Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
aJawaban segala gundahku


__ADS_3

Tanpa isyarat dan kata-kata.... pemuda itu menarik pinggang Nilam. Memerangkap si gadis dalam kungkungan tangannya yang bertumpu erat pada dinding kelas yang bisu.


" Akh... ", Nilam terpekik tertahan. Aroma maskulin yang segar memenuhi indra penciumannya, membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan. Bahkan, sepertinya iapun lupa bagaimana cara bernafas yang benar. Hingga oksigen dan karbondioksida serasa bercampur di alveoli paru-parunya, membuat sesak di dada.


" Nilam.... ", suara Rayhan lembut, namun nada menuntut terasa mengintimidasi hatinya.


" Rambutmu basah ... bajumu juga... ayo pulang ". Nilam berusaha tenang tanpa melepaskan tatapannya pada sepasang manik mata kelam dihadapannya.


" Menurut mu.... aku tidak berani berbuat apa-apa padamu ?? ". Tiba-tiba saja Rayhan mendekatkan wajahnya pada Nilam.


Gadis itu begitu gugup, hingga ia meremas kedua sisi blouse biru mudanya dengan keras. Hembusan nafas Rayhan yang menerpa wajahnya..... hangat. Bibir Nilam terkatup dengan sedikit gemetar. Tatapan Rayhan begitu intens padanya. Nalurinya memberi petunjuk, saat ini .... yang berlaku adalah hukum gaya tarik menarik antara pria dan wanita, dan ia harus memilih kalimat yang tepat.


" Bagaimana kalau .... ciuman? ", setengah berbisik Rayhan mengucapkannya. " Kau sudah melakukannya dengan Aldo?.... atau aku yang pertama? ".


" Itu bukan urusan mu !!!!", tiba-tiba nada suara Nilam begitu kentara... tidak suka. Kilatan di bolamata keabu-abuan seperti warna langit saat hujan di sore hari itu, tertangkap jelas oleh Rayhan. Membuat pemuda itu tersenyum kecil.


" Berarti aku yang pertama.... ".


Tanpa jeda.... dengan gerakan pasti, Rayhan memberikan kecupan pada Nilam. Sekilas, lembut dan hangat, namun cukup membuat Nilam terkesiap.


Aku yang pertama....... sorak Rayhan sekali lagi, dalam hati. Di matanya sekarang, Nilam terlihat sepuluh kali lebih cantik dari biasanya. Dia yakin pipi gadis itu, saat ini pasti bersemu merah. Entah mengapa ia lalu memutuskan untuk membuatnya lebih memerah lagi. Sesungging senyum manis nan usil diberikannya untuk Nilam.


Sementara itu Nilam yang terperangkap oleh kedua lengan Rayhan, masih terlalu sibuk untuk menata hatinya. Selaksa tanya antara realita dan halusinasi membuat dadanya semakin bergemuruh. Seandainya tidak ada dinding tempat ia bersandar sekarang, mungkin tubuhnya sudah luruh tak bertenaga.


Kenapa kau mendekat lagi pada ku? Rey... aku tidak bisa bernafas, jangan tersenyum seperti itu..... jantungku serasa melompat - lompat dari tempatnya... please Rey berhenti !!!!. Namun Nilam tak dapat menyuarakannya.


Hingga kemudian dengan senyuman yang mempesona, Rayhan semakin mendekatkan wajahnya. Nilam merasakan hembusan hangat menerpa wajahnya, segera ia memalingkan muka. Namun hembusan nafas hangat Rayhan justru semakin terasa hangat, kali ini di sekitar leher dan telinganya. Membuat seluruh bulu kuduknya meremang. Dengan sisa-sisa kesadaran yang masih dimilikinya, dada Rayhan didorong dengan kedua telapak tanggannya. Namun tak bergeming. Indra perabanya justru merasakan lembab basah baju Rayhan dan keras padat dada bidang pemuda itu.


Sementara Rayhan, menggirup dalam-dalam udara disekitar leher gadis yang tingginya tidak lebih dari pundaknya itu. Wangi yang manis dan lembut segera memenuhi indra penciumannya. Tinggal beberapa milimeter saja sebenarnya untuk merasakan halus dan harumnya kulit pipi Nilam. Namun dorongan kedua telapak tangan gadis itu didadanya, membuat Rayhan tetap bertahan untuk tidak melanjutkan belaian melalui bibirnya. Ia mutuskan tetap hanya menggoda Nilam.


" Ayo.... kita pulang ", bisik Rayhan.

__ADS_1


 



 


Sepanjang perjalanan pulang dari mengantar Nilam, Rayhan tak henti-hentinya tersenyum. Sesekali ia menyentuh dadanya sendiri yang kini berbalut t-shirt berwarna abu-abu. Walau terasa lebih ketat tentunya, karena memang sedikit kekecilan. T-shirt yang dipinjamkan Nilam untuknya.


Dalam perjalanan ke rumah Nilam tadi, di dalam mobil yang senyap karena keduanya saling diam. Beberapa kali Rayhan mulai bersin-bersin dan sedikit menggigil. Membuat Nilam memberanikan diri menatapnya sesaat.


" Nanti ganti baju dulu di rumah ku... kamu mulai masuk angin ", kata Nilam kemudian.


Malam itu sudah lebih dari pukul sepuluh malam, saat keduanya tiba di rumah Nilam. Ternyata Rayhan tidak hanya mendapatkan baju kering hangat dan wangi, namun juga segelas besar teh panas berikut croissant yang hangat yang baru saja keluar dari pemanggangan.


