
Ditengah perjalanan hujan kembali turun. Tidak ada tempat peneduhan. Terpaksa Prio bawa Hanessa hujan-hujan Hanessa pun setuju pulang hujan-hujanan.
Sesampai di asrama Putri sudah lama menunggu, Asri pun belum pulang di kostnya. Dia sengaja menunggu dan memastikan Prio dan Hanessa sampai dengan selamat karena hujan.
Putri menunggu didepan Asrama. Saat mendengar motor dia berlari digerbang dengan membawa payung dia melihat Hanessa dan Prio sudah basah kuyup.
"Put, ngapain disini?" tanya Prio
"Gue menunggu loe sama Hanessa."
"Ya sudah sana balik, nanti kamu basah lagi." ujar Prio sambil berlari. Hanessa pun ikut berlari.
Terpaksa Putri pun balik pakai payung sendiri.
"Ya sudah tunggu disitu, gue ambilin loe handuk." ujar Putri pada Prio. Hanessa sudah masuk duluan. Dia minta Asri yang bantuin dia untuk ambilkan handuknya.
"Put, tidak usah. Gue langsung pulang aja." ucap Prio menolak.
"Tapi masih hujan, nanti kamu masuk angin dan sakit." ujar Putri perhatian.
"Nggak apa-apa, justru itu nanti semakin malam dan hujannya semakin deras tak berhenti-henti. Trus gue tidur dimana?" tanyanya, Putri berpikir sejenak.
"Ya udah deh, tapi hati-hati ya? Kabari gue kalau sudah sampai." manja Putri pada Prio. Prio mengangguk trus berjalan pulang naik motornya.
Putri masuk di kamarnya Hanessa sendiri.
"Loh, Prio mana?" tanya Hanessa
"Sudah pulang." jawab Putri sedih.
__ADS_1
"What? Prio sudah pulang?" ujar Asri kaget. Putri mengangguk pelan.
"Yeaaahhh,,kok Prio nggak ngajak sih." lanjutnya cemberut.
"Ya sudah, besok pagi baru kamu pulang." ujar Hanessa.
"Kok loe sama Prio lambat banget sih?" tanya Asri
"Tadi tiba-tiba ban motornya Prio bocor. Untung aja deket bengkel. Jadi, kita kebengkel dulu." jelas Hanessa.
"Kenapa nggak bell gue?" timpal Putri.
"Prio kan sudah ngebell nomor kalian berdua. Prio bilang nggak aktif." jelasnya lagi.
"Ah, masa sih?" ujar Putri tak percaya.
"Oh, mungkin pas kebetulan ditempat yang nggak ada sinyal kali." ujar Asri menimpali.
***
Hanessa mengambil kertas yang diberikan Hanari. Dia mengetik nomor Hpnya dan memiscall nomornya.
"Halo..." jawab Hanari di balik hp nya.
"Helo, Hanari. Ini Hanessa." ujarnya.
"Oh iya Hanessa, terima kasih sudah menelponku." ucap Hanari.
Lalu mematikan telponnya.
__ADS_1
"Nelpon siapa Nes?" tanya Asri
"Hanari. Orang yang bertemuku dikamar kecil tadi." jawab Hanessa.
"Gue tidur disini ya Han?" ujar Putri.
"Iya Put, tidur aja."
Akhirnya mereka bertiga tidur dikamar Hanessa. Saking capeknya, mereka langsung terlelap tidur.
***
"Kez...kok kamu diam aja sih dari tadi?" tanya Hanari pada suaminya.
Kezra tidak menjawab, malah meninggalkan Hanari sendiri.
Tapi beberapa menit kemudian, Hanaripun masuk dikamar, dia melihat Kezra sudah berbaring di ranjangnya. Hanari pun menyusulnya. Dia memeluk Kezra yang pura-pura tidur.
Dia mengelus kepala Kezra dengan lembut.
"Kez, tadi mama nelpon. Dia sangat merindukanmu." ujar Hanari. Kemudian membelakangi Kezra, tak terasa airmatanya jatuh.
Hati Hanari sebenarnya tertekan, dia hanya mencoba tegar supaya tidak terlihat lemah. Dia tahu, Kezra tidak mencintainya. Dia hanya terpaksa karena orangtua.
Tapi kenapa Kezra memilih dia untuk menjadi istrinya? Kenapa dia tidak menolak dijodohkan bahkan mau dipaksakan untuk menikah?
Itu yang ada dalam pikiran Hanari. Dia hanya bisa sabar, mungkin hanya itulah takdir yang Tuhan berikan terhadap hidupnya.
Kezra membuka matanya lalu memutar badannya menghadap Hanari yang membelakanginya juga. Walaupun Hanari tidak menunjukkan kesedihannya pada Kezra tapi Kezra mengetahui hati Hanari betapa hancurnya diperlakukan dengan tidak baik. Perlahan-lahan Kezra membuka hatinya untuk Hanari. Dia mencoba memeluknya dari belakang tapi Hanari tidak merespon.
__ADS_1
Bersambung...