
" Aku tidak mau punya adik jelek.... itu bukan adikku mommy ".
Syailendra masih merajuk hingga mereka semua sudah berada di mobil saat menempuh perjalanan pulang ke rumah mungil yang selama ini di tempati Nilam. Rayhan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia frustasi dengan kelakuan anaknya yang mempunyai pola pikir bertingkat-tingkat lebih maju dibanding anak-anak seusianya. Sepertinya genetik dominan dari kecerdasan seorang ibu yang akan menurun pada anaknya, saat ini benar bisa dilihat buktinya oleh Rayhan. Namun selebihnya Rayhan sangat bersyukur dengan semua ini.
" Jangan-jangan itu Alien .... ".
Waduh....
" Nanti sampai rumah... mommy kasih lihat sesuatu ya, biar kakak tahu ... itu adik atau Alien ". Jawaban Nilam bagai sebuah tindakan taktis pasukan penyelamat.
Rayhan tersenyum sambil melihat dari kaca spion bagaimana ekspresi anaknya itu. Rupanya bocah berpipi montok itu benar-benar bertekuk lutut jika sudah tertangani oleh ibunya. Kini wajah yang tadinya bersungut-sungut dan mencebik-cebik hampir menangis itu, mulai sedikit tersenyum. Rayhan benar-benar bangga dengan wanita di sampingnya ini. Best Mommy....
Sesampainya di rumah tanpa memberikan kesempatan untuk mereka makan malam, Syailendra langsung memulai aksi menuntut penjelasannya itu. Rayhan hanya bisa geleng-geleng kepala. Kini mereka berdua duduk menunggu di kursi ruang makan.
" Lihat .... ini adalah foto Alend saat masih di perut mommy ".
Nilam datang dengan membawa beberapa foto-foto USG masa kehamilan pertamanya dahulu. Syailendra nampak sedikit syok mendapati gambar yang diklaim sebagai dirinya saat masih dalam kandungan dulu.
" Apa semua bayi sejelek ini ? ", tanya bocah itu.
" Itu karena mereka butuh waktu untuk tumbuh menjadi sempurna di perut ibunya..... lamanya adalah sembilan bulan sepuluh hari .... lihat ini foto mu yang baru lahir, sudah ganteng kan ? ".
Bocah itu mengamati foto bayi yang terbungkus kain berwarna biru. Sedikit senyum mengembang di bibirnya. " He ... he... he... agak ganteng ya mommy ".
" Adik-adik mu juga nanti begitu boy ", Rayhan menimpali sambil mencium rambut anaknya itu.
" Mommy.... bagaimana caranya biar adikku itu tumbuh jadi ganteng di perut mommy ? ".
" Tentu saja mommy harus makan banyak makanan yang bergizi, istirahat yang cukup.... tidak boleh terlalu lelah ", Rayhan menimpali. " Kak Alend mau jagain mommy.... kalau pas Daddy nggak ada ".
" Iya ", jawab bocah itu bersemangat.
" Okay.... kalau gitu sekarang kita semua makan malam dulu ya.... kita sama-sama buat two little baby jadi ganteng dan pinter ", kata Rayhan bersemangat.
" Dua... ada dua ?? bagaimana bisa kok ada dua little baby ? ".
Waduuuuuh ...... salah ngomong lagi. Oh my God .... puyeng nih. Nilam dan Rayhan saling berpandangan lagi dengan pandangan lesu. Bakal panjang lagi nih........
Dan malam itu suasana makan malam seperti suasana diskusi kelompok yang sedang membahas tentang reproduksi pada manusia. Luar biasanya adalah Nilam bisa memberikan jawaban dan menyampaikan semua hal yang ditanyakan oleh anak nya itu dengan gamblang dan jelas namun sesuai dengan umur balita si penanya. Bahkan Rayhan pun turut mendengarkan dengan takjub setiap penjelasan itu.
__ADS_1
" Bagaimana bisa telur di perut mommy itu jadi bayi kecil.... lalu bayi besar dan lahir ".
Glekh !!!!...... Rayhan menelan ludah. Ia menatap Nilam dengan khawatir.
" Perlu seorang Daddy yang akan membantu para mommy membesarkan telurnya jadi baby ".
Rayhan menatap Nilam dengan pandangan cemas yang menjadi berlipat ganda. Tapi ia tak menemukan rasa khawatir sedikit pun dari raut muka istrinya ini. Padahal menurut Rayhan, pernyataan yang dibuat istrinya ini akan memancing pertanyaan gawat selanjutnya dari detektif kecil itu. Aduuuuuh.....
" Terus..... apa yang dilakukan Daddy pada telur mommy ? ". Nah loh.... benar saja, pertanyaan mengerikan akhirnya juga menyeruak.
" Boy..... saat seorang pria menikahi wanita, Tuhan kemudian memberikan keistimewaan pada mereka berdua. Yaitu suatu kemampuan luar biasa untuk bisa memiliki seorang anak ", Nilam berkata dengan lembut sambil memberikan segelas air dingin pada putranya. Namun entah kenapa Rayhan menjadi begitu tegang menanti yang selanjutnya akan terjadi.
