Rinduku Pada Sang Elang

Rinduku Pada Sang Elang
RINDUKU PADA SANG ELANG .... Yakinlah !!!


__ADS_3

Nilam menarik nafas panjang saat jarum yang sebenarnya berbentuk pipa dengan ujung runcing tajam itu menembus kulit dan menginvasi pembuluh darahnya. Saat sudah tertanam sempurna, tanpa menunggu komando dari seorang perawat yang sedang memasang infus set itu, Nilam menghembuskan nafasnya sambil membuka kepalan tangan. Membiarkan cairan darahnya mengalir keluar melalui tube dan kemudian ditampung dalam tabung kaca kecil. Beberapa saat kemudian selang infus pun telah tertanam sempurna di tangan kirinya. Nilam berusaha untuk serileks mungkinp, bernafas dengan bantuan selang oksigen karena rasa sesak yang masih sesekali menghampiri. Tekanan psikologis yang cukup berat membuat kondisinya demikian sekarang ini. Seorang wanita hamil kembar yang tiba-tiba saja mengalami kenaikan tensi darah yang sangat signifikan hingga membuatnya berada dalam posisi bumil resiko tinggi.


Beruntung mertua dan dirinya sendiri adalah orang-orang yang hidup bergelut dengan dunia medis, sehingga semua hal itu teratasi dengan cukup baik. Tak urung apa yang terjadi pada Nilam menjadi sangat menyita perhatian seluruh anggota keluarga, baik dari pihak Nilam yaitu adik semata wayangnya dan juga dari pihak keluarga suaminya. Semuanya tidak terlepas dari pemicu keadaan yang membuat Nilam harus istirahat total dalam pengawasan para ahli kandungan dan kebidanan ini. Kenyataan yang sangat memukul perasaan wanita ini, bahwa saat ini suami tercintanya terancam pada suatu keadaan yang sangat serius yaitu terinfeksi virus mematikan golongan corona yang sudah resmi berganti nama dari nov-Cor.V menjadi CorVid-19.


" Tenangkan pikiran mu nak, saat ini kita semua hanya bisa menunggu dan berdoa tak henti-henti. Mohonkan yang terbaik untuk semua ". Nyonya Kamal sang ibu mertua menguatkan batin Nilam dengan kalimat penentram dan juga belaian sayang pada rambut tebal menantunya.


" Iya mah.... bagaimana dengan Alend? dia tidak menangis? dia tidak mencariku ? ".


" Kata bu Endang sudah terkendali.... sempat menangis mencari mu. Tapi bu Endang sudah cukup bisa menanganinya ".


" Syukurlah mah... tapi aku sangat menghawatirkan mas Rey ". Kembali sepasang mata Nilam berkaca-kaca.


Nyonya Kamal buru-buru menciumi kening putri menantunya itu dengan lembut. Sesungguhnya hati wanita ini tidak jauh berbeda dengan Nilam. Sama-sama menyimpan rasa khawatir yang sangat besar. Tapi ia harus menguatkan hati Nilam dan mengesampingkan kekalutan, kekhawatiran dan kesedihannya sendiri. Demi Nilam yang saat ini tengah berjuang keras menormalkan efek ledakan psikologis yang berimbas pada kondisi pre-eklampsia, yang akan sangat membahayakan kondisi dua bayi dalam kandungan. Nyonya Kamal tak beranjak sedikit pun dari samping putri menantunya itu. Sementara Nilam, walaupun dengan sangat gigih terus mencoba menenangkan hatinya sendiri tapi ia sama sekali tak mampu menahan laju buliran-buliran air matanya yang luruh nyaris tak berjeda.


" Mas Rey.....", gumamnya dalamnya isak lirih. " Mah..... apa papah sudah berhasil menghubunginya ? ".


" Papah mu masih terus mencari tahu rumah sakit tempat karantinanya. Pasti Rayhan baik-baik saja.... yakinlah, berdoalah.... ".


