
Sore itu masih cerah saat Rayhan baru saja keluar dari jalan toll bersama dua orang adiknya. Namun saat memasuki jalan utama menuju desa tempat tinggal Nilam, gerimis kembali menyambutnya. Saat itulah Anggita mulai terbangun dan memutuskan membuka jendela, menikmati rinai-rinai air yang turun dari langit.
" Kalau ketemu Alend... jangan ajari kebiasaan jelekmu itu ya. Awas saja !!! ", ancam Rayhan demi melihat tingkah sang adik.
" Main hujan-hujanan itu mampu meningkatkan daya imunitas tubuh..... iya nggak kak Will ? ", rujuk Anggita pada Wildan yang seorang dokter minta dukungan. " Lagian... ini kan cuma gerimis kecil ".
Wildan hanya tertawa kecil mendengar adu argument khas saudara kandung itu. Dahulu saat masih sekolah, dia sering melakukan hal tersebut dengan kakaknya. Hal yang kemudian menjadi salah satu yang sangat dirindukannya.
" Sepertinya sudah menurun deh..... setahun yang lalu saja aku sudah kewalahan menjaganya untuk tidak main hujan-hujanan ", sahut Wildan kemudian.
" Tuh kan... yeee dapat temen ", Anggita berseru gembira.
" Payaaaaah.... satu lagi manusia purba ", Rayhan bersungut-sungut.
Namun kekesalan Rayhan segera teralihkan saat mobilnya sudah mulai memasuki blok tempat tinggal Nilam. Melewati depan rumah dokter Salman, maju sedikit kira-kira Dua ratus meter, lalu sebelum perempatan berbelok masuk kehalaman sebuah rumah yang membuatnya selalu ingin segera berada di dalamnya selama hampir dua bulan ini.
" Kita sudah sampai ? .... wow ", Anggita menjawab sendiri keterkagumannya.
Ketiga orang itu berjalan beriringan menapaki teras rumah. Saat itulah sesekali terdengar tawa renyah seorang bocah yang diselingi tawa seorang pria. Kening Rayhan berkerut mencoba mengenali suara tawa yang sangat familier ditelinganya. Dokter Salman ???.... ah bukan. Rasa penasaran yang menggelayut hebat seperti mendung sore itu, membuatnya bergegas membuka pintu depan, bahkan tanpa mengucapkan salam.
" Daddy.... ", seru sang bocah yang segera menghambur dalam pelukannya.
Diciumnya ubun-ubun sang anak dengan sayang dan cinta yang membuncah, namun hanya sesaat. Perhatiannya teralihkan pada pemandangan yang tersaji bagai fatamorgana di padang pasir. Benarkah ????..... Rayhan menatap tak percaya.
Di sana, diruang keluarga yang tak seberapa luas itu.... ia melihat sosok pria yang disebutnya papah. Berdiri sambil memegang salah satu mainan Alend dengan wajah sumringah dan senyum mengembang.
" Oh Daddy sudah pulang ya ", tiba-tiba Nilam muncul dari arah dapur masih dengan seragam kerjanya. Ia tersenyum menatap kehadiran suaminya.
" Halo kak... ", sapa dokter Wildan kemudian dengan guratan bahagia begitu kentara. Nilam tersenyum membalasnya.
" Anak mamah..... selamat ya atas gelar master mu ", tiba-tiba saja dari arah belakang Nilam muncul sosok ibunya. Wanita itu tersenyum hangat seraya menghampiri putranya.
" Naaaah..... sekarang sudah berkumpul semua. Ayoooo..... pesta nya dimulai ", suara Anggita semakin menambah kebingungan Rayhan.
" Halo jagoan..... ini aunti Anggi.... ayo salam kenal dulu ", sapa gadis itu sambil memberikan high'five pada keponakan imutnya
" Halo aunti Anggi ... adiknya Daddy. Halo juga uncle Will.... ", sapa Alend ramah dengan gayanya yang menggemaskan.
" Tunggu...... kenapa ???? aku .... hanya aku yang tidak tau.... ", Rayhan memprotes dengan kebingungan.
" Ini hadiah terbesar untuk mu saat ini nak ", tiba-tiba saja dokter Kemal sudah menghampiri sang putra dan segera memberikan pelukan hangat untuknya.
šššššš
Setelah makan malam, semua berkumpul di ruang keluarga. Nilam menata ruang keluarga itu sedemikian rupa agar tetap nampak lapang walaupun digelari sepasang tatami kasur lipat khas Jepang. Karena Wildan dan Anggita bersikeras tidak mau menginap di hotel, akhirnya Rayhan memesan tatami dan minta dikirim sore itu juga. Kamar tamu dipakai ayah dan ibunya, sementara adiknya akan tidur bersama istri dan anaknya. Sedang dia sendiri dan Wildan adik iparnya akan tidur dengan tatami di ruang keluarga.
" Kenapa Alend tidak boleh tidur sama Daddy & Uncle Will disini??... aku 'kan juga laki-laki mommy.... ", protes keras si bocah. Jika sudah seperti itu, yang bisa menundukkan hanya belaian lembut sang bunda.
