
Rayhan menarik nafas panjang, menghembuskannya dengan kasar. Kemudian mengacak-acak rambutnya dengan perasaan penuh frustasi. Hanya gadis inilah yang sanggup membuatnya seperti ini. Sementara Nilam, setelah menyelesaikan seluruh kalimat-kalimatnya kembali melangkah melanjutkan perjalanan pulang. Meninggalkan Rayhan yang masih frustasi dan kesal pada dirinya sendiri. Hingga kemudian ....
" Nilam..." serunya. " Ini... kau baca semuanya ". Sebuah agenda berwarna cokelat tua dipaksakan oleh Rayhan untuk diterima Nilam. " Kartu matiku... sudah kuserahkan padamu. Jika setelah ini... aku yang salah ... aah bacalah !!! Selanjutnya terserah padamu "
Nilam terpekur sambil memegang benda itu. Sementara Rayhan berlari mendahuluinya, meninggalkannya. Nilam tersadar saat suara guntur dikejauhan mulai terdengar. Dan iapun bergegas mempercepat langkahnya menuju halte. Sore itu tiba-tiba saja menggelap dan kelabu.
*******
........
Diklat LDK ...
Namanya Nilam Ardya Prameswari, gadis yang tadi nyaris menabrakku. Oohh... baru tau'' ada anak imut-imut yang ikutan baris berbaris. Apa sih kemampuannya, seperti kekurangan orang saja sekolah ini..... (catatan harian Rayhan*)
Nilam tersenyum smirk membaca tulisan-tulisan tangan Rayhan. Malam itu selepas Maghrib dikamarnya yang hangat. Nilam duduk didepan meja belajarnya menekuri lembar demi lembar catatan seorang Rayhan. Agenda yang diberikan Rayhan padanya sore tadi. Diberikan dengan paksa.
Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Rayhan Ananta Zachary. Putra dokter Abdul Kamal Zachary, salah seorang dokter spesialis obgyn yang terkenal di kota ini. Ketenaran nama besar sang ayah dan wajah tampan serta postur gagah menjulang sang putra, membuat Rayhan mudah untuk dikenali. Dan Nilam adalah bagian dari sekelompok gadis-gadis yang memiih diam dan menutupi rasa tertariknya pada sang idola.
Beruntungnya Nilam adalah karena ia berteman baik dengan sebagian gadis-gadis cantik nan populer di sekolahnya. Hingga akhirnya iapun bisa sedikit bercakap-cakap dengan Rayhan. Dan itu dimulai saat keduanya tergabung dalam satu kelompok di kegiatan diklat Latihan Dasar Kepemimpinan yang diselenggarakan sekolah untuk pengurus OSIS yang baru saja dilantik.
Nilam mempunyai kemampuan berbicara dengan bahasa Inggris dan Mandarin diatas rata-rata teman sebayanya. Karena keluarga dari ibunya banyak yang tinggal di Singapura. Ditambah dengan pengalamannya menjadi penyiar remaja di sebuah stasiun radio swasta, membuat gadis itu sukses menyelamatkan kelompoknya dari nilai nol pos kesenian.
....** (catatan Rayhan)....
Lumayan juga nih cewek... salah aku sudah underestimate padanya. Tapi sungguh... kesehariannya sangat berbeda dengan gayanya ketika siaran. Bunglon girl....
.................
Aldo jadian ..... sama Nilam. Speechless......
................
Seandainya boleh jujur..... aku menikmati masa pacaran Aldo yang ini. Ada banyak bekal gratis untuk ku....... hehehehe....
..............
Maafkan aku sobat...... aku sudah gila.
............
Maafkan aku lagi sobat..... kucuri waktumu bersama kekasih mu. Tapi aku tak berniat mencuri hatinya.
...........
Tapi kenapa hatiku terasa perih ... saat kau menarik tangan nya. Betapa inginnya kulepas dia dari keegoisan mu.... tapi aku ini siapa?
...........
