Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
S'E' ....... Saving Private Baby (3)


__ADS_3

Keesokan harinya Nilam dengan ditemani bu Endang akhirnya mendaftarkan Syailendra ke sebuah taman kanak-kanak tak jauh dari rumah keluarga Rayhan. Bukan sekolah mewah yang berisi penuh dengan anak-anak dari golongan tajir melintir, cukup sekolah yang menurut Nilam seluruh guru dan ibu-ibu orang tua murid yang menyambutnya dengan sangat ramah dan bersahabat. Benar saja pilihan Nilam, walaupun dengan sedikit kendala pada penggunaan bahasa. Putra sulungnya begitu cepat akrab dengan teman-teman barunya.


" Wah... anak-anak kita nanti jadi cepet bisa bahasa Inggris ya ", seloroh seorang ibu yang kebetulan juga sedang mengandung, sama seperti Nilam.


" Iya ... ya .... kita nanti yang kerepotan nih. Brarti harus ikut les bahasa Inggris ya ", sahut seorang ibu muda berhijab dengan kacamata mungil yang terlihat manis.


Tawa para ibu-ibu yang duduk di area luar pagar sekolah, pada sebuah bangku santai yang memang khusus disediakan bagi pengantar atau penjemput siswa itu terdengar gembira. Begitu pula dengan NIlam, sesaat ia bisa melupakan sedikit kegundahannya. Apalagi melihat Alend yang nampak sangat bahagia bertemu dengan tema-teman barunya itu.


" Mba Nilam... papahnya Alend dinas di mana ? ", tanya seorang wanita yang memakai baju merah hati.


" Oh ... itu ... daddy nya Alend, dia memanggil begitu. Ini baru di tugaskan ke Thailand, dua hari yang lalu baru berangkat. Ya.... maklumlah kerja ikut orang, ya... harus manut sama boss nya, iya tow? "


" Loooh.... bukannya papah.. eh daddy nya mas Alend itu juga boss ? ",sergah si penanya tadi.


" Bukan !.... karyawan biasa koq. Cuma kebetulan saja .... kami dulu kerja di luar negeri ", sanggah Nilam sambil tersenyum.


" Loh... mba Nilam juga dulu kerja tow ?... di luar negeri ", tanya seseorang lagi yang belum dikenal Nilam.


" Iya ... dulu jadi perawat di rumah sakit. Tapi.... setelah hamil si kembar ini... risgn  deh. Trus balik ke Indonesia ".


" Waaah.... asyik nih.... bisa konsul kesehatan gratis ".


Dan tawa ceria para wanita muda itu kembali terdengar di sela riangnya suasana  celotehan gembira anak-anak mereka. Nilam benar-benar menemukan sisi kebahagiaan yang lain saat ini. Ia merasa lebih rileks dan juga sangat nyaman bergabung dengan komunitas para emak ini. Yang lebih membuatnya bahagia, wanita-wanita muda ini bukanlah kelompok sosialita yang hobby nya shoping dan nongkrong di kafe selepas menjemput putra-putri mereka. Banyak diantara mereka khususnya yang mempunyai waktu, turut serta membuka usaha kecil-kecilan demi membantu suami atau sekedar agar bisa menabung sedikit-demi sedikit.


Nilam pulang dengan perasaan lebih senang dan bahagia,  dengan membawa lumpia rebung spesial tanpa MSG, nugget dan juga sosis sehat, serta jus buah tanpa gula. Semua itu adalah hasil kratifitas ibu-ibu muda tadi, Nilam memborongnya dengan perasaan senang. Dia cocok dengan aneka masakan rumahan itu. Tentu saja sikap Nilam yang royal dan ramah langsung disambut dengan suka cita.


Saat Alend tengah menikmati makan siang dengan lauk sosis tumis brokoli dan juga nugget goreng hasil bersekolah nya di hari pertama ini, saat itulah Nilam mendapatkan panggilan dari telepon selulernya. Sepasang mata kelabunya berbinar ceria. Ia lalu merapat pada Alend yang bersemangat mengunyah makan siang nya.


" Look... daddy calling  ... ". Nilam mengahadapkan layar telepon genggamnya pada dirinya dan Syailendra.


" Hai..... my lovely Son... apa yang kamu makan itu? kelihatannya enak sekali ",  wajah Rayhan tampak sangat sumringah terlihat di layar telepon seluler Nilam.


" Daddy..... I luv You. Ini tumis sosis dan brokoli ... juga nugget buatan mamah nya Noora ".


" Noora ?... oh teman baru Alend ya ?"


" Ya Daddy..... ini enak sekali. Oh ya.... Alend suka sekolah yang ini. Boleh main panas-panas di bawah pohon.... temannya banyak .... bu gurunya baik-baik ".


" Oh ya... syukurlah. Alend ... boleh daddy bicara dengan twins dan mommy ? ... Alend selesaikan makan, ya ".


" Okay daddy... here there're ".   Dan kini sepenunhnya  layar itu menghadap pada Nilam yang tersenyum senang.


" Kau tahu .... mereka menendangiku dengan penuh semangat, begitu mendengar suara mu ", begitulah Nilam membuka suara dan langsung membuat Rayhan yang menatapnya dari seberang lautan sana ternganga dengan takjub.