__ADS_1
Nilam tersenyum sambil meraih tubuh Syailendra kedalam gendongannya. Bocah itu sedikit memberontak dengan mengeraskan tubuhnya, menunjukkan protes atas tindakan Nilam. Namun belaian-belaian lembut dipunggungnya membuat bocah itu melemah, dan masih tetap merajuk.
" Ingat bagaimana rasanya saat jarum panjang itu menembus kulit saat uncle Ben mengambil darah mu.... kemarin ?", kata Nilam kemudian yang dijawab dengan anggukan enggan oleh Alend.
" Rasanya sedih bukan saat batal ikut ke acaranya Daddy? ". Dan pertanyaan itu kembali dijawab dengan anggukan.
" Kalau begitu.... Alend harus sembuh total dan jadi lebih sehat. Kalau malam ini tidak tidur di kamar.... bisa-bisa Alend sakit lagi. Mau ?? "
" Nggak mau ", sahut Syailendra cepat dengan bibir mulai mencebik dan air mata yang mulai menggenang.
" Alend boleh disini dulu sampai tertidur..... nanti Daddy bawa ke kamar ya kalau sudah bobo'.... okay? ", Rayhan mencoba memberikan jalan tengah.
Tampak putranya sedikit tersenyum lega. Dengan gerakan malu-malu, bocah itu menyeka air matanya. Lalu turun dari gendongan sang bunda dan segera menyembunyikan wajah polosnya yang meringis kegirangan di dada ayahnya.
Semua yang ada di ruangan itu tersenyum melihat moment penuh cinta itu. Tak berapa lama dalam dekapan ayahnya, Syailendra pun mulai terlelap. Obat dokter yang diminumnya memberikan efek mengantuk. Segera setelah memastikan putra telah benar-benar terlelap, Rayhan membopong bocah itu masuk kedalam kamar.
" Persis seperti ayahnya ", komentar nyonya Kemal yang disambut dengan tawa kecil semua yang ada disitu.
" Papah.... bagaimana bisa bertemu dengan dr. Salman ", tanya Rayhan mengganti topik pembicaraan.
" Kawan lama.... beberapa kali bertemu di seminar dan konferensi internasional. Terakhir bertemu di Jerman .... empat bulan yang lalu ", dokter Kemal menerangkan.
" Tapi ... kalau tidak karena informasi dari nak Wildan, kamipun tidak bisa menemui cucu dan menantu lebih dahulu ", nyonya Kemal menimpali.
" Jadi kau sutradaranya ??"
" Sejak awal... kami tidak berniat menghadiri wisuda mu. Menurut mamahmu... yang lebih penting adalah mendapatkan kembali menantu dan menemui cucunya terlebih dahulu ", kata dokter Kemal.
" Waaah... ". Rayhan mengeluarkan ekspresi yang terlihat seperti seorang anak sedang cemburu dengan saudaranya yang mendapatkan hadiah lebih dari kedua orangtuanya.
Namun sejujurnya ia bersorak gembira dan sangat bersyukur, demi mendengar perkataan itu. Yang menyiratkan cinta, kerinduan dan ketulusan mendalam. Hal terbesar yang selalu dikumandangkan dalam setiap doanya. Hal terindah di dunia yang dipintanya pada Sang Maha Kuasa. Mempersatukan kedua kubu cinta dalam ikatan keluarga.
" Ternyata.... aku sudah kalah ya sama mereka berdua .... menantu dan cucu itu. ", sambung Rayhan kemudian dengan nada memelas. Namun sesunging senyuman tersembul malu disudut bibirnya.
" Ya.... jangan coba-coba lawan kami lagi ", seloroh Nilam sambil mendekat ke arah suaminya.
" Tapi... untuk kekalahanmu ini. Aku sudah mempersiapkan hadiah ", Nilam mendekat dan memberikan sepucuk ampol putih dengan gurat hijau dan merah yang kontras.
" Apa ini ? ", Rayhan menerima dengan kebingungan. Namun tulisan dengan huruf kapital tercetak tebal yang menyebutkan rumah sakit tempat Nilam bekerja, membuatnya berpikiran..... " Kau mengajukan resign dan kita tinggal di London ?, tebaknya kemudian.
" Buka..... baca dulu !! jangan asal tebak. Itu hadiah mu sayang ", ujar Nilam.
Semua yang ada di ruangan itu tampak antusias memperhatikan Rayhan yang mulai membuka amplop itu. Sementara dokter Kemal yang berada pada posisi terdekat dengan Rayhan, sekilas telah membaca. Bahwa amplop itu dari laboratorium rumah sakit tempat Nilam bekerja. Dan hal itu adalah hadiah untuk putranya. Pria itu tersenyum sambil menatap menantunya yang rupanya juga mulai menyadari jika ayah mertuanya itu telah memahami situasi ini.
" Kapan kau menyadarinya nak ? ... kehadirannya? ", tanya dokter Kemal lembut.
" Tiga hari yang lalu ayah... saat mengantar Allend kontrol di rumah sakit ", jawab Nilam dengan senyuman tak lepas dari bibir indahnya.
