majikannya itu


"Cindy. Tolong lo jangan nekat. Tolong jangan begini" ujar Jeffri setelah membuang pecahan gelas tersebut


Cindy menangis dengan menahan sesak di dadanya "Kalian ngga tau gimana tersiksanya gue selama ini! Kalian ngga tau gimana gue harus ngubur rasa rindu gue ke mereka tiap kali mereka ke Kanada. Gue selalu nahan itu" ucapnya dengan tangisan yang mampu membuat ketiga yang ada disana ikut menangis


"Cindy" Dita tidak bisa melihat sahabatnya seperti itu "Gue tau Cin. Gue tau lo selama ini rindu mereka. Tapi lo ngga boleh nyiksa diri lo kek gini Cin" ia tidak bisa berhenti menangis


"Gue ngga punya siapa-siapa lagi Dit? Gue ngga punya siapa-siapa lagi" tubuh Cindy terlunglai ke lantai sambil terus menangis "Kenapa hidup gue ngga seberuntung orang-orang di luar sana? Kenapa?" ia berteriak histeris


"Neng? Neng ngga sendirian. Bibi akan terus disini sama Neng. Bibi ngga akan ninggalin Neng" Bi Imah memeluk erat tubuh Cindy dengan penuh air mata


"Mereka ninggalin aku Bi. Mereka ninggalin aku! Mami Papi ninggalin aku!" Cindy menangis sejadi-jadinya dipelukan Bi Imah


Untuk pertama kalinya seumur hidup menjadi ART di rumah itu, Bi Imah tidak pernah sekalipun melihat Cindy menangis seperti itu. Ia selalu melihat gadis itu dengan senyuman cerah di wajahnya. Bahkan ia tidak tau jika Cindy selalu merindukan kedua orangtuanya namun ia tahan


"Cindy? Lo ngga sendirian. Disini ada gue sama Dita yang ngga akan pernah ninggalin lo" Jeffri berjongkok memegang kepala Cindy

__ADS_1


Cindy melihat ketulusan di mata Jeffri yang menahan air matanya. Namun Dita yang sejak tadi menangis membuat Cindy langsung menoleh. Tangisan begitu pilu ia lihat di mata sahabatnya. Ia pun bertekad untuk tidak membuat orang-orang disekitarnya mengkhawatirkan dirinya. Ia kemudian lebih mendekat ke arah Dita


"Dita? Berhenti menangis" Cindy kini menahan air matanya untuk tidak tumpah "Gue ngga apa-apa" malah ia yang menenangkan sahabatnya


Dita menggeleng "Gue tau lo ngga baik-baik aja Cin" ia memeluk tubuh sahabatnya dengan air mata yang terus mengalir


Cairan bening di pelupuk mata Cindy ia berusaha tahan disana. Membalas pelukan Dita "Gue baik-baik aja. Selama ini gue udah terbiasa ditinggal sama mereka. Dan gue akan menganggap, kalau mereka masih di Kanada" ucapnya dengan menahan tangis


Tentu saja hal itu membuat Dita, Jeffri dan Bi Imah semakin prihatin pada Cindy. Bagaimana bisa ia setegar itu disaat seperti ini? Bahkan ia melupakan jika tadi hampir bunuh diri karna sangat merindukan orangtuanya


***


"Pa?" Mama Kanya masuk ke ruangan dimana putranya dirawat hingga membuat suaminya menoleh "Arsya belum sadar juga?" tanyanya


Papa Rasyad menggeleng lemah "Belum Ma. Tapi tadi Dokter bilang, sebentar lagi Arsya akan sadar"


Mama Kanya mendekati putranya sambil menangis "Nak? Ini Mama! Bangun Nak? Mama kangen sama kamu" ia mengusap-usap kepala putranya


Mama Kanya mengangguk sambil menghapus air matanya "Pa? Gadis yang Mama ceritakan waktu itu, yang menolong Mama. Itu gadis yang semalam. Dan dia orangtua gadis itu Pa" ia bergetar saat mengatakannya


Papa Rasyad pun terkejut mendengarnya "Mama serius? Gadis itu yang menolong Mama? Dan sekarang, orangtuanya meninggal karna ditabrak oleh Arsya?"