" Ooh...... my lovely twins. Apakah mereka sudah mulai merindukan ku ? ".

__ADS_1


" Tentu saja... nanti malam yang ketiga kalinya tidur tanpa belaian mu. Tidak ada yang mengelus-elus punggung dan pinggangku yang pegal.....juga .... tidak ada yang memelukku ", rengek Nilam seperti anak kecil.


" Hai Twins.... dengarkan mommy ya. Berikan mommy waktu untuk sedikit memejamkan matanya saat malam hari... bukankah kita sudah sama-sama berjanji.... akan ikut membantu satu baby lagi agar bisa lahir dalam cinta di dunia ini ... ", Rayhan berbicara seolah-olah dua bayi kembarnya sudah nyata bisa diajak berdiskusi. Nilam terkekeh senang, apalagi dua bayi-bayi itu seakan juga ikut merespon dengan gembira.


" Okay Daddy..... kita harus sama-sama berjuang ya... saving private babby ... ".


" Nil... Edward tadi malam meminta nomer mu, dan aku memberikannya. Sepertinya ia membutuhkan banyak pendapat darimu. Tadi malam ia cerita, sudah melakukan USG dan seluruh anggota keluarga turut menyaksikan. Lalu  ia mendapati Linzhi yang memandangi foto jantung kecil itu...... ".


" Oh ya.... syukurlah. Pasti hatinya sudah mulai tersentuh oleh mahluk ajaib itu. Aku yakin ... ", suara Nilam terdengar sangat bersemangat.


" Ya... dan itu artinya...... kabar baik untukku. Bisa segera pulang.... kita sama-sama berdoa ya ".


" Ya mas Rey.... semoga bayi-bayi ini sehat semua, dan juga bayi mereka juga akan merasakan cinta seperti bayi-bayi kita..... ".


Panggilan itu berakhir dengan satu doa tulus berisikan permohonan terdalam dari para pengemban amanah terindah. Rayhan memberikan cium jauh untuk Nilam dan Alend, serta berjanji akan menelpon lagi malam nanti. Siang itu sungguh penuh dengan kebahagiaan buat semua orang. Begitulah Sang Maha Kuasa menghadirkan cinta dan kasih sayang yang membuat bumi ini tetap berotasi dan berevolusi.


.............................................................


" Halo... halo Nilam  ... ini Edward  ", suara dari seberang sana menyapa sedikit kaku.  " Maaf... aku mengganggu ?".


" Ah ...tentu tidak tuan Edward. Kebetulan kalau jam segini aku terbangun. Oh ya bagaimana kabar nona Linzhi ?. Tadi siang Reyhan sedikit cerita ".


Pukul 23.00 waktu Indonesia bagian barat saat Edward menelpon Nilam. Sepertinya Rayhan sudah banyak menceritakan pola perubahan tidur istrinya yang sedang hamil di tiga bualan terakhir. Nilam akan sangat tertidur pulas setelah waktu maghrib, namun pukul sepuluh malam hingga mendekati sepertiga malam ia akan terjaga. Dan menjelang subuh baru akan mengantuk lagi. Menurut Nilam, pola yang seperti ini pada wanita hamil tua adalah salah satu bentuk penyesuaian dengan pola tidur bayi yang baru lahir. Sehingga si ibu nanti saat bayinya sudah lahir, ia sudah sedikit terbiasa. Begitulah Tuhan Yang Maha Sempurna telah mengatur semuanya sedemikain rupa dengan sangat teliti dan tanpa cela.


" Maaf Nilam... bisa kau memanggil ku Edward atau Edd saja ? Tanpa Tuan.... aku mohon ".


" Ah ya ... terimakasih sebelumnya. Ini tentang Linzhi..... dia .... sepertinya mulai menyukai janinnya. Tapi ... jika ada aku, dia memperlihatkan sikap benci dan seolah-olah mengabaikan. Sudah dua kali ini aku melihatnya membelai perut sambil menangis.... Oh ya, kami sudah melakukan USG. Amazing... wonderfull.... suara detak jantungnya sangat keras. Aku menangis bahagia melihat dan mendengarnya..... tapi saat itu Linzhi terlihat sangat syok ".


" Edd.... ", Nilam menyela kalimat pria diseberang benua sana yang tampak sangat antusias dengan ceritanya. " Nona Linzhi sudah jatuh cinta pada bayinya..... tapi ia jadi sedikit membencimu, karena kau tidak jujur. Emh.... maksudku soal pengaman itu.... bersabarlah dan teruslah memberikan perhatian lebih padanya. Kau tahu ? .... seorang wanita hamil sangat menyukai dimanja oleh pasangannya ... ".


" Nilam.... aku jadi merasa sangat bersalah padamu ", Edward terdengar sangat menyesal. Membuat Nilam sedikit mengerutkan keningnya.


" Kenapa Edd? ... kenapa begitu... ".


" Ya ... tentu saja. Seharusnya saat ini kau sedang banyak-banyak dibelai dan dimanja oleh Rayhan.... tapi aku malah menjauhakan kalian.... Ooohh.... jahatnya aku ".