__ADS_1
" Sepertinya aku mulai memahami pembicaraan ini.... apakah kakak ganteng ku sudah paham dengan hadiah mu ?", tiba-tiba saja Wildan ikut menimpali.
" Ini apa? ", dengan polosnya Rayhan melambai-lambaikan selembar kertas isi amplop hadiah yang diterimanya. " Aku hanya tau' kalau ini surat dari rumah sakit..... sementara kalian bertiga yang sehari-hari berkecimpung dengan dunia medis dengan curangnya menggelapkan arti semua ini pada orang awam seperti ku ".
Wildan tiba-tiba saja tertawa mendengar kalimat yang diutarakan kakak iparnya. Tampak sekali ia begitu menikmati suasana lucu dari kebingungan Rayhan. Namun pada akhirnya iapun bangkit, merangkul pundak kakak iparnya dan membacakan isi selembar kertas itu.
" Kakak iparku yang ganteng..... Ini adalah pemeriksaan hormon HCG dalam darah. Biasanya, kadar HCG Anda akan naik delapan hari setelah ovulasi, dan memuncak pada 60 hingga 90 hari kemudian, lalu akan sedikit menurun. Kalau dilihat dari kadarnya yang masih se_iprit ini, sepertinya belum ada dua minggu dari masa ovulasi .... ", Wildan mencoba menerangkan dengan gaya serius namun terasa konyol.
" Yang artinya... ", potong Rayhan tak sabar.
" Okay.... aku lanjutkan ya. HCG ini kemudian merangsang sekresi hormon estrogen dan progesteron yang berperan penting dalam pembentukan plasenta.... tapi memberikan efek morning sickness ...... ". Wildan sang dokter muda itu sengaja menggantung kalimatnya. Sambil menunggu reaksi dari kakak iparnya yang masih terbengong-bengong lucu.
Sementara itu setelah mendengar penjelasan dari Wildan, tampak wajah nyonya Kemal sumringah, senyumnya mengembang. Wanita itu memeluk lengan suaminya dengan bahagia. Tidak demikian dengan Rayhan yang tetap nampak kesulitan mencerna informasi itu.
" Dek .... jangan siksa kakakmu ", pinta Nilam dengan senyuman geli dan kasihan melihat ekspresi polos suaminya. Pria yang sudah menjadi seorang ayah itu, pada kenyataannya memang belum pernah melewati proses lengkap menjadi seorang ayah.
" Hehehe... maaf. Oke... gini kak.... saat ini sedang terjadi proses pembentukan plasenta atau ari-ari bayi di dalam rahim kakakku itu.... ya ... itu... kakak cantikku yang membuat mu jatuh cinta setengah mati. Dan sekarang.... kita harus segera mencari orang yang menghamilinya ".
" Hah !!! ", Rayhan terperangah. Ada orang yang menghamili Nilam dan .... astaga!!!, betapa bodohnya dirinya. Kata-kata Wildan yang begitu drama itu membuat Rayhan benar-benar terhanyut. Menyadari kekonyolannya sendiri, Rayhan kemudian tertawa ....
" Aku yang menghamilinya .... ", serunya tertahan diantara tawa yang masih berkejaran dengan air matanya. Entah perasaan apa ini namanya, yang jelas Rayhan benar-benar mengalaminya.
Satu gerakan pasti mengantarkan Rayhan berdiri dihadapan istrinya. Menangkup wajah cantik itu dengan kedua belah telapak tangannya yang lebar dan hangat. Menatap sepasang mata abu-abu yang membuatnya selalu tak bisa menemukan jalan pulang. Lalu dengan perlahan memberikan ciuman hangatnya di kening dan turun pada kedua pipi itu bergantian. Dan berakhir dengan merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapan dadanya.
" Kakak ..... selamat ya. Tapi please deh.... ada jomblo-jomblo merana di sini. Bisa kau tahan adegan romantis itu ?".
Yang terdengar kemudian adalah suara tawa kompak dari semuanya, karena komentar Anggita. Ruangan itu begitu hangat oleh cinta dan kasih sayang. Sementara di luar, hujan masih membasahi bumi dengan guyuran yang dingin menyegarkan.
Kerinduan mu menguatkan kepak sayapku
Tahukah kau, sinar matamu begitu indah
Dan aku lebih merindukan temaramnya netramu
Senyummu mengajariku untuk bertahan
Ketulusan mu telah menawan jiwa dan ragaku
Aku ... Elang yang kau rindu, namun aku lebih merindumu.
š š š š š š š š š š š š š š š š
. . . . . . . . . . . . . The End. . . . . . . . . . . . . . . .
**Author Pov :
Terima kasih sudah membaca novel debut ku ini. Bagi pecinta Rayhan dan Nilam, semoga kisah mereka bisa memberikan hiburan dan bahkan manfaat untuk kisah cinta kalian sendiri.
__ADS_1
Selanjutnya akan ada BIDADARI BIRU, yang bercerita tentang seorang Mandala Runako Arsenio yang terkena karma dengan jatuh cinta sedalam-dalamnya pada dokter muda bernama Mesya Adonia Orlin. Berikut sedikit deskripsinya........ kutunggu like & commentnya**.