Satu-satunya gadis yang hanya tersenyum saat ku akhiri ceritaku. Dia tidak menunjukkan rasa iba yang berlebihan .... apalagi perhatian yang dibuat-buat. Tapi aku menantikan sekotak bekalnya.... Entah mengapa aku bersemangat melihat kehadirannya. Walau dia datang tidak untuk ku. Biarlah aku berangan-angan..... senyumnya itu untuk ku. Dia gadis mu..... tapi aku, merindukannya. Maafkan aku Aldo.
........
Apa hak ku? aku hanya temannya. Tapi aku tidak suka kau diboncengan motor Aldo. Kau tau' ...... semalam dia bersama si sok imut Mawar. Aaah..... aku benci dengan diriku sendiri.
.........
Fix... malam ini aku harus ke rumahmu. Satu minggu itu terlalu menyiksa. Pak guru...... klo tidak usah liburan semesteran saja bagaimana??? aku rindu Nilam -ku*.
Nilam merasakan dadanya merekah membaca setiap tulisan-tulisan di buku itu. Terkadang senyumnya merekah, pipinya merona bahkan sesekali keningnya berkerut. Hingga iapun sampai pada bagian terakhir dari tulisan di buku itu
..........
Aku Menciumnya. Bodoh...... Gila.... aaahhh sudah kepalang basah. Fix.... I love her.
Nilam tertegun sambil menggenggam erat pinggiran meja belajarnya.
Bayangan Rayhan yang melesat cepat men_drible bola basket seraya melempar senyum, saat ini barulah disadarinya kalau senyum itu untuknya. Juga saat Rayhan dengan sengaja meminta ganti jadwal tambahan les privat nya..... itu juga agar dapat bersamanya.
Nilam tersenyum tipis.... menunduk malu. Tapi hatinya bahagia dan berbunga-bunga. Hingga ia dikejutkan oleh suara ketukan dipintu kamarnya.
__ADS_1
" Mbak ....ada Rayhan di depan ", suara ibunya
" Ya Mih ... ", jawabnya cepat.
Tergesa Nilam mengganti celana pendek yang di kenakannya dengan jeans biru panjang. Bahkan iapun mengganti t-shirt nya dengan atasan pink berpita manis dibagian pinggang. Menyemprotkan sedikit cologne beraroma manis dan lembutnya bunga apel ke leher jenjangnya. Seraya melangkah keluar kamar, dilepaskannya kunciran ekor kuda rambutnya. Tampaklah seorang gadis mungil dengan rambut tergerai.
Di teras rumah, dimana Rayhan menunggu dengan sedikit cemas.... ia terpana. Mungkin ini adalah salah satu pemandangan terindah di dunia. Ketika semua kontras itu nampak begitu mempesona. Sawo matang yang mendominasi berpadu dengan manik keabu-abuan cemerlang. Wajah manis yang terbingkai dengan sepasang alis hitam melengkung sempurna. Belum lagi pilihan warna yang dikenakan..... biru gelap dengan lembutnya merah muda. Seandainya saja sang gadis mau tersenyum. Aahh.... Rayhan menghapus harapannya. Ini saja sudah sangat berlebih untuk kunikmati.
Mereka duduk berseberangan, terbatasi oleh meja berhias vas bunga dengan esters merah dan ungu serta daun palem yang tersaji cantik. Hening sesaat, saling tenggelam dalam kegelisahan masing-masing. Rayhan seolah kehabisan seluruh kosa kata tengilnya, yang selama ini sukses membuat Nilam sedikit merajuk dengan gaya yang menggemaskan. Sementara Nilam, sibuk menata hatinya.... diam menunggu dan menahan diri.
Hingga kemudian.....
" Ada apa ?"
" Aku mau... "
Keduanya memulai bersamaan, sesaat terhenti lalu terdengar kekeh kecil dari keduanya.
" Okey.... lady first ", ucap Rayhan kemudian.
" No.... bukan karena seorang wanita. Tapi karena aku tuan rumah ", sanggah Nilam taktis. Rayhan tersenyum, mengangkat kedua bahunya, menyampaikan persetujuannya.
" Ada apa kau kemari ", tanya Nilam pada akhirnya. Tak segera menjawab... Rayhan terlebih dahulu menarik nafas, menghembuskannya perlahan, lalu menatap Nilam.