Ibunya Nilam sedang mengerjakan pesanan snack dalam jumlah besar yang akan diambil besok pagi-pagi. Rumah Nilam diramaikan oleh beberapa pekerja yang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ketika melihat Rayhan dengan baju lembab mengantar putrinya, segera ibunya Nilam meminta untuk disediakan teh manis panas untuk Rayhan.


Rayhan berkali-kali tersenyum sendiri, bahkan ia mulai bersenandung kecil. Aroma wangi lembut yang manis berasal dari t-shirt yang dikenakan nya sekarang mengalir memasuki rongga hidung, seakan menjadi aroma therapi yang meningkatkan level kebahagiaan di hatinya menjadi berlipat-lipat.


Sementara itu di sebuah kamar dengan lampu tidur yang masih dibiarkan menyala, Nilam baru saja selesai berganti baju. Gadis dengan tinggi tidak lebih dari seratus limapuluh delapan centimeter itu masih belum beranjak dari depan cermin lemari pakaiannya.


Jemari mungilnya perlahan menyentuh bibir dan mengusapnya perlahan


Seandainya ini mimpi.... bangunkan aku sesegera mungkin ya Tuhan ku. Biar aku tidak terlena begitu lama dan hanyut begitu dalam. Pasti aku tidak sanggup menahan sakitnya jika terlalu banyak berharap.... ku mohon wahai Yang Maha Kuasa.


Begitulah pintanya penuh harap. Rasa berdebar dan bahagia, tidak sedikitpun menghilangkan sifat kehati-hatiannya. Hingga tanpa disadarinya...... bulir-bulir air matapun meluncur cepat dan membuat jejak di pipinya.


Hingga kedua pundaknya terguncang, deru nafasnya memburu dan ia tersedu dalam rindu dendam yang diciptakannya sendiri.


" Kenapa begini..... Rey ??", tanyanya dalam sisa isak.


\* \* \* \* \*

__ADS_1


Pagi itu seperti biasa, Nilam termasuk yang awal sampai di kelasnya. Jarak rumahnya yang memerlukan waktu sekitar tigapuluh menit dengan dua kali naik angkot, membuatnya terbiasa berangkat pukul enam pagi dari rumahnya. Sekolah akan ramai di limabelas menit kemudian, atau lima menit sebelum bel tanda masuk berbunyi.


Nilam duduk di bangkunya, menatap ke luar melalui jendela kelas . Saat itulah ia melihat sosok menjulang dengan rambut yang masih terlihat sedikit basah, entah mengapa setengah berlari melewati jendela disamping Nilam dan masuk ke ruang yang sama dengannya. Nilam gelisah.... karena sosok itu akan segera melewatinya kembali untuk duduk dibelakang nya seperti biasa. Dan Nilam semakin merasakan gelisah, karena Rayhan.... sosok itu, berdiri sejenak seraya tersenyum menghampirinya.


Langkah kaki Rayhan seperti countdown bom waktu bagi Nilam. Pemuda itu, masih dengan tersenyum menyisir helaian rambut lebat yang sedikit basah dengan jemari kokohnya. Dada Nilam semakin sesak saja. Kurang jarak satu bangku lagi..... Nilam menahan nafasnya yang memburu.


Namun..... tiba-tiba saja, krieet.... suara kursi ditarik. Rayhan duduk menempati bangku disampingnya. Di deretan sebrang depan bangku Nilam berada. Gadis itu menatap punggung bidang sang pemuda. Ketika pemuda itu menoleh.... pandangan mereka beradu. Rayhan tersenyum


" Dari sini..... aku bisa melihat mu dengan jelas, kapan saja semauku ", ucap Rayhan kemudian dengan senyum menggoda. Nilam tetap terdiam.


" Nil..... pulang nanti, aku antar "


" Tidak usah", jawab Nilam cepat.


Tiba-tiba saja Rayhan berdiri dari tempat duduknya, berjalan pasti menghampiri Nilam. Memuat gadis itu berdiri tegak bersikap waspada. Rayhan terkekeh geli melihatnya. Dengan satu gerakan, ia menduduki bangku di depan Nilam dan menghadap langsung pada gadis itu. Senyum usilnya membuat Nilam semakin salah tingkah.


" Tadi malam... ". Bodoh.... rutuk Nilam dalam hati, menyesali pemilihan kata yang digunakannya.


" Tadi malam.... bukti kalau Nilam sudah jadian dengan Rayhan ", terdengar penuh percaya diri diucapkan Rayhan.


" Bukan...." sergah Nilam kemudian. " Lupakan kejadian tadi malam.... anggap itu tidak pernah terjadi "


" Why ???".


Nilam tidak segera menjawab, ia berdiri dan sesaat menatap Rayhan yang tampak kebingungan.


" Kalian berdua.... cukup! hentikan mempermainkan ku "


Rayhan terkesiap mendengar perkataan Nilam. Dengan cepat diraihnya tangan Nilam yang hendak berlalu meninggalkannya. Sedikit keras Rayhan membuat gerakan menyentak menahan Nilam, membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya. Terkejut dan meringis menahan rasa nyeri karena genggaman Rayhan yang terlalu kuat


" Aku tidak pernah mempermainkan mu ". Tegas Rayhan mengucapkannya, membuat Nilam kembali tak berdaya dan tersesat dalam sepasang mata kelam yang menatapnya dalam.

__ADS_1


__ADS_2