
" Mommy ..... klo' uncle Will itu daddy ku? "
" Bukan.... uncle Wildan itu adiknya mommy "
" So.... daddy ku ? "
" Ya... yang ada di foto itu. Yang tinggi dan ganteng mirip kamu .... "
" Kapan daddy kemari? .... di sekolah, semua anak pernah diantar Daddy nya. Aku saja yang belum ".
Nilam menghela nafas mengingat percakapan-percakapan dengan anaknya. Jika akhirnya sang ayah kini tengah bersama mereka.... bukankah seharusnya ia berbahagia?. Tapi yang dirasakannnya adalah sedih dan rasa bersalah yang bergelayut seperti kabut, menyesakkan.
Perjalanan mereka hanya butuh waktu tidak lebih dari tiga menit dengan mobil. Ketika akhirnya kendaraan itu memasuki perkarangan rumah mungil di sudut jalan, saat itu hujan masih dengan rintik-rintik sedangnya mengguyur bumi.
" Boleh ..... aku yang menggendong nya? ", suara Rayhan terdengar penuh pengharapan. Sesaat Nilam menatapnya, seolah meyakinkan diri sendiri.
" Tidak mengapa..... "
" Ya.... hati-hati, beratnya sudah hampir enam belas kilo ", sergah Nilam cepat.
Rayhan tersenyum lega dan bahagia. Diapun beranjak keluar dari mobilnya. Kemudian kesisi lain kendaraan itu, membuka pintunya dan ..... terdiam sesaat.
Bocah itu nampak sangat nyaman berbantal dada ibunya. Wajah tampannya begitu polos dan menghanyutkan. Perlahan kedua lengan Rayhan terulur meraih sang bocah, membawanya dalam gendongan. Wangi segar yang lembut memenuhi rongga hidung Rayhan, rambut bocah itu begitu tebal dan harum.
Rayhan tidak mengerti dengan jenis perasaan yang saat ini tengah membuai seluruh kesadarannya. Mungkin ini salah satu level tertinggi dari bahagia ..... pikir nya.
Nilam yang berlari kecil mendahului kedua pria itu, dengan sigap telah membuka pintu dan menyalakan lampu ruang tamu. Sementara hujan masih saja belum mereda. Membuat basah rambut dan punggung Rayhan yang sedikit dibungkukan untuk mengurangi rinai air-air itu membasahi Syailendra dalam gendongannya.
" Tidurkan di kamar ..." pinta Nilam sambil menunjuk sebuah kamar yang di daun pintunya terpasang sebuah kertas warna-warni membentuk tulisan 'alend š mom'. Kerajinan tangan yang pastinya dibuat oleh seorang anak kecil.
Nilam kembali membantu membukakan pintu untuk keduanya. Perlahan, Rayhan membaringkan tubuh montok itu dan menyelimutinya. Namun ia tak segera beranjak dari samping ranjang. Pria itu duduk bersimpuh, menatap lekat pada bocah tampan yang terbaring nyaman. Menyentuh pipi tambun dan mengelus rambut lebat bocah itu.
" Rey..... ", suara Nilam mengalihkan perhatiannya. Wanita itu masih berdiri tak jauh dari pintu kamar. " Maaf menganggumu.... bisa kita bicara sebentar.... ehhmm.... di luar kamar", pinta Nilam terkesan hati-hati.
Menuruti permintaan istrinya, Rayhan segera bangkit. Terlebih dahulu diberikan sebuah kecupan sayang yang cukup lama di kening putranya. Lalu melangkah keluar kamar dan menutup pintunya perlahan.
Di sebuah ruang keluarga yang juga ruang makan dan menjadi satu dengan sebuah dapur mini, Rayhan mendapati nilam tengah menyeduh minuman untuk mereka berdua. Aroma coklat yang manis dan lembut memenuhi indra penciuman Rayhan.
" Aku sudah bertemu dengannya sore tadi ", Rayhan membuka pembicaraan. Ia pun menerima segelas coklat panas itu.
" Ya.... nyonya Salman sudah bercerita sedikit ", sahut Nilam sambil mengambil langkah menjauhi Rayhan. Memilih untuk duduk berseberangan dengan pria itu.
