
Waktu istirahat makan siang dilalui Nilam dengan perasaan gusar. Bagaimana tidak, seluruh aturan dan persyaratan yang semula disetujui oleh Rayhan .... diabaikan. Saat ini Syailendra diajak ke London, padahal bocah itu baru saja sembuh dari demam. Dan nyonya Sonya sang pengasuh tidak diajak ikut serta. Walaupun dalam panggilan video yang baru saja selesai dilakukannnya dengan Rayhan, nampak semuanya baik-baik saja.
" Aku ambil cutiku dua hari besok . Ku susul kalian ke London, jemput aku di stasiun ", putus Nilam cepat sebelum mengakhiri panggilannya.
" Wow..... kenapa tidak dari tadi pagi kau katakan. Kita bisa berangkat sama-sama sore sepulang kau kerja ", Rayhan terlihat bersemangat.
" Rey .... aku ambil cuti karena nggak mau ambil resiko dengan kesehatan Alend. Kau pikir.... membawanya ulang-alik dalam sehari dengan kondisi dia baru sembuh dari sakit, tidak beresiko?. Aahh.... kau ini ". Nilam terlihat sangat sewot
" Maaf ..... aku hanya sangat bersemangat. Ini pelajaran berharga bagi ayah yg telat start nya..... Maafkan aku sayang ".
Hingga akhirnya Nilam berusaha memaklumi. Berusaha memahami perasaan Rayhan. Pasti tidak jauh berbeda dengan perasaannya dulu saat pertama kali merasakan luapan semangat, bahagia dan cinta sebagai seorang ibu. Pasti Rayhan juga sama, apa itu tadi seorang ayah yang telat start nya. Nilam tersenyum kecil sambil menyimpan ponselnya dan melanjutkan menikmati makanan siang yang tadi sedikit tertunda.
" Wah.... sepertinya ayah Alend benar-benar memanjakannya ", Debby berkomentar selepas Nilam mengakhiri panggilan videonya.
" Yaa.... tapi.... "
" Berikan ruang untuk keduanya ", sergah Debby cepat. " Biarkan mereka saling mengenal, saling mengerti dan memahami ..... Kau sangat beruntung memiliki keduanya ".
Nilam tersenyum membenarkan perkataan kawan seprofesinya. Keduanya berteman semenjak sama-sama menjadi karyawan baru di rumah sakit ini. Bagaimana Nilam yang ramah namun sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya, Debby sangat memahami. Siapa-siapa saja pria yang berusaha mendekati dan menarik hati Nilam, diapun tidak melewatkannya satupun. Dan pada akhirnya para pria itu mundur teratur tanpa balasan dan tanggapan apapun.
" Sebenarnya aku sempat menyerah... tidak berharap dia akan menemukan kami di sini. Bertahun-tahun aku menata hati, menciptakan benteng yang kuat namun fleksibel .... agar bisa menerima hantaman sakit dan kecewa, jika suatu saat Rey datang padaku dengan sebuah keluarga barunya ", Nilam bertutur panjang sambil membuang pandangannya lepas pada hamparan rumput hijau melalui jendela.
" Kau sama sekali tidak berharap dia tetap setia padamu ? ".
" Aku terlalu takut untuk berharap kebahagiaan..... Aku hanya selalu berdoa, bahagiakan lah elang ku ..... "
" Elang ??", Debby menyergah bingung
" Ehm... maksudku ayahnya Alend. Aku menyebutnya demikian.... "
__ADS_1
" Romantis " . Debby menyentil hidung mungil menjulang Nilam. Lalu keduanya tertawa kecil bersama.
Ā
šššš
Ā
Suasana subway yang cukup ramai, bertepatan dengan jam pulang kerja para pegawai. Sementara di luar sana hujan baru saja berhenti dengan masih menyisakan rinai-rinai basahnya. Entah ini sudah yang keberapa belas kalinya Rayhan menjawab pertanyaan Syailendra ... " masih lama?".
" Nah.. itu kereta mommy. Kita tunggu di sini saja. Alend.... jangan jauh-jauh dari Daddy ya "
Bocah itu mengangguk riang, seraya memeluk pinggang sang ayah. Sesaat kemudian nampak serombongan orang-orang yang keluar dari dua lorong pintu keluar. Melihat keramaian itu, Rayhan memutuskan untuk menggendong sang bocah.