" Temani aku ke Gramedia.... sekarang "
" Sepenting apa ? "
" Skala 1 sampai 10...... ini 8. Tapi menyangkut hidup & mati seorang anak "
Pfffttt.... Nilam menahan tawanya mendengar jawaban Rayhan.
" Ijin dulu sama mamih ku ..."
" Sudah.... tadi "
" Se' Pe_De itu?? bagaimana kalau aku tidak mau "
" Pasti mau.... ayo berangkat ". Rayhan berdiri dan berjalan melewati Nilam, lalu berdiri diambang pintu dan bersuara agak keras sambil mengetuk-ngetuk.
" Ya... hati-hati, nggak usah ngebut. Sekalian jemput Wildan ditempat les jam sembilan lima belas .... jangan lupa ", suara ibunya Nilam dari ruang tengah yang masih disibukan persiapan bahan untuk pesanan kuenya.
Saat keduanya sudah berada didalam mobil yang mulai melaju perlahan. Nilam tiba-tiba saja tidak kuasa untuk menahan rasa gemasnya pada sikap Rayhan.
" Efektif .... caramu licin sekali. Bagaimana bisa menggunakan Wildan sebagai alasan "
" Hei.... Wildan hanya katalisator, reaktornya tetep cari buku buat referensi tugas Biologi ", Rayhan terkekeh.
" Tapi .... kau juga sudah siap dengan baju cantik mu. Sejak kapan jadi cenayang? ".
Nilam mendelik, namun rona merah muda dipipi yang tiba-tiba tersemburat tidak mampu tertutupi. Keusilan Rayhan telah kembali. Gadis itu tersipu namun berusaha cemberut dan membuang pandangannya lewat jendela.
" Sudah dibaca sampai selesai ? ", tanya Rayhan kemudian.
Nilam mengangguk.... tanpa bersuara.
" Dariiii .... awal ... sampai akhiiiiiiiir ??? "
Nilam mengangguk lagi.
" Dari awaaaal.... sampai akhiiiir ", jawab gadis itu membeo pada akhirnya, diiringi senyum tertahannya.
" So...... ", Rayhan menggantung kalimatnya.
" So .... what ??? ", Nilam menoleh menatap pemuda disampingnya.
" Kita ..... bukan teman lagi. Tapi teman dekaaaaaaaaaaaat ". Rayhan berkata sambil pundak dan wajah nya pada Nilam.
Satu gerakan tangan Nilam mendorong wajah Rayhan yang mengganggunya dengan senyum usil menggoda. Memposisikan pemuda itu kembali tepat di belakang setir mobilnya. Lalu meninju lengan kekarnya dengan lembut.
" Sejak kapan ? ", tanya Nilam kemudian.
" Apanya ? "
__ADS_1
" Kau berniat menjadi saingan Aldo... "
" Huaha... ha.. ha..ha ", Rayhan tertawa spontan.
" Sejak selalu ada susu kotak dan kue yang enak untuk ku ", jawabnya kemudian.
" Ishh.... murahnya dirimu ".
" Huaha... ha... ha... ha... ", dan tawa Rayhan semakin pecah.Inilah yang disukainya dari gadis ini. Pilihan kalimat yang luar biasa.
" Sejak langit.... tetap merengkuh sang Elang yang terbang melayang, dan menaunginya ketika lelah menerpa.... "
............** Flashback ... pada malam sejuta bintang dalam badai Gemini**......
Rayhan baru saja menutup telpon rumahnya. Ia berlari menuruni tangga menuju garasi rumahnya. Wajah frustasinya tak tertutupi. Besok pagi... tugas Biologinya harus selesai dikumpulkan jam pelajaran ke empat. Bagaimana ini, ia masih terus memutar otak untuk menyelesaikan deadline yang kurang dari sepuluh jam, dengan konsekuensi .... tidak tidur.
Dalam kalut dan frustasi, pemuda itu mengendarai motornya. Hingga ia telah tiba di rumah Nilam. Sesaat setelah ia turun dari motor, pada saat itu pula pintu rumah terbuka. Terlihat Nilam, ibu dan adiknya telah berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi.