" Iya... tapi aku sungguh-sungguh tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Rasanya dada ini ... sakit sekali... ", dan air mata Nilam pun semakin deras mengalir.


" Itu karena kamu sangat mencintainya nak.... pasti di sana, ia juga merasakan hal yang tidak berbeda dengan mu. Dulu... saat kalian terpisah, ketika kecelakaan itu menimpanya.... hanya namamu yang dipanggil-panggil dalam kondisi tidak sadarnya. Saat sudah sepenuhnya tersadar... Rayhan semakin sering berteriak memanggil mu ", Nyonya Kamal berusaha menghibur. " Jadikan rasa khawatir mu itu sebuah doa tulus yang akan saling menguatkan jalinan cinta kalian berdua ".


" Mas Rey berjanji..... akan menemaniku ... ia berjanji akan mendampingi proses kelahiran si kembar ini ".


" Rayhan akan menepati janjinya padamu .... yakinlah !!".


🌏🌏🌏🌏🌏🌏🌏🌏🌏🌏🌏🌏


Di tempat lain, seorang Rayhan dengan tidak sabaran segera meraih telepon genggam yang baru saja diberikan oleh petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri lengkap. Ia sama sekali tidak memperdulikan bagaimana mereka menyemprotkannya dengan cairan desinfektan. Rayhan hanya menginginkan agar bisa segera menghubungi keluarganya, ia telah kehilangan kontak selama hampir delapan belas jam. Hal itu sungguh sangat menyiksa. Cairan desinfektan yang disemprotkan seperti dengan metode sprayer itu sedikit membuat mata perih, tapi Rayhan benar-benar sudah tidak peduli.


Tiga puluh dua panggilan tak terjawab, dan itu semua berasal dari Nilam serta ayahnya. Dan satu panggilan terakhir adalah empat jam yang lalu dari ayahnya. Pasti berita tentang sudah merebaknya virus ini dan juga korban-korban yang sudah terenggut nyawanya, sudah mulus tersampaikan oleh para pewarta. Berita itu, hanya dalam hitungan detik pasti telah sampai ke seluruh penjuru dunia. Menimbulkan kekhawatiran dan juga membuat kesiapan siagaan. Tapi saat ini yang terpenting adalah segera menghubungi orang-orang tersayang di tanah air. Meredakan rasa khawatir mereka.


Tapi kini justru Rayhan menjadi lebih gelisah dan khawatir. Nilam sama sekali tidak merespon panggilan yang dilakukannya. Berulang kali ia mencobanya, tetap sama... ada yang terjadi dan pastinya bukan hal sepele. Rayhan tiba-tiba saja merasakan udara di ruangan isolasi itu menjadi sangat ... sangat tidak nyaman. Keringat mulai menyembul dari dahinya. Yang terlintas dalam benaknya adalah segera menghubungi mamahnya, tapi sayang... itupun tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Dengan doa yang tak berhenti mengalir dari sanubarinya, Rayhan pun segera mengalihkan panggilan pada sang papah. Nada sambung pada ponselnya memberikan harapan baru. Ketika kemudian .....


" Hans..... kau baik-baik saja ? ", suara diseberang sana terdengar penuh ketergesaan dan harapan.


" Papah.... oh syukurlah. Aku baik-baik saja pah.... Nilam... bagaimana Nilam, aku tidak bisa menghubungi nya ".


" Nilam baik-baik saja.... sekarang dia harus bedrest... tensinya sedikit naik. Dan aku tidak mau ambil resiko dengan kondisi ini. Kamu sendiri bagaimana nak ? ".


Pertanyaan ayahnya ini tak mampu dijawab dengan segera, Rayhan menarik nafas panjang. Ia tahu kalau Nilam pasti sangat mencemaskannya. Wanita itu pasti sangat sedih dan gelisah.

