
"Woooyyyy" Dita berteriak tepat di telinga Cindy ketika mereka berada di kafe tempat biasa mereka berkumpul
Selama tiga hari ini. Cindy menjadi uring-uringan. Mood-nya tidak stabil seperti biasanya. Terlebih ia sering sekali melamun hingga membuat Dita kesal dibuatnya karna tidak mendengarkannya berbicara
"Apaan sih Dit? Kenapa Lo teriak-teriak? Kan bisa ngomong baik-baik?" ketus Cindy yang menutup telinganya
Dita menjadi kesal lalu menghela napas "Apa Lo bilang? Coba sekali lagi ulangi? Ngomong baik-baik? Oh Tuhannnn!!!" geramnya dengan mengusap kasar wajahnya "Lo tau? Gue udah puluhan kali manggil Lo tau ngga? Kesal banget gue"
"Ya udah sih ngga usah marah-marah?!" malah jadi Cindy yang ikutan kesal
"Sebenarnya Lo kenapa sih? Ada masalah? Gue perhatiin tiga hari ini Lo benar-benar ngga konsen. Kalau ada apa-apa, cerita ke kita" celetuk Jeffri
"Tau nih, punya masalah sendiri sukanya dipendam-pendam" cetus Dita dengan kesal
"Berapa kali gue harus bilang? Kalau gue tuh baik-baik aja. I'm fine. Ok?" sahut Cindy yang mencoba tidak membuat teman-temannya khawatir padanya
"Kalau Lo baik-baik aja, terus selama tiga hari ini kenapa mood Lo kacau banget? Hah?" Apa Lo berantem sama Kak Arsya?" Dita mencoba mencari penyebabnya
"Please lah? Gue beneran ngga apa-apa. Dan lagian, gimana bisa gue berantem sama Kak Arsya kalau dia sendiri ngga ada disini? Dia keluar kota selama seminggu dari tiga hari yang lalu"
Penjelasan Cindy sedikit banyak membuat Dita dan Jeffri mengerti akan mood-nya yang tidak beraturan selama tiga hari ini
"Ohhhh... Pantas" Dita menepuk meja "Pantas uring-uringan terus. Ditinggal pangerannya ternyata!" ia menunjuk-nunjuk dahinya sendiri
"Apaan sih? Gaje banget" Cindy memalingkan wajahnya
"Pertandingan basket?" Jeffri menaikkan sebelah alisnya
Cindy pun mengangguk "Katanya sih ia"
Jeffri menghela napas panjang "Lo sedih ditinggal dia?" pertanyaannya membuat Cindy terkejut
"Maksud Lo apa?" Cindy sepertinya kurang suka dengan pertanyaan Jeffri
"Ngga apa-apa. Gue cuma nanya. Jadi Lo sedih ditinggal dia? Selama seminggu?" Jeffri menatap datar wajah Cindy yang sepertinya mulai tampak kesal
Cindy tampak mendesis "Gue kira Lo adalah salah satu orang yang kenal baik gue. Tapi ternyata gue keliru! Gue keliru karna gue bahkan ngga bisa memahami isi pikiran Lo itu!" ujarnya dengan tajam
Dita tampak tegang melihat keduanya seperti sedang melayangkan pertempuran "Hey... Ayolah. Pada ngapain sih? Ngga asik banget?!" ia berusaha menengahi
Cindy memalingkan wajahnya dengan napas panjang. Sementara Jeffri menatap Cindy dengan penuh penyesalan karna sudah membuat temannya itu terluka dengan perkataannya
"Gue minta maaf. Gue ngga bermaksud nanyain itu"
***
Cindy memaikan gawainya sejak tadi di atas tempat tidur kamarnya setelah menyelesaikan makan malam yang terasa agak berat untuk ia telan. Namun ia tetap harus memakannya untuk menghargai Bi Imah yang sudah susah payah membuatkannya makanan
Ting!!!