" Selamat malam ibu, Nilam maaf... pinjam buku catatan biologi yang ada praktikum Jumat kemarin ", sergahnya cepat. " Aku lupa tugasnya .... ", mohonnya lagi.
" Looh...", Nilam sedikit ternganga. Namun saat Rayhan membuat tanda dengan kedua telapak tangannya.... ku mohon. Gadis itu tanpa bicara segera masuk kembali kedalam rumahnya. Meninggalkan Rayhan yang berdiri canggung menunggu.
" Ini... Jangan lupa bawa dua-duanya besok", kata Nilam sambil menyodorkan. " Batal dong liat gemini shower metor nya.... ", ledek Nilam
" Next time....with you. Hujan meteor bu Arin lebih dahsyat kalo' tugasku nggak selesai "
Dan malam itu hingga pukul dua dinihari, Rayhan akhirnya berhasil menyelesaikan tugas berat tentang kehidupan hayati. Sesaat setelah mematikan monitor komputernya, segera berdiri. Namun dengan tidak sengaja, kaki panjangnya membentur pinggiran meja dan .... brugh! menjatuhkan buku catatan yang dipinjamnya dari Nilam.
Diraihnya dengan gontai karena kantuk dan lelah yang sudah menguasainya. Benda itu justru terjungkir balik dilantai kamar. Rayhan mendengus kesal. Saat ia mengambilnya kembali, pandangannya terpaku pada sebuah sesuatu berwarna putih sedikit mengkilat. Diraihnya benda itu, ternyata selembar foto yang halaman belakangnya penuh dengan tulisan.
.............
****Merengkuh Sang Elang
Jika engkau lelah, datanglah pada senja kala
Biarlah senja semerah saga ini yang menemani kepak sayapmu.
Jika engkau bersedih, adukan pada cakrawala yang berbatas dengan langitku.
Biarlah kusesap sedihmu. dengan luasan tak terbatas.
Hingga esok hari saat mentari bersinar
Terbanglah kembali dengan gagah
Buat aku selalu terpesona, biarkan aku selalu menantimu.
Biarkan langitku merengkuhmu
Dalam senyapnya cinta yang membisu rindu .
**...............................
Kembali pada Rayhan dan Nilam
Hati gadis itu berdesir. Sementara Rayhan sudah memasuki area parkir toko buku. Memilih tempat untuk kereta besinya, memarkir nya rapi. Sesaat setelah mematikan mesin, pemuda itu buru-buru keluar dan melangkah tergesa ke sisi lain dimana Nilam baru saja hendak keluar dari kendaraan itu.
Buru-buru menahan sang gadis untuk tidak turun, dengan membuka pintu dan menghalanginya. Nilam terpaku ditempat duduknya. Berusaha menahan tikaman tajam sepasang mata kelam Rayhan.
" Kamu pasti mencari-cari foto itu ..... masih ada padaku "
Nilam tak menjawab, ia tetap terdiam dengan sedikit gelisah. Ia ingat betul kebingungannya mencari-cari foto Rayhan, Aldo, Arlina, Yudhi dan Stella.... yang bergambar bersama dalam seragam basket mereka. Rayhan mengenakan band kapten warna merah di lengan kanan yang bergambar elang dgn corak keemasan. Sang Elang.....
" Aku sukaaaa..... puisinya. Tapi aku lebih suka yang buat puisi ", Rayhan tersenyum menawan.
Satu gerakan Rayhan menyelipkan anak rambut Nilam ditelinga kanan gadis itu. Begitu tiba-tiba hingga membuat Nilam terperanjat.
" Tetaplah jadi langit sang elang..... ". Rayhan membelai pipi gadis itu dengan dua jemarinya.
" Rey....... ", lirih Nilam mengucapkannya.
" Jangan ada yang tau'..... biar hanya Elang dan langitnya yang mengerti ", pinta Nilam lirih namun menyentak perasaan Rayhan
__ADS_1
" Ya.... elang, langit dan Tuhannya.... yang tahu ", balas Rayhan kemudian.
Dan malam itu diakhiri kembali dengan kecupan hangat dari Rayhan di pipi kiri Nilam. Membuat gadis itu tersipu terlebih saat Rayhan berbisik lembut ....... I love you.