__ADS_1


" Hans.....", suara dr.Kamal menyadarkan Rayhan dari lamunannya.


" Iya... iya pah. Aku baik-baik saja. Masih menunggu hasil test darah dan masa observasi selama 14 hari.... bisa aku bicara dengan Nilam pah ? ... tolong ".


" Ya... ku antar kau padanya "


Pria berusia enam dasawarsa lebih dengan badan yang masih nampak tegap dan jejak tampan pada wajah begitu kentara, melangkah dengan pasti menuju sebuah ruangan perawatan. Ia membuka pintu ruang itu dengan sedikit tergesa, demi mendapatkan sosok menantunya yang masih terbaring dengan infus dan juga selang oksigen. Ada juga istrinya yang masih asyik membacakan sebuah cerita dari buku bergambar menarik untuk sang cucu laki-laki.


" Halo... ", kali ini dokter Kamal yang melakukan panggilan internasionalnya. Dan beliau melakukan panggilan video. " Lihat... semua berkumpul di sini ".


" Nilam.... Alend.... Mama ... ". Rayhan mengabsen satu demi satu orang-orang yang sangat dicintainya. Ia tersenyum beriring dengan setitik air mata yang menyudut.


Nilam yang nyaris jatuh dalam kantuknya tersentak dengan debaran hati yang menyulut semangatnya. Ia berusaha sedikit menegakan posisi tidurnya yang setengah duduk dengan sandaran tinggi pada kasur pasien yang memang sudah disetting sedemikian rupa. Antara sebuah senyuman, ketidaksabaran dan juga rasa lega yang membuncah... sungguh ia tidak dapat memilah-milah nya.


" Mas Rey.... ", desisnya. Tangannya gemetar menerima uluran telpon genggam dokter Kamal ayah mertuanya.


" Sayang... aku baik-baik saja... jangan khawatir, jangan menangis ya ". Rayhan berusaha menenangkan wanita tercinta ini yang mulai sesenggukan, tapi tak urung dirinya sendiri malah ikut menangis ....tak kentara.


" Kapan kau pulang mas?".


Rayhan terdiam sesaat mencoba menyusun kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia lalu tersenyum, " Sayang... aku harus menjalani masa karantina selama 14 hari dan juga menunggu hasil tes darah. Tapi sampai saat ini... aku tidak merasakan gejala apapun. Doakan ya... semuanya bisa teratasi dengan baik.... agar aku bisa segera pulang... bisa segera memeluk mu dan anak-anak kita.....sayang... ".


" Jangan menangis ya.... kasihan twins ... yang kuat ya... seperti Nilam yang dulu... Nilam yang sangat ku kenal....".


" Tapi... tapi... aku tidak bida menahan air mata ini....aku lega dan rindu... maaf mas ".


" Iya... iya... tidak apa-apa, aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kamu harus lebih kuat ya, demi aku... Alend dan juga Twins. Kau tahu Nilam.... senyum manis dan wajah cantik mu itu, menguatkan ku... membuat ku mampu bertahan dari rasa sesakit apapun .... kumohon, tersenyumlah ".


Pada dasarnya hati seorang wanita itu sangat mudah untuk dibujuk. Kata-kata bernada pujian penuh dengan aura kemesraan apalagi jika itu disampaikan oleh orang tersayang, pasti akan mampu mengukir senyum walaupun wajah penuh dengan guratan sendu. Dan Nilam pun menyeka air matanya perlahan, lalu memberikan sebuah senyuman walaupun masih dengan sedikit terpaksa.


" Daddy.... ", dan seruan riang itu membuyarkan momentum mengharu-biru antara Rayhan dan Nilam. Syailendra sudah tidak mampu lagi ditahan oleh neneknya. Bocah tampan menggemaskan itu menyeruak memenuhi tampilan di layar handphone Rayhan. " *Aku rindu Daddy... kapan pulang ?".


