
*Dan lihatlah
Dirimu bagai bunga
Di musim semi
Yang tersenyum
Menatap indahnya dunia
Yang seiring menyambut
Walau badai menghadang
Ingatlah kukan selalu
Setia menjagamu
Berdua kita lewati jalan
Yang berliku tajam
Resah*…
Malam itu begitu sempurna ..... setidaknya demikian pikiran sebagian orang. Acara PenSi ditutup dengan lagu *selamat ulang tahun *_ nya Band Zamrud. Pukul sembilan malam lewat tiga belas menit tepat, seluruh rangkaian acara berakhir. Dan sempurna nya lagi ..... ditutup dengan hujan gerimis.
" Langsung pulang saja.... sepertinya akan jadi gerimis besar. Besok kita beresi bersama-sama", instruksi pak Wahyudi sang wali kelas.
__ADS_1
" Siaaaaap pak", jawab anak-anak kompak.
Dan benar saja, gerimis kecil itupun berubah menjadi gerimis besar. Kata orang, kalau hujan seperti ini akan awet durasinya dan luas paparannnya. Tapi anak-anak muda yang menjadi panitia acara malam itu seperti tak menghiraukan hujan. Mereka masih sibuk berlalu-lalang menyelamatkan perlengkapan panggung. Canda tawa dan wajah puas mereka seolah mengalahkan air hujan gerimis yang mulai membasahi rambut dan baju mereka.
Di depan kelasnya, Nilam masih duduk menunggu Nana untuk pulang bersama. Setelah lama yang ditunggunya tak kunjung muncul, iapun menuju kelas Nana. Bertanya pada beberapa anak yang ditemuinya, hingga akhirnya dia bertemu Shinta.
" Nana tadi pulang diantar Agung....maaf aku lupa, dia memintaku mengatakan padamu. Maaf ya Nilam.... "
" Ya.... makasih ya Shin ", jawab Nilam dengan menutupi sedikit rasa kesalnya. Waduh..... bagaimana nih pulangnya, jam segini sudah nggak ada angkot.
Jalan satu-satunya adalah meminjam telpon dari ruang TU dan langsung telpon rumah. Minta tolong si Wildan adiknya untuk menjemput. Resiko nya adalah, kena biaya bakso tiga hari berturut-turut.
Saat berjalan berbalik arah kembali menuju ruang TU, dia merasakan balutan tensocrap pada telapak kaki dan engkelnya mengendur. Benar saja.... ada satu pengait yang hilang dan membuat kain lentur berwarna kecoklatan itu longgar dan mulai terlepas.
Nilam menghentikan langkahnya, lalu duduk disebuah kursi yang kebetulan masih berada di depan sebuah kelas. Segera dilepaskan lilitan kain lentur itu. Setelah itu digulung rapi kembali. Baru saja Nilam duduk sambil membungkuk dan akan mulai membebat area tumit dan engkelnya, tiba-tiba saja sebuah tangan meraih gulungan tensocrap yang dipegangnya.
Rayhan tiba-tiba saja sudah berjongkok dihadapannya, merebut tensocrap yang dipegang dan mulai membebat area mata kaki hingga separuh telapak kakinya. Satu kaki pemuda itu digunakan sebagai tumpuan bersama dengan satu lututnya, setengah bersimpuh. Nilam tak segera menjawab pertanyaan itu. Ia justru mengamati rambut Rayhan yang sedikit basah, juga pakaian pemuda itu yang kelihatan sangat lembab karena air hujan. Hingga pakaian itu seolah berubah menjadi transparan serta bisa mencetak lekuk kekar tubuh Rayhan dan mengeksposnya..... begitu sempurna.
Ada yang berdesir halus menyusup kedalam rongga-rongga di dada Nilam. Membuat nafasnya sedikit sesak dan jantungnya pun berdegup mengencang. Pipi gadis itu merona.
" Sudah ", Rayhan tersenyum puas saat menyelesaikannya. " Ayo kuantar pulang "
" Ya... ", Nilam menyetujui. " Kau bawa jas hujan ? "
" Semoga... ", ucap Rayhan penuh harap.
" Pakai mobilku.... ", tiba-tiba saja suara Aldo menyeruak diantara mereka berdua.
__ADS_1
Cring .... suara logam berdentang. Rayhan dengan refleks cepat menangkap kunci yang dilempar Aldo ke arahnya.
" Motormu ...".
Giliran Rayhan yang melempar kunci motornya, sebagai jawaban pertanyaan Aldo. Dasar atlet basket.... begitu batin Nilam.
" Di parkiran deket mushola "
" Beres.... aku bawa pulang ya, kita tukar lagi besok. Eh... Nil... kalau dia macam-macam padamu, laporkan padaku "
" Memang dia berani apa? ", seru Nilam pada Aldo yang sudah mulai berlari menjauh, dengan tersenyum.
Hampir empat bulan lamanya hubungan tiga orang itu merenggang. Kini melihat dua orang itu menyanyi bersama & saling mendukung.... membuat Nilam benar-benar bahagia. Setidaknya, kebekuan itu sudah mulai mencair kembali.
Aku.... memang aku berani apa?, batin Rayhan. Pemuda itu sengaja berjalan mendahului Nilam yang saat ini memang sedang tidak bisa mengimbangi langkah lebarnya.
" Ishhh... cepet banget sih jalannya. Aku 'kan harus ambil tas dulu ", Nilam menggerutu.
Sosok Rayhan sudah menghilang di tikungan ujung koridor, sementara itu Nilam masih harus berbelok ke kelasnya mengambil tas. Hanya ada dua orang teman prianya yang juga sudah bersiap mematikan lampu untuk kemudian pulang. Nilam memberikan isyarat.... biar aku saja, pada keduanya.
Sesaat setelah Nilam mematikan lampu ruang kelasnya. Rayhan sudah kembali tiba di tempat itu. Tanpa isyarat dan kata-kata.... pemuda itu menarik pinggang Nilam. Memerangkap si gadis dalam kungkungan tangannya yang bertumpu erat pada dinding kelas yang bisu.
" Aaakhh... ", Nilam terpekik tertahan. Aroma maskulin yang segar memenuhi indra penciumannya, membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan. Bahkan, sepertinya iapun lupa bagaimana cara bernafaa yang benar. Hingga oksigen dan karbondioksida serasa bercampur di alveoli paru-parunya, membuat sesak di dada.
" Nilam.... ", suara Rayhan lembut dan menuntut.
" Rambutmu basah ... bajumu juga... ayo pulang ". Nilam berusaha tenang tanpa melepaskan tatapannya pada sepasang manik mata kelam dihadapannya.
__ADS_1