" Coba cari mommy... lambaikan tanganmu padanya "
Sementara itu dengan tubuhnya mungilnya, Nilam merasa sedikit kesulitan untuk melihat keluar kerumunan. Meskipun rombongan ini tertib berjalan ke luar lorong, namun sensasinya serasa sesak. Hingga akhirnya didapatilah dua sosok pria yang menantinya sambil melambaikan tangan. Tidak terasa Nilampun mengulas sesungging senyum... lega.
" Bisa kita mampir ke toko pakaian dulu ? ", pinta Nilam kemudian saat ketiganya mulai menyusuri jalan yang masih basah oleh rinai-rinai hujan yang baru saja berhenti.
" Emh... sudah ku belikan tadi. Pilihan Alend dan aku ... semoga sesuai seleramu "
" Ya... tadi kita beli family t-shirt.... warnanya biru ", Alend menyergah penuh semangat.
" Oh ya ... waaah pasti bagus ". Nilam menanggapi dengan diiringi ciuman kecil dipipi anaknya
" Rey.... tapi, pakaian dalamnya ? ", Nilam berbisik.
" Sudah ku belikan ", jawab Rayhan mantap dan penuh percaya diri.
__ADS_1
Sebenarnya perjalanan dari subway menuju apartemen Rayhan hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit. Namun ternyata sudah mampu melelapkan Syailendra dalam tidurnya. Bocah itu tetap tertidur pulas dalam gendongan ayahnya, sepanjang berjalan memasuki lobby dan naik lift hingga akhirnya sampai di dalam kamar.
Nilam memperhatikan semua yang dilakukan Rayhan. Terlihat pria itu begitu menikmati perannya sebagai seorang ayah.
Apartemen itu memiliki duapuluh empat lantai, dan Rayhan menempati lantai ke delapan belas. Nilam tidak heran sama sekali dengan tempat tinggal suaminya itu. Rayhan memang berasal dari keluarga berada, tidak heran jika segala fasilitas hidupnya selalu serba mewah.
" Ini ku beli dengan gajiku sendiri ". Seolah Rayhan mengerti apa yang dipikirkan Nilam, ia berkata dengan nada bangga yang kentara.
" Ehm... ", Nilam berdehem canggung.
" Setidaknya aku selalu berusaha menjadi seperti yang kau inginkan.... Pria mandiri ". Kemudian dengan rasa percaya diri yang tinggi, Rayhan mendekati Nilam dan memposisikan wanita itu tepat dalam jangkauan segala indra yang dimilikinya.
" Aku begitu yakin... kita akan bersama lagi. Dan itu terbukti bukan ?".
Nilam tersenyum lembut membalas perkataan suaminya. Ia pun bergerak begitu percaya diri memeluk dada bidang Rayhan. Menenggelamkan dirinya dalam kehangatan beraroma maskulin yang selalu dirindukannya. Pun kemudian Rayhan membalas dengan mesra, mengetatkan pelukan pada tubuh mungil wanitanya. Menghirup penuh hasrat wangi bunga apel di helain rambut Nilam.
" Tapi aku masih takut.... ", bisik Nilam lirih
" Kenapa ? ", tanya Rayhan sambil menatap dalam kelam sepasang mata milik Nilam.
" Aku takut..... kita terpisah lagi ". Nada khawatir itu begitu kentara terucap dari bibir tipis sempurna milik Nilam. " Bagaimana dengan mu? bagaimana dengan keluarga mu? ".
" Ini hidupku.... aku yang berhak menentukannya sendiri. Keluargaku adalah kalian.... keluarga ku kini yang sesungguhnya. Kau mengkhawatirkan kedua orang tuaku ..... mereka sudah cukup mendapat pelajaran hidup .... tentang cinta yang sesungguhnya. Tugas kita sekarang untuk meyakinkan mereka.... cinta kita, cinta dari yang maha cinta ".
" Tapi.... aku hanya istri sirimu ".
Rayhan termenung sesaat. Teringat dengan percakapannya dengan Aldo siang tadi. Wanita memang sangat membutuhkan perlindungan dari aspek apapun. Dan dia sudah terlalu lama membiarkannya .... wanitanya berdiri diatas kakinya sendiri dengan segala beban yang menghimpit, tanpa perlindungan sedikit pun darinya. Tiba-tiba saja ada yang terasa perih menghunjam hatinya.
" Sudah kupikirkan..... segera kita akan mengesahkan pernikahan ini secara hukum. Aku sudah menghubungi pengacara ku dan memintanya untuk mengurus ke kantor catatan sipil ".
__ADS_1
" Tapi.... restu dari Ayah - Ibu ? ".
" Kita akan mendapatkannya ....... segera ", begitu mantap terucap oleh Rayhan.