
Disore hari tepat disisi pantai ada dua orang sepasang kekasih sedang berjalan beriringan. Hanessa memperhatikan mereka, kadang ia tersenyum bodoh. Seakan-akan mengingat sesuatu yang membuat hatinya geli.
Ternyata dari jauh Prio memperhatikannya dan pelan-pelan mendekati Hanessa.
"Udaranya sangat sejuk." ucapnya mengagetkan lamunan Hanessa.
Dia langsung memalingkan mukanya dan menatap Prio.
"Prio, sejak kapan disini?" tanyanya heran
"Barusan. Aku melihat seseorang yang sedang melamun makanya hatiku tak kuat melihatnya." ujarnya buat Hanassa tertawa.
"Hahahaaa...kamu bisa aja." ucap Hanessa sambil melayangkan pandangannya didasar laut.
"Heheee...kamu kenapa sih? Kok akhir-akhir ini lebih banyak melamun.?" tanya Prio penasaran. Tapi Hanessa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Prio sudah mulai malam. Aku duluan ya?!" ucap Hanessa beranjak pergi tapi ditahan oleh Prio.
"Kita pulang sama-sama." ujarnya. Sambil pegang tangan Hanessa, Prio membawanya ditempat parkiran dan memberikan helm pada Hanessa.
"Nih, pakai biar aman." ucap Prio sambil menyalain motornya. Hanessa tersenyum menerimanya. Kemudiam motor mereka melaju.
__ADS_1
Seperti biasa, Hanessa turun sebelum melewati tempat telpon umum. Dia singgah sebentar dan mengetik nomor Kezra. Dia mencoba berulang-ulang menelpon Kezra tapi tidak ada jawaban. Kezra sengaja tidak mau mengangkatnya, dia takut Hanessa kecewa dan studynya berantakan gara-gara dirinya. Tapi saat Hanessa mau menutupnya, Kezra baru mengangkatnya.
"Halo.....!!"
"halo.....!!" ucap Hanessa dengan senang tapi Kezra masih terdiam.
"Kamu marah ya?" lanjutnya sedih
"Maafin aku ya, beberapa bulan terakhir ini aku sibuk. Tugasku menumpuk sampai aku lupa segalanya." tak terasa airmatanya jatuh. Kezra dengarkan isak tangisnya. Diapun ikut menangis dibalik hp.
"Apa kamu tidak mencintaiku lagi?" tanya Hanessa pedih. Ingin rasanya Kezra datang menyusulnya dan memeluknya.
"Aku sangat mencintaimu." ucap Kezra.
Tinggal dua semester lagi, Hanessa menyelesaikan studynya dia tidak sabar bertemu kekasih hatinya yang selalu dia rindukan. Hanessa sengaja tidak mau memberitahu Kezra kalau dia hanya satu tahun lagi menyelesaikan studynya. Dia ingin beri kejutan kepada Kezra.
"Aku juga sangat mencintaimu." balas Hanessa. Kezra sangat terpukul tentang perjodohan yang orangtuanya ajukan. Dia tidak tega melihat Hanessa sedih dan kecewa. Ia mengundurkan niatnya untuk memberitahu.
"Aku sangat merindukanmu Hanessa." ucap Kezra.
"Aku juga sangat merindukanmu." balasnya.
__ADS_1
"Kamu tau, setiap malam aku selalu membayangkan berada dekatmu." lanjut Hanessa. Kezra tersenyum mendengarnya.
"Hanessa, apa aku boleh bertanya?" ujar Kezra.
"Hmm, apa yang mau ditanyakan?" jawabnya penasaran
"Kalau aku tidak setia denganmu, apa yang akan kamu lakukan?"
"Akan kubunuh dirimu." jawab Hanessa bercanda. Kezra terkekeh mendengarnya tapi hatinya sangat perih. Karena Kezra tidak bercanda, dia serius.
"Apa kamu yakin akan membunuhku?" tanyanya lagi sambil tersenyum pahit
"Apa kamu akan meninggalkanku?" Hanessa balik bertanya. Matanya mulai berkaca-kaca. Kezra tau pasti Hanessa akan menangis lagi.
"Aku sungguh mencintaimu sampai kapanpun." ucap Kezra tanpa memberikan jawaban kalau dia benar akan meninggalkannya.
Hanessa menutup telponnya.
Lalu berjalan menuju asrama. Dia langsung masuk kamarnya. Menumpahkan rasa kekecewaannya. Pertanyaan Kezra masih terngiang-ngiang ditelinganya. Dia mengambil foto Kezra bersama dirinya.
"Kez...aku sangat merindukanmu." gumamnya.
__ADS_1
"Aku tau, kamu pasti setia menungguku satu tahun lagi." lanjutnya sambil tersenyum. Hanessa percaya sama Kezra, kalau pertanyaannya tadi hanya bercanda. Kezra tidak mungkin meninggalkannya karena dia tau Kezra sangat mencintainya.
Bersambung...