Satu notifikasi muncul dari layar tersebut. Buru-buru Cindy melihatnya. Mana tau itu adalah notifikasi dari orang yang ia tunggu-tunggu kabarnya selama seharian ini
Sebuah foto tertera disana. Arsya sepertinya tengah berada di salah satu kafe dengan caption di foto tersebut
"Hari ini menang lagi. Ini lagi di kafe merayakan kemenangan kami"
Begitulah caption di foto tersebut yang memperlihatkan Arsya memegang sebuah gelas berisi kopi dengan senyum manisnya meski hanya tersenyum tipis
__ADS_1
Kini giliran senyuman Cindy yang terbit setelah melihat dan membaca pesan tersebut. Ia segera membalasnya dengan mengetik secepat kilat
"Syukurlah. Semoga besok dan seterusnya menang lagi yah? Jangan terlalu banyak minum kopi. Nanti jantungnya jadi sakit lho? Harus makan yang banyak juga yah? Biar makin kuat mainnya"
"Ia. Hari ini baru minum segelas kopi. Setelah pulang baru makan. Lo juga jangan lupa makan yang banyak biar kuat.... Kuat nahan rindunya" terselip emoticon senyuman yang tertutup oleh tangan
Cindy langsung kegirangan membaca pesan tersebut. Ia melompat tanpa sadar di tempat tidur tersebut
"Dih? Perasaan ngga ada tuh aku bilang rindu? Kamu kali yang rindu sama aku? Malah ngebalikin fakta yang ada"
Mood Cindy seketika menjadi sangat baik setelah bertukar pesan dengan seseorang yang sudah membuat tiga harinya itu tampak uring-uringan dibuatnya. Padahal mereka setiap hari selalu bertukar pesan. Namun rasanya masih saja kurang karna tidak bisa bertemu secara langsung
"Ia sayang. Nanti lagi yah? Soalnya udah mau balik ini. Sampai jumpa" diakhiri dengan emoticon dua love di mata
Kedua mata Cindy membulat setelah melihat isi pesan tersebut. Desiran di jantungnya menjadi tidak karuan dibuat
"Sayang? Dia manggil gue sayang?" gumannya dengan tidak percaya pada apa yang dilihatnya "Aaaaaaa... Omaygaaatttt... Sumpah! Kok rasanya sesenang ini sih?" ia melompat-lompat di atas kasurnya
"Eh? Gue belum bales? Aduh. Sampai kelupaan gue" senyumannya tidak pudar sama sekali
"Ok. Hati-hati yah disana"
Hanya itu yang mampu ia ucapkan. Tidak bisa lagi mengatakan apapun karna dirinya masih dibuat terkejut dengan kata "sayang" dari Arsya padanya
***
Sudah lima hari telah berlalu. Cindy pergi ke kampus untuk mengumpulkan berkas-berkasnya setelah ujian kenaikan semester telah selesai bersama Dita juga Jeffri
Seseorang mencolek pinggul Cindy dari belakang ketika ia hendak keluar dari gedung fakultas untuk menuju kafe seperti biasanya
Cindy pun berbalik karna penasaran "Hey!!!" ia terkejut karna ternyata itu adalah Arin, adik iparnya "Apa kabar girl?" ia memeluk Arin yang juga ikut memeluknya
"Baik dong! Kok Lo ngga pernah main ke rumah sih? Mama sama Papa sering nyariin lho? Tega banget ngga nengok-nengok kami kalau Kak Arsya ngga ada" Arin tampak cemberut
"Aduh. Ia maaf. Belakang ini sibuk ngurus berkas. Lo kan tau sendiri. Pusing gue harus bolak balik kampus ngurus ini itu" sahut Cindy yang tengah merapikan tasnya
"Ia sih yang paling sibuk" terdengar seperti sindiran untuk Cindy
"Jangan gitu dong? Habis ini kalau berkas-berkas gue udah kelar, ntar gue main ke rumah. Ok?" Cindy sudah seperti membujuk anak kecil
"Beneran lho yah? Jangan bohong?" Arin sudah mulai tampak sumringah
"Beneran dong. Ntar gue main ke rumah Mama"
"Hm Hm Hm..." Dita berdehem untuk sekedar mengingatkan bahwa ada ia dan Jeffri disana
Cindy dan Arin menoleh bersamaan. Dan tidak sengaja lagi-lagi mata Arin bersitatap dengan Jeffri. Dan seperti biasa, laki-laki itu akan mengakhirinya terlebih dahulu
"Mulai deh" Cindy merangkul pundak Dita "Kalian belum sempat kenalan kan?"