Mama Kanya mengangguk membenarkan. Ia begitu merasa bersalah "Mama jadi merasa bersalah Pa" ia menangis ketakutan


Papa Rasyad memeluk istrinya dan memenangkannya "Mama tenang dulu ya? Kita tunggu sampai Arsya sadar dan kita dengar penjelasannya dulu"


Mama Kanya mengangguk, lalu beralih pada putranya "Nak? Bangun Nak?"

__ADS_1


Tiba-tiba kedua kelopak mata Arsya bergerak perlahan. Mama Kanya dan Papa Rasyad pun terkejut hingga mereka memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan putra mereka


"Syukurlah dia sudah sadar" ujar Dokter tersebut setelah melihat kedua mata Arsya terbuka dengan sempurna


Kepala Arsya tampak diperban. Wajahnya menjadi tidak merata. Bahkan tangan dan kakinya pun diberi penyangga agar tulangnya tidak semakin tergeser dari tempatnya


"Mama. Papa" ucap Arsya dengan begitu pelan


"Ia Nak. Ini Mama" Mama Kanya memegang kepala putranya dengan terus menangis


"Syukur Arsya bisa sadar secepat ini. Tapi dia masih harus banyak beristirahat. Karna kondisinya masih belum sepenuhnya pulih" kata Dokter itu yang memperingatkan


"Ia Dokter. Terima kasih" sahut Papa Rasyad yang berterimakasih pada Dokter tersebut


"Bagaimana keadaan mu nak?" tanya Papa Rasyad setelah Dokter itu keluar dari ruangan


Arsya mengedipkan matanya tanda ia sudah lebih baik "Aku..."


"Nak. Ngga usah banyak bicara dulu, kamu masih sakit. Ngga usah dipaksa. Mama sama Papa bisa ngerti" pangkas Mama Kanya karna tidak tega melihat putranya ingin menjawab namun masih terlihat kesakitan


Arsya hanya mengangguk pelan. Ia mengedarkan pandangannya. Namun tidak begitu leluasa, karna kepalanya masih sangat berat. Ia merasa sekujur tubuhnya terasa remuk. Bahkan untuk bergerak pun, ia kesusahan melakukannya. Namun ia tidak mau mengeluh di depan orangtuanya


***


Dita memandangi wajah Cindy yang terlelap di kamarnya setelah ia merasa lebih baik. Tangisnya sejak tadi tidak pernah berhenti. Bahkan Cindy sudah berapa kali menegur dirinya. Jeffri menginap disana dan tidur di kamar tamu. Hingga kini, hanya ada mereka berdua di kamar


"Cindy? Gue tau selama ini lo selalu ngerasa kesepian. Lo selalu butuh Mami Papi lo ada di samping lo. Gue tau gimana sakitnya lo kehilangan orangtua lo. Dan sekarang lo ngga punya keluarga disini. Tapi gue akan selalu ada di samping lo. Gue akan selalu nemenin lo. Lo ngga akan pernah ngerasa sendirian Cin. Gue pastiin ngga akan ada yang bisa nyakitin lo. Karna gue sendiri yang akan nyakitin orang itu. Gue janji Cin. Gue janji sama diri gue sendiri untuk selalu ngejagain lo"

__ADS_1


Dita menangis sesegukan namun berusaha ia tahan suaranya. Tidak ingin membangunkan Cindy yang sangat lelap tidurnya. Meski sebenarnya Cindy tidak benar-benar tertidur. Ia hanya berpura-pura, dan mati-matian menahan air matanya agar tidak tumpah saat mendengar ucapan Dita yang sangat berharga baginya


...KALAU KALIAN SUKA NOVEL INI JUGA, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN POSITIF, DAN BERI TIPNYA 🌹🌹🌹 LOPE2 SEKEBON BUAT KALIAN ❤❤❤❤...


__ADS_2