Rindu Dan Harga Diri

Rindu Dan Harga Diri
Bujuk pulang


__ADS_3

Mata sembab Cindy menjadi sasaran Dita untuk menjadi wartawan seketika. Bagaimana tidak, baru saja sahabatnya itu menyandang status sebagai istri orang. Namun sekarang matanya terlihat begitu sembab


"Yakin ngga mau cerita sama gue?" Dita terus mengintrogasi Cindy


Cindy pun memaksa tawanya pecah "Please deh Dit. Jangan lebay. Udahlah. Orang gue biasa aja"


Cindy dan Dita tengah menunggu kedatangan Jeffri di kafe tempat biasa mereka nongkrong. Awalnya Jeffri hanya memanggil Cindy. Namun wanita itu tidak mau berduaan karna statusnya sekarang sudah berbeda meski terpaksa. Itu sebabnya dia memanggil Dita untuk ikut bergabung


"Lagian ini Jeffri mana sih? Kok lama banget?" Cindy menaikkan sebelah tangannya untuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya


"Tau tuh. Dia yang ngajakin malah lambat datangnya" Dita pun ikut menggerutu


"Apa kena macet ya di jalan? Tapi kayaknya ngga macet-macet juga sih ya?" Cindy mulai merogoh ponselnya


"Kalaupun macet, pasti bakal tetap aman. Jeffri kan naik motor. Bukan mobil" cetus Dita


"Benar juga sih" Cindy mulai mencari kontak Jeffri di ponselnya lalu menekan tombol panggilan


Tiba-tiba suara deringan ponsel terdengar di belakang mereka. Sontak saja Dita dan Cindy berbarengan melihat ke belakang


"Jeffri?"


Dengan senyum manisnya seperti biasa, Jeffri melambaikan ponselnya di hadapan kedua temannya tersebut


"Lama banget si Lo?" gerutu Dita "Sengaja ya bikin kita nunggu lama?" memutar malas bola matanya


"Tau nih. Dia yang ngajakin dia juga yang lama" ketus Cindy saat Jeffri sudah duduk di depan mereka


Jeffri pun tertawa mendengar ocehan kedua temannya "Maaf-maaf. Ada masalah dikit di depan. Jadinya lama" jelasnya "Kalian belum pesan apa-apa kan?" tanyanya


"Ya belum lah. Orang yang mau traktir kita aja belum datang. Ntar pas udah pesan tiba-tiba ngga datang kan malas bayar sendiri" celoteh Dita yang berhasil membuat Cindy dan Jeffri tertawa


"Bisa juga Lo yah" Cindy menoyor kepala Dita


"Gue kan mau keluar karna pengen di traktir. Kalau bayar sendiri mah ngapain? Mending gue di rumah aja" ujar Dita dengan enteng


Jeffri tersenyum lalu menggelengkan kepalanya "Ya udah. Pesan aja apa yang kalian mau. Bebas deh. Aku yang traktir"


"Emang udah seharusnya kali" sahut Dita lalu memanggil seorang pelayan disana


Mereka bertiga memesan makanan kesukaan mereka. Saling melempar candaan seperti biasanya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, Cindy izin berpamitan pulang setelah Jeffri membayar semua pesanan mereka


"Padahal gue masih pengen ngobrol sama kalian" Jeffri tampak kecewa


"Hey Bung" Cindy memetikkan jari ke depan wajah Jeffri "Kita tiap hari juga ketemu. Jangan kayak orang susah deh" omelnya


"Tau nih. besok juga kita bakal ketemu lagi di kampus elah" timpal Dita yang menghela nafas


Jeffri pun tergelak "Ia ia. Emang gini nasib gue punya teman yang isinya cewek"


"Udah yuk. Pulang!" Cindy berdiri terlebih dahulu

__ADS_1


"Mau gue antar ngga?" tawar Jeffri


"Ngga usahlah. Gue kan bareng Dita kesininya. Aman" tolak Cindy dengan gaya khasnya


"Betuuullll... Gue kan kesininya bareng Cindy. Udahlah. Yuk! Ntar kemalaman banget lagi" Dita pun meraih ranselnya


"Duluan yah Jeff. Lo hati-hati di jalan" seru Cindy dan Dita bergantian setelah masuk ke dalam mobil milik Dita


"Cin?" panggil Dita setelah mobilnya kini tengah membelah jalanan pulang


"Hmm?" hanya itu respon dari Cindy sambil melirik ke arah Dita sekilas


"Arsya ngga marah kan Lo pulang jam segini?" Dita mulai membuka pembicaraan


Cindy menoleh ke arah Dita lalu teringat kejadian sore tadi saat Arsya mengingatkan dirinya untuk tidak ikut campur urusannya. Dan pria itu juga tidak akan mencampuri urusannya


"Ngga kok. Aman" Cindy menggeleng dengan senyum yang ia paksakan


"Kok aneh sih ngga marah?" kening Dita berkerut dalam


Cindy menaikkan sebelah alisnya "Aneh kenapa emang?"


"Ya aneh lah. Dia kan sekarang suami Lo. Ya meski nikahnya secara paksa sih. Tapi kan biasanya suami tuh marah kalau tau istrinya pulang larut malam habis keluyuran bareng teman-temannya"


Cindy pun terkekeh "Yang aneh itu Lo. Udah tau kami nikahnya dipaksa. Masa hal gituan aja masih ditanyain?" ia menggelengkan kepalanya


"Udahlah. Ribet ngomong sama Lo" Dita menggerutu dengan kesal


"Apa dia belum pulang yah?" Cindy mencari keberadaan mobil milik Arsya namun tak menemukannya


"Bi... Cindy pulang" teriak Cindy hingga Bi Imah pun datang menghampirinya


"Baru pulang Neng?"