" Ha..ha..ha.. sungguh aku tidak bermaksud seperti itu ", Nilam tertawa.  " Satu minggu lagi kami akan segera berkumpul ... Rey video call sehari empat samapai lima kali... kau tambahkan saja biaya panggilan internasional untuknya ... ha.. ha.. ha.. ".


" Ha.. ha.. ha.. iya  .. baiklah, baikla, akan kutambahkan dibiaya akomodasi untuk Rayhan.... tapi aku pribadi... sangat.. sangaaaaat berterimakasih padamu. Sungguh kamu benar-benar wanita yang baik dan hebat. Rayhan benar-benar beruntung memilikimu. Dulu..... aku sempat sangat heran dengan Rayhan. Pria mapan yang tak bergeming dengan rayuan perempuan manapun... setia pada satu wanita yang sudah lima tahun meninggalkannya. Sungguh... dulu aku dan teman-teman merasa kalau Rayhan itu sangat....... bodoh ".


" Ha.. ha.. ha.. ya .... sesunggunya kami berdua memang benar-benar bodoh.... ".


" Tidak Neel ....... kalian berdua sangat beruntung. Oh ya, terimakasih banyak ya untuk semua.... kapan-kapan, jika saatnya sudah tepat.... boleh aku menelpon mu lagi ?. Emhh.... maksudku untuk LInzhi ".


" Edward..... kau ini ada-ada saja. Tentu saja boleh .... aku pengangguran sekarang ".

__ADS_1


" Ya.. ya.. ya. Terimakasih banyak ya Neel.... selamat malam, silahkan beristirahat kembali ".


" Selamat malam Edward .... ".


.....................................................


Suasana masih pagi ketika Nilam baru saja turun dari lantai tempat kamarnya berada. Di ruang keluarga, nampak papah dan mamah mertuanya tengah menonton berita pagi dengan antusias. Nilam tidak mengetahui jika keduanya sudah kembali dari Balikpapan semalam, mungkin saat itu ia sudah terlelap.


" Halo twin..... bagaimana kabar kalian ? ", nyonya Kamal dengan antusias sambil menarik tangan Nilam dengan sayang supaya duduk beresebelahan dengannya. Wanita lewat setengah baya itu sungguh terlihat bahagia, ketika dua cucunya menyambut dengan gerakan yang sangat kentara saat ia membelai perut sang ibu.


Nilam tersenyum senang, namun sejenak perhatiannya hinggap pada ketidakpedulian sang ayah mertua. Rupanya perhatian dokter Kamal terkonsentrasi pada berita yang sedang tayang di televisi pada acara warta pagi itu. Akhirnya Nilam pun turut memperhatikan berita yang saat ini sedang disampaikan oleh seorang pemabawa beritayang cantik.


" Itu jenis virus corona terbaru..... masih sekerabat dengan penyebab SARS dan MERS ", gumam tuan Kamal.


" Pneumonia akut ... dan sangat beresiko kematian. Sudah adakah korban jiwa nya Pah ? ", sergah Nilam.


" Semoga saja belum .... ".


Sepertinya harapan itu tidak terkabul, karena sang pewarta cantik dalam kotak gelas berteknologi tinggi yang disebut televisi itu menyampaikan berita yang bertolak belakang dengan harapan dokter Kamal. Seorang pria yang yang tinggal di Propinsi Wuhan dikabarkan meninggal kemarin setelah tiga hari sebelumnya dinyatakan positif terinveksi virus tersebut.


" Pah... di web Epidemiologi Internasional... pasti sudah termuat peta persebarannya. Akhir tahun kemarin WHO sudah mengkonfiramsinya ... tanggal 31 Desember. Aku khawatir... semoga tidak sampai ke Thailand ".


" Ya ... nanti aku lihat. Semoga saja tidak menjadi Pandemi  ya ".


" Aku harap demikian... ".


" Memang sampai kapan Rayhan akan berada di Thailand ? ", sela nyonya Kamal.


" Lima hari lagi Mah..... terjadwal seperti itu. Semoga malah bisa lebih cepat ya ", jawab Nilam dengan satu kalimat penuh harapan.


" Iya nak ... semoga semua urusan daddy twins berjalan lancar. Kamu juga jangan terlalu capek ya... biar bu Endang saja nungguin Alend sekolah ".


" Tidak apa-apa kok Mah... aku nggak nungguin full time. Hanya setengah jam sebelum Alend pulang, aku sudah ikut menjemput ... ya sambil bersosialisasi dengan sesama wali murid. Boleh 'kan Mah ? ".


" Tentu saja boleh.... tapi tetep ajak bu Endang dan pake sopir ... nggak boleh jalan kaki :.


Nilam tersenyum kecut mendengar ultimatum ibu mertuanya. Karena pada kenyataannya, ia menjemput Alend dengan menumpang pada bemot atau becak motor. Dan putra sulungnya pun sangat menyukainya, bahkan pagi ini bocah itu meminta untuk berangkat juga dengan kendaraan modifikasi itu. Secara.... yang seperti itu 'kan nggak ada ya di Inggris.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2