__ADS_1
Rayhan memperhatikan bagaimana Nilam bersikap padanya. Setengah mati ia menahan diri, menahan berjuta pertanyaan yang sesak memenuhi rongga dadanya. Bahkan menahan hasrat untuk menarik wanita itu kembali terperangkap di pelukannya. .
Wanita mungil yang selalu memporak-porandakan perasaannya. Rambutnya kini lebih panjang. Wajah dewasanya menjadi semakin manis dan ..... menawan. Bagaimana tubuh mungil itu dulu mulai membesar mengandung benihnya. Aah.... pasti akan tampak lebih seksi dengan dada dan perut yang semakin membesar.
Rayhan tersadar dari hayalan liarnya. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri. Lalu segera menyesap kembali minuman hangat di tangannya. Dan semua gerak-geriknya tak luput dari pengamatan Nilam.
"Aku memanggilnya Alend.... nama lengkapnya ... ".
" Syailendra Thoriq ", Rayhan memotong dengan cepat. Nilam tersenyum mendengarnya.
" Syailendra Thoriq Zachary .... lengkapnya"
Rayhan terhenyak mendengar siapa nama lengkap anaknya. Nilam menyematkan nama keluarganya di belakang nama sang putra. Entah mengapa hatinya begitu riuh.... oleh perasaan yang bercampur aduk tak menentu.
" Biarkan aku yang membuka pembicaraan dengannya..... tentangmu ", perjelas Nilam
" Kau tidak pernah menceritakan tentang
ku ? ... ayahnya... padanya ? ", Rayhan bertanya dengan nada setengah menghakimi.
Trek.... suara mug beradu dengan kayu permukaan meja, saat Nilam meletakkan benda itu dengan sedikit tekanan. Sepasang matanya tiba-tiba saja berubah jengah dan tidak bersahabat menatap pria dihadapannya.
Rayhan terpaku melihat ekspresi itu. Ia tidak pernah lupa dengan luapan emosi benci, tidak suka dan marahnya sosok wanita ini. Sungguh kini ia menyesali ketergesa-gesaannya. Hingga akhirnya ....
" Oh.... lukamu ", tiba-tiba saja Nilam terpekik kecil.
Sungguh respon diluar dugaan Rayhan. Iapun mengikuti arah pandangan sang istri, ke lengan kirinya yang terluka memanjang dan tertutup kain kasa yang kini terlihat basah oleh cairan berwarna merah. Baru kemudian dia mulai merasakan ada rasa nyeri berdenyut panjang dan dalam. Rayhan meringis dan berdesis kecil.
" Seharusnya .... kau tidak menggendong Alend tadi ". Tiba-tiba saja Nilam sudah mengambil langkah mendekat.Wanita itu sedikit membungkuk saat memeriksa luka Rayhan.
" Bagaimana ? ", tanya Rayhan penasaran.
Nilam tidak segera menjawab, ia malah berlalu meninggalkan Rayhan. " Tunggulah sebentar ..... aku tangani setelah ini ".
Rayhan sedikit kesal karena ditinggal sendirian di ruangan itu. Sepasang matanya mengikuti kemana Arah Nilam pergi. Wanita itu menghilang di balik pintu sebuah ruangan. Lalu terdengar suara sesuatu yang di buka , kemudian ditutup kembali.
Rayhan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan rumah ini. Rumah yang mungil, hanya ada tiga kamar, ruang keluarga yang menyatu dengan dapur, serta ruang tamu yang terpisah agak jauh. Namun hangat dan nyaman. Di sudut ruang keluarga terletak sebuah bufet panjang yang dipenuhi dengan aneka robot, mobil, pesawat dan mainan khas anak laki-laki ... berjajar rapi. Diatasnya berjajar manis aneh foto-foto menggemaskan, yang didominasi foto-foto Syailendra.
Rayhan menuruti nalurinya bergerak mendekati. Mengamati foto-foto itu satu persatu. Foto Nilam dengan seragam perawat nya bersama teman-teman sejawat, ah... ada dr. Salman juga rupanya. Foto - foto Alend yang menggemaskan dari bayi hingga umur empat tahun. Ada foto bocah itu dengan Wildan pamannya. Rupanya adik iparnya ini lumayan sering mengunjungi keponakannya.