"Udah tau kali. Ngapain dikenalin lagi?" Dita melongos kesal
"Tau sama kenal tuh beda. Luh mah cuma tau Arin aja. Tapi ngga kenal. Karna ngga pernah kenalan" tukas Cindy "Nih kenalin dulu"
Dita mengulurkan tangannya terlebih dahulu "Dita! Sahabat Cindy. Salam kenal"
Arin pun membalasnya "Arin. Salam kenal juga"
__ADS_1
Dita menyenggol lengan Jeffri yang diam saja hingga membuat lelaki itu mengulurkan tangannya "Jeffri" singkatnya
"Arin" dengan ragu Arin membalas jabatan tangan tersebut
"Udah. Ayo bareng kami ke kafe?" ajak Cindy pada Arin
"Hm?" Arin sedikit terkejut dengan tawaran itu. Ia takut kedua teman Cindy tidak menyukai kehadirannya
"Tenang aja. Mereka ngga keberatan kok. Ia kan?" seperti paham maksud Arin, Cindy pun berusaha meyakinkannya
"Santai ajalah. Ikut bareng kita aja kalau mau" sahut Dita
"Tuh kan. Ayo!!!" Cindy menarik tangan Arin untuk berjalan bersama
Saat hendak berjalan. Pundak Cindy kembali ditepuk oleh seseorang "Apalagi Rin?" ia mengira Arin yang menepuknya
Arin mengernyitkan keningnya "Apa? Emang gue kenapa?"
"Lo ngapain nepuk pundak gue?"
Arin merasa bingung dengan pertanyaan Cindy, pasalnya ia sejak tadi berada di samping wanita itu. Jadi untuk apa ia menepuk pundaknya?
"Lo ngga liat tangan gue Lo pegang? Gimana caranya gue bisa nepuk pundak Lo?"
"Terus siapa dong yang nepuk pundak gue kalau bukan Lo?" Cindy berbalik ke belakang dan hampir saja ia terjatuh setelah mengetahui siapa seseorang yang berada di belakangnya
"Kak Arsya?"
Senyuman lelaki itu terbit tatkala melihat Cindy yang terkejut dengan kehadirannya saat itu. Bagaimana tidak terkejut, ini baru hari kelima, Arsya sudah kembali
"Apa kabar?"
Tanpa permisi Cindy langsung memeluk Arsya untuk menumpahkan kerinduannya yang tertahan selama beberapa hari terakhir itu hingga membuat orang-orang yang berada disana terkejut melihatnya
Tapi Arsya tidak mempedulikan hal itu. Ia malah membalas pelukan Cindy dan menghiraukan bisikan orang-orang yang berada disana
"Ia ia. Tau woy. Kita cuma numpang!!! Tapi jangan disini juga dong!!!" teriak Jendris dari belakang
"Astaga teman gue" Dita melongo melihat kejadian ajaib di depan matanya itu
Sementara Jeffri tampak tidak suka melihatnya. Ia memalingkan wajahnya dengan perasaan yang bercampur aduk
"Please lah. Kasihani kami yang jomblo ini" Arin mulai melakukan dramanya
"Gila. Baru pertama kali gue ngeliat Arsya bisa sebucin ini sama cewek" seru Dika
"Magnet Cindy emang ngga ada obat" sahut Erlan
"Gue kan udah bilang. Emang Cindy yang paling terbaik buat Arsya" celetuk Kenta
"Jadi maksud Lo gue ngga baik gitu?" Jendris mulai sensi mendengarnya
"Lo baik, tapi bukan yang terbaik buat Cindy" cetus Dino lalu tertawa diikuti yang lainnya
"Sialan emang Lo" Jendris melempar jaketnya ke wajah Dino
...SEMOGA TETAP SUKA YAH. JANGAN LUPA LIKE, KOMEN POSITIF, DAN BERI DUKUNGANNYA YAH....
__ADS_1
...SEKIAN TERIMA CUAN 😍...