
Saat mereka sedang berjalan 100 meter dari tempat mereka bersantai. Mereka menepati tempat dimana Kezra berdiri dan menatap lautan yang berombak. Tetapi saat mereka tiba, Kezra pun sudah pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh kekanan dan kekiri.
Hanessa berdiri tepat dimana Kezra tadi berdiri menatap ujung laut. Hanessa tersenyum seakan-akan pikirannya tenang. Dia mengambil buku khususnya dan membukanya kembali.
Kezra
"Nessa, aku ingin menemuimu dipantai. Tapi aku tidak tahu dimana kamu berada.
Aku ingin kabur dari rumah, tapi aku tak berdaya. Dimana aku akan mencarimu?
Apa kamu di Bandung sudah melupakan aku? Kamu sudah mengetahui aku bukan? Kalau aku mengkhianati cintamu?
Maafkan aku Hanessa orangtuaku takut, kamu mengecewakanku. Makanya mereka memaksaku menikah karena umur mereka yang sudah tua. Dan mereka takut aku merasakan kecewa yang dalam.
Kamu tidak pernah menghubungiku aku merasa kamu melupakanku.
Tapi kini aku mengetahui hatimu Hanessa. Dan jujur aku juga sangat mencintaimu..."
Prakkkkk...buku khusus Hanessa jatuh ke air.
"Maaf mbak, saya tidak sengaja!" ujar seseorang yang menabrak Hanessa. Orang itu pun segera mengambil buku Hanessa yang jatuh dan basah, dia segera mengambil tissu dan mengelapnya.
"Ah mbak, nggak apa-apa kok." ujar Hanessa sambil mengambil bukunya. Semua tulisannya memudar dan sebagian tulisan tidak dapat dibaca. Hati Hanessa sangat kecewa tapi dia tidak menunjukkannya.
"Mbak saya benar-benar minta maaf. Saya tidak melihat mbak berdiri disini." ujarnya. Hanessa tersenyum pada orang itu.
"Nggak apa-apa mbak." ujar Hanessa lembut. Orang itu pun tersenyum balik.
__ADS_1
"Makasih ya mbak." ucapnya.
"Kenalin mbak namaku Hanari." ujarnya sambil mengulurkan tangannya. Hanessa pun menyambutnya.
"Hanessa." ujarnya.
"Mbak Hanessa sendiri disini?" tanyanya sok akrab. Hanessa menggelengkan kepala.
"Aku bareng teman-temanku." jawab Hanessa.
"Kamu sendiri?" ujar Hanessa balik bertanya.
"Aku dengan suamiku, tapi aku tidak tahu dia dimana sekarang. Makanya aku mencarinya." jawabnya prihatin. Hanessa merasa kasihan.
"Kalau gitu biar aku temani cari suamimu ya?" ujar Hanessa mencoba untuk membantunya. Tapi dia menolaknya.
"Lagian rumah kami tidak jauh dari sini kok." lanjutnya menerangkan. Hanessa tersenyum dan mengangguk aja.
"Kalau gitu, aku permisi dulu ya mbak. Kalau mbak mau, mampir aja dirumahku ya!" ujar Hanari sambil memberikan kartu alamat rumahnya dan berlalu pergi meninggalkan Hanessa sendiri.
Hanessa menatapnya dan melambaikan tangan. Kemudian beralih melihat kartu yang diberikan Hanari untuknya.
***
"Hanessaaaa!" teriak Asri. Hanessa menoleh mereka bertiga yang berdiri berjejer seperti petugas yang siap mau membawakan bendera merah putih untuk berkibar.
Hanessa pun berjalan menuju mereka. Ternyata dari jauh Hanari sudah terlihat bersama suaminya.
__ADS_1
Hanessa memandangnya tapi tidak pernah berpikir kalau suami Hanari adalah Kezra.
"Hai..." sapa Hanessa pada sahabat-sahabatnya.
Asri menarik tangan Hanessa, untuk berjalan didepan Prio dan Putri. Hanessa merasa aneh, seperti ada sesuatu yang terjadi pikirnya.
Tebakan pikiran Hanessa benar. Prio dan Putri sudah pacaran. Prio memegang tangan Putri dengan erat dan mereka pun berjalan berdampingan dengan mesranya. Hanessa dan Asri pura-pura mencari minuman supaya tidak mengganggu mereka yang lagi berbunga-bunga cinta.
"Asri aku haus nih, kita cari minuman dulu yuk." ajak Hanessa. Asri melirik Prio dan Putri.
"Yuk, tenggorokan gue juga sudah kering nih." ujar Asri. Merekapun memisahkan diri dari Prio dan Putri.
"Han, gue mau beli es kelapa disana. Loe ikut nggak?" tanya Asri sambil menunjuk kantin yang menjual es kelapa.
"Nggak As, aku beli le mineral aja disitu." tunjuk Hanessa sambil berjalan beli air putih.
"Ok deh, tungguin gue disini ya." ujar Asri sambil berjalan.
"Wah, ganteng banget. Manis dan sederhana lagi!" gumam hati Asri saat melihat cowok keren didepannya yang sedang menunggu es kelapanya juga.
"Cari apa mbak?" kata tukang penjualnya ngagetin Asri.
"Eh iya, beli es kelapa pak. Campur gula dikit ya." pintanya.
"Ni mas es nya." kata penjual es kelapa itu pada Kezra. Asri menatapnya bahkan sampai mereka jauh.
"Itu istrinya apa adik nya ya!" gumam Asri dalam hati. Dia merasa iri, cowok ganteng dan dewasa kok berpasangan dengan orang yang tidak sesuai pikirnya.
__ADS_1
Bersambung...