" Jadi mereka terus bisa bikin anak ? ".
Oh my God......... Rayhan terlihat pucat pasi. Ia tersenyum getir sambil menatap Nilam yang kini justru tersenyum menggodanya. Yang benar saja, jangan kau minta aku untuk menjawabnya. Rayhan berseru dalam hati dan menyampaikan dengan isyarat mata pada istrinya.
" Yang bikin anak atau bayi itu tentu saja Tuhan Sang Maha Pencipta..... naaah sepasang suami istri itu berdoa.... Doa inilah yang membuat Tuhan menciptakan bayi dan menaruhnya di perut seorang ibu. So.... jangan pernah berhenti berdoa, mintalah apapun pada Tuhan Yang Mahakuasa .... ya ".
" Kalau belum menikah ... ", Syailendra menggantungkan kalimatnya.
" Belum punya kekuatan doa untuk minta seorang bayi... itu kekuatan doa spesial suami-istri ", Nilam menyela cepat seolah-olah dia mengerti betul apa yang akan disampaikan putranya itu.
" I love you ...... so much ", bisik Rayhan saat memeluk Nilam yang baru saja akan beranjak dari depan meja riasnya.
Wanita itu baru saja selesai menyisir rambutnya dan bersiap hendak tidur, ketika tiba-tiba saja suaminya memeluknya dari belakang. Dari pantulan bayangan di cermin terlihat wajah Rayhan yang tampan begitu mempesona.
" Kenapa tiba-tiba mesra begini ? ", tanya Nilam dengan sedikit tersipu.
" Aku takut.... belum mengucapkannya hari ini ".
" Ini yang ke lima ".
" Kau menghitungnya ?" .
" Ya..... I love you too ".
Rayhan yang masih terus saja memeluk Nilam, semakin memperdalam belaian bibirnya pada sisi leher wanita itu. Sementara itu kedua telapak tangannya yang lebar beralih membelai-belai perut istrinya yang mulai terlihat membuncit.
" Nil, kata dokter Soraya..... emhhhh bayi-bayinya sudah kuat ya. Kalau begitu .... boleh dong dijenguk Daddy nya ".
__ADS_1
" Dari kemarin kan juga sudah jenguk. Kenapa baru bertanya sekarang ? ".
" Kemarin kan belum tahu kalau yang dijenguk ada dua... boleh ya lagi ".
Nilam tertawa geli melihat kelakuanku suaminya ini. Sikap Rayhan yang seperti ini sungguh menggemaskan. Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, Rayhan pun telah melancarkan aksinya. Mau bagaimana lagi jika sepasang manusia yang sudah saling mencintai itu telah bersentuhan. Yang kemudian terjadi adalah menuruti naluri yang saling mempertemukan dalam suatu ritme pada ledakan gairah yang sama.
Rayhan menyelipkan anak rambut yang jatuh sedikit menutup wajah istrinya yang nampak berpeluh itu pada sela telinga. Perlahan iapun merapatkan tubuh wanita itu yang duduk di pangkuannya itu, seraya membelai punggung telanjangnya yang basah oleh keringat. Debaran itu masih terasa kencang, begitu juga dengan deru nafas mereka. Sambil tetap mengatur nafasnya, Nilam menyandarkan kepalanya pada bahu lebar suaminya.
" Katanya posisi ini yang paling aman untuk wanita hamil ", bisik Rayhan tanpa beranjak sedikitpun dari tempatnya.
" Tahu darimana ? "
" Tadi lihat di google ".
" Oooh.... nonton BF ".
" Aku belajar Nil... daripada menonton, lebih enak langsung praktek dengan mu. Auw ..... aduh !!!! ". Rayhan mengaduh saat Nilam menggigit pundaknya.
" Jangan mesum !!!!! istrinya sedang hamil juga ".
" He.... he.... he.... maaf, habisnya terlalu lama nganggur sih ". Rayhan terkekeh geli.
" Rey... ".
" Ya... ".
" Aku ingin pulang ... ".
Rayhan mendorong tubuh Nilam sedikit, hanya supaya dia dapat menatap wajah istrinya itu. Sepasang mata kelabu yang bening serupa warna hujan di sore hari itu terlihat sendu. Rayhan membelai wajah cantik yang tak pernah membuatnya berhenti untuk jatuh cinta itu.
" Pulang?? ke Indonesia ? "
" Ya Rey.... bolehkah ? ".
Tanpa menjawab Rayhan hanya membawa kembali tubuh istrinya dalam pelukan. Memberikan sentuhan lembut, menghirup dalam-dalam wangi bunga apel yang membumbung dari rambut dan tubuh wanita itu.
" Ya... kita akan pulang. Tiga bulan lagi, saat semua pekerjaan ku selesai. Kita pulang dan akan menetap di kampung halaman kita ".
š®š©š®š©š®š©š®š©š®š©š®š©š®š©š®š©š®š©š®š©š®š©š®š©š®š©
__ADS_1