" Halo boy.....my champion. Daddy pulangnya agak lama ya, ada yang harus diselesaikan disini. Bisa tolong jaga mommy & twins, Champ? ".


" Tapi Daddy janji pulang tidak lama....... aku sudah menghitungnya, harusnya besok Daddy sudah pulang. Kenapa bisa begitu* ?".


Dan begitulah Syailendra, ia akan membuat analisa sendiri dengan kecerdasan seorang bocah yang sebenarnya masih berusia lima tahun. Seperti biasa, analisa ala Alend selalu berakhir dengan pertanyaan yang membuat beberapa orang dewasa cukup memeras otak. Memikirkan kalimat yang tepat untuk jawaban bagi bocah lima tahun ini, yang tidak bisa puas dengan sekedar jawaban bohong atau jawaban mengada-ada.


" Eee... itu... di negara Thailand baru kena wabah... ", dan Rayhan tergagap mencoba memberikan jawabannya. Beruntung nya Nilam segera meraih wajah sang putra dan menghadapkan padanya.


" Boy.... ", ucap Nilam lembut mencoba mengalihkan fokus putranya. " *Ingat dengan virus influenza yang pernah mommy ceritakan dulu ?".

__ADS_1


" Iya ... aku ingat. Mahluk hidup kecil tidak kelihatan yang bikin demam, batuk dan sesak nafas ", jawab bocah itu cerdas.


" Iya betul... saat ini virus itu berubah menjadi lebih ganas di negeri China sana. Kebetulan teman Daddy berasal dari China dan ada kemungkinan dia membawa virus itu dengan tidak sengaja. Untuk berjaga-jaga.... jadi Daddy harus diperiksa dengan teliti, apakah virus itu masuk dalam tubuhnya atau tidak ", Nilam menerangkan dengan sabar.


" Daddy... ", tiba-tiba saja bocah itu beralih pada sang Ayah. " *Apa sekarang Daddy demam?" .


" Ehm... tidak boy ".


" Kepala nya pusing ?".


" Tidak... "


" Tenggorokan sakit... kalau buat nelan ?".


" Tidak... ".


" Daddy... bilang semua itu pada dokter yang ada di sana. Itu tandanya Daddy tidak sakit oleh virus flu itu.... ayo!... biar besok bisa pulang ", Syailendra mulai merajuk.


" Iya... iya... Daddy akan segera pulang. Janji... Daddy janji ... ", Rahyan terlihat kebingungan. " Bisa Daddy bicara dengan mommy mu dulu ? ".


Dengan segera, layar telepon genggam itu mengarah pada Nilam. Rayhan tersenyum melihat wajah istrinya yang sudah tidak sesedih sebelumnya.


" Sayang.... tolong ya untuk Alend dan twins ", dan Rayhan menerima sebuah anggukan dari Nilam sebagai sebuah jawaban. Pada saat itulah nyonya Kamal mendekat.


" Kau baik-baik saja Hans ? ".


" Mama... iya mah. Hanya saja kepulangan ku akan sedikit tertunda. Titip istri dan anak-anakku ya Mah....".


" Iya.... pasti, akan ku jaga mereka. Semoga semuanya lekas selesai dengan baik dan kita semua bisa segera berkumpul lagi ya... ".


" Aamiin.... terimakasih Mah ".


Dan panggilan video itu berakhir dengan sebuah doa yang sama dari semua orang yang ada di ruangan itu. Sedikit berat hati jika harus menutup panggilan itu. Tapi pada akhirnya Nilam menguatkan hati dan mendahului menutup line video call dengan suaminya. Satu tarikan nafas panjang, ada sedikit kelegaan dengan berjuta doa dan harapan. Nilam menciumi rambut Syailendra putranya, mengalihkan rasa khawatir yang masih bersemayam.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aku percaya......


Saat ini kita bukanlah dua, melainkan satu jiwa


Tidak terbantahkan

__ADS_1


__ADS_2