
"Lama banget Han dikamar kecilnya, ngantre ya?" tanya Asri
"Nggak, tadi aku ketemu sama cewek yang nabrak aku kepantai kemarin. Jadi aku ngobrol dulu sama dia." jawab Hanessa menjelaskan.
"Oh, padahal tadi aku mau kasih tahu loe cowok yang gue ceritain itu. Tadi dia ada duduk disebelah kita." tunjuk Asri pada kursi di belakang mereka.
"Tapi sekarang dia sudah pergi." lanjutnya kecewa.
"Oh, maaf deh kalau gitu. Tadi dia sama istrinya tidak?" tanya Hanessa. Asri menggelengkan kepalanya.
"Tadi dia sendiri aja, yang gue lihat." ujarnya
"Jangan - jangan dia masih lajang." lanjut Asri semangat.
"Kalian cerita apaan sih?" tanya Putri penasaran. Prio diam aja.
"Pandangan pertama Asri." gurau Hanessa, sambil mencolek Asri.
"Ih apaan sih Hanessa, malu-maluin deh." muka Asri merah menahan malu. Hanessapun merangkulnya.
"Nggak apa-apa, kita kan sahabat. Jangan marah dong." sambung Hanessa lagi.
"Hmmm..." Prio pura-pura berdehem. Semua melihat padanya.
"Ayo, cepat makannya. Keburu hujan nanti." ujar Prio.
Semuanya pada nurut, menghabiskan makanannya masing-masing dengan cepat. Namun mereka istirahat sejenak karena baru selesai makan.
***
__ADS_1
Cuaca mulai gelap, tanda-tanda mau hujan sudah tercium. Rintik-rintik hujan mulai jatuh.
"Put, loe bisa nggak bawa motor gue biar gantian gitu, nanti biar Hanessa sama Prio boncengan dulu." pinta Asri karena sudah merasa kelelahan bawa motor.
"Boleh" jawab Putri.
"Ya sudah Han, loe sama Prio aja. Biar gue sama Asri gantian bawa motornya." sambung Putri.
"Nggak apa-apa?" tanya Hanessa takut Putri cemburu.
"Iya Han, nggak apa-apa kok. kasihan Asri kecapean bawa motor." jawab Putri sambil pakai helm dan naik diatas motor Asri.
"Ayo As" ajaknya, karena lihat langit yang mulai mendung dan geremis mengundang mulai turun.
"Oke" sahut Asri sambil naik. Merekapun berjalan duluan dari Prio dan Hanessa.
"Yuk Han, naik!" ajak Prio. Hanessa pun naik dimotornya. Prio sengaja bawa motornya sedikit laju supaya Hanessa bisa pegangan dibelakangnya.
"Nessa..." panggil Prio
"Hummm..." sahut Hanessa sambil melihatnya.
"Gimana sekarang perasaanmu, apa kamu sudah move on?" katanya mengalihkan apa yang ada dalam pikirannya. Hanessa tersenyum.
"Sebenarnya tidak mudah untuk move on dari orang yang kita sayang Prio. Tapi, kehadiran kalian bertiga mampu menghapuskan kesedihanku." jujurnya. Hanessa melamun menatap hujan, pikirannya terganggu oleh pertanyaan Prio.
Prio memperhatikan Hanessa dari belakang, ingin rasanya dia mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya. Bukan Putri sebenarnya yang ada dihati Prio tapi Hanessa.
"Nessa..." panggilnya lagi. Hanessa pun menolehnya tapi tiba-tiba hp Prio berdering.
__ADS_1
Tringgg...triingg....
Putri menelponnya.
"Siapa Pri?" tanya Hanessa.
"Putri memanggil."
"Ya sudah, angkat cepat. Tanya mereka sudah dimana sekarang." desak Hanessa pada Prio. Sedari tadi mereka memang belum kasih kabar pada mereka.
"Halo..." jawab Prio.
"Sayang kalian sudah dimana?" tanya Putri.
"Kami lagi berhenti dikios kosong karena hujan. Kalian dimana?" ujar Prio nanya balik.
"Kami hampir sampai." ujarnya
"Ya sudah hati-hati." pesan Prio Lalu mematikan telponnya.
"Mereka hampir sampai." ujar Prio kasih tahu tanpa ditanya sambil merasakan hujan sudah berhenti atau belum.
Prio pun lap motornya yang basah.
"Yuk Nes, sudah tidak hujan." ajak Prio pada Nessa yang masih duduk dikursi kios.
Hanessa pun berjalan menujunya dan naik dimotor.
Sebenarnya Prio ingin lebih lama dengan Hanessa walaupun Putri sudah menjadi kekasihnya tapi dihatinya tetap ada Hanessa.
__ADS_1
Bersambung...