Lalu pandangannya terhenti pada satu foto yang sangat-sangat di kenalnya. Foto seorang pria muda dengan seragam taekwondo yang tersenyum riang dengan memperlihatkan medali di tangan kirinya. Itu adalah dirinya..... tujuh tahun yang lalu.
__ADS_1
" Lihatlah di sebaliknya ... ", suara Nilam yang tiba-tiba saja sudah berdiri tak jauh dari Rayhan.
Tanpa bertanya lagi, Rayhan menuruti perkataan Nilam. Di raihnya foto berbingkai itu, lalu dilihatlah sebaliknya.
' Daddy..... its my hero. Love him so much '
Tulisan tangan itu tidak rapi, ditulis dengan aneka crayon warna-warni. Namun sungguh, itu adalah tulisan terindah yang pernah dilihatnya. Kalimat terindah yang pernah dibacanya
Rayhan mendesah..... menyentuh penuh perasaan coretan tangan mungil itu. Tak terasa air matanya meleleh perlahan.
" Dia mulai menanyakan mu .... semenjak masuk kelas todler. Aku tidak pernah berbohong padanya "
" Apa yang kau katakan tentang aku .... padanya? ", sergah Rayhan penasaran.
" Bisa kita bicara sambil duduk dan melihat lukamu? ".
Rayhan tidak lagi berminat berdebat dengan Nilam. Ia merasa harus menuruti wanita ini jika ingin segera mendapatkan informasi yang sejelas-jelasnya tentang putranya. Iapun menurut, duduk dan membiarkan Nilam merawatnya.
" Dua jahitan terbuka..... aku tidak punya lidocain . Bagaimana ? ", tanya Nilam sesaat setelah memeriksa luka memanjang itu.
" Maksudmu ? ", Rayhan terlihat kebingungan.
Nilam tersenyum menyadari kekeliruannya, " Aku tidak punya anastesi .... untuk menjahit kembali luka itu "
" Hanya dua jahitan 'kan? ", Rayhan terdengar meyakinkan dirinya sendiri. " Lakukanlah..... kurasa kau masih ingat ambang batas rasa sakit ku 'kan "
Nilam kembali tersenyum mendengar perkataan pria yang notabene masih suaminya itu. Tak pernah dilupakannya, bagaimana khawatir seorang Nilam melihat luka - luka sobek di buku-buku jari serta telapak kaki Rayhan dan juga lebam di sekujur tubuh akibat fight untuk kenaikan ban taekwondo nya. Tapi yang dikhawatirkan justru tenang dan terlihat baik' saja.
" Dia sangat ingin seperti mu..... sangat ingin bertemu dengan mu ", suara Nilam dari balik masker yang dikenakannya.
" Ku bilang..... saat Daddy tidak menjemput, kita nanti yang akan menjenguk daddy "
" Kau bilang.... aahh.... memang kau bilang aku sedang melakukan apa? ", Rayhan penasaran. Pria itu mengeraskan rahangnya menahan rasa perih yang tiba-tiba saja tercipta dari tusukan jarum dan benang yang menari indah di tangan Nilam.
Nilam tidak segera menjawab, ia berhenti sejenak dan menatap Rayhan sesaat. Dari kilatan bening sepasang mata abu-abu itu, Rayhan tahu kalau wanita ini tersenyum simpul.
" Ssh... apa yang kau katakan pada anakku ? ", Rayhan salah tingkah namun penasaran.
" Ku bilang..... Daddy sering bolos sekolah, jadi dia harus mengulang pelajaran. Sampai selesai.... baru bisa nyusul kita "
" What ???!!!! ", Rayhan mendelik tidak percaya dan mendengus kesal. " Dia percaya ?"
__ADS_1
" Tentu saja ". Nilam akhirnya selesai dengan langkah terakhir yaitu menutup luka dengan kasaa steril yang baru. Ia membereskan peralatannya, meninggalkan Rayhan yang masih bersungut-sungut kesal.