Cindy mengangguk "Oh ia Bi. Kak Arsya belum balek ke rumah ya?" tanyanya


"Barusan sekali Mas Arsya pergi lagi Neng. Kayaknya belum nyampe 5 menit. Tadi Mas Arsya nanyain Neng. Terus Bibi bilang belum pulang. Mas Arsya ke atas cuma bawa ransel terus pergi lagi Neng" jelas Bi Imah


"Bawa ransel? Mau kemana dia?" batin Cindy


"Emangnya Mas Arsya ngga bilang ke Neng ya mau kemana?" Bi Imah membuyarkan lamunan Cindy


"Hmm?" Cindy terkejut sejenak "Bilang kok Bi. Tadi Kak Arsya ada pertandingan di kampus" bohongnya. Ia tidak mau memperlihatkan ke Bi Imah jika ia dan Arsya baru saja bertengkar


"Ya udah deh Bi. Cindy mau ke kamar dulu yah" pamitnya lalu menaiki tangga menuju kamarnya


Meletakkan tas selempang kecilnya di atas meja lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong hingga akhirnya ia terlelap dengan sendirinya


***


"Kak Arsya semalam nginap dimana yah? Kenapa dia ngga pulang? Apa dia pulang ke rumah Mama Kanya? Tapi kayaknya ngga mungkin deh. Karna pasti dia sendiri yang akan kena omel"

__ADS_1


Pagi ini otak Cindy dipenuhi oleh Arsya yang sejak semalam tidak pulang ke rumah. Bagaimana pun juga, ia mengkhawatirkan pria itu tidur dimana malam itu


"Heyyyy" Dita memetikkan jari di depan wajah Cindy "Masih pagi udah ngelamun aja Lo. Kesambet baru tau rasa"


Cindy dengan malas memangku wajahnya menggunakan telapak tangannya. Sedangkan Jeffri yang sejak tadi berbicara dengan teman sekelas lainnya pun ikut bergabung setelah mendengar ocehan Dita


"Ada apa?"


"Tuh" Dita menunjuk Cindy dengan ekor matanya "Ngelamun aja dari tadi"


"Kenapa Cin?" kini giliran Jeffri yang bertanya


Cindy menggeleng "Ngga ada apa-apa. Duh kalian ribet banget deh. Emang gue ngga boleh ngelamun apa gimana sih?" kesalnya


"Bukannya ngga boleh o'on. Semua orang juga tau. Orang ngelamun itu pasti ada masalah. Sini cerita ke kita Lo ada masalah apa?" ujar Dita yang geram dengan sahabatnya itu


"Ditaaaa... Gue kan udah bilang ngga ada apa-apa" gerutu Cindy dengan kesal "Gue cuma lagi ngga mood aja"


Jeffri pun memberikan kode kepada Dita untuk diam. Mood Cindy sedang tidak bagus. Mau di ajak ngobrol apapun pasti akan selalu sensi bawaannya


Selama dua hari ini Cindy terus mencari keberadaan Arsya. Laki-laki itu tidak pulang ke rumah selama dua hari. Tidak juga memberinya kabar hingga membuatnya khawatir


"Cindy?" seseorang tengah memanggil nama Cindy ketika wanita itu berada di kantin bersama Dita dan juga Jeffri


"Kak Kenta?" sahut Cindy


"Boleh ngobrol sesuatu ngga?" Kenta memberi isyarat pada Cindy


"Boleh kok. Guys, gue keluar bentar yah. Mau ngobrol dulu sama Kak Kenta. Ayo kak" pamit Cindy tanpa menunggu kedua temannya menjawab


Setelah sampai di depan tangga kampus, Kenta memberika sebuah kaleng minuman kepada Cindy


"Makasih Kak" Cindy pun menerimanya "Hmm.. Jadi ada apa Kak?" tanyanya tanpa basa basi lagi


"Lo sama Arsya berantem ya?" Kenta pun langsung pada inti masalahnya


Kedua bola mata Cindy membulat sempurna. Ia tidak menjawab. Tidak tau harus mengatakan apa pada Kenta


"Apa Kak Arsya ngomong ke Kak Kenta soal kemarin itu?" batin Cindy dalam diamnya


"Arsya ngga ada ngomong apa-apa kok sama gue. Gue cuma nebak aja" tukas Kenta kembali


Cindy kembali dibuat terkejut. Malu karna pria itu ternyata tau apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Ia pun tersenyum kikuk


"Kok Kak Kenta bisa tau?" akhirnya Cindy memberanikan bertanya balik


Kenta pun tersenyum lalu duduk di samping Cindy "Selama dua hari ini. Arsya tidur di secret. Setiap ditanya kenapa ngga pulang. Dia akan menatap sinis yang bertanya. Dari situ gue bisa simpulkan. Kalau kalian pasti sedang bertengkar"


"Kak Arsya tidur di secret?" Cindy terkejut mendengar penuturan Kenta


Kenta pun mengangguk "Dan sekarang dia masih ada disana" menoleh ke arah Cindy "Lo mau kesana ngga? Bujuk dia pulang!"

__ADS_1


Cindy tersentak "Bu.... Bujuk?"


__ADS_2